Dalam warna pagi yang mulai menguning di kawasan Gatot Subroto Kota Bandung, nampak seorang lelaki bertopi sedang cingogo di depan gerobak yang dipinggirnya bertuliskan kupat tahu petis. Lelaki tersebut bernama Dadang atau Mang Dadang yang setiap harinya berjualan kupat tahu petis secara berkeliling menemui pelanggannya atau pembeli dadakan seperti penulis. Dengan cekatan Mang Dadang mengolah pesanan kupat tahu petis yang bahannya terdiri dari kacang tanah, bawang putih, gula merah, garam, cabe rawit, petis, toge,tahu goreng, kupat, kecap dengan topping mentimun, bawang goreng dan kerupuk kecil.
Sambil mengolah, Mang Dadang pun bertutur tentang perjalanan hidupnya selama ini yang harus terkadang melewati kerikil-kerikil tajam namun dia berhasil tapaki demi kelangsungan hidup keluarganya. Pengorbanan Mang Dadang bagi keluarga adalah sebuah perjuangan berat namun tetap dia lakoni sampai saat ini dengan menjadi pedagang kupat tahu petis keliling karena dia percaya bahwa pengorbanan untuk keluarga adalah sebuah kehormatan atau martabat diri. Harga diri lelaki terletak saat dia berjuang mencari nafkah demi keluarganya walau harus menjadi pedagang keliling, Mang Dadang memiliki keyakinan bahwa sesuatu mesti diusahakan biar bisa dipetik hasilnya.
Mang Dadang berasal dari Limbangan, Garut, Jawa Barat. Dilahirkan dari keluarga biasa yang hidupnya akrab dengan istilah 'cukup buat hari ini saja sudah bersyukur'. Tahun 1984, dua tahun setelah lulus SD, dia melimbang ke Bandung. Kala anak-anak sebayanya sibuk bersekolah atau mengerjakan tugas sekolah, dia sibuk berjualan yang semestinya belum boleh dilakukannya, namun Mang Dadang remaja tidak mengeluhkan keadaan tersebut bahkan menjadi pelecut dirinya untuk mulai berkorban demi keluarganya. Mang Dadang terpaksa memahami kerasnya kehidupan. Dia datang ke Bandung bukan membawa ijazah tinggi, tidak pula membawa setumpuk uang modal. tetapi hanyalah menancapkan keberanian dan tekad untuk bertahan hidup.
Mang Dadang remaja sudah memahami bahwa hidup tidak akan berubah hanya dengan rebahan sambil berkicau pada nasib. Kota Bandung waktu itu adalah kota yang menuntut warganya berkompetisi tinggi, tetapi Mang Dadang remaja datang walaupun hanya dengan modal nekat dan tenaga. Awalnya ia berjualan es orson keliling terutama sering mangkal di Lanud Sulaiman Kopo karena saat itu banyak anggota TNI AU melakukan latihan dan ketika istirahat, mereka sering membeli es orson Mang Dadang saat remaja tersebut.
Kota Jakarta menjadi pilihan berikut untuk dilimbang, Mang Dadang remaja singgah di ibu kota negara itu sampai memasuki tahun 1991. Mang Dadang hidup di Jakarta sebagai pelimbang yang berjuang keras, hidup seadanya, dan bekerja demi bertahan hidup. Jakarta mengajarkannya satu hal bahwa hidup tidak akan memberi makan kepada orang tidak punya darah kehidupan. Di tengah kerasnya hidup sebagai perantau, ada satu hal yang tak pernah putus dia lakukan mengirim uang ke kampung, meski sedikit, keluarga tetap menjadi prioritas.
Tahun 1991 menjadi titik penting dalam hidupnya. Ia memutuskan kembali ke Kota Bandung karena diajak kakak sepupu untuk berjualan kupat tahu petis. Dari situlah perjalanan panjangnya dimulai. Awalnya sangat berat. Berjualan makanan bukan perkara mudah. Berdagang dari pagi sampai menjelang sore, kadang dagangan itu banyak yang beli atau kurang sering dialaminya.
Ada kondisi paling meresahkan hati dia, bukan letihnya berdagang, melainkan ketika dagangan tak banyak dibeli orang, sementara kebutuhan keluarga terus berjalan. Kondisi lainnya yang membuat dia kelimbungan adalah ketika harga bahan-bahan untuk dagangannya naik membuat pembeli kadang mengeluhkan harga jualnya. Namun Mang Dadang tetap bertahan, karena baginya, menyerah bukan pilihan. Sebagai pedagang keliling, suka duka sudah menjadi balad akrab Mang Dadang sehari-hari.
Untuk sebagian orang, petis hanyalah saus hitam lengket yang aromanya cukup tajam. Tapi bagi Mang Dadang, petis adalah jalan hidup. Dari petis inilah anak-anaknya bisa sekolah, dapur di kampungnya selalu mengeluarkan wangi masakan. Dengan anak-anaknya bisa sekolah dan wanginya aroma masakan di dapur, menyeruak dan membentang harga diri seorang lelaki tetap tegak tanpa harus meminta-minta. Selama 35 tahun lamanya, Mang Dadang berdagang kupat tahu petis yang berarti juga telah membersamai tujuh Presiden di negeri pancasila ini.
Teknologi berubah cepat penggunaan serba mesin modern dan tenaga robot makin meninggi, tetapi Mang Dadang tetap setia mengulek petis setiap pagi dengan tangannya langsung. Menyiapkan dan mengolah segala bahan untuk berjualan masih dilakukan secara manual. Sore hari setelah istirahat di rumah, Mang Dadang mulai membuat kupat atau lontong yang direbus selama empat jam. Berlanjut lagi dengan menggoreng kacang tanah, kerupuk. lalu menata berbagai bumbu dan asesoris untuk kupat tahu petis.
Malam pun tiba setelah semuanya beres sampai jam 10 malam, Mang Dadang mulai terlelap dalam tidur untuk persiapan menyambut hari esok dengan berjualan kupat tahu petis keliling tanpa pesimis tetapi selalu penuh keyakinan mulai pagi sampai sore. Begitu rutinitas Mang Dadang setiap hari penuh kesabaran dari proses pembuatan sampai menunggu pembelinya.
Namun di balik kerasnya pengorbanan dan kesabaran Mang Dadang menjalani hidup dengan menjadi penjual kupat tahu petis, ada kebanggaan yang tidak bisa diganti dengan intan berlian semahal apapun. Mang Dadang telah berhasil membesarkan anggota keluarganya dari hasil jualan kupat tahu petis. Kehidupan ekonominya juga sedikit demi sedikit bergerak naik.
Dulu saat awal hidup di Kota Bandung, Mang Dadang hanya mampu mengontrak kamar sebagai tempat tinggal. Selalu muncul rasa deg-degan kalau hampir tiba tempo bayar kontrakan, namun dia terus berusaha supaya dapat membayarnya. Hidup memang memberi hadiah bagi orang yang penuh pengorbanan dan sabar, tidak bagi yang hanya berpangku tangan. Dengan ketekunannya menabung puluhan tahun, akhirnya kamar kontrakannya tadi berhasil menjadi milik Mang Dadang. Semburat sejuta warna kebahagiaan terlukis di wajah seorang lelaki sederhana yang dulu cuma mampu mengontrak, kini dengan suka cita berkata “Kini jadi milik saya.”

Pesanan sebungkus kupat tahu petis yang dipesan penulis beres. Saat sedang membayar sambil ngobrol-ngobrol tentang perjalanan hidupnya, tiba-tiba HP Mang Dadang berdering,, rupanya seorang pelanggan mau mengkonfirmasi apakah hari ini jualan atau tidak. Raut senyum bahagia mengembang di sudut bibir dan matanya. Tanpa ragu-ragu, dia menjawab "Saya jualan pak, sebentar lagi saya menuju ke rumah bapak."
Nuhun...Mang Dadang sudah membagikan pengalaman tentang arti pengorbanan dan kesabaran ketika melintasi jalannya kehidupan ini yang dipenuhi dengan kerikil-kerikil panas dan tajam. Laris terus Mang Dadang jualannya...Mang Dadang yang tidak pernah hariwang atau cemas dalam menjalani kehidupan di Kota Bandung. Gerobak bertuliskan kupat tahu petis itu makin menjauh sampai tidak nampak lagi dalam tatapan kagum penulis, saat memasuki sebuah tikungan. (*)