Pada zamannya, perlengkapan hidup dan perhiasan dari bahan kuningan pernah menjadi kecenderungan masyarakat, karena termasuk bahan yang tahan korosi, dan warnanya menyerupai emas yang paling banyak diidamkan. Tradisi membuat perlengkapan hidup dan perhiasan dari bahan kuningan umurnya sudah tua. Beberapa sumber menyebutkan sudah lebih dari 3.000 tahun yang lalu. Bahkan ada yang berpendapat berumur 4.000 tahun yang lalu. Artefaknya ditemukan di Asia Barat, Mediterania, Mesir, dan Yunani kuno.
Keterampilan mengolah dan membuat perlengkapan hidup dan perhiasan itu menerus pada Zaman Romawi dan Asia. Keterampilan ini menyebar bersamaan dengan perkembangan kerajaan-kerajaan Hindu-Buda dan kerajaan-kerajaan setelahnya di Nusantara. Perlengkapan ritual dan upacara keagamaan, seperti tempat dupa, genta, arca, bokor, mangkok, lancing, dan kebutuhan perlengkapan kerajaan lainnya. Inilah yang menyebabkan perlengkapan itu bukan sekedar kebutuhan untuk perlengkapan rumah tangga, bukan sekedar wadah atau tempat memasak, namun perlengkapan berbahan kuningan itu menjadi penanda tingkatan kelas sosial. Sehingga keterampilan melebur, mengecor, menempa kuningan menjadi kebutuhan yang diutamakan. Di Nusantara, awal keterampilan ini berada di pusat keagamaan dan di pusat kerajaan. Dalam perkembangannya keahlian itu meluas sampai di masyarakat, terutama setelah kekuatan kendali kerajaan semakin memudar.
Di Jawa Barat, banyak toponim yang memakai kata sayang. Maknanya bukan berarti perasaan dan perilaku kasih-sayang, tapi di daerah itu pernah terdapat pandai yang mengerjakan perabotan dari bahan kuningan. Ketika perlengkapan keagamaan, perabotan rumahtangga, interior rumah, dan perhiasan yang dibuat dari kuningan dipakai di masyarakat, maka sayang atau pandai kuningan menjadi keahlian yang sangat dibutuhkan. Seperti halnya gosali atau pandai besi, dan kamasan, tempat pembuatan perhiasan berbahan emas.
Di setiap daerah di Jawa Barat, hampir merata terdapat sayang. Tempat pandai kuningan itu awalnya menjadi penanda tempat, kemudian abadi menjadi nama geografis, seperti Kampung Sayang atau Desa Sayang. Di tempat-tempat itulah terdapat para ahli pembuat perlengkapan berbagai kebutuhan dan perhiasan dari kuningan.
Nama geografis yang memakai kata sayang itu seperti Desa Sayang yang ada di Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Di Kabupaten Bandung, ada Kampung Sayang di Desa Rancatungku, Kecamatan Pameungpeuk. Di Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, ada toponim Desa Sayang. Di Desa Pananjung, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung, ada toponim Kampung Bojongsayang. Di Kabupaten Garut, di Desa Cibunar, Kecamatan Cibatu, terdapat toponim Kampung Sayang. Kampung Sayang terdapat di Desa Margaluyu, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, dan Kampung Sayang terdapat di Desa Gentengpacing, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi.
Itulah beberapa contoh pandai kuningan yang terdapat di Jawa Barat, yang membuat perlengkapan atau perabotan rumahtangga, seperti wajan atau kuali, panci, kukusan, cetakan kue, dandang, dulang, mangkok, piring, tempat bumbu atau rempah, centong, sendok-gapu, gentong, loyang, nampan, teko, lancang, saringan, dan lain-lain, serta perhiasan dan eksesoris seperti gelang, kalung, dan cincin, serta perlengkapan peribadatan dan upacara.
Selain perabotan rumah tangga dan perhiasan, kuningan yang lebih lentur dibandingkan tembaga, sehingga mudah dibentuk, tahan korosi. Dalam perkembangannya kuningan juga dibuat menjadi perlengkapan dan dekorasi rumah, kesenangan, dan hiburan. Kebutuhan itu seperti gagang pintu, kunci, lampu gantung, lampu dinding, kap lampu, vas bunga, asbak, patung hias, kaligrafi, keran air, terompet, konektor, soket listrik, baud, mur, katup, komponen jam, peluru dan selongsong peluru, alat navigasi kapal, dan lain-lain.
Keahlian melebur, menempa, dan membentuk kuningan menjadi perlengkapan rumah tangga, keagamaan, dan perhiasan, menjadi memudar dan hilang, terutama setelah ditemukan material lain yang lebih tahan karat dan tetap bertahan warnanya, seperti perlengkapan rumahtangga yang terbuat dari baja tahan karat (nirkarat) atau stainless steel. Sementara perlengkapan rumah tangga berbahan kuningan, kalau tidak dipelihara secara terus-menerus, peralatan itu akan memudar dan kusam waranya karena oksidasi. Bahkan, bila perlengkapan itu disimpan di tempat yang lembab, akan berubah warna menjadi hijau atau coklat gelap bahkan kehitaman, dan mengalami korosi juga. Sementara perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari stainless steel lebih kuat dan indah, tahan karat dalam lingkungan yang lembab, dan relatif tidak memerlukan perawatan khusus.

Emas tetap menduduki peringkat atas untuk perhiasan karena sejak lama menjadi simbol status dan kemewahan, serta sifat fisiknya yang tahan lama, tidak mudah rusak, tidak akan berkarat, tidak berubah warna menjadi kusam, dan sangat jarang yang terjadi alergi kulit karena memakai perhiasan emas. Bagi para pembuat perhiasan, emas merupakan logam mulia yang lentur sehingga mudah dibentuk. Alasan historis, kemewahan, nilai ekonomi yang tinggi, maka emas tetap mempunyai kelasnya sendiri.
Tapi setelah perhiasan sintetis menyebar secara luas di masyarakat, maka perhiasan imitasi yang diproduksi secara masal oleh pabrik, mudah menyebar secara luas ke berbagai penjuru dunia. Maka, jumlah para pembuatan perlengkapan rumah tangga dan perhiasan dari bahan kuningan semakin menurun.
Namun, tempat pembuatannya, pandai kuningan, sudah menjadi penanda kawasan, dan menjadi nama geografis Sayang. Nama geografis itu abadi sampai saat ini, yang mengabarkan bahwa pada masa lalu, di tempat itu ada sekelompok orang yang mempunyai keahlian membuat perlengkapan hidup, perlengkapan religi, dan perhiasan dari bahan kuningan. (*)