Membicarakan pendidikan di Indonesia secara garis besar memang belum sepenuhnya merata. Masih banyak mereka yang punya mimpi dan harapan yang tinggi untuk berkuliah pupus begitu saja. Baru-baru ini ada berita yang belum terlalu viral tentang seorang remaja Perempuan bernama Nalince Wamang (17) yang berasal dari Tembagapura, Mimika, Papua Tengah yang tewas tertembak saat mendulang emas untuk mengumpulkan biaya kuliah. Miris memang saat biaya APBN dihamburkan untuk program MBG.
Faktanya masalah pendidikan tidak hanya mengecam daerah pinggiran yang berkaitan dengan akses dan fasilitas serta sumber daya manusia yang belum mumpuni. Namun masalah yang sama krusialnya juga terjadi kepada sebagian mahasiswa yang tinggal di daerah perkotaan.
Seorang mahasiswa akan matang baik secara mental, ilmu serta keahlian jika mereka tidak hanya berkecimpung di dalam kelas tapi bisa bersinggungan langsung dengan dunia praktisi serta sosialisasi dengan masyarakat. Namun di Indonesia sendiri belum semua kampus bisa menyeimbangkan antara keilmuan serta keahlian praktis.
Beberapa jurusan yang berkaitan dengan profesi seperti dokter dan apoteker biasanya akan mendapatkan porsi yang lebih banyak untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan praktik secara langsung di lapangan. Hal tersebut dilakukan guna mahasiswa tidak hanya mendapatkan gambaran saja mengenai ilmu yang mereka pelajari—melainkan merasakan pengalaman secara langsung terhadap tindakan atau penyelesaian masalah langsung dengan pasien di lapangan.
Misalnya saja mahasiswa apoteker yang harus menjalankan kegiatan PKPA (Praktik Kerja Profesi Apoteker) yang biasanya dilaksanakan dibeberapa wahana seperti apotek, klinik, rumah sakit, PBF (Pedagang Besar Farmasi), puskesmas hingga Industri farmasi. Kegiatan ini tidak hanya bisa menambahkan keahlian bagi mahasiswa melainkan cara bagi mahasiswa bagaimana bisa terus beradaptasi dengan orang-orang dan pekerjaan baru setiap hari. Terlebih dunia farmasi merupakan dunia yang cukup dinamis perkembangannya.
Bukan hal tabu ketika mahasiswa masuk ke dunia praktisi mereka akan mendapatkan perlakuan yang berbeda dari para preseptornya. Beberapa kampus besar di Bandung seperti ITB, UNPAD, UBK punya tempat khusus bagi beberapa tempat PKPA. Sementara kampus kecil dan belum terlalu famous siap-siap saja belajar seadanya dan selalu menjadi opsi terakhir dalam segala kegiatan yang berlangsung di tempat PKPA.
Hal ini juga dikuatkan dengan pernyataan yang pernah disampaikan oleh seorang dosen praktisi saat di undang ke kampus saya. Beliau mengatakan bahwa di dunia praktisi khususnya Industri Farmasi beberapa mahasiswa di kampus ternama seperti ITB diperbolehkan untuk memiliki kesempatan mengoperasikan mesin atau alat produksi sementara biasanya kampus lain hanya menerima teori saja.
Yaps begitulah perbedaan perilaku yang sering terjadi di lingkungan praktisi. Sebetulnya saya tidak paham dengan para preseptor atau pembimbing yang tidak bisa memperlakukan adil terhadap semua mahasiswa yang punya satu niat yang sama yaitu belajar dan diajari secara maksimal. Padahal saya yakin semua mahasiswa yang masuk ke dalam dunia praktisi untuk mencari ilmu pasti sudah membayar biaya sesuai kesepakatan yang telah dikordinasikan oleh kampus. Jika biaya yang dikeluarkan sama tapi kenapa perlakuannya harus berbeda?
Saya selalu merasa tidak adil dengan perilaku demikian—padahal dari manapun mahasiswa berasal mereka tetap memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya tanpa di judge terlebih dahulu hanya karena berbeda warna almamater. Saya mengakui dunia praktisi seringkali diduduki oleh mereka lulusan kampus ternama tapi bukan menjadi hal yang etis ketika mendiskriminasi hanya karena mahasiswa lainnya berasal dari latar belakang pendidikan yang berbeda.
Sebelum kuliah PKPA saya pernah masuk ke jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Disanalah saya bertemu dengan seorang pembimbing lapangan yang membuka kesempatan yang sama dan menilai kualitas mahasiswa berdasarkan skillnya bukan hanya dari warna almamater.
Ketertarikan saya terhadap dunia kepenulisan membawa saya untuk memilih Ayo Media (ayobandung.com) sebagai tempat belajar atau magang selama satu bulan. Masih saya ingat seorang pembimbing lapangan sekaligus menjabat editor saat itu menyambut saya dengan tangan terbuka saat izin melaksanakan kegiatan magang di tempat tersebut.
Satu hal yang saya ingat saat itu beliau mengatakan bahwa untuk masuk menjadi mahasiswa magang maka perlu tahu sejauh mana kemampuan mahasiswa dalam menulis. Maka saya diminta untuk membuat dua tulisan dengan tema apapun.
Saat itu saya merasa diterima—merasa diberikan kesempatan yang sama dengan kampus lain di tengah pesimisme saya yang berasal dari kampus biasa.
Saya selalu berharap jika para preseptor atau pembimbing di lapangan bisa berlaku adil terhadap mahasiswanya. Karena potensi terbaik tidak selalu ditentukan berdasarkan faktor warna almamater. Bukankah tugas terbaik seorang preseptor adalah menemukan bakat terbaik dari setiap individu yang tentunya bisa menjadi rekan sejawat yang bisa melanjutkan eksistensi sebuah keilmuan. Juga sudah menjadi tugas preseptor jika mahasiswanya belum paham yaitu dengan menjelaskan bukan dengan menjudgenya.

Salah itu lumrah bagi mahasiswa karena yang sempurna itu bagi mereka yang sudah memiliki pengalaman dan jam terbang jauh seperti para preseptor. Maka saya selalu geram jika kegiatan diskriminasi di lingkungan praktisi ini masih saja tetap terjadi dari tahun ke tahun.
Maka saya akan selalu berterimakasih kepada pembimbing lapangan saya di ayobandung.com saat dulu saya menjadi mahasiswa. Berkat kebijaksanaan beliau saya bisa menemukan hal yang benar-benar saya sukai dari menulis. Mengetahui kelemahan dari hasil evaluasi juga mendapatkan semangat dan apresiasi ketika tulisan yang saya publikasikan di ayobandung menunjukkan progres yang lebih baik dari sebelumnya.
Tulisan ini tentu saya dedikasikan kepada beliau—semoga kebaikan beliau selalu menggema bagi siapa saja yang berkesempatan mengenalnya. Juga tulisan ini saya dedikasikan kepada mereka yang masih mendapatkan diskriminasi di dunia praktisi saat menjadi mahasiswa. Tolong jangan diam dan menerima semuanya begitu saja. Suarakan.. lawan dan minta keadilan. (*)