Di dalam toples kaca berukuran jumbo berkapasitas lima liter, terlihat butiran-butiran bulat seperti kelereng dengan warna merah menyala. Toples jumbo itu bukan satu, berjajar di meja kayu yang panjang, dengan isi yang berbeda. Itulah manisan buah malaka (Phyllantus embica LINN.) atau Indian gooseberry, amla, di toko oleh-oleh khas Cianjur.
Pohon malaka itu batangnya bengkok-bengkok, tingginya antara 10 m sampai 19m. Besar batangnya antara 15 cm sampai 28 cm, sehingga dapat dikategorikan pohon berukuran kecil sampai sedang.
Saya pernah melihatnya di dua tempat. Pertama yang tumbuh liar di lereng bukit yang terjal di Ciletuh, Kabupaten Sukabumi. Pohonnya sebesar paha orang dewasa. Kedua, melihatnya di puncak Gunung Pipisan di Desa Pinggirsari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, besar pohonnya tak jauh berbeda.
Keadaan lingkungan kedua tempat tumbuh pohon malaka itu termasuk lahan berbatu. Malaka termasuk pohon yang sangat toleran dengan keadaan tanah yang miskin hara. Pertumbuhannya sangat lambat. Pada zaman kolonial, banyak masyarakat yang memanfaatkan batang malaka untuk dijadikan arang. Boleh jadi, selain karena rasanya yang kurang enak sehingga malaka menjadi pohon yang jarang untuk ditanam. Akibatnya, jumlah pohon malaka dari waktu ke waktu semakin berkurang, bahkan di beberapa tempat sudah tidak ada lagi.
Pohon ini tumbuh dengan baik di lereng terjal dengan kandungan hara yang minim, Karena sistem perakarannya yang Panjang, sehingga dapat menyelusup jauh ke dalam bebatuan, dan kuat mencengkeram tanah. Pohon malaka dapat beradaptasi dengan mudah di berbagai lingkungan. Banyak tumbuh di semak-belukar di dataran rendah, di hutan sabana, di lereng bukit yang curam, dan di lereng pinggir sungai. Kehadiran pohon malaka di suatu tempat, dapat memperbaiki struktur tanah dan mengikat tanah dari gerusan air.
Pohon malaka tersebar di Kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara. Banyak terdapat di India, Nepal, Sri Lanka, Tiongkok Selatan, Tailan, dan di Indonesia. Di Indonesia, malaka banyak terdapat di Jawa Barat, Sumatra Barat, dan di Nusa Tenggara.
Pada masa lalu, tumbuhan malaka tersebar dengan baik di Jawa Barat. Di beberapa tempat yang ditumbuhi pohon malaka, karena kekhasannya, sering dijadikan penanda kawasan, kemudian menjadi toponim. Di Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, terdapat Desa Malakasari. Di Kabupaten Garut ada Kampung Cimalaka di Kecamatan Wanaraja. Di Kabupaten Sumedang ada toponim Kecamatan Cimalaka. Di Kota Bandung ada Gang Cimalaka, dan di Kabupaten Majalengka ada Pasir Cimalaka.
Buah malaka itu bentuknya hampir bulat, besarnya antara 1,5 cm sampai 2 cm. Pada saat muda, warnanya hijau kekuningan, kemudian berangsur menguning cerah setelah matang. Kulit buahnya lembut, licin, dan memiliki enam garis. Di dalam buahnya terdapat satu biji yang keras.
Buahnya banyak mengandung air, dengan rasanya yang masam seperti buah cereme, tapi ada lebihnya, sepat, dan sedikit pahit. Mungkin karena alasan inilah yang menyebabkan buah malaka dijadikan manisan. Di tempat lain, buah malaka dijadikan selai, asinan, jus, dan dikeringkan menjadi serbuk yang siap seduh bila akan diminum.
Buahnya yang sudah direndam, kemudian dilumatkan sedikit halus, lalu dioleskan ke kepala yang sedang mengalami sakit kepala-pusing karena terik matahari.

Pada zaman kolonial, buah malaka dikumpulkan dalam jumlah banyak, bijinya dikeluarkan, lalu dikeringkan dengan cara dijemur. Setelah mencapai pengeringan yang sempurna, daging buah malaka kering diekspor ke India. Di sana, kulit kayunya pun dijadikan sebagai bahan untuk penyamakan kulit.
Ciri yang menonjol saat melihat pohon malaka adalah daunnya yang kecil-kecil. Panjang daun antara 7 mm sampai 10 mm, lebarnya sekitar 3 mm, sedikit lebih besar dari daun asam. Daunnya berjajar menyirip di tulang daun. Daun malaka yang direbus selama satu jam bersamaan dengan wadah dari anyaman bambu yang akan diwarnai, akan menjadi berwarna kecoklat-coklatan. Bila menginginkan warnanya menjadi hitam, wadah tadi harus direndam dalam lumpur selama 12 jam.
Kulit pohon malaka yang sudah diiris-iris lalu direbus, orang Sunda menyebutnya katiya, dapat menjadi bahan pencelup kain, untuk menghasilkan warna biru tua.

Dalam sistem pengobatan holistik ayurveda, yang semula berkembang di India, bertujuan untuk menciptakan keseimbangan antara tubuh – pikiran – jiwa, banyak memanfaatkan tumbuhan, di antaranya buah malaka. Buah malaka dijuluki superfood, karena kandungan nutrisinya yang kaya, sehingga dikenal menjadi sumber antioksidan alami yang paling kaya. Kandungan vitamin C-nya yang tinggi, dapat merangsang produksi sel darah putih, sehingga tubuh menjadi lebih kuat saat melawan berbagai infeksi dan penyakit. Kandungan vitamin C-nya yang banyak mendukung pembentukan kolagen, demikian juga kandungan seratnya, sehingga dapat mencegah sembelit, mendukung keseimbangan bakteri yang baik di dalam usus, menjaga elastisitas kulit, dan menguatkan akar rambut, serta banyak manfaat lainnya.
Lahan dengang kandungan hara yang miskin, berada di lereng berbatu dan curam, dari pada dibiarkan menjadi lahan kritis, ada baiknya ditanami pohon malaka. Buahnya yang sudah sejak lama diketahui sebagai superfood yang dapat dijadikan sebagai bahan untuk terapi kesehatan. (*)