Ayo Netizen

Hijrah, Ubah, dan Arah

Oleh: Ibn Ghifarie Senin 15 Jun 2026, 13:17 WIB
Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)

Di era digital, hijrah adalah pilihan sadar untuk berubah dan menata ulang arah hidup. Hijrah digital bukan sekadar berpindah ke platform baru, tetapi berusaha untuk menuju pembentukan makna hidup yang lebih dalam.

Kini, hijrah tidak lagi terbatas pada perpindahan tempat, melainkan pergeseran cara pandang, perubahan kebiasaan, dan penetapan tujuan hidup yang lebih bermakna. Di tengah derasnya arus informasi, hijrah menemukan bentuk barunya. Semacam hadir dalam keputusan untuk memilih konten yang menenangkan hati, mengikuti akun yang mendidik jiwa, dan meninggalkan jejak digital yang lebih bermakna dan memberi nilai.

Jejak Hijrahfest 2018 - 2025 (Sumber: instagram @hijrahfest)

Jejak Hijrah

Belakangan ini marak kita temui kampanye gerakan hijrah di media sosial. Hijrah telah menjadi istilah populer yang akhir-akhir ini terdengar di televisi dan artikel popular. Tidak jelas siapa yang memulai gerakan ini.

Sebagai sebuah fenomena, hijrah sebenarnya sudah muncul sejak lama, dimulai dari kalangan musisi seperti Gito Rollies, Harry Moekti, Sakti 'Sheila On 7', Mohammad Kautsar Hikmat yang lebih dikenal dengan nama Uki 'NOAH', Teuku Wisnu, Irwansyah, Shireen Sungkar.

Meskipun perubahan yang mereka lakukan secara substansial adalah hijrah, tapi masyarakat dan media kala itu tidak pernah menyebutnya demikian. Justru penyebutan hijrah untuk perubahan seperti yang dilakukan para musisi dan artis sinetron di atas baru terjadi belakangan ini.

Konsep hijrah sendiri sejatinya bukanlah istilah baru. Istilah hijrah telah familiar pada kalangan umat Muslim. Hijrah sendiri merupakan peristiwa historis Rasulullah saw dan para pengikutnya untuk bereksodus ke luar Mekkah karena adanya ancaman, resistensi, intimidasi, dan bahkan persekusi yang dilakukan masyarakat Mekkah terhadap Nabi Muhammad saw dan pengikutnya.

Secara historis, setidaknya tercatat ada dua periode gelombang hijrah. Pertama, para pengikut awal Rasulullah saw pernah melakukan hijrah di Habasyah (Ethiopia) untuk menghindari kekerasan dan persekusi yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy Mekkah. Kedua, saat Rasulullah saw dan pengikutnya berpindah dari Mekkah ke kota Yasrib (Madinah) setelah adanya ancaman dan perlakuan tidak manusiawi yang diterima umat Muslim oleh para penguasa zalim di Mekkah.

Rupanya aktivitas hijrah digunakan sebagai sebutan untuk menamai sebuah gerakan yang mengajak kaum muslim, khususnya anak muda, demi "berpindah” menjadi pribadi yang lebih baik dengan cara meningkatkan ketaatan dalam menjalankan syariat agama.

Namun, konsep hijrah saat ini diindentikkan dengan transformasi dari orang yang kurang religius menjadi lebih saleh. Perubahan secara umumnya terlihat melalui pilihan busana muslimah, yakni memilih untuk memakai pakaian sejenis gaya Arab (kerudung dengan jubah yang menjuntai). Sedangkan laki-laki yang berhijrah identik dengan menghindari mengenakan celana panjang di bawah mata kaki (isbal) dan mengadopsi janggut panjang (lihyah).

Fenomena hijrah yang disponsori oleh kalangan selebriti dilatari oleh cara pandang agama yang hanya sebatas diartikan baju panjang yang menutupi semua tubuh, panjangnya jenggot dan sorban di kepala.

Agama dipersempit hanya dalam fashion semata, milenial yang berhijrah identik dengan perubahan yang signifikan terhadap cara berpakaian yang awalnya ketat kini berubah menjadi lebih syarli dengan kerudung panjang dan lebar menutupi dada dan baju longgar.

E-poster Hijrah itu Karena Allah (Sumber: researchgate.net @myousrealf, 15 Oktober 2019)

Walhasil, ada yang rela meninggalkan pekerjaannya untuk mengikuti apa yang mereka sebut sebagai gaya hidup hijrah total. Ciri-ciri fenomena ini sudah terlihat di ruang publik Indonesia sejak awal 2000-an.

Hamzah Fansuri, dalam artikelnya 'Gerakan Hijrah dan Kontestasi Ruang Publik Indonesia', menjelaskan telah menunjukkan bagaimana kaum muda Muslim Indonesia memiliki kesadaran baru tentang ruang publik perkotaan sebagai arena kontestasi strategis, terutama dalam menggemakan kesalehan performatif dan mempromosikan gerakan hijrah.

Kesadaran ini pula yang mendorong mereka, yang terorganisir dalam komunitas-komunitas Muslim baru dan berjejaring di berbagai kota, untuk merebut ruang-ruang publik perkotaan seperti alun-alun, taman, jalan, trotoar, dan pusat perbelanjaan.

Di ruang-ruang publik ini, mereka telah memprakarsai beberapa ritual keagamaan seperti salat, iftar, dan pengajian untuk mendapatkan simpati dan dukungan luas dari kaum Muslim urban, meskipun terdapat beberapa kontroversi.

Kesadaran dan upaya untuk merebut ruang publik tersebut antara lain datang dari ingatan historis mereka sejak Indonesia merdeka dan masa Orde Baru yang represif, di mana umat Islam terus memperjuangkan agar Islam menjadi budaya dan praktik dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Dengan kata lain, penegakan syariat Islam dan bahkan perjuangan untuk mendirikan negara Islam. Diskontinuitas pada generasi baru ini lebih pada kurangnya minat mereka dalam perjuangan politik.

Karena generasi baru Muslim muda ini tidak bisa lepas dari gaya hidup perkotaan, mereka berusaha menyelaraskan budaya perkotaan sekuler dengan kesalehan Islam. Mereka mengikuti tren gaya hidup yang berkembang, namun tetap tampil dengan nuansa Islami. Mereka berpendapat bahwa itu adalah bagian dari cara untuk merespon perubahan zaman dan strategi yang paling menarik dalam mendakwahkan Islam kepada masyarakat luas. Dengan demikian, tidak cukup lagi menamakan fenomena ini sebagai banalitas pengamalan Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Sidiq Notonegoro, ada tiga faktor yang dapat menjadi alasan bagi mereka melakuan hijrah tersebut. Pertama, tumbuhnya kesadaran mereka akan pentingnya untuk menghadirkan nilai-nilai agama dalam kehidupan dunia yang kian sekuler. Mereka mengalami kesadaran bahwa jalan hidup yang dipilihnya selama ini menjauh dari nilai-nilai religiusitas. Kedua, hijrah sebagai jalan pelarian diri dari kehidupan dunia yang menjenuhkan. Ketiga, hijrah sebagai gaya hidup setelah sejumlah selebritis yang diidolakan terlebih dahulu melakuan hijrah.

Hadirnya fenomena hijrah dapat menjadi hal yang positif, yaitu munculnya gerakan untuk kembali ke jiwa religius. Namun fenomena hijrah ini juga bisa berdampak negatif jika migrasi ini salah jalur. Tidak dipungkiri bahwa gerakan hijrah pun menjadi incaran kaum radikalis-teroris. Karena itu, kehadiran kelompok-kelompok moderat untuk aktif mengisi cawan-cawan kosong milenial sangat diharapkan. Media sosial yang selama ini menjadi sarana utama kaum muda milenial dalam menggali informasi keagamaan, termasuk tentang hijrah harus berhasil didominasi oleh kelompok moderat. (MAARIF, Vol. 17, No. 2, Desember 2022, hlm. 5–7)

Hijrah bukan cuma soal penampilan (Sumber: instagram @maryamcollege.id)

Tren dan Ekspresi Keberagamaan

Dalam buku Hijrah: Tren Keberagamaan Kaum Milenial di Indonesia, dijelaskan gerakan hijrah meraih momentum dan popularitas di Indonesia. Fenomena hijrah menjadi tren yang cukup menonjol dalam keberagamaan kaum muda Tanah Air. Konsep hijrah, yang mulanya merujuk kepada migrasi dari Mekkah ke Madinah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya untuk menghindari opresi kaum kafir, diinterpretasi ulang ke dalam pengertian yang baru, dengan lebih berorientasi spiritual.

Hijrah kini dimaknai sebagai perubahan seorang Muslim untuk menjadi lebih taat (religius) daripada sebelumnya. Kebiasaan ini terus berkembang seiring dengan menguatnya gelombang konservatisme beragama, baik di Indonesia maupun di dunia global. Konservatisme beragama ini mengambil bentuk dan tingkatan yang beragam.

Popularitas gerakan hijrah menjadi semakin signifikan dengan banyaknya para pesohor dari kalangan selebriti yang terlibat di dalamnya. Beberapa di antaranya adalah pasangan suami-istri, seperti Teuku Wisnu dan Shireen Sungkar; Irwansyah dan Zaskia Sungkar; Arie Untung dan Fenita Arie; Dimas Seto dan Dini Aminarti; Dude Herlino dan Alyssa Soebandono, dan lain-lain. Mereka ikut memopulerkan gerakan hijrah melalui platform media sosial.

Uniknya gerakan hijrah digaungkan melalui kegiatan yang bersifat extravaganza, seperti Hijrah Festival pada tahun 2018, yang menghadirkan sejumlah kelompok hijrah dan bisnis berbasis Islam, seperti perumahan Islam, perbankan Islam, dan kuliner halal. Gerakan hijrah ini biasanya diisi oleh anak- anak muda yang tidak, atau tepatnya sedikit, memiliki pengetahuan agama.

Namun, saat sudah berhijrah, ada kecenderungan mereka untuk menyampaikan pesan-pesan agama seperti halnya ustaz atau tokoh agama, meski dengan pengetahuan yang terbatas. Tidak jarang hal ini akhirnya menimbulkan polemik (Polemik Pernyataan Five Vi, 2020; Sebut Kirim Alfatihah untuk Orang Meninggal Bidah, Teuku Wisnu Ditegur KPI, 2015).

Menariknya bahwa para anggota gerakan hijrah ini pun ada yang berasal dari komunitas hobi yang tidak berbasis agama, seperti musisi, bikers, pemain bola jalanan, bahkan grup parkour. Mereka, misalnya, banyak ditemukan pada komunitas Pemuda Hijrah yang berbasis di Kota Bandung.

Dari hasil penelusuran awal penelitian ini, ditemukan lebih dari 50 komunitas hijrah yang tersebar di dua kota saja, yakni Jakarta dan Bandung. Kelompok ini memiliki jumlah pengikut (follower) yang beragam.

Selama ini cara termudah untuk melihat seberapa besar pengaruh komunitas hijrah adalah dengan melihat jumlah follower mereka di media sosial. Di antara 50 komunitas yang dikaji dalam penelitian pendahuluan ini, terungkap bahwa komunitas dengan pengikut terbanyak adalah SHIFT atau Pemuda Hijrah yang bermarkas di Bandung dengan lebih dari dua juta pengikut di Instagram.

Kajian MuSawarah dengan 870 ribu pengikut; Berani Hijrah dengan 175 ribu pengikut; dan The Stranger Al-Ghuroba dengan 120 ribu pengikut. Di antara 50 komunitas hijrah tersebut, ada di antaranya yang mengambil segmen perempuan, seperti Hijabers Community dan Niqab Squad. Kedua komunitas ini juga memiliki jumlah pengikut yang tidak sedikit, yaitu 115 ribu pengikut dan 528 ribu pengikut. (Windy Triana, dkk, Hamid Nasuhi [Editor], 2021:1-2)

Dalam buku Beragama di Ruang Digital: Konfigurasi Ideologi dan Ekspresi Keberagamaan Masyarakat Virtual, dijelaskan ekspresi keagamaan di ruang maya memunculkan fenomena networked religion (Campbell). Fenomena ini ditandai dengan kemunculan komunitas seperti pemuda hijrah, dakwah salafi, dan pejuang tauhid yang membentuk lingkaran eksklusif dengan tuntutan “serba pasti” dan “satu circle”.

Artikulasi keagamaan di dunia digital membuka wawasan tentang tren baru keberagamaan, sekaligus memperlihatkan terjadinya pergeseran dari afiliasi tradisional menuju jejaring berbasis kesamaan ideologis dan kultural.

Media digital berperan besar dalam konstruksi identitas keagamaan yang lebih empiris. Potongan teks, flyer, video pendek, hingga jejaring konten daring menjadi pusat interaksi dan pembentukan pengetahuan.

Internet turut mendemokratisasi akses terhadap ilmu keislaman, tetapi juga menggeser otoritas ulama tradisional. Siapa pun kini dapat bicara soal agama, termasuk mereka yang belum memiliki kapabilitas. Muzakka mencatat bahwa masyarakat kini lebih tertarik mengikuti fatwa personal dari figur individu dibandingkan fatwa resmi kelembagaan (Achmad Muhibin Zuhri, 2021: 4–6).

Transformasi Diri

Dalam konteks kekinian, hijrah dapat dimaknai secara lebih luas, termasuk sebagai bentuk transformasi digital. Hijrah digital berarti meninggalkan kebiasaan-kebiasaan negatif di dunia maya, seperti doomscrolling, mengonsumsi konten destruktif, menyebarkan hoaks dan menggantinya dengan aktivitas yang lebih konstruktif, mulai dari belajar agama, menyebarkan konten edukatif, sampai membangun relasi sosial yang sehat secara daring.

Hijrah digital adalah proses perubahan diri melalui platform digital dengan niat tulus untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Proses ini bisa dimulai dari hal-hal sederhana, misalnya membatasi waktu penggunaan media sosial, mengikuti akun-akun yang memberi pengaruh positif, membentuk rutinitas online yang mendukung pertumbuhan spiritual dan kesehatan mental.

Lebih dari sekadar perubahan teknis, hijrah digital menyentuh aspek psikologis dan sosial yang mendalam. Di tengah banjir informasi, setiap detik kita dibombardir notifikasi dari berbagai aplikasi, berita viral, opini publik, hingga gosip selebriti. Tantangan terbesar dalam hijrah digital adalah memilah informasi, mana yang benar-benar berguna, mana yang justru menyesatkan.

Terlalu lama terpapar konten negatif dapat menurunkan kesadaran diri (self-awareness) dan menjauhkan seseorang dari tujuan hidup yang bermakna.

Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika RI mencatat, lebih dari 60 persen masyarakat Indonesia masih kesulitan membedakan antara informasi valid dan hoaks. Di sisi lain, fenomena perbandingan sosial (social comparison) yang kerap terjadi di media sosial bisa memicu stres, rasa tidak bersyukur, hingga krisis identitas. Harvard Health Publishing menyebut hal ini sebagai dampak dari overstimulasi digital.

Karena itu, dalam proses hijrah digital, penting melatih kesadaran dalam menggunakan teknologi, tahu kapan harus log in dan kapan harus log out, demi menjaga kewarasan mental dan ketenangan spiritual. (IDN Times, 25 Juni 2025, 11:16 WIB)

Perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Sering kali, tumbuh dari hal-hal kecil, mulai membiasakan diri untuk menyaring informasi, membatasi waktu layar, dan menata ulang apa yang kita konsumsi di media sosial. Dari situlah arah hidup mulai dibentuk agar lebih terarah.

Dengan demikian, hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan. Pasalnya, yang menentukan arah dan kualitas perubahan hidup bukanlah seberapa canggih perangkat yang kita gunakan, melainkan seberapa sadar kita terhadap tujuan hidup dan hanya kepada Dia yang Maha Menggerakkan, kita semua akan kembali. (*)

Reporter Ibn Ghifarie
Editor Aris Abdulsalam