Ayo Netizen

Hubungan Dagang Banten dan Lampung dalam Perniagaan Lada Abad ke-17

Oleh: Aditya Sheva Putra Indrawan Rabu 17 Jun 2026, 16:33 WIB
Ilustrasi gambar lada. (Sumber: disbun.kaltimprov.go.id)

*Disusun oleh Raffy Al Fauzan dan Aditya Sheva Putra Indrawan

Keterbatasan lahan pertanian di wilayah Jawa bagian barat mendorong Kesultanan Banten mengalihkan perhatiannya ke Lampung di seberang Selat Sunda. Langkah ini dilakukan untuk memenuhi tingginya permintaan lada di pasar dunia, karena pada saat itu Banten sedang berkembang sebagai salah satu pusat perdagangan terbesar di Asia Tenggara. Jalur Rempah tidak hanya mempertemukan pedagang Nusantara dengan kongsi dagang Eropa, tetapi juga membentuk hubungan politik yang kompleks antardaerah. Salah satu contohnya dapat dilihat pada hubungan antara Banten dan Lampung pada abad ke-17. Hubungan yang awalnya didasarkan pada kerja sama perdagangan yang saling menguntungkan lambat laun berubah menjadi hubungan yang lebih didominasi oleh Banten melalui berbagai aturan dan kebijakan politik.

Pada awal abad ke-17, hubungan Banten dan Lampung dibangun atas kepentingan ekonomi bersama. Lampung berperan sebagai penghasil utama lada berkat tanahnya yang subur, sedangkan Banten menjadi pintu masuk perdagangan internasional dengan menyediakan berbagai barang impor, seperti tekstil dari India dan porselen dari Tiongkok.

Ilustrasi kapal yang singgah di Pelabuhan Banten. (Sumber: https://atlasofmutualheritage.com)

Hubungan ini didukung oleh pengakuan para pemimpin adat Lampung, yang dikenal sebagai puyang atau penyimbang, terhadap kekuasaan Sultan Banten. Selain itu, Sungai Tulang Bawang dan Sungai Sekampung menjadi jalur penting yang menghubungkan daerah penghasil lada di pedalaman dengan pelabuhan-pelabuhan di pesisir.

Situasi mulai berubah ketika VOC Belanda dan EIC Inggris semakin aktif berdagang di wilayah tersebut. Kehadiran mereka membuka peluang bagi masyarakat Lampung untuk menjual lada dengan harga yang lebih tinggi. Menyadari pentingnya pasokan lada dari Lampung, Kesultanan Banten berupaya memperkuat pengaruhnya melalui berbagai piagam dan prasasti dalung.

Prasasti Dalung (Sumber: Kemdikbud)

Melalui aturan tersebut, Banten mengatur perdagangan lada, menetapkan harga pembelian, serta mewajibkan penyerahan upeti dalam bentuk lada kepada kesultanan.

Akibat kebijakan tersebut, posisi Lampung yang semula merupakan mitra dagang perlahan berubah menjadi daerah bawahan yang berada di bawah pengaruh Banten. Untuk memastikan monopoli perdagangan berjalan dengan baik, Banten menempatkan sejumlah punggawa atau utusan resmi di berbagai wilayah Lampung. Mereka bertugas mengawasi perluasan kebun lada, memeriksa kualitas hasil panen, serta mencegah perdagangan langsung dengan pedagang asing tanpa izin kesultanan. Kebijakan ini membuat ruang gerak ekonomi masyarakat Lampung semakin terbatas karena aktivitas perdagangan mereka diawasi secara ketat.

Meski hubungan kedua wilayah tidak selalu berjalan seimbang, perdagangan lada tetap membawa pengaruh budaya yang cukup besar. Interaksi yang berlangsung melalui kegiatan perdagangan dan penyerahan upeti mendorong masuknya unsur-unsur budaya Islam-Banten ke Lampung. Pengaruh tersebut terlihat pada penggunaan gelar kebangsawanan, sistem penamaan, hingga beberapa unsur arsitektur. Sebelum hubungan ini melemah akibat campur tangan VOC pada akhir abad ke-17, perdagangan lada telah berperan penting dalam menghubungkan wilayah pedalaman Sumatra dengan jaringan politik dan perdagangan maritim di Jawa bagian barat.

Kisah hubungan Banten dan Lampung menunjukkan bahwa perdagangan rempah tidak hanya berkaitan dengan keuntungan ekonomi. Di balik ramainya perdagangan lada, terdapat persaingan kepentingan, perubahan sosial, dan hubungan politik yang turut membentuk sejarah Nusantara. Oleh karena itu, Jalur Rempah bukan hanya sebagai jaringan perdagangan, tetapi juga sebagai ruang interaksi dan perebutan pengaruh antarkekuatan yang ada pada masanya. (*)

Sumber Referensi

  • Fauzan, E. H., Hamid, A. R., & Masykuroh, S. (2023). Perubahan hubungan Lampung dengan Banten dalam perdagangan lada abad XVI-XVIII. Jawi: Journal of Language, Literature, and Muslim Culture, 6(2), 85-98. https://doi.org/10.24042/jawi.v6i2.19561
  • Imadudin, Iim. (2016). Perdagangan Lada di Lampung dalam Tiga Masa (1653–1930). Patanjala: Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Vol. 8, No. 3, hlm. 349–364.
  • Masroh, Laelatul. (2015). Perkebunan dan Perdagangan Lada di Lampung Tahun 1816-1942. Sejarah dan Budaya, Tahun IX, No. 1, Juni 2015.
  • Sumargono, Pratama, R. A., Perdana, Y., Lestari, N. I., & Triaristina, A. (2022). Peran lada Lampung menyokong komoditas perdagangan Banten. Candrasangkala: Jurnal Pendidikan dan Sejarah, 8(1), 60–69.
Reporter Aditya Sheva Putra Indrawan
Editor Aris Abdulsalam