Berjalan ke kawasan utara Lembang. Dahulu ketika di selatan perkampungan Jayagiri terdapat sebuah klinik malaria dan cacar air, terdapat pula rumah dinas dokter Belanda yang hingga sekarang masih berdiri di utara Puskesmas Jayagiri sekarang, dan hingga kini pun rumah dinas tersebut masih dipakai sebagai rumah dinas untuk para pegawai.
Ternyata dahulu klinik malaria dan cacar air tersebut tidak terbuat dari bangunan permanen, melainkan terbuat dari bivak-bivak yang memanjang terus hingga ke selatan perkampungan Jayagiri, dan para warga menyebut kawasan klinik dengan sebutan kawasan Bewak, yang merupakan pelavalan dari bivak-bivak tersebut. Hingga kini nama bekas klinik malaria dan cacar air tersebut diberi nama kampung Bewak, desa Jayagiri.
Bagi para pelancong, kawasan Cikole adalah salah satu destinasi yang wajib untuk didatangi. Saat ini kawasan Cikole banyak berubah, yang asalnya merupakan perkampungan sederhana yang berbatasan dengan hutan pinus yang akan menyambut kita menuju pintu gerbang ke wanawisata Tangkuban Parahu. Kini, kawasan Cikole telah bersalin rupa. Banyak sekali wisata dan kafe kekinian di sana, bahkan hutan pinus yang dahulu menjadi ciri khas kawasan, kini berganti dengan riuh keramaian para pelancong yang melepas lelah dengan berwisata di sana.
Namun, kisah lain tertoreh dari masa lalu kawasan Cikole, semua itu karena toponimi yang terungkap. Dahulu kawasan Cikole adalah hutan belantara yang dibabad untuk budi daya kopi di masa Kultur Stelsel yang terjadi pada tahun 1830 hingga 1870. Para buruh perkebunan kopi tersebut didatangkan dari kawasan Cirebon dan Pantura, mereka mulai bermukim di selatan Lembang, hingga membangun gubug-gubug di kawasan perkebunan yang lama kelamaan menjadi kawasan Cikole.
Setelah saya dalami apa itu arti Cikole, saya memperoleh dua jawaban. Jawaban pertama adalah karena di kawasan Cikole banyak ditemui pisang kole yang sekarang pun masih dapat kita temui di hutan-hutan Tangkuban Parahu. Pisang kole ini tidak dapat dikonsumsi oleh manusia karena rasanya kurang nyaman di area mulut setelah dimakan, kebanyakan pemakan pisang jenis ini adalah hewan-hewan primata di kawasan hutan Tangkuban Parahu.
Selain karena banyak pohon pisang kole, ternyata Cikole adalah kepanjangan dari Ci Kopi Lekoh (air kopi yang kental). Karena ketika masa budi daya kopi itulah warga banyak yang menanam secara mandiri pohon-pohon kopi di pekarangan mereka, sehingga warga Cikole terkenal dengan air kopi yang kental dibandingkan dengan warga lainnya di kawasan Lembang, mungkin karena mereka bisa dengan mudah memetik biji-biji kopi berkualitas di pekarangan rumah mereka.
Bila melihat peta masa kolonial Lembang, kita akan menemukan satu kawasan di utara Lembang yang bernama kampung Buah Batu. Sebuah nama kawasan yang jarang kita dengar sekarang. Kawasan Buah Batu identik dengan sebuah kawasan di Kota Bandung, bukan di Lembang. Namun, setelah saya riset lapangan pada 2013 lalu saya menemukan fakta menarik.

Masih dalam masa budi daya kopi di Lembang yang terjadi pada 1830 hingga 1870, ternyata para buruh perkebunan bukan hanya berasal dari Cirebon dan Pantura saja, namun ada sebagian yang diambil dari kawasan Bandung, salah satunya adalah kawasan Buah Batu. Para warga yang didatangkan ke perkebunan lalu ditempatkan di kaki gunung Putri dan membentuk sebuah koloni. Namun kini kawasan tersebut berganti nama menjadi kawasan Legok dan kampung Gunung Putri, tapi pada kartu tanda penduduk warga tetap menggunakan nama lama yaitu Pondok Buah Batu.
Setelah saya riset lebih dalam, di kawasan Cibodas, Maribaya pun dapat ditemukan beberapa koloni serupa dengan Pondok Buah Batu. Koloni-koloni ini pun sama didatangkan karena menjadi buruh masa budi daya kopi. Mereka warga koloni didatangkan dari kawasan Dago, Cibeunying, Kosambi. Para buruh tersebut membangun koloni sendiri-sendiri, dan sekarang menjadi nama-nama jalan yang ada di desa Cibodas, yaitu jalan Cibeunying, jalan Kosambi dan jalan Dago. Yang menandakan bahwa leluhur mereka para warga adalah buruh perkebunan kopi yang diambil dari kawasan Dago, Kosambi dan Cibeunying, Kota Bandung.

Bila berjalan kaki di pusat Lembang dekat alun-alun kita akan menemukan sebuah gang di kawasan pecinan yang bernama Gang Minatu. Awalnya, saya berpikir itu adalah nama seorang tokoh masyarakat lama, namun ternyata pada masa kolonial kebanyakan warga Tionghoa Lembang membuka jasa usaha binatu karena mulai bermunculan hotel-hotel ternama di Lembang seperti, Grand Hotel Lembang, Hotel Beau Sejour, Hotel Pasir Jati dan hotel Montagne. Jasa binatu tersebut pun mulai menjamur di kawasan pecinan Lembang, namun para warga setempat melafalkan Binatu dengan sebutan Minatu, hingga kini kawasan bekas binatu-binatu itu pun masih bernama Gang Minatu.
Dengan mempelajari ilmu Toponimi kita jadi lebih tahu akar sejarah sebuah kawasan, dan melihat lebih dalam dan dekat tentang kisah di baliknya. Masih banyak kawasan yang akan saya ceritakan dalam tulisan-tulisan saya pada bulan Juni ini, seperti toponimi dari Cisarua, Baroe Adjak, Pasir Pahlawan, Karmel dan kampung Lapang.
Dengan membuka tabir sejarah kita akan mampu melihat sesuatu dari sudut yang berbeda, mengubah pola pikir, karena kita akan mulai peduli pada hal-hal yang sebelumnya tidak kita sadari. Sehingga kita mampu menyadari dan melestarikan, karena di balik hal-hal kecil dan sepele tersimpan kisah yang istimewa. (*)