Kontinuitas dan Perubahan dalam Sistem Pers Indonesia: Dari Kolonialisme Belanda, Pendudukan Jepang, Hingga Era Kontemporer

2 menit baca
Sashenka Devane Raisa
Ditulis oleh Sashenka Devane Raisa diterbitkan
Surat Kabar "Medan Priaji" yang Terbit pada 19 Oktober 1911. (Sumber: delpher.nl)
Surat Kabar "Medan Priaji" yang Terbit pada 19 Oktober 1911. (Sumber: delpher.nl)

Pernahkah terbayang bagaimana jika kita hidup di era ketika informasi menjadi hal yang eksklusif? Apa yang boleh dibaca, ditulis, bahkan dipikirkan—semuanya dikontrol oleh pihak-pihak yang berkuasa. Indonesia pernah mengalami fase ini dalam perjalanan pers nya. Pers Indonesia telah mengalami banyak perubahan, terhitung sejak masa kolonial hingga saat ini. Namun, ada satu kesamaan yang mengikat semua perubahan yang terjadi, yaitu hubungan erat antara pers dan kekuasaan.

Di awal kehadirannya, pers di Indonesia tidak dimiliki oleh masyarakat secara luas. Surat kabar yang pertama kali muncul berfungsi sebagai sarana komunikasi bagi pemerintah kolonial Belanda dan komunitas Eropa. Informasi yang disajikan cenderung mendukung kepentingan pihak-pihak tersebut (Chaniago & Umairah, 2018). Namun, transformasi mulai terjadi Ketika komunitas Tionghoa dan lokal turut mendirikan media mereka sendiri. Dititik inilah media mulai menunjukkan nuansa yang berbeda. Bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga sebagai tempat mengungkapkan kritik (Jayusman & Fachrurozi, 2021). Salah satu contohnya adalah surat kabar Medan Moeslimin yang memuat ide-ide keagamaan serta kritik sosial terhadap kolonialisme (Panangkaran, 2021). Pers secara perlahan menjadi sarana perjuangan—media dari lahirnya ide-ide kebangsaan yang kemudian mendorong pergerakan nasional.

Saat Jepang datang pada 1942, kebebasan yang baru tumbuh itu seakan hilang. Media mengalami periode terburuknya. Semua bentuk media berada dibawah pengawasan ketat pemerintah militer Jepang. Tidak ada celah untuk kritik. Tidak ada kemerdekaan bagi pribumi. Semua berita harus mendukung upaya propaganda perang (Kahin, 1952). Jepang hampir sepenuhnya menutup semua ruang berpendapat bagi pribumi. Pers sepenuhnya dijadikan sarana untuk membentuk pandangan masyarakat sesuai dengan kepentingan penguasa. Berbeda dengan masa kolonial yang masih memberikan sedikit ruang bagi pers alternatif.

Lalu kita maju ke masa setelah kemerdekaan, media Indonesia terus mengalami pasang surut. Selama Orde Baru, kebebasan pers Kembali dibatasi oleh sistem perizinan dan kontrol dari negara. Media Indonesia dianggap memasuki fase yang benar-benar baru setelah Reformasi 1998. Kebebasan pers semakin terbuka. Media dapat mengecam pemerintah tanpa khawatir akan dibungkam atau dibubarkan seperti yang sebelumnya (Padiatra, 2020). Namun tentu saja, kebebasan ini juga menghadirkan tantangan baru. Di era digital, informasi dapat menyebar begitu cepat. Siapa pun bisa menjadi “media”. Di satu sisi, ini memperluas akses informasi, namun di sisi lain, muncul masalah seperti hoaks dan disinformasi (Lim, 2017).

Jika dilihat sekilas, pers Indonesia sudah berubah jauh—dari media cetak yang dikontrol ketat menjadi dunia digital yang serba bebas. Namun, jika kita lihat lebih dalam, ada hal yang tetap sama. Sejak dulu hingga sekarang, pers selalu didasarkan oleh suatu kepentingan: politik, ekonomi, dan kekuasaan (Padiatra, 2020). Sejarah pers Indonesia bukan sekedar cerita tentang media, tetapi juga tentang bagaimana informasi dikendalikan, diperjuangkan, dan diperdebatkan. Dari masa kolonial, pendudukan Jepang, hingga saat ini, pers terus berkembang dan beradaptasi dengan zamannya.

Dan mungkin, pertanyaan terpenting hari ini bukan lagi “apakah pers bebas?”, tetapi seberapa jauh pers bisa tetap independen di tengah berbagai kepentingan yang terus mengitarinya?

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sashenka Devane Raisa
saya merupakan mahasiswi Universitas Padjadjaran di Program Studi Ilmu Sejarah yang suka mencurahkan isi pikiran saya kedalam sebuah tulisan

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)