Ayo Netizen

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Oleh: Djoko Subinarto
Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

BANDUNG itu bukan sekadar sebuah kota. Ia juga adalah titik balik cara dunia melihat dirinya sendiri. Dari Bandung, sejarah tidak lagi hanya ditulis oleh yang menang.

Kita sama-sama ketahui, pada tahun 1955 lampau, puluhan negara Asia dan Afrika berkumpul dalam satu ruang yang sama. Mereka datang bukan sebagai kekuatan besar, tapi sebagai pengalaman bersama, yakni pernah dijajah. Dari situ, percakapan global mulai bergeser.

Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 sejatinya bukan hanya forum diplomasi. Ia adalah momen ketika suara yang selama ini dipinggirkan mulai terdengar dan sekaligus mengganggu tatanan lama.

Panggung sempit

Sebelum peristiwa bersejarah di Bandung itu, dunia internasional adalah panggung yang sempit, di mana hanya sedikit aktor yang benar-benar berbicara. Sisanya lebih sering menjadi bahan pembicaraan.

Negara-negara Asia-Afrika pada masa itu lebih sering hadir sebagai objek. Mereka dibicarakan dalam konteks konflik, sumber daya, atau ketertinggalan. Jarang sekali mereka dilihat sebagai subjek dengan kehendak sendiri.

Bandung akhirnya mengubah posisi itu secara perlahan dengan keberanian menyatakan posisi. Itu mungkin terdengar sederhana, tapi dampaknya panjang.

Untuk pertama kalinya, negara-negara yang sebelumnya terfragmentasi menemukan bahasa bersama: bahasa tentang kedaulatan, kesetaraan, dan penolakan terhadap dominasi. Dari situ, solidaritas mulai terbentuk.

Yang menarik, solidaritas itu tidak lahir dari kesamaan ideologi. Justru dari kesamaan pengalaman historis. Pengalaman dijajah ternyata lebih kuat daripada perbedaan politik.

Di titik ini, maka Bandung menjadi lebih dari peristiwa. Ia menjadi cara pandang, sebuah standpoint ihwal bagaimana dunia seharusnya dibaca.

Dalam kaitan ini, dunia tidak lagi dilihat dari pusat kekuasaan, melainkan dari pinggiran yang selama ini diabaikan. Dari situ, banyak asumsi lama mulai dipertanyakan.

Misalnya, anggapan bahwa modernitas hanya milik Barat. Bandung menunjukkan bahwa negara-negara lain juga punya aspirasi modernitasnya sendiri, dengan jalan yang berbeda.

Begitu juga dengan konsep pembangunan. Bandung membuka ruang bahwa pembangunan tidak harus mengikuti satu model tunggal. Ada banyak jalur, dan itu sah-sah saja.

Namun, transformasi dari objek menjadi subjek tidak terjadi seketika. Ia berjalan lambat, sering tersendat. Bahkan, kadang mundur.

Terjebak ketergantungan

Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung. (Sumber: Museum Konferensi Asia Afrika)

Banyak negara Asia-Afrika setelah merdeka justru terjebak dalam ketergantungan baru. Secara formal bebas merdeka, tapi secara struktural masih terikat. Ini menunjukkan bahwa menjadi subjek bukan hanya soal status politik.

Menjadi subjek berarti mampu menentukan arah sendiri. Itu membutuhkan kapasitas, bukan sekadar kedaulatan. Di sinilah tantangan sebenarnya muncul.

Bandung memang telah memberi fondasi, tapi tidak memberikan jawaban final. Ia membuka pintu, bukan menyediakan jalan. Sisanya harus dibangun sendiri oleh masing-masing negara.

Dalam konteks ini, Bandung lebih tepat dilihat sebagai proses. Jadi, bukan sebuah titik akhir. 

Yang mungkin sering dilupakan, Bandung juga adalah proyek narasi. Ia mencoba menggeser cara dunia diceritakan, dari satu pusat ke banyak pusat.

Di sinilah politik pengetahuan mulai berperan. Siapa yang menceritakan dunia, akan menentukan bagaimana dunia dipahami. Dan Bandung mencoba merebut ruang itu.

Namun, ruang narasi global ini tidak pernah netral. Ia selalu diperebutkan. Dan seringkali, yang punya sumber daya lebih besar akan lebih dominan.

Karena itu, suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Kembali relevan

Hari ini, ketika dunia bergerak menuju multipolaritas, semangat Bandung kembali relevan. Banyak negara mulai mencari posisi yang lebih mandiri. Mereka tidak ingin sepenuhnya berada dalam orbit kekuatan besar.

Di titik ini, menjadi subjek global kembali menjadi isu penting. Bukan hanya bagi negara, tapi juga bagi kawasan. Asia dan Afrika kembali mencari suaranya.

Namun, tantangannya kini tentu berbeda. Jika dulu kolonialisme bersifat fisik, sekarang lebih halus. Ia berbentuk ekonomi, teknologi, bahkan data.

Ini membuat konsep subjek menjadi lebih kompleks. Artinya, kita tidak cukup hanya merdeka secara politik, melainkan harus juga berdaulat dalam banyak dimensi lain.

Bandung telah memberi kita kerangka awal untuk memahami itu. Bahwa kemandirian bukan sesuatu yang diberikan tapi diperjuangkan terus-menerus.

Dalam konteks diplomasi publik, ini menjadi menarik. Narasi Bandung bisa menjadi alat untuk membangun posisi. Namun, hanya jika narasi itu dihidupkan, bukan sekadar diingat.

Museum KAA hingga hari ini berdiri sebagai pengingat. Namun, ia sesungguhnya bisa lebih dari itu. Ia bisa menjadi ruang produksi makna baru.

Persoalannya, apakah kita masih melihat Bandung sebagai peristiwa masa lalu? Atau sebagai cara membaca dunia hari ini? Jawaban atas pesoalan omo akan menentukan arah ke depan.

Karena pada akhirnya, menjadi subjek global bukan status yang sekali jadi. Ia adalah proses yang terus dinegosiasikan. Bandung hanya salah satu titik awalnya.

Dan mungkin, justru di situlah kekuatan Bandung. Kota ini tidak menawarkan kepastian. Tapi, membuka banyak kemungkinan. (*)

Reporter Djoko Subinarto
Editor Aris Abdulsalam