Ayo Netizen

Sisi Lain Kota Bandung: Kebiasaan Lama yang Berulang Kembali

Oleh: Dias Ashari
Peringatan Hantu dan CCTV pun tidak mengurungkan niat seseorang untuk membuang sampah sembarangan (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Bagi saya yang cukup lama memiliki mobilitas untuk melewati jalan Cibaduyut, rasanya pemandangan ini membuat ingatan saya kembali ke masa lalu. Dimana saat saya masih remaja, tumpukan sampah sering kali berserakan di sejumlah titik sepanjang jalan Cibaduyut. Saat remaja yang saya keluhkan hanya aroma menyengat yang mengganggu penciuman saja. Tapi hari ini saya memandang masalah yang sama dari sudut pandang yang berbeda.

Tak hanya bau ternyata saya mulai menyadari bahwa tumpukan sampah itu membuat pandangan saya tak nyaman dan rasanya seperti merusak keindahan. Apalagi ketika tumpukan sampah itu berada di depan sejumlah toko yang menjual oleh-oleh khas Cibaduyut yaitu sepatu. Bagi saya orang Bandung tentu Cibaduyut tidak terlalu istimewa. Tapi tentu tidak untuk orang lain yang ada di luar Kota Bandung. Buktinya Cibaduyut selalu menjadi opsi pillihan wisatawan ketika berkunjung ke Bandung. Sering ditandai dengan beberapa bus besar dari berbagai kota seperti Jakarta, Depok, Karawang hingga Jawa Tengah yang pernah saya lihat ketika melintasi kawasan tersebut.

Hari ini di tempat yang sama di sekitaran Jalan Citamiang tumpukan sampah kembali muncul di depan toko produksi kaca dan etalase. Sekitar tiga bulan ke belakang memang terdapat tempat sampah yang terbuat dari tumpukan bau-bata yang disemen yang saya rasa itu digunakan untuk menampung sampah dari toko itu. Namun entah kenapa mendadak ada kantong sampah yang berserakan dan kian hari makin menggunung.

Setelah sekian lama akhirnya sampah tersebut di angkut oleh truk sampah dan toko kaca itu menutup tempat sampah itu dengan membuat anyaman rotan sederhana juga grc. Saya pikir awalnya kejadian ini tidak akan terulang kembali. Namun siapa sangka sejak seminggu ke belakang tumpukan sampah itu kembali hadir. Awalnya hanya kantong kresek besar tapi kian hari justru terlihat tumpukan sampah dalam bentuk karung sehingga mulai mengganggu akses transportasi yang lewat jalan tersebut. Bahkan dari kacamata saya sampah-sampah itu bisa saja membuat pengguna motor jatuh karena lokasi tumpukan sampah itu memang berada di tikungan meski bukan yang curam. Namun dengan kondisi lampu jalan di malam hari menjelang subuh tentu bisa saja kejadian buruk mungkin terjadi.

Permasalah Kota Bandung terkait dengan sampah memang bukan perkara mudah dan terus menjadi permasalahan krusial yang sulit untuk dihilangkan. Begitu banyak faktor yang perlu dipecah dan dianalisis untuk ditemukan solusinya. Adapun menurut saya kebiasaan buang sampah berulang ini melingkupi perilaku, budaya juga kondisi sosial.

Menurut saya kebiasaan buang sampah erat kaitannya dengan perilaku seseorang dan biasnya hal ini terbentuk dari lingkungan sekitar. Sejak kecil mungkin saja anak-anak melihat bahwa kegiatan buang sampah sembarangan yang dilakukan oleh orang dewasa itu menjadi sebuah kebenaran. Sehingga aktivitas tersebut dipandang hal yang normal ketika beranjak dewasa. Berdasarkan pengamatan saya perilaku itu seringkali terjadi hampir di seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari alasan seseorang membuang sampahnya ke Citarum dengan alasan tidak sanggup membayar iuran tiap bulan. Kemudian masyarakat yang dianggap kelas menengah ke atas yang juga sesekali sering terlihat melemparkan sampah dari dalam mobilnya ke jalan.

Membuang sampah sembarangan merupakan perilaku yang menunjukkan rendahnya kepedulian dan tanggung jawab sosial. Dengan kata lain kebersihan juga menyangkut permasalahan karakter seseorang dalam menjalankan kebiasaannya.

Tak hanya itu ketika pendidikan dan literasi sudah lebih banyak digaungkan di era digital tapi kebanyakan masyarakat masih belum peduli dengan kondisi tersebut. Saya rasa masyarakat pasti sudah menyadari bahwa sampah bisa berdampak terhadap kesehatan dan lingkungannya. Hanya saja karena sebagian masyarakat belum merasakan dampak dahsyatnya maka seringkali mereka memilih untuk abai. Padahal kejadian diare, pemanasan suhu udara dan juga banjir sudah menjadi peringatan kecil dari dampak sampah terhadap kesehatan dan lingkungan.

Menurut saya mereka yang membuang sampah di jalan tersebut tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap kenyaman publik. Seringkali seseorang tidak akan peduli dengan kondisi lingkungan yang terdampak karena sangat jauh dengan realitas yang terjadi di lingkungan terdekatnya. Dengan kata lain ketika seseorang tersebut membuang sampah di ruang publik dirinya tidak merasakan langsung dampak dari baunya, dari kotornya juga dari sarang penyakit yang akan menderainya.

Sebetulnya sangat menyedihkan melihat Bandung yang sering mendapat julukan kota Bandung berubah dengan lautan sampah hanya karena perilaku sebagian masyarakatnya yang sulit mengendalikan diri sendiri. (*)

Reporter Dias Ashari
Editor Aris Abdulsalam