Ci Manuk, sungai yang panjangnya 180 km, hulunya berada di ketinggian +1.200 mdpl di Kabupaten Garut. Terus mengalir menurun melintasi Kabupaten Sumedang, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Indramayu, bermuara di ketinggian +0 mdpl di Laut Jawa. Daerah tangkapan hujan Ci Manuk luasnya 3.733 km persegi, yang, saat ini keadaan lingkungannya sudah sangat mengkhawatirkan, alih fungsi lahan dari hutan alami berganti menjadi hutan produksi, dan kini menjadi kebun sayuran, seperti kol, wortel, bawang, dan kentang, yang dicabut setiap musim tanam.
Setidaknya pada masa Kerajaan Sunda berjaya, muara Ci Manuk menjadi Pelabuhan alami yang sangat ramai disinggahi kapal-kapal niaga antar Negara. Pelabuhan ini terus berkembang, jejaknya dapat ditelusuri dalam toponim di sepanjang Ci Manuk (awal) di Kabupaten Indramayu, seperti toponim Pabeanilir dan Pabeanudik. Tomé Pires, penjelajah, diplomat berkebangsaat Portugis, dalam Suma Oriental, Perjalanan dari Laut Merah ke Cina dan Buu Francisco Rodrigues, mencatat antara tahun 1512-1515, Kerajaan Sunda memiliki enam pelabuhan (laut): Pelabuhan Bantam (Pelabuhan Banten), Pelabuhan Pomdam (Pelabuhan Pontang), Pelabuhan Cheguide (Pelabuhan Cigede), Pelabuhan Tamgaram (Pelabuhan Tangerang), Pelabuhan Calapa (Pelabuhan Sundakalapa), dan Pelabuhan Chemano (Pelabuhan Cimanuk). Tome Pires mencatat nama Pelabuhan di muara sungai besar itu Chemano, tanpa huruf k.
Namun, saat ini, namanya Ci Manuk. Dalam Bahasa Sunda, manuk berarti burung. Burung apa yang menjadi penanda wilayah sungai, sampai Namanya generik, bersifat umum, tidak merujuk pada nama burung tertentu. Padahal, habitat burungnya berbeda, dari hulu, tengah, dan hilir. Karakter buminya berbeda, akan mempengaruhi jenis burung yang umum di tempat tersebut.
Banyak contoh, bahwa toponim di Jawa Barat itu tidak generik, tapi lebih spesifik, burung apa yang menjadi penanda Kawasan di wilayah itu. Misalnya toponim Cirangkong, karena di sana habitatnya untuk burung rangkong (Buceros rhinoceros). Pasir Julang, Cijulang, karena di sana merupakan habitat bagi burung julang (Rhyticeros undulatus). Pasir Kangkareng, Kangkareng, Cikangkareng, karena terdapat Burung kangkareng (Anthracocros albirostris). Rancaekek, banyak terdapat burung ékék (Cissa thalassina). Ciranjang, karena kawasan itu menjadi habitat yang nyaman bagi burung paranjangan atau branjangan (Mirafra javanica). Dinamai Cikuntul, karena di lahan basah dan persawahan di sana banyak burung kuntul munding atau kuntul kerbau (Bubulcus ibis). Rancabango, rawa yang menjadi habitat bagi burung bangau (Mycteria cinerea). Dan, Gunung Bubut, bukit yang menjadi habitat burung bubut (Centropus sinensis atau Centropus bengalensis).
Kembali ke Ci Manuk, sungai yang panjangnya mencapai 180 km, mengapa namanya generik, manuk, padahal setiap kawasan dengan karakter buminya masing-masing, yang cocok untuk jenis burung rawa, yang tidak cocok untuk burung di pegunungan.
Pada saat pertemuan dengan Prof Dr Agus Aris Munandar di Toko You, di Dago, Kota Bandung, yang digagas Dr Sinta Ridwan, kami mengobrol tentang toponimi. Saat itu terungkap toponim Ci Manuk. Rupanya Prof Agus mempunyai rasa penasaran yang sama tentang toponim sungai yang bermuara di Laut Jawa itu.
Sesuai bidang keahliannya, Arkeologi, Prof Dr Agus Aris Munandar memberikan alternatif tafsiran, bahwa Ci Manuk itu bukan berasal dari kata manuk yang berarti burung, tapi berasal dari kata manu, dari bahasa Sanskerta. Manu berarti manusia atau umat manusia, bijaksana, pikiran (kekuatan mental). Jadi menurutnya, toponim sungai itu bukan Ci Manuk, tapi asalnya Ci Manu, yang bermakna sungai suci penuh do’a yang dapat menguatkan jiwa manusia.
Sebagai contoh lain, lingkungan air seperti sungai dan telaga yang disucikan dan menjadi toponim, misalnya: Ci Pasarangan, sungai yang bermuara di Samudra Hindia di Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut. Dan Losarang, semula Loh Sarang di Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu. Losarang berasal dari lo atau loh yang berarti sungai, dan sarang, sarangan, yang bermakna suci. Jadi, keduanya di Jawa Barat, dijadikan sungai suci, dan Telaga Sarangan di lereng Gunung Lawu, di Desa Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, dijadikan telaga suci. Toponim sungai dan telaga, kemudian menjadi toponim desa dan kecamatan.

Tentang penambahan huruf di belakang kata, menjadi hal yang biasa diucapkan oleh masyarakat di Jawa Barat pada saat berbicara. Seperti saat berbicara dalam Bahasa Indonesia, orang Sunda menambahkan huruf h pada kata saya menjadi sayah. Kata ranca menjadi rancah. Kata gedé menjadi gedéh. Kata Lo menjadi loh. Kata léngko menjadi léngkoh. Kata tida menjadi tidak (?), dan kata manu menjadi manuk.
Sungai yang melintasi empat kabupaten itu sangat mungkin semula bernama Ci Manu, yang muaranya menjadi Bandar Chemano pada abad ke-16, seperti yang ditulis oleh Tomé Pires, tanpa huruf k di belakangnya. Ci Manu, sungai yang disucikan, sungai yang penuh do’a, sungai yang menguatkan jiwa manusia, sungai yang sangat berarti bagi manusia yang memanfaatkannya dengan sangat baik. (*)