Seringkali, Soedirman dikisahkan sebagai tokoh besar yang sangat berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Ia dinarasikan macam pahlawan tanpa noda, seakan Indonesia lahir dari hasil perjuangannya saja. Citra inilah yang dipinjam oleh Soeharto untuk kepentingannya pada masa Orde Baru.
Buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir merupakan salah satu bagian dari seri buku Tempo yang menampilkan riwayat hidup Sang Panglima Besar. Melalui tulisan ini, Tempo memanusiakan sosok Pak Dirman, pun menyajikan kisahnya dengan gaya bahasa yang smooth dan begitu nyaman untuk dibaca.
Disebutkan bahwa Pak Dirman lahir pada 24 Januari 1916 di Purbalingga. Namun, sejak usia 8 bulan beliau sudah diboyong keluarganya ke Cilacap. Mayoritas informasi mengatakan bahwa Tjokrosoenarjo dan Toeridowati adalah orang tua angkat dari Pak Dirman. Akan tetapi, berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh Tempo dengan Muhammad Teguh Bambang Tjahjadi, informasi tersebut disangkal olehnya. Anak Pak Dirman yang paling bungsu tersebut mengatakan bahwa ayahnya merupakan anak kandung dari Tjokrosoenarjo, seorang Asisten Wedana di Rembang. Informasi tersebut didapatkannya dari ibunya sendiri, Siti Alfiah.
Sebelum pernikahannya, Pak Dirman adalah seorang aktivis dalam Pemuda Muhammadiyah juga Hizbul Wathan, sebuah organisasi kepanduan Muhammadiyah. Beliau juga menjadi seorang guru di sana, hingga pernah menjabat sebagai kepala sekolah. Saat hendak bergabung dengan Peta, beliau sempat tidak yakin karena cacat fisik yang ia derita, tempurung lututnya bergeser akibat hobinya bermain bola, pun mata kirinya sedikit buram.
Buku ini juga menyebutkan mengenai strategi gerilya yang beliau lakukan, meskipun ia sempat kelimpungan menghadapi militer Belanda di bawah pimpinan Letnan Jenderal Simon Spoor dalam Operatie Kraai. Diceritakan pula perjalanannya berpindah-pindah tempat dengan tandu, juga namanya yang kerap berganti-ganti demi penyamaran. Sekalipun menderita penyakit dan tubuhnya tidak sekuat dulu, Pak Dirman tidak pernah luruh semangatnya ketika bergerilya. “Yang sakit itu Soedirman, tapi Panglima Besar tidak pernah sakit,” ujarnya.
Banyak informasi tidak biasa mengenai sosok Pak Dirman dapat ditemukan di buku ini, salah satunya adalah bahwa Pak Dirman dipercaya mempunyai kemampuan sakti. Beliau pernah dimintai penduduk untuk menyembuhkan istri seorang lurah yang sudah terbaring payah. Ajaibnya, Pak Dirman sungguhan bisa membuat pasiennya itu terbangun lagi. Bahkan berdasarkan kisah dari seorang santri di Krapyak, gurunya bercerita padanya, bahwa Pak Dirman pernah menjatuhkan pesawat Belanda hanya dengan meniupkan bubuk merica saja.
Buku ini juga menceritakan perihal kekecewaan Pak Dirman kepada Soekarno dan Hatta. Kala itu, Soekarno sudah berjanji bila Belanda melakukan serangan dan menyerbu Yogyakarta, maka ia siap untuk melancarkan gerilya. Sama halnya dengan Wakil Presiden Muhammad Hatta yang katanya siap untuk memimpin perang jika perdamaian ditolak oleh Belanda. Meski kondisi Pak Dirman tidak sepenuhnya sehat saat itu, beliau tetap konsisten bergerilya. Pak Dirman sungguh menolak keras perundingan dengan Belanda.
Kala Soekarno Hatta ditahan oleh Belanda dan dibuang ke Pulau Bangka, Pak Dirman mempertanyakan tindakan kedua pemimpin negara tersebut. Dalam radiogram yang dikirimkan oleh Pak Dirman kepada Sjafrudin Prawiranegara, beliau melontarkan kritiknya, “Apakah pantas orang-orang yang berada dalam tahanan atau berada di dalam pengawasan tentara Belanda berhak melakukan perundingan dan mengambil keputusan politik buat menentukan nasih Republik?” Sungguh sosok yang konsisten dan berprinsip.
Peristiwa tersebut membuat hubungan sipil-militer menjadi tegang. Untuk mencairkannya, Seokarno lantas mengirimkan surat kepada Pak Dirman dan membujuknya agar pindah ke Yogyakarta pasca perundingan Roem-Royen. Hasilnya, Pak Dirman menempuh perjalanan ke Yogyakarta, masih dengan perasaan tidak terima. Beliau menghadap para pimpinan negara dengan sikap marah. Pada akhirnya, Soekarno menjadi pihak yang mengalah dan merangkul tubuh Sang Jenderal Besar. Dengan sengaja, Soekarno meminta Frans Mendur selaku kamerawan untuk menangkap momen tersebut. Padahal, pelukan tersebut tidak dibalas Pak Dirman. Masih merajuk rupanya.
Tindakan Soekarno tersebut bertujuan untuk menunjukkan kepada khalayak bahwa sama sekali tidak ada perpecahan antara sipil dan militer. Fotonya yang merangkul Sang Jenderal Besar kini tersebar di buku-buku sejarah. Pemahaman Soekarno terkait fotografi, memang cerdik.
Pak Dirman juga merupakan seorang perokok berat. Saat sudah didiagnosis menderita penyakit tuberkulosis dan hidup dengan paru-parunya yang tinggal sebelah sekalipun, beliau tetap meminta istrinya meniupkan asap rokok padanya. Sungguh begitu kecanduan.

Kala tubuhnya sudah tidak kuat dan kian melemah, nafas terakhirnya terhembus pada hari Senin, 29 Januari 1950. Sang Panglima Besar pergi di usia muda, 34 tahun.
Tempo menarasikan buku ini tidak kronologis secara keseluruhan, cenderung membagi dan menyusunnya berdasarkan momentum besar. Terkadang, saya sendiri sebagai pembaca dibuat cukup bingung. Dalam buku ini, terdapat beberapa sub-bab: Bapak Tentara dari Banyuman, Dari Sebuah Sidang Revolusioner, Si Kaji Menjadi Bintang Lima, Garis Politik Sang Jenderal, Bukan Musuh, Sakit yang membuatnya Taktuk, dan Kolom yang berisi opini dari beberapa tokoh.
Selain penyajian tulisan Tempo yang sungguh dinikmati ini, ada pula kelebihan lainnya, yakni adanya beragam foto yang dilampirkan. Sumber visual yang disajikan membuat pembaca seakan bisa merasakan atmosfer langsung dari peristiwa yang dikisahkan. (*)