Menelusuri kembali halaman depan Bandung Pos edisi Jumat, 22 Juli 1994 menghadirkan pengalaman yang tak tergantikan. Di balik kertas yang mulai menguning dan tinta yang perlahan memudar, tersimpan rekaman sejarah yang pernah menjadi perbincangan nasional. Judul utama koran hari itu berbunyi "Eddy Tansil Dituntut Hukuman Seumur Hidup dan Ganti Rp800 Miliar", sebuah headline yang mencerminkan besarnya perhatian publik terhadap kasus korupsi yang mengguncang Indonesia pada era Orde Baru.
Membuka lembar demi lembar surat kabar lawas bukan sekadar bernostalgia. Setiap halaman menjadi kapsul waktu yang membawa pembaca kembali ke masa ketika koran adalah sumber utama informasi. Tata letak yang didominasi teks, judul-judul besar yang tegas, serta penyajian berita yang lugas menjadi ciri khas jurnalisme cetak pada dekade 1990-an.
Bandung Pos menempatkan kasus Eddy Tansil sebagai berita utama sehari setelah jaksa membacakan tuntutan di pengadilan. Pengusaha bernama lengkap Edy Tansil (Tan Tjoa Ing) dituntut hukuman penjara seumur hidup serta diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp800 miliar, angka yang sangat fantastis pada masanya.
Kasus ini bermula dari kredit jumbo yang diberikan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) kepada kelompok usaha Golden Key milik Eddy Tansil. Kredit tersebut diduga disalurkan tanpa prinsip kehati-hatian yang memadai dan kemudian menimbulkan kerugian negara dalam jumlah sangat besar. Perkara ini menjadi simbol lemahnya tata kelola perbankan serta pengawasan terhadap penyaluran kredit pada masa itu.
Meski pada akhirnya Eddy Tansil dijatuhi hukuman penjara 20 tahun oleh Mahkamah Agung, kisahnya tidak berhenti di ruang sidang. Pada tahun 1996 ia melakukan pelarian yang sangat menghebohkan dari Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Hingga kini, keberadaannya masih menjadi salah satu misteri terbesar dalam sejarah penegakan hukum di Indonesia. Pelarian tersebut juga menyeret sejumlah aparat yang kemudian diproses hukum karena terbukti membantu atau lalai dalam pengawasannya.

Bandung Pos juga memberitakan vonis terhadap Maman Suparman, salah seorang terdakwa lain dalam perkara Bapindo. Perbedaan putusan terhadap para terdakwa menunjukkan bagaimana pengadilan menilai tingkat keterlibatan dan tanggung jawab masing-masing dalam skandal tersebut.
Selain berita utama mengenai Eddy Tansil, halaman depan Bandung Pos juga memuat berbagai isu yang kala itu menjadi perhatian masyarakat. Mulai dari persoalan kemiskinan, rendahnya penyerapan anggaran pembangunan di Jawa Barat, dinamika politik nasional, hingga berbagai peristiwa kriminal.
Rangkaian berita tersebut memberikan gambaran utuh mengenai wajah Indonesia pada pertengahan 1990-an. Koran bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi cermin kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang sedang berkembang pada masa itu.
Lebih dari tiga dekade telah berlalu, namun Bandung Pos edisi 22 Juli 1994 tetap memiliki nilai historis yang tinggi. Halaman depannya menjadi saksi bagaimana media massa merekam salah satu skandal keuangan terbesar dalam sejarah Indonesia, sebuah kasus yang kemudian memengaruhi pembenahan sistem perbankan dan penegakan hukum di Tanah Air.
Bagi kolektor surat kabar lawas maupun pemerhati sejarah pers, setiap edisi koran seperti ini bukan sekadar benda koleksi. Ia adalah dokumen sejarah yang menyimpan denyut kehidupan masyarakat pada zamannya, lengkap dengan harapan, dinamika, serta berbagai persoalan yang pernah dihadapi bangsa.

Bandung Pos merupakan salah satu surat kabar harian yang pernah menjadi bagian penting dalam perkembangan pers di Kota Bandung dan Jawa Barat. Selama bertahun-tahun, koran ini dikenal luas karena menyajikan liputan politik, pemerintahan, ekonomi, olahraga, hiburan, hingga berbagai peristiwa lokal yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Pada era kejayaan media cetak, Bandung Pos menjadi salah satu referensi utama bagi warga Bandung dan sekitarnya. Gaya pemberitaannya yang lugas, informatif, dan berimbang menjadikannya memiliki tempat tersendiri di hati para pembaca.
Kini, ketika media digital mendominasi arus informasi, lembaran-lembaran Bandung Pos yang masih tersimpan telah berubah menjadi arsip sejarah yang sangat berharga. Setiap halaman tidak hanya merekam perjalanan Kota Bandung dan Jawa Barat, tetapi juga menjadi saksi berbagai peristiwa nasional yang pernah membentuk perjalanan Indonesia. Di antaranya adalah skandal Bapindo dan sosok Eddy Tansil, sebuah kisah yang hingga kini masih dikenang sebagai salah satu bab paling dramatis dalam sejarah hukum dan perbankan nasional.