Ayo Netizen

Ci Mahi, Sungai yang Mengalirkan Air Susu Keagungan dan Kemuliaan

Oleh: T Bachtiar
Muara Sungai Mahi di Teluk Kambhat, Laut Arab. (Sumber: Istimewa)

Toponim Cimahi berasal dari dua kata bahasa Sunda, yaitu ci atau cai, dan mahi. Ci atau cai berarti air, dan mahi berarti cukup. Air yang cukup, yang dipenuhi oleh aliran air dan sumber air lainnya yang tidak pernah kering dan mencukupi kebutuhan hidup warganya sejak dulu. Begitu arti toponim Cimahi yang tersaji di laman resmi Pemerintah Daerah Kota Cimahi.

Di Jawa Barat, nama geografis Cimahi itu bukan hanya nama Pemerintah Daerah Kota Cimahi, tapi setidaknya ada di enam kabupaten. Nama geografisnya sama, Cimahi. Toponim yang sama, seharusnya maknanya juga sama di mana pun tempatnya. Baik untuk Kota Cimahi, maupun untuk kampung atau Desa Cimahi. Sebagai contoh, ada toponim Desa Cimahi di Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut. Ada Desa Cimahi di Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi. Desa Cimahi di Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang. Kampung Cimahi di Desa Palasari, Kecamatan Ujungjaya, Kabupaten Sumedang. Desa Cimahi di Kecamatan Cimahi, Kabupaten Kuningan. Dan ada Desa Cimahi di Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta. Ini beberapa contoh, dan tentu, penduduk di sana menyebut dirinya urang Cimahi. Saya orang Cimahi.

Di Jawa Barat pada umumnya, nama geografis itu mengikuti nama bentangalam yang sudah ada lebih dahulu. Misalnya sudah ada sungai besar yang disucikan bernama Ci Mahi, maka masyarakat yang mengawali bermukim di sekitar sungai itu akan menamai lembur-nya, menamai kampungnya sesuai dengan nama sungai yang sudah lebih dahulu dikenal, yaitu Cimahi. Bila di suatu kawasan lain ada sungai yang juga disucikan, maka sungai itu dinamai Ci Pasarangan, berada di Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut. Ada juga nama geografis yang diberikan sesuai dengan karakter buminya. Misalnya kawasan yang kurang subur, dinamailah Nagrak atau Nagreg. Kawasan yang cekung, dinamailah Cilegon, Cipariuk, Gentong, Salopa, Cangkorah, Cikampek, Loyang, Cangko.

Begitu pun dengan nama geografis Kota Cimahi. Kata mahi mempunyai makna yang jauh lebih besar dan mulia dari pada sekedar bermakna mahi atau cukup. Bila ditelusuri ke masa lalu, pada tahun 450 M, bahasa Sanskerta pernah digunakan di Jawa Barat. Bahasa Sanskerta ini telah memperkaya kosa kata Bahasa Sunda, seperti yang abadi dalam prasasti dan nama-nama geografis. Masa lalu Ci Mahi, sungai yang hulunya berada di kaldera Gunung Suda, yang airnya dipasok dari Gunung Burangrang lereng timur dan Gunung Tangkubanparahu lereng barat, mengalir ke selatan sejauh 45 km, kemudian bermuara di Ci Tarum. Dinamailah sungai itu dengan menggunakan bahasa sastrawi, bahasa Sanskerta, Ci Mahi. Sungai Mahi. 

Kata mahi, berasal dari bahasa Sanskerta, bukan dari bahasa Sunda yang digunakan dalam percakapan atau tulisan saat ini. Sehingga untuk mengungkap maknanya harus menggunakan pisau bahasa Sanskerta. Sungai ini diberi nama Ci Mahi, berarti oleh yang memberi nama saat itu, disetarakan kesuciannya, kesakralannya, dengan Sungai Mahi di India.

Salah satu bahasan dalam kitab Kāvyamīmāmsā karya Rājasēhara dari abad ke-10, seperti yang beredar di dunia maya, ada bahasan tentang lima sungai suci di India, yaitu: Sungai Gangga, Sungai Yamunā, Sungai Sarayu, Sungai Aciravati, dan Sungai Mahi.

Pertama Sungai Gangga, dipersonifikasikan sebagai Dewi Gangga, sehingga sungai ini paling disucikan dan menjadi urat nadi kehidupan di India. Mengalir sejauh 2.525 km, dari gletser Gangotri di Pegunungan Himalaya hingga Teluk Benggala. Kedua Sungai Yamunā, anak Sungai Gangga yang penting dan sangat disucikan. Mengalir sejauh 1.376 km dari gletser Yamunotri bermuara di Sungai Gangga, melewati New Delhi dan Taj Mahal di Agra. Ketiga Sungai Sarayu atau Saryu, sungai suci di wilayah Uttarakhand dan Uttar Pradesh, yang hulunya di Pegunungan Himalaya. Sungai ini melewati kota Ayodhya, yang diyakini sebagai tempat kelahiran Dewa Rama. Keempat Sungai Aciravati (Acirvati atau Airavati), nama kuno untuk Sungai Rapti Barat. Sungai yang mengalir melewati wilayah Nepal dan bagian utara Uttar Pradesh ini mempunyai arti besar dalam tradisi beragama. Dan, kelima Sungai Mahi, sungai utama dan penting di India. Keistimewaan sungai ini alirannya memotong Garis Balik Utara (Tropic of Cancer) dua kali. Hulunya di Pegunungan Vindhya di Distrik Dhar, bagian Madhya Pradesh, mengalir sejauh 583 km, bermuara di barat, di Teluk Kambhat, Laut Arab.  

Banyak arti mahi dalam bahasa Sanskerta, seperti yang terdapat dalam berbagai kamus dan ensiklopedia yang beredar di dunia maya. Mahi berarti: bumi, dunia yang besar, tanah, lahan darat, kawasan darat, wilayah darat, rimba, negara, bangsa, kebesaran, keagungan, maha, intelek, terhormat, dihormati, sangat dikagumi, sangat, banyak, sapi, susu sapi, sungai yang tak pernah banjir. 

Jadi, makna toponim Ci Mahi (sungai) dan Cimahi (wilayah darat) itu bukan sekedar berarti cai mahi, air yang cukup, tapi jauh lebih dari itu. Toponim ini berhubungan dengan konsep kebesaran, keagungan, kemuliaan, kegembiraan, dan kecerdasan. Semoga ini menjadi spirit bagi warganya! (*)

Reporter T Bachtiar
Editor Aris Abdulsalam