Ayo Netizen

Cigenjlong Pernah Diguncang Gempa Sangat Kuat

Oleh: T Bachtiar
Di balik tanjakan yang menantang pesepeda, Cigenjlong menyimpan jejak gempa dahsyat yang membentuk bentang alam sekaligus meninggalkan cerita dalam nama kampungnya. (Sumber: Dokumentasi T. Bachtiar)

Sekarang, Kampung Cigenjlong kalah terkenal dibanding nama tanjakannya yang bersudut lebar. Tanjakan Cigenjlong. Tanjakan yang populer, terutama di kalangan pesepeda, yang rela mendorong sepedanya sambil terengah-engah. Keadaan inilah yang membuat para pesepeda penasaran untuk mencoba tanjakan, walau tak terlalu panjang, tapi keadaannya seperti ular kobra dalam posisi siaga untuk menyerang. Ujung-ujungnya sudah dapat diduga. Umumnya sama, menghentikan sepedanya, lalu mendorongnya. Tapi masih ada untungnya. Bentang alam di sini megah dan mempesona. Lerengnya sangat curam, yang sudah dikelola menjadi persawahan yang berteras-teras, pematangnya melengkung seirama dengan garis kontur. Bila usia padi masih disiangi, akan terlihat teras-teras berwarna hijau yang segar. Pada saat menjelang panen, persawahan itu berganti warna menjadi kuning keemasan. Di dasar lembah-lembahnya, mengalir Ci Anten dengan anak-anak sungainya seperti Ci Tereup dan Ci Asmara. 

Tanjakan Cigenjlong berada di Desa Sadengkolot, Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor. Sebagai gambaran, dari Tugu Kujang, Kota Bogor, ke Tanjakan Cigenjlong, jaraknya sekitar 33 km, dapat ditempuh selama 90 menit dengan berkendara.

Kawasan Cigenjlong dan sekitarnya merupakan endapan material letusan gunungapi tua, berupa breksi dan lava warna abu-abu terang. Gunungapi ini akif meledak-ledak antara 2,58 juta tahun hingga 11.700 tahun yang lalu. Bila berjalan melihat batuan yang seperti batu beton, itulah yang disebut breksi gunungapi. Sedangkan bongkah-bongkah batu yang terserak di lereng-lereng, di sepanjang punggungan, dan di puncak-puncak bukit. itulah lava dari letusan  

Kata genjlong dalam bahasa Sunda, sama maknanya dengan guncang, berguncang, goyang, bergoyang. Berguncang atau bergoyang karena terjadi gempa bumi yang sangat kuat, yang didahului dengan suara gemuruh atau ledakan. Terjadi kepanikan masyarakat, terjadi kedaruratan, suasana kacau-balau, tersebar kabar yang menghebohkan yang membuat semakin panik, semakin geunjleung

Untuk menelusuri riwayat kegempaan di wilayah Bogor, dimulai dari guncangan gempabumi terbaru di Kabupaten Bogor, terjadi pada tanggal 7 Agustus 2026 dengan kekuatan (M) 3,5. Sebelumnya, pada Desember 2023, Kota Bogor yang diguncang gempa dengan kekuatan 4. Dengan kekuatan yang sama, M 4, pada tanggal 19 Agustus 2019, Kabupaten Bogor diguncang gempa bumi paling merusak yang terjadi di Jawa Barat.

Mundur ke abad ke-19, pagi 11 Oktober 1834, wilayah Bogor diguncang gempa bumi sangat kuat dengan kekuatan 7,0 selama 51 detik. Sebagian besar rumah-rumah warga hancur-lebur, lima orang tewas tertimbun longsor, dan jalan antara Bogor – Cianjur retak-belah memotong jalan. Getarannya terasa sampai di Lampung, ke timur hingga di Tegal.

Bangunan utama Istana Bogor mengalami rusak sangat parah. Gedung sayap timur dan barat pun runtuh rata dengan tanah. Pembangunan kembali Istana Bogor baru mulai pada tahun 1850,  16 tahun setelah gempabumi. Gaya arsitekturnya diganti, yang semua dua tingkat, menjadi satu tingkat. 22 tahun kemudian, pembangunan Istana Bogor baru benar-benar rampung, pada masa pemerintahan Jenderal Charles Ferdinand Pahud de Montanges.

Warga Bogor beberapa malam belum berani tidur di rumah karena terjadi gempa susulan. Bahkan di Jakarta, banyak sekali rumah penduduk, gedung-gedung yang dindingnya retak, bahkan ada atapnya yang roboh.

Pada tahun 1699 terjadi banjir bandang pantai utara Batavia – Banten, yang mengalirkan bahan rombakan yang sangat banyak, berupa tanah, pasir, kerikil, kerakal, bongkah batu, hingga batang kayu gelondongan. Longsor besar yang menyebabkan terjadinya aliran bahan rombakan (debris flow) itu dipicu oleh gempa bumi yang sangat kuat. Di antara Batavia dengan Ci Sadane, tanah terbelah dengan lebar lebih dari satu kaki. Sisi dinding Gunung Salak ambruk, material longsorannya kemudian membendung Ci Liwung, Ci Pinanggading, dan Ci Apus, hingga terjadi banjir lumpur meluap ke mana-mana.

Adanya toponim Kampung Cigenjlong dan Tanjakan Cigenjlong di selatan jalan raya Leuwiliang, sekitar lima km dari Leuwisadeng, dan delapan km dari Leuwiliang, semakin menguatkan dugaan, bahwa di kawasan Leuwisadeng, di kawasan Leuwiliang dan sekitarnya, pada masa lalu pernah diguncang gempa bumi yang sangat kuat. Guncangan gempabumi itu mengakibatkan longsor sangat besar, yang merobohkan dinding gunung yang curam. Lava hasil letusan efusif masa lalu yang membeku di lereng gunung, terpatahkan berbarengan dengan robohnya dinding gunung. Lava itu kemudian pecah-pecah, ambruk, menggelinding tersebar hingga di kaki gunung. Longsoran dahsyat itu menyebabkan yang semula berupa lereng yang sangat curam, menjadi sedikit melandai hingga landau. Di atas material bahan rombakan itulah, masyarakat setempat membenahinya, mengolahnya menjadi persawahan yang bertingkat-tingkat. 

Bila dikaitkan dengan hasil penelitian Patahan Baribis di utara Jawa Barat, yang lajur patahannya melewati wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, Subang, Purwakarta, Karawang, Bekasi, Selatan Jakarta, Depok, dan Bogor, kemungkinan besar, kejadian gempa bumi yang sangat kuat itu bersumber dari Patahan Baribis.

Karena guncangannya yang sangat kuat, mendorong masyarakat di sana untuk menamai kawasan yang terdampak sangat berat dengan nama Cigenjlong. Kawasan yang pernah diguncang gempabumi sangat kuat dengan dampak yang berat. Semoga toponim ini dapat menjadi pengingat untuk kewaspadaan, dan melakukan mitigasi sebelum terjadi kembali. (*)

Reporter T Bachtiar
Editor Aris Abdulsalam