Ayo Netizen

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Oleh: Djoko Subinarto
Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)

KOTA tidak membutuhkan ruang publik yang sekadar fotogenik. Kota membutuhkan ruang publik yang benar-benar berfungsi dan digunakan. 

Rencana Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menata kembali Teras Cihampelas pada tahun 2027 patut  kita beri apresiasi. Kawasan itu memang membutuhkan pembenahan. 

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, seperti dikutip sejumlah media, bahkan menyebut hanya sekitar 15 pedagang yang masih aktif di Teras Cihampelas saat ini. Padahal, ketika fasilitas itu mulai beroperasi pada 2017 lampau, jumlah pedagang jauh lebih banyak. 

Sebuah studi akademik mencatat pada awal pengoperasian Teras Cihampela terdapat sekitar 192 pedagang kaki lima (PKL), terdiri atas 140 kios suvenir dan 52 kios kuliner.

Kalau ruang yang dahulu dihuni ratusan pedagang kemudian tinggal menyisakan belasan, maka persoalannya kemungkinan bukan sekadar konstruksi yang kurang bagus atau lampu yang kurang terang. Pastinya ada sesuatu yang lebih mendasar, yakni ruang itu kehilangan fungsi ekonominya, kehilangan arus pengunjungnya, atau kehilangan alasan bagi orang untuk berada di sana.

Persoalan tersebut penting dikaji lebih jauh lantaran sebuah ruang publik bukan benda mati. Ia bekerja seperti ekosistem. Ada orang yang datang, berjalan, berhenti, makan, membeli sesuatu, bertemu teman, mengambil foto, menonton pertunjukan, kemudian pulang. 

Pedagang tentu saja membutuhkan arus manusia. Adapun pengunjung membutuhkan alasan-alasan untuk datang ke sebuah tempat. Sedangkan pemerintah membutuhkan biaya untuk merawatnya. Nah, ketiganya saling menghidupi. Begitu salah satu putus, ruang itu perlahan bisa menjadi sepi -- mati suri, seperti Teras Cihampelas sekarang ini.

Kinerja penjualan

Dalam sebuah kajian menyangkut kawasan perdagangan di Seoul, peneliti menemukan hubungan antara akses pejalan kaki, visibilitas toko, dan kinerja penjualan. Semakin baik akses dan keterlihatan toko bagi pejalan kaki, semakin besar peluang kinerja ekonominya membaik. Kajian lain tentang pedestrianisasi di sejumlah kota di Spanyol juga menemukan bahwa perubahan ruang untuk lebih ramah pejalan kaki dapat meningkatkan volume penjualan toko di sekitarnya.

Namun demikian, ada satu catatan penting, yakni trotoar yang bagus tidak otomatis menciptakan pejalan kaki. Bagaimanapun, orang berjalan kaki karena ada tujuan. Mereka berhenti karena ada sesuatu yang menarik. Mereka kembali karena pengalaman sebelumnya menyenangkan. 

Jadi, jangan membalik hubungan sebab-akibat. Jangan mengira dengan memasang bangku yang enakeun, maka orang otomatis bakal datang. Lantas,  karena orang datang, maka perdagangan otomatis hidup. Bisa saja bangkunya bagus dan enakeun, tetapi tidak ada yang ingin duduk.

Project for Public Spaces, lembaga yang lama mengkaji ruang publik, menemukan empat unsur yang berulang pada ruang publik yang berhasil menggaet pengunjung. Keempat unsur itu adalah: mudah diakses dan terhubung, nyaman, memiliki aktivitas yang menarik orang, serta menjadi tempat yang membuat orang ingin berkumpul dan kembali. Dengan kata lain, ruang publik yang hidup bukan hanya ruang yang sekadar enak dilihat, tetapi ruang yang punya kehidupan di dalamnya.

Karena itu, persoalan revitalisasi Teras Cihampelas 2027 perlu berfokus pada apa yang kira-kira membuat urang Bandung maupun wisatawan luar Bandung sengaja memasukkan Cihampelas ke dalam rencana perjalanan mereka.

Dahulu pisan, orang menyambangi Cihampelas untuk mencari jeans. Bahkan, identitas Cihampelas sebagai pusat jeans pernah begitu kokoh sehingga nama kawasan itu sendiri menjadi semacam trade mark

Pada 2008,  koran berbahasa Inggris terbitan ibukota, The Jakarta Post, pernah menggambarkan Cihampelas sebagai tujuan belanja jeans dengan toko-toko yang dihiasi patung-patung superhero raksasa. Daya tarik Cihampelas kala itu bukan karena pemerintah membuat sebuah ruang publik yang geulis. Daya tariknya muncul dari kombinasi perdagangan, keunikan visual, kuliner dan pengalaman jalanan yang khas.

Jujur saja, Cihampelas dahulu tidak menunggu pemerintah menciptakan daya tarik. Daya tarik itu tumbuh dari aktivitas ekonomi dan kreativitas para pelaku usaha. Patung Superman, Batman atau Rambo di depan toko mungkin sekarang terlihat norak. Tetapi, pada zamannya, justru kenorakan itulah yang membuat orang berhenti, melihat, berpose, dan masuk toko.

Maka, jangan-jangan masalah Cihampelas hari ini bukan kekurangan estetika, melainkan kekurangan alasan bagi orang untuk berkunjung. Jeans sendiri saat ini bukan lagi monopoli Cihampelas. Pola belanja pakaian sudah berubah. Orang bisa mencari barang melalui marketplace dari rumah. Belum lagi destinasi kuliner tumbuh ceuyah di banyak sudut Bandung. Persaingan Cihampelas bukan lagi hanya dengan jalan di sebelahnya atau dengan kawasan lain. Ia bersaing pula dengan seluruh pelosok kota, bahkan dengan layar telepon genggam.

Karena itu, mengembalikan Cihampelas tidak berarti harus mengembalikan Cihampelas persis seperti tahun 1990-an. Nostalgia tidak cukup menjadi strategi ampuh ekonomi. Orang tidak akan datang hanya karena pemerintah mengatakan, misalnya, "Ini dulu terkenal sebagai kawasan jeans." 

Yang harus dihidupkan saat ini adalah alasan-alasan baru bagi orang-orang untuk menyambangi dan mengalami Cihampelas.

Mungkin jeans tetap menjadi bagian penting. Tetapi ia bisa lebih dikembangkan menjadi ekosistem denim, mulai dari toko, desain, produksi skala kecil, custom jeans, workshop, reparasi, pameran, sejarah mode Bandung dan ruang bagi para desainer muda. Artinya, wisatawan datang bukan hanya membeli celana wungkul. Mereka bisa pula melihat bagaimana celana dibuat, memilih bahan, menentukan model, bahkan membawa pulang produk yang dibuat khusus dan ekslusif untuk dirinya. Dengan begitu, barang yang dibeli bukan sekadar jeans. Ia menjadi pengalaman otentik.

Sensor sosial

Potret Teras Cihampelas saat di sambangi pada Kamis, 3 Juli 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Masih adanya lima belas pedagang yang masih bertahan di Teras Cihampelas kiwari tentu saja bukan sekadar angka dalam laporan pemerintah. Mereka adalah semacam sensor sosial. Mereka pasti tahu jam ramai, jam sepi, barang yang dicari orang, kebiasaan pembeli dan alasan pelanggan tidak kembali. Maka, pemerintah seyogianya pula banyak mendengar dari mereka. Dalam pendekatan placemaking, pengguna ruang dan calon pengguna justru dianggap memiliki pengetahuan penting untuk menentukan bagaimana sebuah tempat seharusnya berfungsi.

Pemerintah juga bisa menguji konsep sebelum membangun secara permanen Teras Cihampelas versi baru. Misalnya, sebagian ruas dibuat sebagai kawasan pedestrian pada hari tertentu. Diadakan pasar denim, pertunjukan musik, kuliner malam, pameran desain atau kegiatan komunitas selama beberapa bulan. Lalu diukur berapa orang yang datang, berapa lama mereka tinggal, berapa yang membeli sesuatu, berapa omzet pedagang, dan apakah pengunjung kembali pada momen-momen berikutnya. Pengelola kota bisa belajar banyak dengan melakukan sejumlah eksperimen.

Penelitian mengenai tactical urbanism dan pedestrianisasi menunjukkan bahwa perubahan sementara pada ruang jalan dapat digunakan untuk menguji dampak ekonomi terhadap toko-toko di sekitarnya. Bahkan penelitian terbaru menggunakan data transaksi untuk mengukur perubahan penjualan setelah intervensi pejalan kaki. Artinya, sebelum pemerintah mengeluarkan biaya besar, sebagian gagasan bisa diuji lebih dulu dalam skala kecil.

Ada pula hal lain yang patut diperhatikan. Apakah para orang tua -- terutama lansia -- nyaman berjalan di sana,  apakah anak-anak aman, apakah perempuan merasa aman pada malam hari, apakah penyandang disabilitas bisa bergerak tanpa bantuan, apakah pedagang bisa memperoleh penghasilan, apakah wisatawan memiliki sesuatu yang tidak mereka dapatkan dari pusat perbelanjaan? 

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu bakal memastikan seberapa bagus kualitas penataan di Cihampelas nanti.

Terlalu rapi

Sebaiknya pula Cihampelas jangan dibuat terlalu steril. Ruang kota yang terlalu rapi kadang justru kehilangan daya hidupnya. Bising suara pedagang, aroma makanan, musisi jalanan, toko/jongko kecil yang nyentrik dan aktivitas spontan bisa menjadi bagian dari daya tarik kawasan.  Kota adalah tempat manusia melakukan hal-hal yang tidak selalu bisa direncanakan pemerintah.

Karena itu, jangan fokus membangun Teras Cihampelas hanya untuk Instagram. Kepentingan untuk Instagram dipikirkan belakangan saja. Kalau tempatnya hidup, orang akan memotretnya sendiri. Kalau pedagangnya mendapatkan pembeli, mereka akan bercerita sendiri. Kalau wisatawan menemukan pengalaman yang berbeda, mereka akan mengunggah ke media sosial tanpa perlu diminta.

Maka, yang perlu dipersiapkan dan dibangun pemerintah di Cihampelas bukan memperbanyak latar belakang untuk foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Kita tidak berharap Teras Cihampelas yang baru nanti ngan endah sewaktu difoto, namun tiiseun setelah kamera dimatikan. (*)

Reporter Djoko Subinarto
Editor Aris Abdulsalam