Bumi Jawa Barat berhadapan langsung dengan sumber gempa bumi tektonik di sebelah selatan. Di kedalaman dasar laut lepasnya, terdapat zona penunjaman, tempat dua lempeng raksasa bertemu. Lempeng Samudra Indo-Australia menunjam lempeng Benua Eurasia, menjadi sumber gempabumi, yang merambat melalui jalur-jalur retakan di kadalaman bumi. Gempa bumi di sepanjang garis patahan, telah menyebabkan longsor, permukaan kawasan relatif turun atau naik, membentuk tebing yang curam, membentuk lembah yang dalam. Sungai mengalir di dasar lembah, meliuk sesuai kekerasan batuan. Peristiwa tektonik itulah yang menjadi sebab lahirnya gunung-gunungapi, sejak puluhan juta tahun yang lalu hingga kini.
Gempabumi atau lini dalam bahasa Sunda, sudah teramati dengan cermat, yang melahirkan kosakata yang berhubungan dengan dengan besaran guncangan gempabumi (T Bachtiar, Istilah Sunda untuk Besar Guncangan Gempabumi, AyoBandung, 27 Agustus 2026), yaitu: pertama riyeg, gempabumi ringan, goyangan lemah, keadaan lahan, bangunan, dan barang-barang bergoyang kecil. Kedua inggeung, gempabumi sedang, keadaan lahan atau bangunan bergoyang, berayun, menyebabkan kerusakan ringan. Ketiga eundeur, gempabumi kuat sampai sangat kuat, keadaan tanah atau bangunan berguncang kuat disertai atau tidak suara gemuruh, menyebabkan kerusakan bangunan. Keempat genjlong, gempabumi besar, keadaan lahan dan bangunan berguncang, disertai atau tidak suara gemuruh yang keras mengagetkan. Permukiman mengalami banyak kerusakan parah, terdapat korban jiwa.
Nama geografis dengan satu penyebab yang sama, yaitu gempabumi, dapat melahirkan beragam nama geografis. Bila direkonstruksi, mundur ke belakang, penamaan suatu kawasan yang diguncang gempa bumi, melahirkan nama yang berbeda. Sebab tidak ada satu pun stimulus tunggal yang paling berpengaruh untuk semua orang, tergantung pada respon indra yang paling dominan dalam menerima stimulus atau rangsangan gempabumi.

Ketika stimulus guncangan gempabumi yang dating tiba-tiba akan langsung mengaktifkan bagian otak yang mengatur emosi, rasa takut, dan respon untuk bertahan hidup, yaitu lawan atau lari. Tubuh dan mental akan merespon untuk bertahan hidup ketika guncangan gempabumi mendera. Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.
Manusia itu mahluk visual dan auditori, sehingga indra itulah yang paling kuat dalam merespon guncangan gemabumi. Penglihatan dapat merespon rangsangan visual (cahaya, warna, dan bentuk), dan menjadi paling dominan mempengaruhi persepsi seseorang. Ketika guncangan gempa bumi menyebabkan tanah terbelah, misalnya, maka indra keseimbangannya akan terganggu, dan bila rangsangan itu dianggap mengancam keselamatannya, maka rangsangan itu akan diproses lebih cepat oleh jalur otak, bahkan sebelum yang bersangkutan menyadarinya. Karena tanah yang terbelah ketika gempa bumi terjadi, merupakan stimulus visual yang sangat traumatis, karena mengubah persepsi otak tentang stabilitas lingkungan. Bila belahnya tanah menjadi fokus dan penyebab trauma, dan dirasakan menjadi ancaman terbesarnya ketimbang guncangan gempanya, maka sangat mungkin, inilah yang menyebabkan lahirnya nama geografis Cibeulah.
Indra auditori, suara yang tinggi dan tiba-tiba akan langsung menarik perhatian, akan langsung ditangkap oleh indra pendengaran, dan langsung memicu alarm bahaya di otak. Misalnya, ketika terdapat gemuruh yang kuat atau ledakan yang keras, akan menjadi perhatian utama, akan menjadi ancaman, ketimbang pada guncangan gempabumi yang datang setelahnya. Sangat mungkin, inilah yang menjadi alasan lahirnya nama geografis Beledug.

Guncangan gempa bumi dapat mengganggu sistem keseimbangan yang berada di bagian telingah tengah, sehingga terjadi gangguan pada indra keseimbangan (vestibular). Yang mengalaminya akan mengalami gangguan spasial, bingun menentukan mana atas mana bawah, dan dapat menyebabkan rasa pusing yang hebat (vertigo), kehilangan keseimbangan, dan mual. Perhatian bukan pada guncangan gempanya, namun para rasa pusing dan mual yang diderita pada saat gempa bumi terjadi. Inilah yang menyebabkan lahirnya nama geografis Kampung Muril dan Kampung Gadogmuril.
Satu peristiwa kebumian seperti gempa bumi, bukan hanya tertuju pada guncangannya saja, namun juga pada dampak dari guncangan, seperti kawasan yang terbelah. Dan ada satu hal yang dialami oleh masyarakat yang kawasannya diguncang gempa bumi, yaitu gangguan pada indranya yang dapat berpengaruh pada kejiwaannya.
Ketika tubuh menerima guncangan gempabumi, mata melihat rumah yang roboh, melihat tanah yang terbelah, melihat lahan yang bergerak dan longsor, padahal dalam jiwanya tertanam bahwa tanah sebagai kawasan yang kuat dan stabil yang menjadi tempa hidupnya. Beban berlebih sensori inilah yang memicu rasa takut yang mendalam, terjadinya kepanikan massal, dan dapat menjadi trauma yang panjang. Mungkin saja akan terpapar menjadi seismofobia, fobia terhadap gempabumi. Inilah yang menjadi dasar yang kuat, bahwa toponim di Jawa Barat yang sebab awalnya dari gempabumi, melahirkan beragam nama geografis, yang tidak selalu linier dengan guncangan. (*)