Eksklusivitas bermedia sudah tidak relevan lagi di era digital, bermedia digital sudah dimiliki oleh masyarakat yang berusaha untuk menciptakan produk digitalnya dikenal oleh masyarakat lainnya. Bahkan tidak ada lagi batasan dalam memproduksi media audio digital.
Bahkan di era yang tidak terbatas inilah setiap orang berhak dan memiliki akses dalam menggunakan audio digital untuk platform yang sudah tersedia dan gratis.
Kemudahan dan kepraktisan dalam bermedia audio digital inilah sebagai peluang yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memaksimalkannya menjadi peluang profit atau non profit.
Terlebih masyarakat menginginkan untuk mendapatkan produk audio digital yang diminati dan bisa viral. Meskipun bagaikan dua sisi mata uang. Jika digunakan untuk hal positif maka akan menjadi baik, namun jika digunakan hal negatif maka akan menjadi buruk.
Maka dari itu diperlukan informasi terlebih dahulu sebelum menggunakan audio digital. Jika menelisik pada sejarahnya, audio digital ini berawal dari istilah podcast yang berasal dari gabungan dua kata iPod (pemutar media digital buatan Apple) dan broadcast (siaran) dan disingkat menjadi podcast.
Istilah podcast ini pertama kali dicetak oleh jurnalis The Guardian, Ben Hammersley, pada tahun 2004. Seiring dengan perkembangan teknologi, maka podcast beralih menjadi format audio visual sehingga berganti menjadi video podcast.
Mengutip dari berbagai sumber menyebutkan Steve Lee, pendiri Modern Life Network, sebagai sosok yang menciptakan peringatan tersebut untuk mempromosikan podcasting sebagai media hiburan dan pendidikan.
Etika Podcast
Teknologi menjadikan podcast mudah dinikmati dan dimanfaatkan oleh masyarakat dari pelbagai kalangan. Mulai dari perusahaan media, masyarakat, instansi pemerintah, komunitas, dan kreator.
Perkembangan teknologi turut membuat podcast dengan pelbagai macam tema yang bisa diangkat. Maka tidak ada lagi batasan bahwa kita tidak bisa menyuarakan aspirasi melalui podcast.
Juga wajar kiranya kita merasa bahwa podcast sudah bukan sesuatu yang eksklusif dan tentunya kita menganggap bahwa dari podcast inilah suara atau aspirasi menjadi ruang yang dapat dijadikan tolok ukur dalam situasi dan kondisi terkini, utamanya di Indonesia.
Menilik pula dari platform yang sudah tersedia seperti YouTube dan Spotify, dua platform ini menjadi penanda bahwa masyarakat mampu mengangkat tema umum hingga spesifik dan menjadi rujukan masyarakat lainnya dalam memandang kembali kebutuhan dan keinginan yang terpenting.
Kreator misalnya, di YouTube dapat membuka saluran siniarnya dengan menggunakan metode yang sesuai dengan hiruk pikuknya keadaan, tema ringan tentang kehidupan, hobi, dan ilmu dari multidisiplin yang bisa didengarkan oleh masyarakat, bahkan penontonnya bisa membludak sampai jutaan audiens.
Bahkan dengan modal apa adanya ajakan membuat podcast bisa diwujudkan. Lantas menjadi pertanyaan, jika semua podcast diproduksi dalam sehari, bagaimana kita mereduksinya? Benarkah informasi yang dihimpun dalam podcast menjadi rujukan masyarakat?
Perdebatan bisa dimunculkan. Maka kita letakkan pada satu hal yang berhubungan dengan etika. Etika inilah yang menjadikan podcast bisa membatasi bagi pendengarnya.
Dari etika ini pula, kita bisa mengunjungi podcast yang relevan dan tidak berlebihan. Sebab podcast belum ada aturannya, podcast yang telah diproduksi sebagai hiburan dan informasi memang perlu dilakukan pengecekan terlebih dahulu sebelum tayang publik. Filter lebih baik. Hadirnya editor sangat penting yang bertanggung jawab menjaga stabilitas podcast, audiens akan senang jika mendapatkan hasil podcast yang mendidik dan memberikan ilmu pengetahuan bagi masyarakat.
Podcast Tanpa Manusia
Podcast tanpa manusia yang diganti sepenuhnya oleh akal imitasi adalah fenomena saat suara host, narasumber, naskah, hingga proses edit dibuat secara otomatis oleh kecerdasan buatan.
Hal tersebut tidak dapat ditawar kembali, perkembangan akal imitasi yang sangat masif akan membuat manusia tidak bisa mengelak dan podcast bisa menggunakan cara yang terbaiknya tanpa ada campur tangan manusia.
Jika kita menggunakan akal imitasi sebagai penggantinya terdapat kelebihan, di antaranya, biaya produksi sangat murah dan cepat, bahkan bisa membuat konten 24 jam tanpa henti, juga mudah diterjemahkan ke berbagai bahasa.
Namun terdapat kekurangan yang berhubungan dengan manusia, jika menggunakan AI maka kurang memiliki emosi, empati, dan spontanitas yang alami, tidak ada perasaan apapun, bahkan tidak ada pengalaman hidup yang bisa dibagikan secara keseluruhan, paling parahnya berisiko menyebarkan informasi salah jika tanpa pengawasan.
Meskipun AI dapat meniru cara bicara manusia, tetapi sulit menggantikan kedekatan emosional dan interaksi sosial yang asli.
Jika akal imitasi kita gunakan untuk podcast, terdapat beberapa aplikasi yang bisa diulik, yaitu Google NotebookLM, Wondercraft AI, ElevenLabs, Podwist atau SparkPod, dan HeyGen.
Dari aplikasi podcast ini kita memahami bahwa kemudahan bagi kita memroduksi podcast berbantuan akal imitasi. Dengan ada bantuan ini, kita dapat berpikir kritis atau kita menerima saja.
Baca Juga: Peringati Bulan Bahasa dengan Membaca Indeks Literasi
Audiens sendiri yang dapat menilai tindakan kita dalam berpodcast. Jika kita menghindari akal imitasi, maka kita termasuk bagian dari proses bertumbuh yang tidak sekadar untuk podcast berlandas keuntungan, tetapi kita menjaga hubungan emosional dan interaksi sosial kita dengan sesama.
Maka pilihan podcast dengan akal imitasi ini menawarkan kepada kita, maukah kita menerimanya secara cuma-cuma? Di balik itu semua, kita menuju era akal imitasi dan kecerdasan buatan dalam kehidupan sehari-hari.
Dibutuhkan tekad bahwa kita mampu mengendalikan akal imitasi, sebab akal imitasi hanya membantu kita. Dan kitalah yang menjadi pengendali utamanya. Meskipun gagasan ke depannya akan merubah situasi dalam berpodcast, kita berharap konten video atau audio podcast tetaplah menjadi ruang bagi kita memeroleh referensi kehidupan untuk bertumbuh di masa mendatang dengan pengendalinya yang obyektif dan kreatif, dan hanya manusialah yang mampu mengelolanya. Semoga! (*)