Ayo Netizen

Cikasungka, Semula Belantara Habitat Areuy Kasungka

Oleh: T Bachtiar
Bunga, buah, areuy kasungka. (Sumber: tropical.theferns.info)

Menjelang ritual kawalu, seperti yang terjadi di Kampung Cibéo, Baduy Jero, Puun, sebagai pucuk pimpinan masyarakat adat Sunda Wiwitan di sana, akan memerintahkan agar warganya secara bersama-sama ngalanjak, terutama setelah panen dari huma serang beres dipanen. Huma serang itu lahan ladang bersama, yang digarap secara bersama-sama. Hasil dari huma serang digunakan untuk kepentingan adat, seperti dalam ritual kawalu. 

Ngalanjak, nga-lanjak, mengerjakan atau melakukan lanjak, yaitu berburu hewan dengan cara dilanjak, dijaring. Kalau dibentangkan, lanjak itu tingginya sekitar 1 m, dengan panjang sekitar 3 m – 4 m. Mereka akan berburu di sekitar hutan, di reuma dan di jami. Reuma dan jami walau berbeda artinya, tapi ada persamaan, yaitu lahan huma atau ladang yang sengaja dibiarkan tidak digarap untuk sementara waktu. Misalnya dibiarkan selama tiga kali garapan, sehingga menjadi hutan kecil. Semua tumbuhan itulah yang nantinya menjadi pupuk alami, ketika lahan itu dibuka atau digarap kembali. 

Ritual kawalu dilaksanakan selama tiga bulan, menjadi bulan-bulan yang sakral. Kawalu merupakan perwujudan rasa syukur dan terimakasih masyarakat Kanekes, atas hasil panen tahun ini. Selama tiga bulan penuh, masyarakat Cibéo tidak menerima kedatangan tamu dan kunjungan wisatawan. Selama satu hari di setiap bulan selama kawalu, mereka melakukan puasa, sejak tengah malam hingga sore hari sekitar pukul 17.00.  

Satu kali dalam setahun menjelang kawalu, ngalanjak dilaksanakan. Waktu ngalanjak bisa seminggu lamanya. Setiap hari dilaksanakan mulai jam 08.00 hingga jam 15.00. Pada ngalanjak tahun 2025, yang ikut ngalanjak sebanyak 300 hingga 400 orang per harinya. Mereka pergi dengan membawa bekal masing-masing.

Lanjak atau jaringnya ada dua jenis, sesuai dengan besar antar simpul jaring itu. Pertama lanjak untuk menjaring buut (bajing) dan kekes. Talinya kecil, dengan lebar antar simpul sekitar 2 cm – 3 cm, yang tidak memungkinkan buut dan kekes dapat lepas. Untuk menjaring dua binatang ini tali jaringnya dibuat dari kulit dahan dan ranting pohon teureup bagian dalam. Sedangkan untuk menjaring binatang buruan yang lebih besar, yaitu peucang dan mencek, lebar antar simpulnya sekitar 10 cm sampai 15 cm. Tali jaringnya dibuat dari serat areuy kasungka (Gnetum neglectum BL), tumbuhan memanjat (liana) di pohon besar yang berada di dekatnya. 

Peucang yang dilanjak dengan jaring yang dibuat dari areuy kasungka. (Sumber: Istimewa)

Areuy kasungka tumbuh dengan baik di hutan hujan tropis pegunungan dan dataran tinggi. Tumbuhan ini sudah dikenal oleh masyarakat lama, sehingga masyarakat sudah mengetahui kegunaannya. Air rebusan bagian batang dan daun, digunakan untuk meredakan pegal linu, nyeri otot, dan masalah persendian ringan. Kulit batang dan kayunya direbus untuk mengobati penyakit cacingan. Sedangkan daunnya, setelah ditumbuk halus, dibalurkan pada kulit yang terluka gores, atau terkena gigitan serangga. Dan, buahnya digemari Kukang jawa (Nycticebus javanicus), sebagai sumber makanannya.

Areuy kasungka memiliki jaringan kulit batang yang kuat dan lentur, sehingga oleh masyarakat Cibéo dijadikan tali atau tambang untuk dibentuk lanjak, untuk menjaring binatang yang sangat dibutuhkan dalam ritual kawalu. Bisa juga dibuat jarog dan koja, kantung yang dibuat dari serat kasungka atau kulit teureup. Sebelum diolah lagi dengan pencelupan alami, serat asli dari areuy kasungka berwarna hitam, sedangkan serat dari kulit teureup berwarna krem.

Setelah areuy kasungka dipotong di hutan, air yang menetes jernih dari batangnya dapat langsung diminum. Areuy kasungka dikupas, direndam di sungai agar terpisah serat dari batangnya. Seratnya dibersihkan lalu dijemur. Serat yang sudah kering kemudian dipilin menjadi tali yang panjang, lalu dibuat lilitan tambang, yang besarnya disesuaikan dengan kebutuhan. Tali dari areuy kasungka cukup lentur. Bila disimpan di tempat lembab, lanjak akan cepat rusak, cepat rapuh. Agar mempunyai daya tahan yang baik, jaringnya direueuy, dicelupkan ke godogan kulit pohon gintung atau godogan kulit pohon salam. 

Karena areuy kasungka sudah dikenali oleh masyarakat dengan baik, maka keberadaannya sering dijadikan penandata tempat atau penanda kawasan. Akhirnya, lama kelamaan nama tumbuhan itu abadi menjadi nama geografis, seperti toponim Cikasungka. Sebagai contoh, inilah beberapa nama geografis yang memakai nama tumbuhan tersebut, seperti: Desa Cikasungka terdapat di Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung. Di Kabupaten Bogor ada Kampung Cikasungka di Desa Cigudeg, Kecamatan Cigudeg. Di Kabupaten Tasikmalaya, toponim Kampung Cikasungka terdapat di Desa Mulyasari, Kecamatan Salopa. Dan, ada toponim Desa Cikasungka di Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Semula, 

Banyaknya toponim Cikasungka itu menandakan, bahwa pada awalnya tumbuhan ini tersebar dengan sangat baik di hutan hujan tropis pegunungan di Jawa Barat dan di Banten. Saat ini, kawasan yang semula belantara tropis itu sudah berganti wujud menjadi kawasan permukiman, perladangan, dan persawahan. Yang semula hutan hujan tropis dengan pepohonan yang besar dan tinggi tempat areuy kasungka memanjatnya, sudah tinggal cerita. (*)

Reporter T Bachtiar
Editor Aris Abdulsalam