Lagi, Indonesia kembali melahirkan tren baru di media sosial. Content creator dan influencer global beramai-ramai membuat konten dengan backsound lagu “Kicau Mania” yang lebih dulu viral di kalangan netizen Indonesia. Uniknya, mereka juga menyerukan “jargon” tersebut, namun dengan kalimat yang sama sekali berbeda, yaitu “getcho money up.”
Perubahan ini bahkan sama sekali tidak mengganggu netizen Indonesia. Bahkan pemilik lagu ini tidak merasa keberatan dengan viralnya jargon “getcho money up” yang jelas-jelas berbeda dengan aslinya.
Di Indonesia, lagu “Kicau Mania” pertamakali dipopulerkan oleh Ndarboy Genk ft. Banditoz Yaow 86 dan menjadi fenomena media sosial setelah dinyanyikan ulang oleh Niken Salindry, sinden muda asal Kediri yang dilengkapi gerakan tari yang khas.
Rupanya, gestur Niken ini kemudian menjadi nilai tambah yang membuat frasa “Kicau Mania” menjadi semakin menarik. Sejumlah kreator konten di seluruh dunia mulai membuat konten dengan lagu “Kicau Mania” dengan gaya mereka mengucapkan “gethco money up” lengkap dengan gestur khas konten serupa yang telah menyebar sebelumnya di jagat media sosial di Indonesia.
Budaya Partisipasi
Berawal dari kesalahan fonetik ini, frasa “getcho money up” justru semakin mengglobal sebagai tren tersendiri di kalangan netizen. Ketidaktahuan konteks awal ternyata tidak menghalangi mereka untuk menikmati lagu khas ini.
Dalam fenomena ini, muncul perubahan narasi secara berlipat. Pertamakali muncul, lagu “Kicau Mania” sebetulnya diciptakan untuk memberikan semangat pada komunitas pecinta burung di Yogyakarta, namun setelah beberapa kali mencapai FyP di Tiktok, lagu ini segera meluas maknanya menjadi simbol bagi hobi positif yang penuh antusiasme.
Dalam konteks pengguna Tiktok dan media sosial secara global, lagu ini kemudian kembali melahirkan narasi baru melalui kemunculan ekspresi sebagaimana diperlihatkan oleh para kreator konten dan influencer di berbagai negara meski dengan kesalahan fonetik sebagai “getcho money up.”
Dengan vibe yang sama, lagu ini dalam konteks global kemudian dimaknai sebagai penyemangat untuk mencari “cuan” sebagaimana dikandung dalam frasa “getcho money up” yang secara literal merupakan Bahasa Inggris slang dari kata “get your money up” yang berarti semacam seruan untuk menyemangati para pencari nafkah.
Meme dan Spin-off Narasi
Sebagaimana ditegaskan oleh Henry Jenkins (2006), media sosial telah merangsang para pengguna untuk berpartisipasi lebih banyak dari sebelumnya. Mereka tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”. Sebagai pengguna aktif, mereka mampu memberi kesan atau pemaknaan atas konten, atau bahkan dapat memperkaya dengan dengan cara yang lebih baru.
Dalam skala yang lebih luas, kita dapat melihat fenomena ini sebagaimana terjadi pada meme. Sebagaimana dikemukakan oleh Richard Dawkins (1976) dalam The Selfish Gene, kata ini diambil dari sebuah kata Yunani kuno “mīmēma” yang berarti “ditiru” sehingga meme dalam konteks kontemporer digunakan untuk merujuk pada fenomena lahirnya praktik replikasi dari konten di media dan menjamur sebagai budaya yang juga disirkulasikan di media, terutama di media sosial.
Meme merupakan contoh praktis dimana pengguna media sosial secara kreatif melakukan reproduksi sebagian konten tertentu dan membuat narasi-narasi yang bahkan berbeda dengan konten aslinya. Grant Kien (2019) mengemukakan perubahan narasi dalam meme dengan mengambil contoh foto-foto Winston Churchill yang pada tahun 1941 sering berpose dengan mengangkat dua jari membentuk simbol “V” untuk victory (kemenangan) dalam Perang Dunia II dan kemudian diikuti oleh figur lain seperti Richard Nixon dan kemudian menyebar ke seluruh media visual di Barat.

Kemudian, para pengunjuk rasa anti-perang pada tahun 1960-an dan 70-an menggunakan gestur “V” tersebut namun memaknainya sebagai simbol perdamaian—alih-alih kemenangan—sebagai kritik. Makna ini kemudian kembali mengalami perubahan pada tahun 1972 ketika Janet Lynn, atlet skating peserta Olimpiade asal Amerika Serikat dan pendukung gerakan anti-perang menggunakan gestur untuk berpose ketika diliput oleh siaran televisi nasional. Sejak saat itu, gestur ini diadopsi sebagai pose berfoto yang paling umum ditemui sebagai bagian dari budaya popular, alih-alih sebagai pernyataan protes.
Perubahan narasi ini—sebagaimana tampak pada fenomena “getcho money up” atau “meme”— menandai betapa para pengguna media sosial dapat menciptakan semacam spin-off dari versi aslinya dan memunculkan narasi yang berbeda. Jadi, mau tidak mau, harus diakui bahwa “Kicau Mania” telah menemukan jalan menuju panggung global, meski diawali dengan kesalahan fonetik yang dalam perspektif Jenkins tidak sepenuhnya sebagai “kesalahan.” (*)