Cancel Culture: Saat Netizen Jadi Hakim di Ruang Digital

Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Ditulis oleh Femi Fauziah Alamsyah, M.Hum diterbitkan Jumat 03 Apr 2026, 10:39 WIB
Cancel culture. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)

Cancel culture. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)

Beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia berulang kali menyaksikan bagaimana seorang figur publik bisa “jatuh” hanya dalam hitungan hari. Salah satu contohnya adalah Awkarin, yang sempat menuai kritik karena konten media sosialnya dianggap terlalu vulgar dan tidak sesuai dengan norma yang berlaku. Beberapa unggahannya memicu perdebatan luas, hingga muncul gelombang komentar negatif dan penolakan dari sebagian netizen. Begitu juga dengan figur seperti Jerinx SID yang menjadi sorotan publik akibat pernyataannya di media sosial yang mengkritik institusi tertentu dan memicu kontroversi besar. Pernyataan tersebut menyebar luas, memancing reaksi keras dari berbagai pihak, dan membuatnya menjadi pusat perdebatan.

Dalam kedua kasus ini, terlihat pola yang sama: respons netizen bergerak sangat cepat. Dukungan yang sebelumnya ada bisa berubah menjadi penolakan dalam waktu singkat, seiring dengan derasnya arus opini yang beredar di media sosial. Potongan video, tangkapan layar, atau jejak digital lama bisa kembali muncul dan menyulut reaksi besar. Dalam hitungan jam, nama seseorang bisa menjadi trending. Dalam sehari, komentar negatif membanjiri. Dalam beberapa waktu, kerja sama profesional bisa terhenti, dan citra publik ikut terguncang.

Di sinilah cancel culture bekerja, di mana publik secara kolektif “membatalkan” seseorang karena dianggap melanggar norma sosial tertentu.

Apa Itu Cancel Culture?

Secara sederhana, cancel culture adalah praktik menghentikan dukungan terhadap seseorang karena dianggap bermasalah secara moral atau sosial. Bentuknya bisa berupa unfollow, boikot, hingga serangan opini di media sosial.

Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari budaya digital yang partisipatif. Henry Jenkins menyebutnya sebagai participatory culture, di mana audiens tidak lagi pasif, melainkan aktif ikut membentuk dan menyebarkan konten. Like, share, dan comment bukan sekadar interaksi, tetapi bentuk keterlibatan sosial. Sementara itu, Manuel Castells dalam konsep network society menjelaskan bahwa kekuasaan kini tersebar dalam jaringan digital. Artinya, individu biasa pun bisa memiliki pengaruh besar selama terhubung dalam jaringan yang luas. Gabungan dua hal ini membuat publik memiliki kekuatan kolektif, bukan hanya untuk mendukung, tetapi juga untuk menjatuhkan.

Di satu sisi, cancel culture sering dipandang sebagai bentuk keadilan sosial. Media sosial membuka ruang bagi kelompok yang sebelumnya tidak terdengar. Dalam kasus pelecehan, diskriminasi, atau penyalahgunaan kekuasaan, publik bisa menggunakan tekanan sosial untuk menuntut akuntabilitas. Konsep public sphere dari Jurgen Habermas menjelaskan bahwa masyarakat membutuhkan ruang untuk berdiskusi dan membentuk opini. Kini, media sosial bisa dilihat sebagai ruang publik baru, lebih terbuka, meskipun juga lebih rumit.

Selain itu, fenomena ini juga berkaitan dengan digital activism. Banyak gerakan sosial lahir dari internet, menggunakan hashtag dan viralitas sebagai alat perjuangan. Dalam konteks ini, netizen berperan sebagai pengawas sosial. Mereka bisa mengoreksi ketimpangan kekuasaan dan mendorong perubahan.

Masalah muncul ketika cancel culture berjalan tanpa kontrol. Informasi bisa menyebar sangat cepat tanpa verifikasi. Satu potongan video atau satu narasi bisa langsung membentuk opini publik. Cass Sunstein menyebut fenomena ini sebagai cyber cascades, yaitu penyebaran informasi secara berantai yang sering kali tidak melalui proses pengecekan. Ditambah dengan konsep echo chamber dan filter bubble dari Eli Pariser, di mana orang hanya terpapar pada informasi yang memperkuat keyakinannya sendiri. Akibatnya, muncul mob mentality, yaitu reaksi massa yang emosional dan impulsif. Dalam situasi ini, siapa pun bisa menjadi hakim. Namun, tidak semua memiliki data atau konteks yang cukup. Hukuman sosial pun sering kali tidak proporsional. Kesalahan kecil bisa berujung pada dampak besar, sementara ruang klarifikasi menjadi sangat terbatas.

Ilustrasi imbauan berhenti. (Sumber: Pexels | Foto: kaboompics.com)
Ilustrasi imbauan berhenti. (Sumber: Pexels | Foto: kaboompics.com)

Adaptasi atau Transformasi?

Di Indonesia, cancel culture memiliki dinamika yang unik. Sebagai masyarakat yang cenderung kolektif, norma sosial memiliki peran besar. Pelanggaran terhadap norma sering kali direspons secara cepat dan masif.

Konsep cultural hybridization dari Jan Nederveen Pieterse menjelaskan bahwa budaya global tidak diterima mentah-mentah, melainkan diadaptasi sesuai konteks lokal. Cancel culture di Indonesia adalah hasil dari proses ini.

Selain itu, media convergence dari Henry Jenkins juga terlihat jelas. Informasi bergerak cepat lintas platform, dari Twitter (X), Instagram, TikTok, hingga media berita. Peran influencer, buzzer, dan netizen memperkuat dinamika ini. Satu isu bisa berkembang menjadi gelombang opini yang besar dalam waktu singkat. Namun, ada juga ciri khas lain, yaitu siklus viral yang cepat. Isu yang hari ini ramai, bisa dilupakan dalam beberapa hari.

Cancel culture membawa dampak yang kompleks. Di satu sisi, ia meningkatkan kesadaran sosial. Publik menjadi lebih kritis terhadap isu etika dan tanggung jawab. Namun di sisi lain, muncul ketakutan kolektif. Erving Goffman melalui konsep self-presentation menjelaskan bahwa individu selalu “menampilkan diri” di hadapan publik. Di media sosial, panggung itu menjadi sangat luas. Ditambah dengan surveillance culture dari David Lyon, di mana individu merasa selalu diawasi. Akibatnya, banyak orang menjadi lebih berhati-hati, bahkan cenderung menyensor diri sendiri, Autentisitas pun terganggu.

Menariknya, cancel culture tidak selalu bersifat permanen. Banyak kasus menunjukkan bahwa figur publik bisa kembali setelah kontroversi mereda. Hal ini berkaitan dengan konsep attention economy. Perhatian publik terbatas, sementara informasi terus bertambah (information overload). Akibatnya, fokus cepat berpindah.

Siklus yang sering terjadi adalah:

viral → marah → ramai → lupa

Ini menunjukkan bahwa hukuman sosial di era digital sering kali bersifat sementara.

Pada akhirnya, cancel culture menunjukkan bahwa ruang digital telah menjadi arena baru untuk membentuk opini sekaligus menjatuhkan reputasi. Ia dapat berfungsi sebagai alat kontrol sosial yang mendorong akuntabilitas, tetapi juga berpotensi menciptakan tekanan massa yang tidak proporsional ketika berlangsung tanpa verifikasi dan konteks yang memadai.

Dalam konteks Indonesia, fenomena ini semakin kompleks karena dipengaruhi oleh budaya kolektif, kecepatan penyebaran informasi lintas platform, serta dinamika interaksi antar pengguna media sosial. Kombinasi tersebut membuat proses penilaian publik sering berlangsung cepat, luas, dan sulit dikendalikan.

Oleh karena itu, cancel culture perlu dipahami sebagai bagian dari ekosistem budaya digital yang tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh cara masyarakat menggunakannya. Sikap kritis terhadap informasi, kesadaran akan konteks, serta tanggung jawab dalam berpartisipasi di ruang digital menjadi faktor penting dalam menentukan apakah fenomena ini akan berkontribusi pada keadilan sosial atau justru memperkuat praktik penghakiman massal.

Referensi:

·      Jenkins, Henry. (2006). Convergence Culture: Where Old and New Media Collide.

·      Jenkins, Henry et al. (2009). Confronting the Challenges of Participatory Culture.

·      Castells, Manuel. (2010). The Rise of the Network Society.

·      Habermas, Jürgen. (1989). The Structural Transformation of the Public Sphere.

·      Sunstein, Cass R. (2001). Republic.com

·      Pariser, Eli. (2011). The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You.

·      Pieterse, Jan Nederveen. (2009). Globalization and Culture: Global Mélange.

·      Goffman, Erving. (1959). The Presentation of Self in Everyday Life.

·      Lyon, David. (2007). Surveillance Studies: An Overview.

·      Fuchs, Christian. (2014). Social Media: A Critical Introduction.

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Peminat Kajian Budaya dan Media, Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung, Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 07 Apr 2026, 15:22

Panduan Wisata Talaga Bodas Garut, Kawah Belerang yang Pernah jadi Primadona Orang Eropa

Talaga Bodas pernah populer sejak abad ke-19 melalui kartu pos kolonial, sebelum kembali bangkit sebagai destinasi wisata alam unggulan di Garut.

Objek Wisata Talaga Bodas, Garut. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 07 Apr 2026, 14:35

Pendidikan Bertumbuh Dimulai dari Guru yang Growth Mindset

Pendidik adalah agen pembelajar sepanjang hidup untuk memberikan stimulus kepada para murid dalam menuntun menumbuhkembangkan potensi secara kodrati.

Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan Indonesia. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Ayo Netizen 07 Apr 2026, 11:04

Kisah Pendatang yang Tak Sengaja Ciptakan ‘Batagor’ Makanan Favorit Kota Bandung

Batagor pertama kali muncul di Bandung pada tahun 1970-an.

Pedagang batagor. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ikon 07 Apr 2026, 10:25

Hikayat Jalan Soekarno Hatta Bandung, Bypass Lurus Panjang Buatan Orde Baru

Dibangun pada 1980-an sebagai jalan elak, Jalan Soekarno Hatta kini berubah menjadi koridor padat yang merekam pertumbuhan Bandung dari pinggiran ke pusat aktivitas.

Suasana Jalan Soekarno Hatta, Bandung. (Foto: Irfan Al Faritsi/Ayomedia)
Ayo Netizen 07 Apr 2026, 08:57

Inilah 5 Hierarki Kebutuhan Mahasiswa dari Garut di UIN Bandung Tahun 2002

Tahun 2002, saya resmi jadi mahasiswa di UIN Bandung. Modalnya? Nekat.

Kampus tempat menimba ilmu keislaman Penulis (Sumber: uinsgd.ac.id)
Ayo Netizen 06 Apr 2026, 18:12

Tantangan Komunikasi Perantau

Pasca mudik Lebaran, kota-kota besar didatangi para perantau baru.

Pemudik di Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 06 Apr 2026, 17:02

Menghadapi "Paradoks Rebana", Antara Ambisi Industri dan Realitas Kompetensi Lokal

Kawasan Metropolitan Rebana yang meliputi Cirebon (Kota), Cirebon (Kabupaten), Indramayu, Majalengka, Kuningan hingga Subang kini tengah bersiap menjadi motor penggerak ekonomi masa depan Jawa Barat.

Kawasan Rebana kini telah didukung oleh konektivitas terbaik salah satunya Pelabuhan Patimban untuk ekspor-impor, yang merupakan magnet bagi investor global. (Sumber: portalkemhub.go.id)
Ayo Netizen 06 Apr 2026, 17:02

10 Netizen Terpilih Maret 2026: Akhir Ramadan, Lebaran, dan (Sy)awal Harapan

Tulisan-tulisan terbaik yang masuk ke kanal Ayo Netizen sepanjang Maret 2026.

Umat Islam setelah melaksanakan shalat Idul Fitri 1447 Hijriah di pelataran Gedung Sate. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Apr 2026, 15:46

Panduan Pendakian Gunung Gede Pangrango: Tiga Jalur Pilihan, Kuota, dan Biaya

Informasi jalur pendakian Gunung Gede Pangrango, sistem kuota, biaya SIMAKSI, serta tips penting agar pendakian aman dan sesuai aturan.

Puncak Gunung Gede Pangrango. (Sumber: Wikimedia)
Komunitas 06 Apr 2026, 15:38

Isyarat yang Menyatukan, Belajar Memahami Tanpa Suara

Pertemuan sederhana di sebuah kafe di Bandung menghadirkan ruang belajar bahasa isyarat sekaligus membuka jalan bagi tumbuhnya empati antara teman tuli dan teman dengar.

Suasana ngobrol Komunitas Karya Seni Tuli dipenuhi gerakan tangan, tawa tanpa suara, dan interaksi yang terjalin lewat bahasa isyarat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 06 Apr 2026, 15:01

Arus Balik yang Meledak di Bandung Pasca Lebaran 1986

Pada suatu akhir pekan di bulan Juni 1986 itu, Bandung menjadi saksi dari gelombang harapan yang datang bersama arus balik Lebaran.

Halaman muka Harian Umum MANDALA Bandung, terbitan 13 Juni 1986, yang menyoroti membludaknya arus balik Lebaran menuju Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Bandung 06 Apr 2026, 14:07

Eksistensi Scoop and Skoops, Padukan Konsep Kekinian dan Keaslian Rasa Gelato di The Hallway Space

Gerai gelato Scoop and Skoops memadukan konsep industri F&B kekinian dengan lokasi strategis yang menonjolkan konsep sederhana namun modern.

Gerai gelato Scoop and Skoops memadukan konsep industri F&B kekinian dengan lokasi strategis yang menonjolkan konsep sederhana namun modern. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 06 Apr 2026, 13:16

Badai Belum Berlalu, Perlu Komitmen Menjaga Langit Biru

Alam memberi sinyal yang tergambar di langit kepada manusia jika akan terjadi peristiwa yang luar biasa.

Pohon tumbang akibat hujan deras disertai angin kencang di Kota Bandung memakan korban jiwa, Jumat (3/4/2026). (Sumber: Sumber : BPBD Kota Bandung)
Sejarah 06 Apr 2026, 12:54

Sejarah Perjanjian Cirebon 1681, Penanda Peta Dominasi Kompeni di Tanah Jawa

Perjanjian 1681 antara Cirebon dan VOC jadi titik balik hilangnya kedaulatan dan salah satu pemicu awal dominasi Belanda di Jawa Barat.

Perjanjian Cirebon 1861 (Sumber: historyofcirebon.id)
Ayo Netizen 06 Apr 2026, 11:43

Bahu Jalan Tol Merupakan Ruang Darurat yang Tidak Boleh Disalahgunakan

Penyalahgunaan bahu jalan tol meningkatkan risiko kecelakaan fatal.

Sebuah kendaraan hancur setelah menabrak bagian belakang bus di Jalan Tol Padaleunyi KM 140 arah Bandung, Rabu (1/4/2026). (Sumber: Instagram/@ridwanzaelanii)
Ayo Netizen 06 Apr 2026, 09:37

Merawat Empati Kemanusiaan

Agama mesti hadir untuk membela kemanusiaan dalam realitas kehidupan, tanpa memandang perbedaan agama, suku, etnis, golongan, kelompok, maupun jenis kelamin.

Ilustrasi empati kemanusiaan, tim relawan sedang membantu evakuasi korban banjir (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 05 Apr 2026, 19:24

Cuaca Ekstrem di Bandung Raya dan Tantangan Infrastruktur Jalan

Cuaca ekstrem di Bandung Raya mengungkap tantangan infrastruktur jalan.

Pohon tumbang akibat hujan deras disertai angin kencang di Jalan Bojong Raya Caringin, Kota Bandung memakan korban jiwa, Jumat (3/4/2026). (Sumber: Dok. BPBD Kota Bandung)
Bandung 05 Apr 2026, 17:36

Rahasia Eksistensi Bugis Andung sejak 1986: Membawa Resep Turun-temurun dari Padang ke Sudut Pasar Cihapit

Walaupun menawarkan cita rasa klasik, Bugis Andung mampu mengolaborasikan menunya dengan sentuhan modern.

Walaupun menawarkan cita rasa klasik, Bugis Andung mampu mengolaborasikan menunya dengan sentuhan modern. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: M. Kevin Ardhiwilaga)
Ayo Netizen 05 Apr 2026, 16:54

Datang ke Bandung dengan Harapan, Bertahan dengan Kenyataan

Urbanisasi pasca-Lebaran membawa pendatang ke Bandung dengan harapan, namun realitas mobilitas dan kemacetan kerap menjadi tantangan untuk bertahan.

Ilustrasi perantau baru yang penuh semangat dan harapan saat pertama kali tiba di Bandung (kiri), yang kemudian dihadapkan pada kenyataan pahit perjuangan hidup di kota (kanan). (Foto: Gambar dihasilkan oleh Gemini, 2026.)
Ayo Netizen 05 Apr 2026, 12:13

Dakwah Urban

Pesan-pesan dakwah bisa disebarkan pada masjid-masjid perkotaan, yang biasa disesaki para pendatang.

Ilustrasi dakwah. (Sumber: Pexels | Foto: kevin yung)