Cancel Culture: Saat Netizen Jadi Hakim di Ruang Digital

5 menit baca
Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Ditulis oleh Femi Fauziah Alamsyah, M.Hum diterbitkan
Cancel culture. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Cancel culture. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)

Beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia berulang kali menyaksikan bagaimana seorang figur publik bisa “jatuh” hanya dalam hitungan hari. Salah satu contohnya adalah Awkarin, yang sempat menuai kritik karena konten media sosialnya dianggap terlalu vulgar dan tidak sesuai dengan norma yang berlaku. Beberapa unggahannya memicu perdebatan luas, hingga muncul gelombang komentar negatif dan penolakan dari sebagian netizen. Begitu juga dengan figur seperti Jerinx SID yang menjadi sorotan publik akibat pernyataannya di media sosial yang mengkritik institusi tertentu dan memicu kontroversi besar. Pernyataan tersebut menyebar luas, memancing reaksi keras dari berbagai pihak, dan membuatnya menjadi pusat perdebatan.

Dalam kedua kasus ini, terlihat pola yang sama: respons netizen bergerak sangat cepat. Dukungan yang sebelumnya ada bisa berubah menjadi penolakan dalam waktu singkat, seiring dengan derasnya arus opini yang beredar di media sosial. Potongan video, tangkapan layar, atau jejak digital lama bisa kembali muncul dan menyulut reaksi besar. Dalam hitungan jam, nama seseorang bisa menjadi trending. Dalam sehari, komentar negatif membanjiri. Dalam beberapa waktu, kerja sama profesional bisa terhenti, dan citra publik ikut terguncang.

Di sinilah cancel culture bekerja, di mana publik secara kolektif “membatalkan” seseorang karena dianggap melanggar norma sosial tertentu.

Apa Itu Cancel Culture?

Secara sederhana, cancel culture adalah praktik menghentikan dukungan terhadap seseorang karena dianggap bermasalah secara moral atau sosial. Bentuknya bisa berupa unfollow, boikot, hingga serangan opini di media sosial.

Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari budaya digital yang partisipatif. Henry Jenkins menyebutnya sebagai participatory culture, di mana audiens tidak lagi pasif, melainkan aktif ikut membentuk dan menyebarkan konten. Like, share, dan comment bukan sekadar interaksi, tetapi bentuk keterlibatan sosial. Sementara itu, Manuel Castells dalam konsep network society menjelaskan bahwa kekuasaan kini tersebar dalam jaringan digital. Artinya, individu biasa pun bisa memiliki pengaruh besar selama terhubung dalam jaringan yang luas. Gabungan dua hal ini membuat publik memiliki kekuatan kolektif, bukan hanya untuk mendukung, tetapi juga untuk menjatuhkan.

Di satu sisi, cancel culture sering dipandang sebagai bentuk keadilan sosial. Media sosial membuka ruang bagi kelompok yang sebelumnya tidak terdengar. Dalam kasus pelecehan, diskriminasi, atau penyalahgunaan kekuasaan, publik bisa menggunakan tekanan sosial untuk menuntut akuntabilitas. Konsep public sphere dari Jurgen Habermas menjelaskan bahwa masyarakat membutuhkan ruang untuk berdiskusi dan membentuk opini. Kini, media sosial bisa dilihat sebagai ruang publik baru, lebih terbuka, meskipun juga lebih rumit.

Selain itu, fenomena ini juga berkaitan dengan digital activism. Banyak gerakan sosial lahir dari internet, menggunakan hashtag dan viralitas sebagai alat perjuangan. Dalam konteks ini, netizen berperan sebagai pengawas sosial. Mereka bisa mengoreksi ketimpangan kekuasaan dan mendorong perubahan.

Masalah muncul ketika cancel culture berjalan tanpa kontrol. Informasi bisa menyebar sangat cepat tanpa verifikasi. Satu potongan video atau satu narasi bisa langsung membentuk opini publik. Cass Sunstein menyebut fenomena ini sebagai cyber cascades, yaitu penyebaran informasi secara berantai yang sering kali tidak melalui proses pengecekan. Ditambah dengan konsep echo chamber dan filter bubble dari Eli Pariser, di mana orang hanya terpapar pada informasi yang memperkuat keyakinannya sendiri. Akibatnya, muncul mob mentality, yaitu reaksi massa yang emosional dan impulsif. Dalam situasi ini, siapa pun bisa menjadi hakim. Namun, tidak semua memiliki data atau konteks yang cukup. Hukuman sosial pun sering kali tidak proporsional. Kesalahan kecil bisa berujung pada dampak besar, sementara ruang klarifikasi menjadi sangat terbatas.

Ilustrasi imbauan berhenti. (Sumber: Pexels | Foto: kaboompics.com)
Ilustrasi imbauan berhenti. (Sumber: Pexels | Foto: kaboompics.com)

Adaptasi atau Transformasi?

Di Indonesia, cancel culture memiliki dinamika yang unik. Sebagai masyarakat yang cenderung kolektif, norma sosial memiliki peran besar. Pelanggaran terhadap norma sering kali direspons secara cepat dan masif.

Konsep cultural hybridization dari Jan Nederveen Pieterse menjelaskan bahwa budaya global tidak diterima mentah-mentah, melainkan diadaptasi sesuai konteks lokal. Cancel culture di Indonesia adalah hasil dari proses ini.

Selain itu, media convergence dari Henry Jenkins juga terlihat jelas. Informasi bergerak cepat lintas platform, dari Twitter (X), Instagram, TikTok, hingga media berita. Peran influencer, buzzer, dan netizen memperkuat dinamika ini. Satu isu bisa berkembang menjadi gelombang opini yang besar dalam waktu singkat. Namun, ada juga ciri khas lain, yaitu siklus viral yang cepat. Isu yang hari ini ramai, bisa dilupakan dalam beberapa hari.

Cancel culture membawa dampak yang kompleks. Di satu sisi, ia meningkatkan kesadaran sosial. Publik menjadi lebih kritis terhadap isu etika dan tanggung jawab. Namun di sisi lain, muncul ketakutan kolektif. Erving Goffman melalui konsep self-presentation menjelaskan bahwa individu selalu “menampilkan diri” di hadapan publik. Di media sosial, panggung itu menjadi sangat luas. Ditambah dengan surveillance culture dari David Lyon, di mana individu merasa selalu diawasi. Akibatnya, banyak orang menjadi lebih berhati-hati, bahkan cenderung menyensor diri sendiri, Autentisitas pun terganggu.

Menariknya, cancel culture tidak selalu bersifat permanen. Banyak kasus menunjukkan bahwa figur publik bisa kembali setelah kontroversi mereda. Hal ini berkaitan dengan konsep attention economy. Perhatian publik terbatas, sementara informasi terus bertambah (information overload). Akibatnya, fokus cepat berpindah.

Siklus yang sering terjadi adalah:

viral → marah → ramai → lupa

Ini menunjukkan bahwa hukuman sosial di era digital sering kali bersifat sementara.

Pada akhirnya, cancel culture menunjukkan bahwa ruang digital telah menjadi arena baru untuk membentuk opini sekaligus menjatuhkan reputasi. Ia dapat berfungsi sebagai alat kontrol sosial yang mendorong akuntabilitas, tetapi juga berpotensi menciptakan tekanan massa yang tidak proporsional ketika berlangsung tanpa verifikasi dan konteks yang memadai.

Dalam konteks Indonesia, fenomena ini semakin kompleks karena dipengaruhi oleh budaya kolektif, kecepatan penyebaran informasi lintas platform, serta dinamika interaksi antar pengguna media sosial. Kombinasi tersebut membuat proses penilaian publik sering berlangsung cepat, luas, dan sulit dikendalikan.

Oleh karena itu, cancel culture perlu dipahami sebagai bagian dari ekosistem budaya digital yang tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh cara masyarakat menggunakannya. Sikap kritis terhadap informasi, kesadaran akan konteks, serta tanggung jawab dalam berpartisipasi di ruang digital menjadi faktor penting dalam menentukan apakah fenomena ini akan berkontribusi pada keadilan sosial atau justru memperkuat praktik penghakiman massal.

Referensi:

·      Jenkins, Henry. (2006). Convergence Culture: Where Old and New Media Collide.

·      Jenkins, Henry et al. (2009). Confronting the Challenges of Participatory Culture.

·      Castells, Manuel. (2010). The Rise of the Network Society.

·      Habermas, Jürgen. (1989). The Structural Transformation of the Public Sphere.

·      Sunstein, Cass R. (2001). Republic.com

·      Pariser, Eli. (2011). The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You.

·      Pieterse, Jan Nederveen. (2009). Globalization and Culture: Global Mélange.

·      Goffman, Erving. (1959). The Presentation of Self in Everyday Life.

·      Lyon, David. (2007). Surveillance Studies: An Overview.

·      Fuchs, Christian. (2014). Social Media: A Critical Introduction.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)