Ketika Teknologi Mengubah Cara Kita Menjaga Tradisi

7 menit baca
Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Ditulis oleh Femi Fauziah Alamsyah, M.Hum diterbitkan
Ilustrasi teknologi pembayaran digital. (Sumber: Pexels | Foto: Proxyclick Visitor Management System)
Ilustrasi teknologi pembayaran digital. (Sumber: Pexels | Foto: Proxyclick Visitor Management System)

Suatu sore, sebuah undangan pernikahan masuk ke grup WhatsApp keluarga. Desainnya elegan, lengkap dengan foto calon pengantin, tautan menuju lokasi acara, tombol konfirmasi kehadiran (RSVP), hingga hitung mundur menuju hari bahagia. Tidak ada yang terasa aneh, sebab pemandangan seperti itu sudah menjadi bagian dari keseharian kita. Namun, perhatian saya tertuju pada bagian paling bawah undangan. Di sana terpampang sebuah kode QRIS dan nomor rekening dengan keterangan, "Bagi Bapak/Ibu yang berkenan mengirimkan tanda kasih."

Belakangan, pengalaman seperti ini semakin sering saya temui. Ada teman yang mengirim pesan, "Maaf ya, saya tidak bisa hadir, tapi amplopnya sudah saya transfer." Ada pula yang tetap datang ke pesta tanpa membawa uang tunai karena sebelumnya telah mengirimkan hadiah melalui transfer bank. Bahkan, tidak sedikit pasangan pengantin yang secara terbuka menyediakan QRIS sebagai pilihan yang dianggap lebih praktis bagi para tamu.

Fenomena ini mungkin tampak sederhana. Sebagian orang melihatnya sekadar sebagai bentuk penyesuaian terhadap perkembangan teknologi pembayaran digital. Namun, jika diperhatikan lebih dalam, kehadiran QRIS atau transfer bank dalam undangan pernikahan sebenarnya mengisyaratkan sesuatu yang lebih besar. Bukan hanya cara ‘membayar’ yang berubah, tetapi juga cara masyarakat menjalankan sebuah tradisi yang telah diwariskan selama bertahun-tahun.

Selama ini, tradisi memberi amplop dalam pesta pernikahan bukan sekadar soal uang. Amplop merupakan simbol partisipasi, penghormatan, dan doa bagi pasangan yang memulai kehidupan baru. Di banyak daerah di Indonesia, membawa amplop juga menjadi bagian dari etika sosial. Kehadiran seseorang terasa lengkap ketika ia datang, berjabat tangan dengan kedua mempelai atau keluarga, mengucapkan selamat, lalu menyerahkan amplop sebagai ungkapan kebahagiaan bersama.

Tradisi seperti ini memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada nilai nominal yang ada di dalam amplop. Ia menjadi penanda hubungan sosial yang terus dirawat. Memberi amplop bukan sekadar memberi uang, melainkan menyatakan bahwa kita hadir, peduli, dan ikut berbagi kebahagiaan.

Kini, teknologi menghadirkan cara baru untuk melakukan hal yang sama. QRIS dan transfer bank memungkinkan seseorang tetap memberikan tanda kasih meskipun tidak dapat hadir secara fisik. Dalam banyak kasus, pilihan ini justru dianggap lebih efisien dan sesuai dengan ritme kehidupan modern yang serba cepat. Mobilitas tinggi, jarak antarkota, hingga kesibukan pekerjaan membuat tidak semua orang dapat menghadiri setiap undangan yang diterimanya.

Pertanyaannya kemudian, apakah perubahan ini berarti tradisi mulai ditinggalkan?

Jawabannya mungkin tidak sesederhana "ya" atau "tidak". Yang tampaknya sedang terjadi bukanlah hilangnya tradisi, melainkan perubahan cara tradisi itu dijalankan.

Pandangan ini dapat dipahami melalui pemikiran ilmuwan komunikasi James W. Carey. Dalam bukunya Communication as Culture, Carey mengemukakan bahwa komunikasi tidak semata-mata berfungsi untuk menyampaikan informasi. Komunikasi juga merupakan sebuah ritual yang memelihara kehidupan bersama. Melalui berbagai tindakan simbolik, masyarakat menjaga hubungan, memperkuat rasa memiliki, dan meneruskan nilai-nilai yang mereka anggap penting.

Jika menggunakan cara pandang Carey, undangan pernikahan bukan hanya sarana memberi tahu waktu dan lokasi acara. Ia adalah undangan untuk ikut serta dalam sebuah ritual sosial. Demikian pula dengan amplop. Yang diberikan bukan hanya sejumlah uang, melainkan simbol perhatian, dukungan, dan pengakuan atas hubungan sosial yang telah terjalin.

Dalam perspektif ini, kehadiran QRIS sebenarnya tidak menghilangkan ritual tersebut. Yang berubah hanyalah medium yang digunakan. Nilai sosial di balik tradisi memberi tetap ada, hanya cara mengekspresikannya yang mengalami penyesuaian dengan perkembangan teknologi.

Perubahan medium inilah yang kemudian dapat dipahami melalui gagasan Nick Couldry tentang media rituals. Couldry menjelaskan bahwa media bukan sekadar saluran penyampai informasi, melainkan bagian dari praktik sosial yang membentuk cara manusia menjalani kehidupan sehari-hari. Seiring berkembangnya teknologi digital, berbagai ritual sosial pun semakin dimediasi oleh media.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanjaya)
Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanjaya)

Kita dapat melihatnya dalam banyak aspek kehidupan. Ucapan ulang tahun kini lebih sering disampaikan melalui media sosial. Rapat keluarga dilakukan melalui aplikasi konferensi video. Wisuda disiarkan secara langsung melalui internet agar dapat disaksikan kerabat yang tinggal jauh. Begitu pula dengan pernikahan. Undangan digital, RSVP daring, siaran langsung akad, album foto digital, hingga QRIS merupakan rangkaian praktik baru yang lahir dari pertemuan antara tradisi dan teknologi.

Dengan kata lain, media digital tidak menggantikan tradisi, tetapi menjadi ruang baru tempat tradisi dijalankan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak sekadar mengadopsi teknologi, melainkan juga menyesuaikan makna sosial di balik penggunaannya. QRIS dalam undangan pernikahan bukan hanya fitur pembayaran. Ia menjadi bagian dari tata cara baru dalam menjaga hubungan sosial.

Menariknya, perubahan medium ini juga melahirkan norma-norma baru. Dahulu, seseorang yang berhalangan hadir sering kali dianggap tidak ikut berpartisipasi dalam acara. Kini, persepsi tersebut mulai bergeser. Mengirim amplop melalui transfer sering kali sudah dianggap sebagai bentuk partisipasi, meskipun tidak hadir secara fisik.

Di sisi lain, muncul pula etika-etika baru yang sebelumnya tidak dikenal. Misalnya, kapan waktu yang tepat untuk mengirim amplop digital? Apakah sebelum acara, saat acara berlangsung, atau setelah acara selesai? Apakah perlu mengirim pesan pribadi setelah melakukan transfer? Bagaimana jika seseorang hadir, tetapi tidak membawa amplop karena telah mengirimkannya sehari sebelumnya?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya menghadirkan alat baru, tetapi juga memunculkan kebiasaan sosial baru yang secara perlahan diterima masyarakat.

Perubahan ini sebenarnya merupakan bagian dari dinamika budaya. Sepanjang sejarah, tradisi selalu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Undangan pernikahan pernah ditulis dengan tangan, kemudian dicetak dalam bentuk kartu yang dikirim melalui pos, lalu berkembang menjadi pesan singkat, dan kini hadir dalam bentuk laman digital yang dapat diakses melalui telepon pintar. Esensi mengundang tetap sama, tetapi medianya terus berubah mengikuti perkembangan teknologi komunikasi.

Hal serupa juga terjadi pada amplop. Dahulu, uang diselipkan dalam amplop kertas yang diberikan secara langsung. Kini, nominal yang sama dapat berpindah melalui sistem pembayaran digital. Yang bergeser bukanlah niat untuk berbagi kebahagiaan, melainkan cara mewujudkannya.

Tentu saja, perubahan ini tidak lepas dari berbagai tanggapan. Sebagian orang menyambutnya sebagai bentuk efisiensi yang memudahkan semua pihak. Namun, ada pula yang merasa bahwa sesuatu mulai hilang. Jabat tangan, percakapan singkat di meja penerima tamu, atau momen menyelipkan amplop ke dalam kotak penerimaan memiliki nilai emosional yang sulit sepenuhnya digantikan oleh notifikasi transaksi di layar ponsel. Bagi sebagian orang, ritual fisik tersebut menghadirkan pengalaman kebersamaan yang tidak dapat diterjemahkan hanya melalui teknologi.

Perbedaan pandangan ini wajar. Setiap perubahan budaya selalu menghadirkan proses negosiasi antara kebiasaan lama dan kebiasaan baru. Tidak semua orang menerima perubahan dengan cara yang sama. Namun, sejarah menunjukkan bahwa masyarakat cenderung menemukan keseimbangannya sendiri. Teknologi yang awalnya dianggap asing lambat laun menjadi bagian dari rutinitas, sementara nilai-nilai yang dianggap penting tetap dipertahankan dalam bentuk yang baru.

Barangkali, itulah yang sedang kita saksikan hari ini. QRIS di sudut undangan digital bukan sekadar simbol kemajuan sistem pembayaran. Ia menjadi penanda bahwa masyarakat sedang merumuskan kembali cara menjaga tradisi di tengah perubahan teknologi. Tradisi memberi, menghormati, dan berbagi kebahagiaan tidak hilang. Ia hanya menemukan medium baru yang lebih sesuai dengan kehidupan digital.

Pada akhirnya, teknologi bukanlah lawan dari tradisi. Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan arah perubahan adalah bagaimana masyarakat memberi makna terhadap alat tersebut. Selama nilai-nilai seperti kebersamaan, kepedulian, dan saling menghormati tetap dipelihara, tradisi akan terus hidup, meskipun bentuknya berubah.

Mungkin suatu hari nanti, kode QRIS pada undangan pernikahan akan terasa sama lazimnya seperti amplop kertas yang dahulu kita kenal. Generasi mendatang barangkali tidak lagi memperdebatkan apakah memberi melalui transfer itu pantas atau tidak. Mereka justru akan melihatnya sebagai bagian alami dari tradisi pernikahan di era digital.

Karena pada akhirnya, yang diwariskan dari sebuah tradisi bukanlah benda-benda yang menyertainya, melainkan makna yang terus dipelihara dari satu generasi ke generasi berikutnya. Amplop bisa berubah menjadi QRIS, kartu undangan bisa berganti menjadi tautan digital, tetapi keinginan manusia untuk berbagi kebahagiaan dan menjaga hubungan sosial tetap menjadi inti dari tradisi itu sendiri. (*)

  • Carey, J. W. (2009). Communication as Culture: Essays on Media and Society (Revised Edition). New York: Routledge. (Edisi pertama terbit tahun 1989.)
  • Couldry, N. (2003). Media Rituals: A Critical Approach. London: Routledge.
  • Couldry, N., & Hepp, A. (2017). The Mediated Construction of Reality. Cambridge: Polity Press.
  • Jenkins, H. (2006). Convergence Culture: Where Old and New Media Collide. New York: New York University Press.
  • Van Dijck, J. (2013). The Culture of Connectivity: A Critical History of Social Media. Oxford: Oxford University Press.
  • Ling, R. (2008). New Tech, New Ties: How Mobile Communication Is Reshaping Social Cohesion. Cambridge, MA: MIT Press.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Peminat Kajian Budaya dan Media, Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung, Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Jul 2026, 18:04

Cara Ampuh Menerangi Jalan Kota Bandung

Menindak tegas begal bukan sekadar menjadi program tapi melanjutkan keluhan masyarakat yang diprioritaskan

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 15:30

Mafia Olahraga, Sebuah Stigma Menakutkan

Olahraga yang seharusnya menjadi ruang sportivitas kini dihantui oleh mafia yang terhubung dengan jaringan global.

Uang rupiah. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Wisata & Kuliner 19 Jul 2026, 14:01

Keripik Paru Klaten, Oleh-oleh Gurih Legendaris dari Kampung Tegal Kepatihan

Dari Kampung Tegal Kepatihan hingga dikenal luas, Keripik Paru Klaten menjadi ikon kuliner khas. Ketahui sejarah, proses, dan tempat membelinya.

Keripik Paru Klaten.
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 11:33

Marak Begal, Gangster, dan Matel Menelan Korban, Warga Bandung Pertanyakan Aksi Walikota dan Aparat

Bandung darurat 'Red Zone' akibat maraknya begal, gangster, dan matel yang menelan banyak korban.

Senjata Tajam. (Sumber: Pixabay/KhanaBadosh | Foto: Pixabay/KhanaBadosh)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 08:00

Ketika Deru Knalpot dan Distorsi Musik Menyatukan Ribuan Pecinta Otomotif Bandung

Seri pembuka Kejurnas Slalom MLDSPOT Autokhana 2026 sukses mengguncang GOR Arcamanik Bandung.

Gate masuk event MLDSPOT Autokhana, pada 11 Juli 2026 (Sumber: Athhar Jundi Pratama Attaqa | Foto: Athhar Jundi Pratama Attaqa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 07:50

Mengembalikan Fungsi Bandara Husein Bukan Romantisme Masa Lalu

Keberhasilan reaktivasi Bandara Husein pada akhirnya tidak akan ditentukan oleh hari pertama operasional, melainkan oleh apa yang terjadi berbulan-bulan setelahnya.

Petugas Avsec melakukan patroli di pintu keberangkatan domestik Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 21:21

Panduan Wisata ke Kawah Ijen Banyuwangi: Blue Fire, Tiket, dan Tips Lengkap

Panduan lengkap wisata Kawah Ijen Banyuwangi, mulai harga tiket 2025, fenomena Blue Fire, rute pendakian, jam terbaik, hingga tips agar perjalanan lebih aman.

Kawah Ijen Banyuwangi. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 20:15

Luka, Algoritma, dan Dogma

Luka hanya dapat disembuhkan oleh kepedulian, algoritma dapat diimbangi dengan literasi, dan rapuhnya interaksi sosial hanya dapat dipulihkan saat kita meluangkan waktu untuk benar-benar hadir bersama

Kita tidak akan sepenuhnya paham bagaimana rasanya di-bully, sebelum kita merasakan sendiri dampaknya. (Sumber: Unsplash/Carolina)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 15:18

Revolusi Perancis dan Bandung Nol Kilometer

Revolusi Prancis berawal dari penjara Bastille tahun 1789 telah membuat perubahan besar hak asasi manusia juga mempengaruhi perkembangan Bandung.

Monumen titik nol kilometer Kota Bandung diresmikan Gubernur H. Danny Setiawan pada 18 Mei 2004 dan didedikasikan untuk masyarakat Priangan korban kerja paksa. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Anya Dellanita)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 14:50

Islam di Kerajaan Demak: Warisan Peradaban dan Hukum Islam

Kemunculan Demak tidak terlepas dari melemahnya Majapahit yang memberi kesempatan bagi para penguasa Islam di pesisir Jawa untuk membangun kekuasaan.

Masjid Agung Demak, yang terletak di Kauman, Demak, Jawa Tengah, dibangun pada abad ke-15 M oleh Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, bersama para Wali Songo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hastosuprayogo)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 13:56

Panduan Wisata ke Pantai Legon Pari Sawarna, Laguna Tersembunyi di Ujung Jalan Setapak

Panduan lengkap Pantai Legon Pari Sawarna, mulai dari harga tiket, rute menuju lokasi, aktivitas, camping, hingga rekomendasi penginapan terbaru.

Pantai Legon Pari Sawarna. (Sumber: wisatasawarna.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 13:42

Soedirman dalam Tulisan Tempo

Review buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir karya Tempo.

Buku "Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir" (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nahla Lisana, 2026)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 12:33

Persib dan Mimpi Menjadi Kekuatan Indonesia

Persib memiliki peluang menjadi salah satu lokomotif perubahan sepak bola di Tanah Air.

Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 17 Jul 2026, 10:59

Soekarno-Hatta: Jalur Maut di Kota Bandung yang Terbelenggu Sekat Birokrasi

Selama birokrasi belum mampu di-bypass demi keselamatan, aspal Soekarno-Hatta akan tetap menjadi "jalur tengkorak" yang menanti nyawa lainnya.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)