Official Persib Logo
1933
1933

Ketakwaan Terlangka di Era Digital Religion

Muhammad Sufyan Abdurrahman
Ditulis oleh Muhammad Sufyan Abdurrahman diterbitkan Rabu 08 Apr 2026, 18:17 WIB
Salah berjamaah. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Salah berjamaah. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ramadan, termasuk di tahun 2026 ini, selalu datang dengan tekad dan janji serupa: pemurnian. Ia tidak hanya mengatur ritme makan dan minum, tetapi juga menata ulang relasi manusia dengan dirinya sendiri. Dalam sebulan penuh, manusia diajak untuk menahan. Bukan sekadar lapar, melainkan juga keinginan untuk terlihat.

Namun problemnya, setelah Ramadan berlalu, yang kembali sering kali bukan hanya kebiasaan lama, tetapi juga hasrat lebih halus dan lebih berbahaya yakni keinginan untuk diakui. Di era digital hari ini, pengakuan tidak lagi menunggu ruang fisik, melainkan hadir dalam genggaman melalui likes, views, dan komentar. Dalam perspektif digital religion, fenomena ini menunjukkan bagaimana praktik keagamaan tidak lagi berdiri terpisah dari teknologi, tetapi justru bernegosiasi secara aktif dengan logika media digital (Campbell, 2013).

Puasa pada dasarnya praktik ibadah sangat personal. Tidak ada manusia lain yang benar-benar bisa memastikan apakah seseorang berpuasa dengan jujur/tidak. Karena itu, puasa melatih kesadaran terdalam bahwa yang dilihat bukan manusia, melainkan Allah SWT. Tetapi ketika praktik keberagamaan mulai dipertontonkan berlebihan di ruang digital, orientasi itu perlahan bergeser. Kita mulai lebih peduli pada siapa yang melihat, dibanding siapa yang menilai. Dalam studi digital religion, transformasi ini dipahami sebagai pergeseran dari religiusitas yang berbasis pengalaman internal menuju ekspresi identitas yang bersifat performatif di ruang publik digital (Campbell & Rule, 2018; Elsafir, 2024).

Fenomena flexing dalam konteks ini menjadi relevan. Flexing bukan hanya soal memamerkan kekayaan, tetapi juga merambah ke ranah religiusitas. Sedekah yang direkam, ibadah yang diunggah, bahkan kesederhanaan yang dikurasi agar tetap terlihat estetis. Media digital mendorong pengguna membangun identitas keagamaan yang dapat dikenali dan divalidasi secara sosial.

Dalam kerangka ini, agama tidak hanya dipraktikkan, tetapi juga diproduksi sebagai simbol dan representasi (Maulana, 2022). Di satu sisi, publikasi memang dapat menjadi inspirasi. Namun di sisi lain, batas antara inspirasi dan pamer menjadi sangat tipis, terutama ketika algoritma lebih mengapresiasi konten visual dan emosional. 

Salat Idulfitri di Balai Kota Bandung Berlangsung Khidmat, Jadi Ajang Silaturahmi Warga. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar)
Salat Idulfitri di Balai Kota Bandung Berlangsung Khidmat, Jadi Ajang Silaturahmi Warga. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar)

Dalam kondisi seperti ini, menjaga spirit Ramadan berarti menjaga keikhlasan dari distorsi ruang publik digital. Ini bukan berarti menolak teknologi, melainkan kemampuan menempatkan diri secara proporsional. Ramadan kemarin mengajarkan bahwa tidak semua hal perlu ditampilkan. Ada ruang sunyi yang justru menjadi inti dari hubungan spiritual, ruang di mana manusia tidak sedang menjadi konten, tetapi menjadi hamba. Dalam studi digital religion, ruang ini sering kali terancam oleh hiper-mediasi, yaitu kondisi ketika pengalaman religius terus-menerus dimediasi oleh teknologi (Munir, 2023). Ketika ruang sunyi ini hilang, maka yang tersisa hanyalah performa.

Di dunia nyata pun gejala serupa muncul. Tradisi berbagi yang seharusnya lahir dari empati kadang berubah menjadi ajang legitimasi sosial. Semakin besar yang dibagikan, semakin besar pula eksposurnya. Seolah-olah nilai kebaikan diukur dari seberapa banyak orang yang tahu. Padahal dalam logika spiritual justru sebaliknya, kebaikan yang paling kuat adalah yang tidak diketahui siapa pun kecuali Allah SWT. Dalam konteks ini, digital religion menunjukkan bagaimana otoritas dan makna religius tidak lagi hanya ditentukan oleh teks atau ulama, tetapi juga oleh dinamika jaringan sosial dan visibilitas digital (Cheong, 2013).

Di sinilah Ramadan sebenarnya memberikan fondasi etik sangat penting. Ia melatih manusia untuk tetap berbuat baik bahkan ketika tidak ada yang melihat. Ia membangun integritas yang tidak bergantung pengakuan sosial. Jika fondasi ini berhasil dibawa ke sebelas bulan berikutnya, maka kehidupan beragama tidak akan mudah terjebak simbolisme, melainkan menjadi laku yang hidup. Menjaga spirit Ramadan berarti juga berani melawan arus budaya populer yang mengagungkan visibilitas. Tidak semua yang terlihat itu bernilai, dan tidak semua yang bernilai harus terlihat.

Lebih jauh, ini juga menjadi bagian jihad personal di era digital. Jihad bukan hanya kesungguhan melawan sesuatu yang besar di luar diri, tetapi juga tentang menaklukkan dorongan kecil di dalam diri, yakni dorongan diakui, dipuji, dan divalidasi. Dalam konteks ini, menahan diri untuk tidak memamerkan kebaikan justru menjadi bentuk pengendalian yang paling sulit, karena ia tidak terlihat, dan justru karena tidak terlihat ia menjadi sangat bernilai. Dalam kerangka digital religion, inilah bentuk resistensi terhadap logika platform yang menuntut eksposur terus-menerus sebagai bentuk eksistensi (Campbell, 2013).

Pada akhirnya, Ramadan kemarin dan ke depan bukan sekadar momentum tahunan, tetapi juga metodologi kehidupan. Ia mengajarkan, kualitas diri tidak ditentukan apa yang ditampilkan melainkan justru apa yang disembunyikan penuh kesadaran. Jika Ramadan berhasil mengajarkan kita menahan lapar, maka sebelas bulan berikutnya seharusnya mengajarkan kita menahan pamer. Sebab, dalam dunia yang semakin bising oleh citra, keheningan justru menjadi bentuk ketakwaan terlangka. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Sufyan Abdurrahman
Peminat komunikasi publik & digital religion (Comm&Researcher di CDICS). Berkhidmat di Digital PR Telkom University serta MUI/IPHI/Pemuda ICMI Jawa Barat

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Mei 2026, 19:25

Bandung Kembali Berpestapora untuk Tiga Kali Berturut-turut.

Persib Bandung resmi menyambit gelar Liga Indonesia yang ke-5 kalinya dalam tiga kali berturut-turut. Euforia perayaan di Kota Bandung pun kembali menjadi perhatian.

Para Bobotoh merayakan gelar juara Persib Bandung di Liga Super Indonesia 2025/2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis).
Ayo Biz 25 Mei 2026, 18:51

Cerita dari Sumedang Utara, ‘Revolusi Mindset’ Warga Margamukti hingga Jadi Desa BRILiaN

Masuk 15 besar Desa BRILiaN 2025 bukan garis finish, melainkan titik awal bagi Desa Margamukti.

Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara budidaya melon premium. (Sumber: Dokumentasi Narasumber)
Linimasa 25 Mei 2026, 17:18

Sisa-sisa Kejayaan Persib Bandung di Si Jalak Harupat

Si Jalak Harupat masih menyimpan jejak kejayaan Persib lewat pedagang jersey dan kenangan juara liga.

Kondisi pedagang suvenir Persib di Stadion Si Jalak Harupat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 15:29

Persib Juara ala Atomic Habits

Analisa kemenangan Persib lewat Prinsip Atomic Habits-nya James Clear.

Pemain Persib Bandung mengangkat piala usai pertandingan melawan Persijap Jepara dalam Super League 2025-2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Gedebage, Kota Bandung, Sabtu 23 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 12:10

Magot, dan Kesabaran Warga Bandung Mengurus Sampah Dapur

Majelis Ta'lim Baitul Mu'min membuat acara pengajian mengundang mahasiswa ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan magot BSF atau larva Black Soldier Fly.

Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)
Beranda 25 Mei 2026, 10:17

Bandung Berpesta Semalaman untuk Persib, Petugas dan Warga Lokal Bersihkan Sampah Sejak Pagi Buta

Pas datang tadi mah kondisinya kacau, Kang. Pabalatak pisan. Plastik, botol minuman, bungkus makanan, bekas flare, pokokna loba pisan.

Handoyo bersama warga dan unsur kewilayahan ikut turun membersihkan sampah bekas konvoi di kawasan Pasupati, Senin 25 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 10:16

Persib, Bobotoh, dan Komunikasi Kota yang Membiru

Persib juara bukan sekadar prestasi, tetapi peristiwa komunikasi publik. Konvoi bobotoh menjadi bahasa kolektif yang membangun identitas, emosi, dan solidaritas kota.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 25 Mei 2026, 09:45

Support System yang Membentuk Ekosistem: Potret UMKM Bandung Hari Ini

Seperti inilah cara ekosistem UMKM di bawah binaan BRI menjalani arah bisnis yang sehat.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 09:07

Banyak Followers dan Following, api Nol Postingan: Fenomena Silent User di Instagram

Fenomena akun Instagram tanpa postingan (tren Zero Post) menunjukkan perubahan cara generasi muda memandang privasi, eksistensi, dan tekanan sosial di era media digital.

Ilustrasi profil Instagram dengan banyak followers dan following tetapi feed kosong tanpa postingan. (Sumber: Dok. Penulis)
Beranda 25 Mei 2026, 08:24

Cerita Warga Setelah Konvoi Persib Usai

Konvoi juara Persib menyisakan cerita berbeda bagi warga Bandung, dari petugas kebersihan, ojol, hingga pedagang kecil yang kebanjiran pembeli.

Hendi Suhendi bersama petugas kebersihan lainnya menyisir kawasan pusat Kota Bandung usai perayaan kemenangan Persib. Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wisata & Kuliner 24 Mei 2026, 20:27

5 Oleh-Oleh Bandung Favorit yang Selalu Ramai Pembeli, Wajib Dibawa Pulang

Wisata ke Bandung belum lengkap tanpa membawa pulang oleh-oleh favorit seperti bolu bakar, abon gulung, dan dessert kekinian.

Bolu Bakar Tunggal, salah satu oleh-oleh legendaris Bandung.
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 18:05

Meminjam Semangat Bobotoh Persib untuk Perubahan Indonesia

Perubahan besar sering kali dimulai dari akumulasi kecil seperti loyalitas, suportivitas, humanitas dan solidaritas dan semua itu bisa kita lihat dari antuasiasme Bobotoh Persib

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 16:03

Muslihat pada Buku ‘Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda’

Penting saya melanjutkan tulisan terkait Hari Lahir Tatar Sunda.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan peserta memeriahkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 13:07

Kaum Rebahan Menolak Punah: Kemalasan adalah Sumber Penderitaan Nyata

Menderita karena lelahnya belajar dan berproses itu cuma sementara. ketika kamu menguasai skill baru disitu kebanggaan.

Ilustrasi kaum rebahan. (Sumber: Pexels | Foto: bi8ie)
Mayantara 24 Mei 2026, 10:50

Deepfake, Anonimitas, dan Perubahan Wajah Ruang Publik Digital

Perubahan ini merupakan bagian dari karakter media baru atau new media.

Ilustrasi anonimitas. (Sumber: Pexels | Foto: Anete Lusina)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 09:41

Encib Bangkit Lagi Tahun 1980-an

Tahun 1986 adalah saat kebangkitan kembali Persib saat tampil sebagai juara Perserikatan tahun 1986'

Bobotoh Persib tahun 1985-an. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Princelg22)
Beranda 23 Mei 2026, 08:49

Persib di Ambang Juara, Pedagang Kecil Otista Bersiap "Lebaran"

Euforia Persib menuju juara membawa berkah bagi pedagang kecil di Otista. Penjual jersey dan bendera ikut panen rezeki dari ramainya warga menyambut pesta juara.

Deretan lapak penjual jersey dan bendera Persib di kawasanTegalega Kota Bandung, Jumat, 22 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 19:17

Senayan Bergema untuk Persib Sejak 1995 dan Kini 2026 

Kemenangan Persib Bandung selangkah lagi menuju juara Liga Super Indonesia 2026 membuat kenangan mendekat.

Sutiono Lamso dan Kekey Zakaria menjadi pahlawan kemenangan Persib pada partai final di Stadion Senayan, Jakarta. (Sumber: Tabloid Tribun Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 18:07

Gaya Hidup Demi 'Eksposur': Puncak Komedi Finansial dan Cara Waras biar Gak Tekor

Hemat pangkal kaya itu mutlak, tapi di zaman sekarang, hemat itu butuh mental baja!

Kini, media sosial menjadi panggung global, tempat siapa pun bisa menampilkan diri, membentuk citra, dan menarik perhatian. (Sumber: Pexels/RDNE Stock project)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 17:19

Lebaran Haji Tempo Dulu

Hari Raya Idul Adha pada tempo dulu lebih dikenal dengan nama Lebaran Haji.

Artikel pada salah satu koran yang terbit tahun 1936. (Sumber: Delpher.nl)