Ketakwaan Terlangka di Era Digital Religion

4 menit baca
Muhammad Sufyan Abdurrahman
Ditulis oleh Muhammad Sufyan Abdurrahman diterbitkan
Salah berjamaah. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Salah berjamaah. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ramadan, termasuk di tahun 2026 ini, selalu datang dengan tekad dan janji serupa: pemurnian. Ia tidak hanya mengatur ritme makan dan minum, tetapi juga menata ulang relasi manusia dengan dirinya sendiri. Dalam sebulan penuh, manusia diajak untuk menahan. Bukan sekadar lapar, melainkan juga keinginan untuk terlihat.

Namun problemnya, setelah Ramadan berlalu, yang kembali sering kali bukan hanya kebiasaan lama, tetapi juga hasrat lebih halus dan lebih berbahaya yakni keinginan untuk diakui. Di era digital hari ini, pengakuan tidak lagi menunggu ruang fisik, melainkan hadir dalam genggaman melalui likes, views, dan komentar. Dalam perspektif digital religion, fenomena ini menunjukkan bagaimana praktik keagamaan tidak lagi berdiri terpisah dari teknologi, tetapi justru bernegosiasi secara aktif dengan logika media digital (Campbell, 2013).

Puasa pada dasarnya praktik ibadah sangat personal. Tidak ada manusia lain yang benar-benar bisa memastikan apakah seseorang berpuasa dengan jujur/tidak. Karena itu, puasa melatih kesadaran terdalam bahwa yang dilihat bukan manusia, melainkan Allah SWT. Tetapi ketika praktik keberagamaan mulai dipertontonkan berlebihan di ruang digital, orientasi itu perlahan bergeser. Kita mulai lebih peduli pada siapa yang melihat, dibanding siapa yang menilai. Dalam studi digital religion, transformasi ini dipahami sebagai pergeseran dari religiusitas yang berbasis pengalaman internal menuju ekspresi identitas yang bersifat performatif di ruang publik digital (Campbell & Rule, 2018; Elsafir, 2024).

Fenomena flexing dalam konteks ini menjadi relevan. Flexing bukan hanya soal memamerkan kekayaan, tetapi juga merambah ke ranah religiusitas. Sedekah yang direkam, ibadah yang diunggah, bahkan kesederhanaan yang dikurasi agar tetap terlihat estetis. Media digital mendorong pengguna membangun identitas keagamaan yang dapat dikenali dan divalidasi secara sosial.

Dalam kerangka ini, agama tidak hanya dipraktikkan, tetapi juga diproduksi sebagai simbol dan representasi (Maulana, 2022). Di satu sisi, publikasi memang dapat menjadi inspirasi. Namun di sisi lain, batas antara inspirasi dan pamer menjadi sangat tipis, terutama ketika algoritma lebih mengapresiasi konten visual dan emosional. 

Salat Idulfitri di Balai Kota Bandung Berlangsung Khidmat, Jadi Ajang Silaturahmi Warga. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar)
Salat Idulfitri di Balai Kota Bandung Berlangsung Khidmat, Jadi Ajang Silaturahmi Warga. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar)

Dalam kondisi seperti ini, menjaga spirit Ramadan berarti menjaga keikhlasan dari distorsi ruang publik digital. Ini bukan berarti menolak teknologi, melainkan kemampuan menempatkan diri secara proporsional. Ramadan kemarin mengajarkan bahwa tidak semua hal perlu ditampilkan. Ada ruang sunyi yang justru menjadi inti dari hubungan spiritual, ruang di mana manusia tidak sedang menjadi konten, tetapi menjadi hamba. Dalam studi digital religion, ruang ini sering kali terancam oleh hiper-mediasi, yaitu kondisi ketika pengalaman religius terus-menerus dimediasi oleh teknologi (Munir, 2023). Ketika ruang sunyi ini hilang, maka yang tersisa hanyalah performa.

Di dunia nyata pun gejala serupa muncul. Tradisi berbagi yang seharusnya lahir dari empati kadang berubah menjadi ajang legitimasi sosial. Semakin besar yang dibagikan, semakin besar pula eksposurnya. Seolah-olah nilai kebaikan diukur dari seberapa banyak orang yang tahu. Padahal dalam logika spiritual justru sebaliknya, kebaikan yang paling kuat adalah yang tidak diketahui siapa pun kecuali Allah SWT. Dalam konteks ini, digital religion menunjukkan bagaimana otoritas dan makna religius tidak lagi hanya ditentukan oleh teks atau ulama, tetapi juga oleh dinamika jaringan sosial dan visibilitas digital (Cheong, 2013).

Di sinilah Ramadan sebenarnya memberikan fondasi etik sangat penting. Ia melatih manusia untuk tetap berbuat baik bahkan ketika tidak ada yang melihat. Ia membangun integritas yang tidak bergantung pengakuan sosial. Jika fondasi ini berhasil dibawa ke sebelas bulan berikutnya, maka kehidupan beragama tidak akan mudah terjebak simbolisme, melainkan menjadi laku yang hidup. Menjaga spirit Ramadan berarti juga berani melawan arus budaya populer yang mengagungkan visibilitas. Tidak semua yang terlihat itu bernilai, dan tidak semua yang bernilai harus terlihat.

Lebih jauh, ini juga menjadi bagian jihad personal di era digital. Jihad bukan hanya kesungguhan melawan sesuatu yang besar di luar diri, tetapi juga tentang menaklukkan dorongan kecil di dalam diri, yakni dorongan diakui, dipuji, dan divalidasi. Dalam konteks ini, menahan diri untuk tidak memamerkan kebaikan justru menjadi bentuk pengendalian yang paling sulit, karena ia tidak terlihat, dan justru karena tidak terlihat ia menjadi sangat bernilai. Dalam kerangka digital religion, inilah bentuk resistensi terhadap logika platform yang menuntut eksposur terus-menerus sebagai bentuk eksistensi (Campbell, 2013).

Pada akhirnya, Ramadan kemarin dan ke depan bukan sekadar momentum tahunan, tetapi juga metodologi kehidupan. Ia mengajarkan, kualitas diri tidak ditentukan apa yang ditampilkan melainkan justru apa yang disembunyikan penuh kesadaran. Jika Ramadan berhasil mengajarkan kita menahan lapar, maka sebelas bulan berikutnya seharusnya mengajarkan kita menahan pamer. Sebab, dalam dunia yang semakin bising oleh citra, keheningan justru menjadi bentuk ketakwaan terlangka. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)