Ketakwaan Terlangka di Era Digital Religion

Muhammad Sufyan Abdurrahman
Ditulis oleh Muhammad Sufyan Abdurrahman diterbitkan Rabu 08 Apr 2026, 18:17 WIB
Salah berjamaah. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Salah berjamaah. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ramadan, termasuk di tahun 2026 ini, selalu datang dengan tekad dan janji serupa: pemurnian. Ia tidak hanya mengatur ritme makan dan minum, tetapi juga menata ulang relasi manusia dengan dirinya sendiri. Dalam sebulan penuh, manusia diajak untuk menahan. Bukan sekadar lapar, melainkan juga keinginan untuk terlihat.

Namun problemnya, setelah Ramadan berlalu, yang kembali sering kali bukan hanya kebiasaan lama, tetapi juga hasrat lebih halus dan lebih berbahaya yakni keinginan untuk diakui. Di era digital hari ini, pengakuan tidak lagi menunggu ruang fisik, melainkan hadir dalam genggaman melalui likes, views, dan komentar. Dalam perspektif digital religion, fenomena ini menunjukkan bagaimana praktik keagamaan tidak lagi berdiri terpisah dari teknologi, tetapi justru bernegosiasi secara aktif dengan logika media digital (Campbell, 2013).

Puasa pada dasarnya praktik ibadah sangat personal. Tidak ada manusia lain yang benar-benar bisa memastikan apakah seseorang berpuasa dengan jujur/tidak. Karena itu, puasa melatih kesadaran terdalam bahwa yang dilihat bukan manusia, melainkan Allah SWT. Tetapi ketika praktik keberagamaan mulai dipertontonkan berlebihan di ruang digital, orientasi itu perlahan bergeser. Kita mulai lebih peduli pada siapa yang melihat, dibanding siapa yang menilai. Dalam studi digital religion, transformasi ini dipahami sebagai pergeseran dari religiusitas yang berbasis pengalaman internal menuju ekspresi identitas yang bersifat performatif di ruang publik digital (Campbell & Rule, 2018; Elsafir, 2024).

Fenomena flexing dalam konteks ini menjadi relevan. Flexing bukan hanya soal memamerkan kekayaan, tetapi juga merambah ke ranah religiusitas. Sedekah yang direkam, ibadah yang diunggah, bahkan kesederhanaan yang dikurasi agar tetap terlihat estetis. Media digital mendorong pengguna membangun identitas keagamaan yang dapat dikenali dan divalidasi secara sosial.

Dalam kerangka ini, agama tidak hanya dipraktikkan, tetapi juga diproduksi sebagai simbol dan representasi (Maulana, 2022). Di satu sisi, publikasi memang dapat menjadi inspirasi. Namun di sisi lain, batas antara inspirasi dan pamer menjadi sangat tipis, terutama ketika algoritma lebih mengapresiasi konten visual dan emosional. 

Salat Idulfitri di Balai Kota Bandung Berlangsung Khidmat, Jadi Ajang Silaturahmi Warga. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar)
Salat Idulfitri di Balai Kota Bandung Berlangsung Khidmat, Jadi Ajang Silaturahmi Warga. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar)

Dalam kondisi seperti ini, menjaga spirit Ramadan berarti menjaga keikhlasan dari distorsi ruang publik digital. Ini bukan berarti menolak teknologi, melainkan kemampuan menempatkan diri secara proporsional. Ramadan kemarin mengajarkan bahwa tidak semua hal perlu ditampilkan. Ada ruang sunyi yang justru menjadi inti dari hubungan spiritual, ruang di mana manusia tidak sedang menjadi konten, tetapi menjadi hamba. Dalam studi digital religion, ruang ini sering kali terancam oleh hiper-mediasi, yaitu kondisi ketika pengalaman religius terus-menerus dimediasi oleh teknologi (Munir, 2023). Ketika ruang sunyi ini hilang, maka yang tersisa hanyalah performa.

Di dunia nyata pun gejala serupa muncul. Tradisi berbagi yang seharusnya lahir dari empati kadang berubah menjadi ajang legitimasi sosial. Semakin besar yang dibagikan, semakin besar pula eksposurnya. Seolah-olah nilai kebaikan diukur dari seberapa banyak orang yang tahu. Padahal dalam logika spiritual justru sebaliknya, kebaikan yang paling kuat adalah yang tidak diketahui siapa pun kecuali Allah SWT. Dalam konteks ini, digital religion menunjukkan bagaimana otoritas dan makna religius tidak lagi hanya ditentukan oleh teks atau ulama, tetapi juga oleh dinamika jaringan sosial dan visibilitas digital (Cheong, 2013).

Di sinilah Ramadan sebenarnya memberikan fondasi etik sangat penting. Ia melatih manusia untuk tetap berbuat baik bahkan ketika tidak ada yang melihat. Ia membangun integritas yang tidak bergantung pengakuan sosial. Jika fondasi ini berhasil dibawa ke sebelas bulan berikutnya, maka kehidupan beragama tidak akan mudah terjebak simbolisme, melainkan menjadi laku yang hidup. Menjaga spirit Ramadan berarti juga berani melawan arus budaya populer yang mengagungkan visibilitas. Tidak semua yang terlihat itu bernilai, dan tidak semua yang bernilai harus terlihat.

Lebih jauh, ini juga menjadi bagian jihad personal di era digital. Jihad bukan hanya kesungguhan melawan sesuatu yang besar di luar diri, tetapi juga tentang menaklukkan dorongan kecil di dalam diri, yakni dorongan diakui, dipuji, dan divalidasi. Dalam konteks ini, menahan diri untuk tidak memamerkan kebaikan justru menjadi bentuk pengendalian yang paling sulit, karena ia tidak terlihat, dan justru karena tidak terlihat ia menjadi sangat bernilai. Dalam kerangka digital religion, inilah bentuk resistensi terhadap logika platform yang menuntut eksposur terus-menerus sebagai bentuk eksistensi (Campbell, 2013).

Pada akhirnya, Ramadan kemarin dan ke depan bukan sekadar momentum tahunan, tetapi juga metodologi kehidupan. Ia mengajarkan, kualitas diri tidak ditentukan apa yang ditampilkan melainkan justru apa yang disembunyikan penuh kesadaran. Jika Ramadan berhasil mengajarkan kita menahan lapar, maka sebelas bulan berikutnya seharusnya mengajarkan kita menahan pamer. Sebab, dalam dunia yang semakin bising oleh citra, keheningan justru menjadi bentuk ketakwaan terlangka. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Sufyan Abdurrahman
Peminat komunikasi publik & digital religion (Comm&Researcher di CDICS). Berkhidmat di Digital PR Telkom University serta MUI/IPHI/Pemuda ICMI Jawa Barat

Berita Terkait

News Update

Mayantara 08 Apr 2026, 18:17

Ketakwaan Terlangka di Era Digital Religion

Di era digital hari ini, pengakuan tidak lagi menunggu ruang fisik, melainkan hadir dalam genggaman melalui likes, views, dan komentar.

Salah berjamaah. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 08 Apr 2026, 17:15

Menjembatani Celah Kreativitas dan Hukum dalam Ekosistem Ekraf Bandung

Dialog Ekraf Bandung bedah celah hukum dan nilai ekonomi industri kreatif guna ciptakan ekosistem yang lebih kokoh bagi pelaku seni

Dialog Ekraf Bandung bedah celah hukum dan nilai ekonomi industri kreatif guna ciptakan ekosistem yang lebih kokoh bagi pelaku seni (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 08 Apr 2026, 15:50

Plastik Makin Mahal, Saatnya Warga Bandung 'Putus Hubungan' dengan Kantong Sekali Pakai

Harga plastik di Bandung naik, jadi momentum warga beralih dari kantong sekali pakai untuk mengurangi sampah.

Kenaikan harga plastik di Pasar Kosambi membuat pedagang dan pembeli sama-sama merasakan dampaknya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Beranda 08 Apr 2026, 15:39

Cerita Ricky, Pemain Biola Jalanan yang Kerap Kucing-kucingan dengan Satpol PP

Di tengah kerasnya jalanan Bandung, Ricky Rustandi Pratama memilih bertahan hidup lewat alunan biola di sela-sela ancaman penertiban petugas.

Di tengah lalu lintas Kota Bandung, Ricky menghibur pengendara dengan alunan biola dari hasil belajar otodidak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 08 Apr 2026, 14:08

Tombolo Pangandaran Menghubungkan Pulau Pananjung dengan Daratan Utama

Tombolo itu terbentuk bukan karena sebab tunggal. Prosesnya rumit dan memakan waktu yang panjang.

Tombolo Pangandaran, menyambung Pulau Pananjung dengan Daratan Utama dengan endapan pasir yang terbentuk secara bertahap. (Sumber: Citra satelit: Google maps)
Wisata & Kuliner 08 Apr 2026, 13:33

Jelajah Situ Cileunca sampai Hilir: dari Wisata, Pembangkit Listrik hingga Kearifan Lokal

Dibangun sejak era kolonial, Situ Cileunca berkembang menjadi sumber listrik, destinasi wisata unggulan, serta ruang aktivitas olahraga air bagi masyarakat Pangalengan.

Situ Cileunca, salah satu objek wisata favorit di Kabupaten Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ikon 08 Apr 2026, 13:19

Hikayat Gunung Kunci, Benteng Kamuflase Belanda di Tengah Kota Sumedang

Di balik hijaunya Gunung Kunci Sumedang, tersimpan sejarah benteng Belanda dan kisah pahit penahanan pejuang.

Tahura Gunung Kunci Sumedang. (Sumber: sumedangkab.go.id)
Ayo Netizen 08 Apr 2026, 11:22

Kaum Urban di Bandung Abad ke-19

Di Bandung pada abad ke-19 pun telah terjadi banyak lonjakan urbanisasi.

Jalan Raya Pos Bandung masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 08 Apr 2026, 08:38

Ruang Terakhir yang Kian Sempit

Lahan pemakaman yang dikelola pemerintah kian terbatas.

Warga berziarah di Tempat Pemakaman Umum Cikutra, Kota Bandung pada Sabtu, 21 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 07 Apr 2026, 20:09

Rapor Hijau Perbankan Jawa Barat di Tengah Tren Pengetatan Sektor Unggulan

Dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, Jawa Barat menunjukkan performa perbankan yang solid, meski dihadapkan tantangan diversifikasi sektor dan manajemen risiko kredit yang makin selektif.

Ilustrasi. Dinamika ekonomi global yang fluktuatif di awal tahun 2026 tidak menyurutkan ketahanan sektor jasa keuangan di Jawa Barat. (Sumber: Pixabay)
Bandung 07 Apr 2026, 19:47

Strategi Market Chicken Steak Bertahan di Tengah Geliat Kuliner Pasar Cihapit

Siapa sangka ada kelezatan steak di sudut pasar tradisional? Simak kisah Sutrisno mengubah peluang jadi keunikan kuliner di Pasar Cihapit yang kini jadi primadona.

Kios Market Chicken Steak milik Sutrisno yang menghadirkan menu Barat di tengah deretan kuliner tradisional Pasar Cihapit, Bandung. Meski berukuran terbatas, kios ini menjadi destinasi baru bagi pemburu kuliner. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Komunitas 07 Apr 2026, 18:44

Ekspresi Tanpa Suara, Komunitas Karya Seni Tuli Bangun Jembatan antara Teman Tuli dan Dengar

Ruang ini menjadi tempat berbagi cerita, belajar, dan mengekspresikan diri tanpa batas, sekaligus mempererat hubungan antara teman tuli dan teman dengar dalam semangat saling memahami.

Suasana hangat pertemuan Karya Seni Tuli dipenuhi interaksi melalui bahasa isyarat, tawa, dan semangat berkarya bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 07 Apr 2026, 16:23

Tumbuh Pesat! Penyaluran Kredit UMKM Jawa Barat Tembus Rp186 Triliun, Kota Bandung Jadi Motor Utama

Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kini bukan lagi sekadar jaring pengaman ekonomi, melainkan motor utama pertumbuhan di Jawa Barat.

Ilustrasi. Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kini bukan lagi sekadar jaring pengaman ekonomi, melainkan motor utama pertumbuhan di Jawa Barat. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 07 Apr 2026, 15:22

Panduan Wisata Talaga Bodas Garut, Kawah Belerang yang Pernah jadi Primadona Orang Eropa

Talaga Bodas pernah populer sejak abad ke-19 melalui kartu pos kolonial, sebelum kembali bangkit sebagai destinasi wisata alam unggulan di Garut.

Objek Wisata Talaga Bodas, Garut. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 07 Apr 2026, 14:35

Pendidikan Bertumbuh Dimulai dari Guru yang Growth Mindset

Pendidik adalah agen pembelajar sepanjang hidup untuk memberikan stimulus kepada para murid dalam menuntun menumbuhkembangkan potensi secara kodrati.

Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan Indonesia. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Ayo Netizen 07 Apr 2026, 11:04

Kisah Pendatang yang Tak Sengaja Ciptakan ‘Batagor’ Makanan Favorit Kota Bandung

Batagor pertama kali muncul di Bandung pada tahun 1970-an.

Pedagang batagor. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ikon 07 Apr 2026, 10:25

Hikayat Jalan Soekarno Hatta Bandung, Bypass Lurus Panjang Buatan Orde Baru

Dibangun pada 1980-an sebagai jalan elak, Jalan Soekarno Hatta kini berubah menjadi koridor padat yang merekam pertumbuhan Bandung dari pinggiran ke pusat aktivitas.

Suasana Jalan Soekarno Hatta, Bandung. (Foto: Irfan Al Faritsi/Ayomedia)
Ayo Netizen 07 Apr 2026, 08:57

Inilah 5 Hierarki Kebutuhan Mahasiswa dari Garut di UIN Bandung Tahun 2002

Tahun 2002, saya resmi jadi mahasiswa di UIN Bandung. Modalnya? Nekat.

Kampus tempat menimba ilmu keislaman Penulis (Sumber: uinsgd.ac.id)
Ayo Netizen 06 Apr 2026, 18:12

Tantangan Komunikasi Perantau

Pasca mudik Lebaran, kota-kota besar didatangi para perantau baru.

Pemudik di Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 06 Apr 2026, 17:02

Menghadapi "Paradoks Rebana", Antara Ambisi Industri dan Realitas Kompetensi Lokal

Kawasan Metropolitan Rebana yang meliputi Cirebon (Kota), Cirebon (Kabupaten), Indramayu, Majalengka, Kuningan hingga Subang kini tengah bersiap menjadi motor penggerak ekonomi masa depan Jawa Barat.

Kawasan Rebana kini telah didukung oleh konektivitas terbaik salah satunya Pelabuhan Patimban untuk ekspor-impor, yang merupakan magnet bagi investor global. (Sumber: portalkemhub.go.id)