Kalau kamu pernah hidup di Bandung, pasti kenal sosok legendaris ini: tukang parkir minimarket. Sosok berseragam rompi oranye atau kadang hanya pakai topi lusuh, dengan satu senjata pamungkas — peluit.
Hanya dengan benda kecil itu, ia mengatur lalu lintas, memandu parkir, bahkan kadang mengatur takdir kendaraan yang datang dan pergi.
Di kota seadem Bandung, profesi ini seperti candaan Tuhan yang penuh makna. Karena dari luar terlihat sederhana — tinggal tiup peluit, kasih kode tangan, lalu menerima uang parkir — tapi kalau direnungkan lebih dalam, profesi ini adalah bentuk komunikasi sosial yang kompleks.
Sebagai alumni UIN Bandung angkatan 2002 yang kembali ke kota ini di tahun 2025, saya sering berhenti di minimarket hanya untuk membeli kopi botol dan… merenung tentang tukang parkir. Lucu, tapi serius: mereka ini bukan sekadar penjaga motor, mereka adalah filsuf trotoar yang diam-diam mengajarkan teori sosial lebih efektif daripada dosen filsafat komunikasi yang dulu saya pelajari di kampus.
Bandung 2025
Zaman dulu, sekitar tahun 2002–2007, Bandung dikenal karena warung kopi pojok, tukang batagor, dan distro. Sekarang, di 2025, hampir di setiap dua puluh meter ada minimarket — dan di setiap minimarket, ada tukang parkir yang seperti satpam kecil dunia kapitalisme.
Mereka berdiri di bawah panas matahari, berhadapan dengan klakson motor, dan tetap tersenyum sambil berseru: “Mundur…, muhun mundur dikit, atuh, Kang!”
Kadang saya berpikir: kalau Habermas hidup di Bandung, dia pasti menulis ulang teorinya. Karena “ruang publik” versi tukang parkir bukan di kafe diskusi atau ruang seminar, tapi di halaman minimarket — tempat komunikasi antara manusia, mesin, dan uang terjadi dalam harmoni singkat tapi nyata.
Dari luar, kerja tukang parkir memang terlihat “ngeunaheun” — istilah Sunda untuk sesuatu yang santai, nyaman, dan seolah tanpa tekanan. Tinggal tiup peluit, angguk-angguk, kasih senyum, dan dalam sehari bisa ngantongin cuan hingga Rp150 ribu sampai Rp300 ribu.
Tapi kalau kita perhatikan, mereka sebenarnya sedang memainkan ilmu komunikasi tingkat tinggi. Dalam hitungan detik, mereka membaca bahasa tubuh pengendara, memprediksi arah roda motor, dan menyusun strategi agar kendaraan tak saling tabrak. Itu bukan cuma kerja fisik, tapi juga kerja mental — bahkan, saya yakin, beberapa tukang parkir sudah menerapkan teori “tindakan komunikatif” Habermas tanpa pernah tahu siapa Habermas itu.
Mereka berinteraksi bukan lewat kata, tapi lewat gestur dan kepercayaan. Sekali mereka tiup peluit, pengendara patuh meskipun pengendaranya lulusan S3. Itu bukan otoritas formal, melainkan otoritas sosial yang lahir dari kebiasaan dan rasa hormat. Dalam bahasa Habermas, ini disebut “legitimasi komunikatif” — hubungan sosial yang terbentuk karena konsensus, bukan kekuasaan.
Dulu, waktu masih kuliah di UIN Bandung, saya dan teman-teman sering berdiskusi soal “struktur sosial dan kelas ekonomi” sambil menyeruput kopi sachetan. Kami merasa keren membahas teori Marx dan Weber, padahal uang kos sering dipinjam teman yang belum balik.
Baca Juga: Transaksi Non-Tunai dan Ketidaksetaraan Digital
Sekarang, 2025, ketika saya melihat tukang parkir di depan minimarket, saya merasa teori itu hidup di depan mata. Mereka adalah simbol kelas pekerja urban yang bergerak di antara formalitas dan informalitas.
Tidak ada kontrak kerja, tidak ada asuransi, tapi ada rasa memiliki terhadap ruang publik. Di depan minimarket itu, mereka seperti penjaga pintu dunia kapitalisme mikro: mengatur motor masuk dan keluar sambil memastikan cuan mereka tidak bocor.
“Hirup mah kudu luwes, Kang. Lamun teuing mikir, beurat. Anu penting, aya nu dipelak, aya nu didahar.” (Hidup itu harus fleksibel. Kalau terlalu banyak mikir, berat. Yang penting ada yang ditanam, ada yang dimakan.)
Sederhana, tapi dalem. Bahkan Habermas pun mungkin akan mencatat kalimat itu sebagai contoh “rasionalitas komunikatif” yang bersumber dari pengalaman hidup nyata.
Peluit, Bahasa Universal Kota
Kalau kamu perhatikan, setiap tukang parkir punya gaya komunikasi khas. Ada yang pakai peluit tiga kali buat kode “berhenti”, ada yang dua kali untuk “maju pelan”, dan ada yang cuma menatap mata pengendara dengan tatapan penuh makna — lalu motor langsung nurut.
Peluit itu jadi bahasa universal Bandung, menembus batas kelas sosial. Orang kaya pakai mobil listrik pun tetap patuh kalau tukang parkir bilang, “Mundur dikit, Bos.” Di situ saya melihat praktik komunikasi yang jujur dan egaliter — sesuatu yang sering hilang di dunia formal.
Dan yang paling lucu, meski pekerjaannya tampak sederhana, tukang parkir adalah pengamat sosial terbaik. Mereka tahu siapa pelanggan rutin, siapa yang sering bon, siapa yang cuma pura-pura beli es krim tapi parkir satu jam buat main HP di dalam. Mereka tahu denyut ekonomi lebih nyata daripada grafik BPS.
Kadang saya suka iseng tanya, “Mang, kenapa milih jadi tukang parkir?”
Jawabannya beragam. Ada yang bilang karena “ngeunaheun”, ada yang karena “modalna saeutik, hasilna lumayan”, dan ada juga yang jujur: “Pernah kerja kantoran, Kang, tapi capé diatur. Jadi tukang parkir mah atuh, kuring nu ngatur sorangan.”
Kebebasan. Itu kata kuncinya. Mereka bekerja di ruang yang tampak sempit, tapi batinnya luas. Tidak terikat jam kerja, tidak ada atasan, tapi tetap bisa menafkahi keluarga.
Dan entah kenapa, di tengah kemacetan dan kebisingan Bandung, melihat tukang parkir yang tenang sambil tiup peluit itu terasa seperti melihat guru zen versi jalanan.
Sebagai mantan mahasiswa UIN SGD Bandung yang dulu rajin berdebat soal teori komunikasi, saya menemukan paradoks yang lucu: dulu saya menghafal teori Habermas tentang komunikasi ideal, tapi di lapangan, tukang parkir sudah mempraktikkannya tanpa perlu seminar.
Mereka menciptakan ruang dialog spontan antara manusia dan sistem — antara kebutuhan ekonomi dan rasa sosial. Tak ada struktur formal, tapi ada saling pengertian. Di peluit mereka, ada pesan sederhana: “Aku ada, kamu lihat, mari kita saling bantu.”
Mungkin itu sebabnya saya sering merasa hangat setiap kali mendengar bunyi “tuit-tuit” di depan minimarket. Seolah Bandung masih punya denyut kemanusiaan yang tidak bisa digantikan algoritma.
Baca Juga: Demi Waktu, Filosofi Jam Kerja Warga Kota yang Bermutu
Kini, setiap kali saya mampir ke minimarket di Bandung, saya tidak lagi melihat tukang parkir hanya sebagai penjaga motor. Mereka adalah penjaga irama sosial kota — pengingat bahwa kerja keras tidak harus glamor, dan komunikasi sejati sering lahir dari kesederhanaan.
Dunia digital boleh berkembang, aplikasi parkir boleh canggih, tapi selama masih ada peluit yang ditiup dengan senyum tulus, Bandung masih punya roh kemanusiaan yang hangat.
“Hirup mah ulah poho ti batur. Sanajan ngan saukur nyebrang parkiran, kudu aya basa-basi.” (Hidup jangan lupa sama orang lain. Meski cuma nyebrang parkiran, harus ada sapa)
Dan saya pun melaju pelan, menatap spion, melihat Mang Parkir mengatur motor lain dengan tiupan peluit yang mantap. Tiba-tiba saya sadar: di kota yang makin sibuk ini, suara peluitnya bukan sekadar tanda parkir — tapi tanda bahwa kemanusiaan masih hidup, ngeunaheun tapi bermakna.
Tapi kini bukan Tukang Parkir, dong ah: Juru Parkir sebutannya. Kir ah! (*)