Ayo Netizen

Kisah Kaum Urban: Hikayat Urang Pasar (Bagian 2) ‘Bank Himpunan Saudara’

Oleh: Malia Nur Alifa Jumat 24 Apr 2026, 17:00 WIB
Pasar baru bandung pasca kemerdekaan. (Sumber: KITLV)

Kisah dalam tulisan ini berdasarkan data-data tertulis dalam buku 100 tahun Bank Saudara yang diterbitkan oleh Yayasan Yusuf Panigoro, 2006, buku Semerbak Bunga di Bandung Raya karya Haryoto Kunto, dan data-data lisan keluarga besar Pasar Baru Bandung khususnya keluarga Apandi.

Cerita perjalanan itu berawal dari sebuah pasar di sudut kota Bandung pada 18 April 1906. Di sanalah para saudagar batik membuat langkah untuk membentuk perkumpulan yang bertujuan untuk memudahkan mereka melakukan kegiatan berniaga. Tak dinyana, buah hasil pikiran mereka tersebut dapat menembus waktu hingga 100 tahun lebih.

Dalam sejarah perbankan Indonesia, hanya ada satu-dua bank yang dapat menembus umur satu abad. Bank Saudara melalui lorong waktu dengan berbagai kondisi. Susah, senang, dan hampir pula ditutup, namun semua itu bisa dilalui dengan semangat kesetiaan dari para pemilik, pengurus, dan nasabah. Kuncinya adalah kebersamaan, kesetiaan, kerja keras dan prinsip kehati-hatian. Empat prinsip itu yang mampu memberangus semua tantangan dan halangan, termasuk badai besar 1998.

Berangkat dari rasa kebersamaan dalam berniaga, sepuluh orang saudagar batik asal Pasar Baru Bandung mendirikan perkumpulan kecil yang bernama “Himpunan Saudara”, sebuah kegiatan yang awalnya hanya untuk saling membantu dalam membeli kain batik dan kulit, perkumpulan ini pun akhirnya dapat berkembang pesat.

Mereka pergi ke arah timur Jawa dalam sebuah masa, mereka meninggalkan anak dan istri mereka. Rombongan ini berangkat dengan membawa peralatan lengkap, makanan dan alas tidur, dan tentu saja segepok uang. Itu sebabnya pula dalam rombongan itu terdapat begundal bersenjata lengkap membawa tombak, kelewang dan nyali yang tak pernah putus.

Untuk keluarga leluhur saya, para begundal yang dibawa ikut serta adalah mereka yang dahulunya tinggal di kawasan Banceuy, yang dahulu terkenal dengan banyaknya pedati-pedati yang dijaga (pedati perkebunan kopi yang telah saya jelaskan dalam kisah kampung Apandi).

Buyut kakek saya adalah seorang wanita pejuang yang pandai bela diri. Nama aslinya adalah Banowati, seorang wanita kalang yang selain pandai urusan dapur dan pupur juga lihai memainkan tombak. Pada saat perjalanan keluarga Pasar Baru menuju timur Jawa, Banowati atau Khodijah ini ikut serta, ia telah banyak melawan para begal yang sering ditemui di kawasan perbatasan.

Perjalanan mereka para saudagar batik memang mengundang bahaya. Tidak hanya binatang buas yang muncul sesekali, tapi juga kawanan begal yang kerap mengancam. Tapi kuda-kuda mereka tidak pernah kelelahan, bagaikan khafilah. Selama berminggu-minggu mereka bergerak terus menembus hutan, gunung dan wilayah pedesaan.

Seperti itulah ritual yang selalu dilakukan para pedagang dari kawasan Priangan, Jawa Barat. Dalam kurun waktu tertentu, mereka mengadakan perjalanan mengelilingi kawasan pembuat batik, seperti Pekalongan, Solo, Yogyakarta, Banyumas dan Lasem, tujuan mereka adalah mengambil ratusan helai kain batik untuk dijual di Bandung dan tempat-tempat lainnya di Jawa Barat.

Kisah ini ditulis pula oleh sang kuncen Bandung, bapak Haryoto Kunto, dalam bukunya Semerbak Bunga di Bandung Raya. Disebutkan bahwa kegigihan para saudagar ini dalam menempuh perjalanan yang kadang harus berhadapan dengan begal. Kisah ini menurut pak Haryoto Kunto banyak diangkat menjadi kisah-kisah dalam buku sekolah dasar di Bandung pasca kemerdekaan.

Batik dahulu adalah komoditas yang menawan. Bagi kaum priyayi, batik bukan hanya busana tapi merupakan simbol status sosial selain merupakan busana yang tren saat itu. Batik berkualitas baik, seperti batik tiga negeri, harganya bisa mencapai 10 Gulden, sementara harga beras saja hanya 75 sen per liter, dan gaji seorang guru pada saat itu sekitar 75 Gulden, jadi dapat dibayangkan begitu mahalnya harga selembar kain batik pada saat itu.

Awalnya, para saudagar batik ini hanya menerima barang komisi, tapi lama kelamaan menjadi penjual grosir dengan melayani berbagai pelanggan hingga pelanggan Eropa. Para pelanggan tiba dari berbagai kawasan di Jawa Barat, namun yang paling terkenal adalah para pelanggan dari seantero Bandung, Lembang, Subang, Cianjur, Soreang, Sumedang dan Cicalengka.

Bandung segera dikenal sebagai pusat grosir batik pada saat itu di Jawa Barat. Dalam sehari pendapatan toko di Pasar Baru Bandung tidak kurang dalam 1000 Gulden. Tak heran mengapa para saudagar tersebut hingga rela mencari kain batik hingga ke tempat yang jauh ratusan kilometer dari tempat tinggal mereka.

Kota Bandung saat itu pun sedang tumbuh pesat. Berangkat dari pemindahan keresidenan Priangan dari Cianjur ke Bandung tahun 1862, orang Eropa yang menyambangi Bandung pun terus bertambah. Apalagi pemerintah kolonial kian intensif membuka daerah perkebunan baru setelah dikeluarkannya Undang-Undang Agraria pada 1870 yang memperkenankan kepemilikan tanah oleh pihak swasta.

Lalu dibukanya jalur kereta api Cianjur–Bandung pada 1884, disusul Batavia–Surabaya yang melewati Bogor, Bandung, Solo dan Yogyakarta pada 1894, makin memicu kegiatan perekonomian dan meningkatnya mobilitas penduduk. Masyarakat pribumi dari seputar keresidenan Priangan, Cirebon, Batavia, dan Palembang tergoda mencoba peruntungan di Bandung ini.

Dalam kurun waktu 10 tahun saja, jumlah penduduk yang menghuni Bandung langsung naik dua kali lipat. Sebagai gambaran, cacah jiwa penduduk Bandung pada 1896 terdiri dari 1134 orang Eropa, 2001 Tionghoa, dan Bumiputra 41393 jiwa. Seiring dengan perkembangan kota, volume investasi serta berbagai kegiatan perekonomian tumbuh di Bandung.

Lalu bagaimanakah Bank Himpunan Saudara terbentuk? Kita akan simak di tulisan selanjutnya ya! (*)

Reporter Malia Nur Alifa
Editor Aris Abdulsalam