Ada banyak cara memulai hari. Sebagian orang memulainya dengan secangkir kopi. Sebagian lagi dengan membaca berita atau memeriksa telepon genggam sebelum berangkat bekerja. Namun pada pagi itu, sebagian masyarakat Indonesia memulai hari dengan kabar yang kurang menyenangkan: harga BBM non-subsidi telah naik.
Mereka tidak menyaksikan hitung mundur kebijakan tersebut. Tidak ada ruang yang cukup untuk bersiap. Ketika mata terbuka, harga baru telah berlaku dan rakyat kembali diminta menyesuaikan diri.
Barangkali menyesuaikan diri memang telah menjadi semacam keahlian nasional. Rakyat menyesuaikan diri ketika harga kebutuhan pokok meningkat. Menyesuaikan diri ketika biaya pendidikan bertambah mahal. Menyesuaikan diri ketika kesempatan kerja semakin sempit. Dan kini, kembali menyesuaikan diri ketika harga energi mengalami kenaikan.
Dalam sebuah tulisan yang berjudul Harga BBM Non-Subsidi Akhirnya Naik, Alarm Bagi Rakyat, Pemerhati Kebijakan Publik sekaligus Sekjen Perkumpulan Aktivis 98 (PA 98), Lukman Nurhakim, menyebut kenaikan harga BBM sebagai sebuah alarm. Sebuah istilah yang menarik, sebab alarm tidak pernah berbunyi tanpa alasan. Ia hadir untuk mengingatkan bahwa ada sesuatu yang perlu mendapat perhatian sebelum keadaan menjadi lebih buruk.
Karena itu, kenaikan BBM kali ini tidak semestinya dipandang hanya sebagai persoalan bertambahnya biaya saat mengisi tangki kendaraan. Dampaknya menjalar jauh melampaui SPBU. Ia merembes ke ongkos transportasi, biaya distribusi barang, harga kebutuhan pokok, hingga pengeluaran rumah tangga yang harus dihitung ulang.

Seperti riak yang muncul ketika batu dilempar ke tengah kolam, kenaikan harga energi akan bergerak ke berbagai arah. Pelaku usaha menghadapi kenaikan biaya operasional. Pedagang kecil harus mempertimbangkan penyesuaian harga. Pekerja dipaksa mengatur kembali pengeluaran bulanan. Sementara keluarga-keluarga di berbagai daerah kembali berhadapan dengan pertanyaan yang sama: kebutuhan apa yang harus dikurangi agar dapur tetap mengepul hingga akhir bulan?
Di sinilah alarm yang dimaksud Lukman menemukan relevansinya. Yang sedang diperingatkan bukan hanya soal harga BBM, melainkan tentang daya tahan ekonomi masyarakat yang semakin teruji. Kenaikan harga energi datang ketika daya beli belum sepenuhnya pulih, biaya hidup terus meningkat, dan ketidakpastian ekonomi global masih membayangi.
Dalam situasi seperti itu, wajar jika muncul pertanyaan mengenai prioritas kebijakan negara. Setiap rupiah yang dibelanjakan pemerintah pada dasarnya mencerminkan pilihan tentang apa yang dianggap paling penting. Ketika masyarakat menghadapi tekanan biaya hidup, perdebatan mengenai program-program baru, perjalanan dinas luar negeri, maupun tambahan anggaran di berbagai sektor menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari.
Pertanyaan tersebut bukanlah bentuk penolakan terhadap pembangunan. Sebaliknya, ia merupakan bagian dari upaya memastikan bahwa pembangunan benar-benar menjawab kebutuhan yang paling mendesak. Sebab keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari banyaknya program yang diluncurkan, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat merasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Yang juga patut menjadi perhatian adalah cara kebijakan itu hadir di hadapan publik. Dalam negara demokratis, substansi kebijakan memang penting. Namun cara kebijakan dikomunikasikan tidak kalah pentingnya. Keterbukaan informasi dan komunikasi yang memadai bukan sekadar formalitas administratif, melainkan bagian dari penghormatan terhadap warga negara yang akan menanggung dampaknya.

Pada akhirnya, kenaikan harga BBM adalah lebih dari sekadar perubahan angka di papan informasi SPBU. Ia adalah cermin yang memperlihatkan kondisi ekonomi masyarakat, sekaligus menguji kepekaan negara terhadap beban yang sedang dipikul rakyatnya.
Lukman Nurhakim menyebut kenaikan ini sebagai alarm. Pertanyaannya kini sederhana: apakah alarm itu hanya akan didengar sebagai bunyi yang berlalu sesaat, ataukah menjadi pengingat bagi semua pihak untuk meninjau kembali arah kebijakan, skala prioritas, dan keberpihakan pembangunan?
Sebab sejarah menunjukkan bahwa banyak persoalan besar tidak datang secara tiba-tiba. Ia selalu diawali oleh tanda-tanda kecil yang sering kali dianggap biasa. Dan kadang-kadang, ketika semua orang akhirnya terbangun, persoalannya sudah jauh lebih besar daripada yang dibayangkan. (*)