Ketika aku tamat SMA dan berhasil melanjutlan pendidikan ke sebuah perguruan tinggi negeri (kedinasan) di Kota Bandung, maka 100% buku-buku kuliahku aku beli semua di Pasar Buku Palasari. Setiap hari setelah pulang kuliah, aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru dengan berkeliling Kota Bandung dari ujung ke ujung, termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung, terutama di Cikapundung.
Pokoknya pengalaman itu adalah yang saat-saat yang paling membahagiakan, bagaikan musafir di padang pasir yang menemukan oasis segar di bawah naungan pepohonan kurma. Sejujurnya aku memang seorang kutu buku dan ‘penggila’ buku-buku sejak masih SD. Bahkan semenjak aku kuliah di Bandung, aku banyak menghabiskan uang saku bulanan untuk belanja buku, bukan belanja makanan atau pakaian.
Aku masih ingat sekali bebarapa kali masuk ke toko buku yang sedang ada ‘cuci gudang’, kadang-kadang aku bisa mendapatkan 3 buah buku dengan harga Rp 10.000,00 saja, bahkan harganya bisa lebih rendah lagi. Aku tak peduli, apakah itu buku lama dan usang atau buku baru, pokoknya selama dan sepanjang belum aku baca, maka aku anggap semua itu sebagai buku baru.
Sebagai contoh saja aku pernah membali buku Pengantar Pengetahuan Alat Musik karya Pono Banoe (terakhir Prof. Dr. Pono Banoe, MA., D.Mus.Ed.) di Toko Buk Karya Nusantara (kalau tidak salah, mohon maaf aku lupa namanya) dan buku Kapita Selekta Kedokteran di Pasar Buku Palasari.

Sebagai nostalgia kenangan lama akan penerbit-penerbit dan toko-toko buku tertua di Bandung---baik yang masih beroperasi maupun yang sudah tutup lengkap dengan kondisi saat ini:
Pasar Buku Palasari (sejak 1958--1980-an). Pusat buku akademik dan bekas yang masih sangat hidup hingga kini.
Toko Buku Al-Ma'arif (Alma Arif). Penerbit dan Toko Buku Al-Ma'arif di Bandung merupakan salah satu penerbit legendaris yang berdiri sejak tahun 1948.
Toko Buku Djawa (Jalan Braga). Beroperasi sejak kolonial, tutup sekitar 2015 dan sejak 2017 bangunannya beralih fungsi menjadi Kopi Toko Djawa, sebuah kedai kopi sambil tetap mempertahankan nuansa lawas.
Toko Buku Ichtiar Baru van Hoeve (d.h. N.V. Uitgeverij W. van Hoeve. Alamat di Bandung masa kolonial diduga berlokasi di pusat kota, namun detail alamat spesifik tidak tercantum dalam sumber arsip. Yang pasti, penerbit pertama beroperasi sejak 1930-an di Bandung. Ditutup tahun 1957, muncul kembali 1974 di Jakarta sebagai PT Ichtiar Baru van Hoeve.
Toko Buku Maranatha. Sejak 1962, dikenal sebagai penerbit dan toko komik lokal, bertahan walau pasar komik lokal menurun. Saat ini masih buka dan menjual komik Indonesia klasik.
Toko Buku Merpati. Berdiri sejak 1950-an dan masih bertahan hingga kini, diurus oleh 'Bu Asih' dengan sistem konsinyasi dan literasi sebagai prioritas
Toko Buku N.V. Masa Baru/Ganaco (d.h. A.C. Nix dan Co.). Didirikan awal 1900-an, terkenal dengan buku-buku Hindia-Belanda. Sudah tidak beroperasi sebagai toko buku dan dikosongkan sejak lama.
Toko Buku Nusa Cendana. Salah satu dari toko buku di Braga yang bertahan paling lama. Saat ini telah berubah menjadi Indische Cafe, kafe bergaya kolonial dengan interior toko lama.
Toko Buku Pustaka. Legendaris sejak 1980an, dikenal lewat buku budaya dan agama. Terhenti sekitar 2018 setelah asetnya dijual.
Toko Buku Sumur Bandung (d.h. N.V. Mij. Vorkink), berdiri sejak tahun 1896 sebagai penerbit, percetakan dan toko buku. Setelah kemerdekaan Indonesia, berubah nama menjadi Sumur Bandung. Kini bangunannya masih berdiri di Jalan Braga, tapi sudah bukan toko buku lagi. (*)