Membuka Monitor Oktober 1983: Saat Si Unyil, Gombloh, dan Bintang Idola Menemani Hari-Hari Kita

15 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Majalah Monitor edisi Oktober 1983, majalah hiburan dan keluarga dengan sampul mojang Bandung, Reita Soebita. (Foto: Kin Sanubary)
Majalah Monitor edisi Oktober 1983, majalah hiburan dan keluarga dengan sampul mojang Bandung, Reita Soebita. (Foto: Kin Sanubary)

Dari wajah Reita Soebita di sampul majalah, lagu-lagu Gombloh yang menyuarakan kehidupan, hingga Si Unyil dan Pak Tino Sidin di layar TVRI. Majalah Monitor edisi Oktober 1983 mengajak kita pulang sejenak ke masa ketika hiburan tak datang setiap saat dalam genggaman, tetapi justru dinanti dengan penuh antusias. Sebuah masa ketika majalah bisa dibaca berulang kali, lagu direkam dari radio, dan acara televisi menjadi alasan seluruh keluarga berkumpul di ruang keluarga.

Ada masa ketika sebuah majalah bukan sekadar bacaan. Ia adalah teman yang kehadirannya dinanti, dibaca halaman demi halaman, dibolak-balik berulang kali, lalu disimpan dengan hati-hati di rak buku. Tak jarang, majalah itu dipinjamkan kepada teman dengan satu pesan sederhana yakni jangan sampai rusak, apalagi hilang.

Bagi sebagian orang, majalah bahkan menjadi semacam jendela untuk mengintip dunia yang lebih luas. Dari sana, kita mengenal penyanyi idola, mengikuti kabar bintang film, mencari tahu perkembangan musik, hingga mencatat jadwal acara televisi yang sayang jika terlewatkan.

Itulah perasaan yang muncul ketika membuka kembali Majalah Monitor edisi Oktober 1983. Lembaran-lembaran tuanya seolah mengajak kita melakukan perjalanan melintasi waktu, kembali ke masa ketika dunia hiburan Indonesia memiliki irama yang berbeda. Belum ada internet, media sosial, layanan streaming, atau telepon pintar. Informasi datang melalui majalah, radio, kaset, surat kabar, dan televisi yang acaranya sudah tersusun dalam jadwal.

Namun, justru di tengah keterbatasan itulah, setiap informasi terasa istimewa. Sebuah foto bisa membuat kita terpaku cukup lama. Sebuah lagu dapat menjadi bahan obrolan berhari-hari. Sementara acara televisi yang tayang pada Minggu pagi bisa menjadi alasan anak-anak bergegas menyelesaikan sarapan.

Membaca kembali Monitor edisi Oktober 1983 bukan sekadar menelusuri halaman majalah lama. Ini adalah upaya menyapa kembali sebuah zaman, ketika budaya populer tumbuh bersama kehidupan sehari-hari dan meninggalkan kenangan yang tak lekang oleh waktu.

Reita Soebita, Wajah Anggun di Sampul Monitor

Sampul menjadi pintu pertama yang menyambut pembaca. Pada edisi Oktober 1983 ini, wajah Reita Soebita menghiasi halaman depan. Perempuan berusia 20 tahun itu tampil dengan paras lembut dan pembawaan anggun yang menjadi daya tarik tersendiri.

Reita tercatat sebagai mahasiswi Akademi Bahasa Asing (ABA) Yapari, Bandung. Ia juga menyandang predikat Juara I Concours d'Élégance, sebuah pencapaian yang turut memperkenalkan namanya kepada pembaca majalah.

Namun, Reita bukan hanya mengandalkan penampilan. Ia memiliki keterampilan dalam tata rias dan penataan rambut. Minat tersebut rupanya tak lepas dari pengaruh sang ibu, Ny. Soebita, yang pada era 1980-an dikenal sebagai salah seorang penata rias ternama.

Pepatah lama mengatakan, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Kedekatan dengan dunia kecantikan di lingkungan keluarga agaknya turut menumbuhkan minat Reita untuk menekuni bidang serupa.

Kini, memandang kembali sampul itu terasa seperti menemukan potret kecil dari dunia remaja dan gaya hidup awal 1980-an. Cara berbusana, tata rambut, riasan wajah, hingga gaya fotografi menghadirkan suasana yang berbeda dari sampul majalah masa kini.

Sampul tersebut bukan sekadar menampilkan seorang perempuan muda. Ia juga merekam selera visual dan gambaran kecantikan yang berkembang pada zamannya.

Monitor, Sebelum Dikenal sebagai Tabloid

Bagi pembaca yang mengenal Monitor pada masa kejayaannya sebagai tabloid, edisi Oktober 1983 menyajikan sisi yang menarik. Jauh sebelum namanya melekat kuat pada format tabloid di bawah pengelolaan Arswendo Atmowiloto, Monitor hadir dengan wajah majalah yang menyuguhkan beragam informasi hiburan dan budaya populer.

Halaman-halamannya memperlihatkan bagaimana media cetak menjadi salah satu sumber utama bagi masyarakat untuk mengikuti perkembangan dunia hiburan, baik di dalam maupun luar negeri.

Salah satu nama yang muncul dalam edisi tersebut adalah Titi Qadarsih. Pada masa itu, ia telah dikenal sebagai peragawati papan atas Indonesia. Akan tetapi, menyebut Titi hanya sebagai peragawati tentu terlalu menyederhanakan perjalanan seninya.

Ia juga dikenal sebagai penari, penyanyi, koreografer, dramawati, hingga pengisi suara film. Dunia seni seperti menyediakan panggung yang luas baginya untuk terus bereksplorasi.

Dalam perjalanan bermusiknya, Titi pernah membentuk kelompok vokal Salanti Sisters bersama adik-adiknya. Pada 1983, ia kembali menarik perhatian melalui album Puber ke-2.

Sejumlah lagu, termasuk Laki-laki dan Puber ke-2, hadir dengan warna yang jenaka. Karakter vokal falsetto Titi, irama dixie, serta sentuhan kabaret memberikan nuansa yang berbeda dari sajian musik populer pada umumnya.

Ada keberanian untuk tampil tidak biasa, bermain-main dengan karakter suara, dan menghadirkan humor melalui musik. Titi Qadarsih memperlihatkan bahwa dunia hiburan tidak selalu harus tampil serius dan seragam. Ada ruang bagi spontanitas, eksperimentasi, dan keunikan personal.

Membaca kisahnya sekarang seperti diingatkan kembali bahwa industri hiburan Indonesia sejak dahulu telah memiliki seniman dengan karakter kuat dan lintas bidang.

Di antara halaman-halaman Monitor, perhatian terhadap pemusik kaki lima, penyanyi jalanan, dan pengamen menjadi catatan yang menarik. Mereka tumbuh dari ruang-ruang yang dekat dengan kehidupan masyarakat, membawa lagu-lagu yang tak selalu lahir dari gemerlap panggung atau industri rekaman besar.

Nama-nama seperti Gombloh, Leo Kristi, dan Kelompok Kampungan menjadi bagian dari geliat musik yang mencoba menyampaikan persoalan sosial, kemanusiaan, serta kehidupan sehari-hari melalui lagu.

Cara mereka bermusik beragam. Ada yang kritis, jenaka, nakal, ironis, nyeleneh, bahkan sengaja tampil dengan gaya yang tak lazim. Musik menjadi ruang untuk berbicara, menyindir, menggugat, sekaligus menghibur.

Gombloh, misalnya, dikenal melalui karakter suara yang lantang dan lagu-lagu yang mengandung semangat kemanusiaan serta nasionalisme. Karyanya memperlihatkan bahwa musik populer dapat menjadi medium untuk menyampaikan kegelisahan sekaligus kecintaan terhadap tanah air.

Sementara itu, Leo Kristi hadir dengan karakter bermusik yang khas. Kesederhanaan, kecintaan terhadap alam, serta kegelisahan tentang kehidupan dan kebudayaan Nusantara menjadi bagian dari dunia artistiknya.

Dari lingkungan musik yang tumbuh di luar arus utama, publik kemudian mengenal pula nama-nama seperti Iwan Fals, Doel Sumbang, dan Tom Slepe, yang masing-masing menempuh perjalanan serta memiliki karakter bermusik sendiri.

Membaca kembali catatan tentang para musisi ini terasa relevan hingga sekarang. Jauh sebelum istilah indie, underground, dan musik alternatif menjadi kosakata yang akrab, telah ada musisi yang berusaha mencari jalan sendiri, membangun pendengar, dan menyampaikan pandangan melalui karya.

Mereka tidak selalu membutuhkan panggung megah untuk bersuara. Jalanan, ruang pertunjukan sederhana, komunitas, dan kaset rekaman bisa menjadi titik awal perjalanan.

Barangkali, di situlah salah satu daya tarik musik era tersebut,  ada semangat untuk menyuarakan sesuatu, bukan semata-mata mengejar popularitas.

Film-film pilihan yang tayang di TVRI Jakarta sepanjang Oktober 1983, menghadirkan nostalgia hiburan televisi era 1980-an. (Foto: Kin Sanubary)
Film-film pilihan yang tayang di TVRI Jakarta sepanjang Oktober 1983, menghadirkan nostalgia hiburan televisi era 1980-an. (Foto: Kin Sanubary)

Kool & The Gang, Ketika Musik Internasional Singgah di Jakarta

Halaman musik Monitor juga membawa ingatan ke Jakarta pada September 1983, ketika Kool & The Gang, kelompok musik asal New York, Amerika Serikat, hadir dan tampil di Kuningan Theatre.

Bagi penggemar musik pada masa itu, kedatangan kelompok yang dikenal melalui lagu Celebration tentu menjadi kabar istimewa. Nama Kool & The Gang telah lekat dengan musik funk, soul, dan R&B yang memiliki irama kuat serta mudah mengundang orang untuk bergerak mengikuti ketukan.

Nama-nama seperti James “JT” Taylor, Robert “Kool” Bell, George Brown, Ronald Bell, Dennis Thomas, Curtis Williams, Charles Smith, Robert Mickens, Clifford Adams, dan Michael Ray menjadi bagian dari perjalanan kelompok tersebut.

Bayangkan suasana yang menyertai kedatangan musisi internasional pada masa itu. Belum ada YouTube untuk menonton penampilan mereka kapan saja. Tidak ada layanan streaming untuk mendengarkan seluruh album dalam hitungan detik. Informasi mengenai konser pun tidak menyebar secepat unggahan media sosial sekarang.

Penggemar mengandalkan majalah, radio, kaset, dan televisi untuk mengikuti kabar sang idola. Mereka mungkin menyimpan kliping artikel, mengoleksi sampul album, atau merekam lagu dari radio agar bisa diputar kembali.

Karena itu, konser musisi luar negeri bukan sekadar hiburan. Kehadirannya merupakan peristiwa yang dinanti, dibicarakan, dan dikenang.

Kini, ketika musik dari berbagai penjuru dunia dapat dinikmati melalui telepon genggam, membaca catatan tentang pertunjukan Kool & The Gang di Jakarta menghadirkan perspektif berbeda. Kita diingatkan bahwa pengalaman menikmati musik dahulu memiliki proses tersendiri, mencari informasi, menunggu kesempatan, membeli tiket, lalu menyaksikan langsung pertunjukan yang mungkin hanya sekali hadir di kota kita.

Olivia Newton-John, Pesona Bintang dari Grease

Dari panggung musik, Monitor membawa pembacanya lebih dekat kepada Olivia Newton-John, penyanyi dan bintang film kelahiran Inggris yang tumbuh di Australia dan namanya sangat populer pada era tersebut.

Bagi banyak anak muda 1980-an, Olivia lekat dengan film Grease, ketika ia beradu peran dengan John Travolta. Film musikal itu bukan hanya menghadirkan cerita cinta anak muda, tetapi juga meninggalkan jejak kuat melalui lagu, busana, gaya rambut, dan suasana remajanya.

Popularitas Olivia membuat sosoknya menarik untuk diikuti, bukan hanya melalui film dan lagu, melainkan juga melalui cerita tentang kehidupan sehari-hari.

Monitor menyajikan sejumlah informasi personal mengenai dirinya, mulai dari warna kesukaan, hobi, makanan favorit, kendaraan, hingga hewan peliharaan.

Putih disebut sebagai warna kesukaannya. Ia gemar menari, bermain sepatu roda, berjalan-jalan, berlayar, bersepeda, dan berkuda. Ia juga menyukai buah-buahan serta memelihara kuda dan anjing.

Bagi pembaca masa itu, informasi semacam ini tentu memiliki daya tarik tersendiri. Ada sensasi mengenal idola sedikit lebih dekat, seolah-olah sang bintang bukan lagi sosok jauh di layar film atau foto majalah, melainkan seseorang dengan kegemaran dan kebiasaan sehari-hari.

Begitulah cara majalah hiburan membangun kedekatan dengan pembacanya. Berita mengenai karya berjalan beriringan dengan cerita personal yang membuat sosok selebritas terasa lebih manusiawi.

Sekarang, kehidupan para bintang dapat diikuti hampir setiap saat melalui media sosial. Pada 1983, informasi seperti itu harus dicari melalui halaman majalah atau ditunggu kemunculannya di televisi.

Tak heran jika sebuah artikel tentang bintang idola bisa dibaca berulang kali. Setiap detail terasa berharga, terutama bagi penggemar yang ingin mengetahui lebih banyak tentang dunia sang pujaan hati.

Robert Plant dan Bayang-Bayang Led Zeppelin

Bagi penggemar musik rock, nama Led Zeppelin tentu memiliki tempat tersendiri. Kelompok legendaris asal Inggris itu meninggalkan jejak besar dalam sejarah musik rock dunia melalui karakter permainan musik yang kuat dan suara khas Robert Plant.

Setelah drummer John Bonham meninggal pada 1980, Led Zeppelin memutuskan untuk mengakhiri perjalanan kelompoknya. Keputusan tersebut menandai berakhirnya sebuah babak penting dalam sejarah musik rock.

Namun, bubarnya sebuah kelompok tidak serta-merta mengakhiri hubungan para penggemarnya dengan musik yang pernah mereka cintai.

Lagu-lagu Led Zeppelin tetap beredar, diputar melalui kaset, dan menemani keseharian para penggemar. Whole Lotta Love, dengan energi dan karakter musiknya yang khas, menjadi salah satu karya yang terus dikenang lintas generasi.

Ketika Robert Plant melanjutkan perjalanan sebagai penyanyi solo melalui album Pictures at Eleven pada 1982, perhatian penggemar kembali tertuju kepadanya.

Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan seorang musisi setelah kelompoknya bubar. Ia harus menemukan kembali arah, membangun identitas baru, dan menghadapi ekspektasi pendengar yang telanjur melekat pada nama besar masa lalunya.

Robert Plant membawa pengalaman bersama Led Zeppelin, tetapi pada saat yang sama berusaha membuka lembaran baru.

Membaca kembali kisahnya di Monitor seolah mengingatkan kita pada satu hal: musik memiliki usia yang lebih panjang daripada kelompok atau masa ketika ia diciptakan. Personel dapat berpisah, panggung dapat ditinggalkan, tetapi lagu-lagu yang pernah menjadi bagian dari kehidupan seseorang sering kali tetap tinggal.

Cukup mendengar beberapa nada pembuka, ingatan bisa langsung berlari ke masa lalu. Ke kamar dengan poster musisi di dinding, ke kaset yang diputar berulang kali, atau ke masa ketika mendengarkan satu album sampai habis merupakan pengalaman yang sangat istimewa.

Di antara berbagai artikel tentang musik dan selebritas, ada satu bagian yang bagi pembaca masa kini terasa seperti harta karun yaitu jadwal acara TVRI.

Bukan hanya karena daftar acaranya mengandung nama-nama yang akrab bagi generasi terdahulu, melainkan juga karena jadwal itu memperlihatkan bagaimana televisi menjadi bagian dari ritme kehidupan keluarga Indonesia.

Pada 1983, pilihan saluran televisi masih sangat terbatas. TVRI menjadi sumber utama tayangan televisi nasional, dengan program yang hadir menurut jadwal tertentu. Tidak ada kebiasaan berpindah-pindah puluhan kanal, memilih tayangan dari katalog, atau menonton serial hingga larut malam sesuka hati.

Apa yang disiarkan, itulah yang dinanti.

Dalam jadwal TVRI Minggu, 16 Oktober 1983, yang dimuat Monitor, tersusun rangkaian acara yang membawa kita kembali ke suasana akhir pekan lebih dari empat dekade silam.

Jadwal siaran TVRI Jakarta selama dua pekan yang dimuat Majalah Monitor. (Foto: Kin Sanubary)
Jadwal siaran TVRI Jakarta selama dua pekan yang dimuat Majalah Monitor. (Foto: Kin Sanubary)

Jadwal TVRI, Minggu, 16 Oktober 1983

(Pagi hingga siang)

- 08.00 — Selamat Pagi Indonesia

- 08.20 — Film Boneka Si Unyil

- 08.40 — Di Antara Kita

- 09.00 — Dari Gelanggang ke Gelanggang

- 11.00 — Sari Berita Sepekan

- 11.15 — Ria Jenaka

- 11.30 — Album Minggu Ini

- 12.05 — Acara untuk Keluarga

- 12.35 — Film Cerita Minggu Ini: The Nephews

(Sore hingga malam)

- 16.30 — Gemar Menggambar bersama Pak Tino Sidin

- 17.00 — Berita Nusantara

- 17.15 — Daerah Membangun

- 17.30 — Aneka Ria Anak-anak

- 18.30 — Programa II (English)

- 19.00 — Siaran Berita

- 19.35 — Laporan Ilmu Pengetahuan

- 20.10 — Psikologi untuk Anda

- 20.35 — Mimbar Agama Kristen Protestan

- 21.00 — Dunia Dalam Berita

- 21.30 — Aneka Ria TVRI, Orkes Chandra Kirana pimpinan Diah Iskandar

- 22.25 — Berita Terakhir

- 22.30 — Film Seri: Tinker Tailor Soldier Spy

Membaca daftar tersebut, rasanya mudah membayangkan suasana sebuah rumah pada Minggu, 16 Oktober 1983.

Pagi hari, anak-anak mungkin sudah menunggu Si Unyil. Ada yang duduk di lantai, ada yang menonton sambil sarapan, sementara orang tua sesekali mengingatkan agar makanan tidak berantakan di depan televisi.

Bagi anak-anak yang gemar menggambar, kehadiran Pak Tino Sidin pada sore hari menjadi momen yang ditunggu. Dengan gaya mengajar yang khas dan ungkapan “Bagus!”, ia mengajak anak-anak berani menggambar tanpa takut salah.

Sementara itu, acara musik, berita, dan program keluarga memberikan pilihan tontonan bagi anggota keluarga lainnya.

Malam hari, suasana berubah lebih tenang. Ada yang menunggu Dunia Dalam Berita, ada yang tertarik dengan acara musik, dan ada pula yang bertahan hingga film seri ditayangkan.

Televisi pada masa itu bukan sekadar benda elektronik di ruang keluarga. Ia menjadi titik berkumpul, tempat anggota keluarga duduk bersama dan menikmati tayangan yang sama.

Kadang-kadang, jadwal acara bahkan menjadi semacam kesepakatan tidak tertulis. Anak-anak mendapat giliran menonton acara kesukaan mereka, sedangkan orang tua menunggu program berita atau tayangan malam.

Tak ada tombol jeda jika seseorang terlambat datang. Tidak ada fitur memutar ulang apabila adegan terlewat. Jika sebuah acara sudah selesai, kesempatan menontonnya kembali belum tentu segera datang.

Itulah yang membuat pengalaman menonton televisi pada masa tersebut terasa berbeda. Kita belajar menunggu, mengikuti jadwal, dan menikmati apa yang hadir di depan mata.

Kini, jadwal TVRI itu bukan sekadar daftar jam tayang. Ia merupakan rekaman kecil tentang bagaimana sebuah keluarga menghabiskan waktu bersama, ketika hiburan belum terpecah ke dalam begitu banyak layar dan pilihan.

Ada sesuatu yang istimewa ketika nama-nama dalam jadwal televisi lama kembali terbaca.

Si Unyil, misalnya, bukan hanya tokoh boneka yang muncul pada Minggu pagi. Bagi banyak orang, ia merupakan bagian dari masa kecil, lengkap dengan suasana rumah, suara televisi, dan anggota keluarga yang berkumpul di ruang tengah.

Begitu pula Pak Tino Sidin. Acara menggambarnya bukan semata-mata program pendidikan, tetapi juga pengalaman yang membekas bagi anak-anak yang pernah duduk di depan layar, mengikuti petunjuk, dan mencoba menuangkan imajinasi ke atas kertas.

Bagi sebagian generasi, kenangan itu bahkan lebih kuat daripada ingatan terhadap tanggal atau peristiwa tertentu. Kita mungkin lupa apa yang terjadi pada suatu Minggu puluhan tahun silam, tetapi masih dapat mengingat suasana ketika menonton acara kesayangan bersama keluarga.

Barangkali itulah kekuatan televisi pada masa lalu. Karena pilihan tayangannya terbatas, pengalaman menonton menjadi pengalaman bersama. Satu acara bisa dibicarakan keesokan harinya di sekolah, di tempat kerja, atau ketika bertemu tetangga.

Kini, setiap orang bisa memiliki tontonan yang berbeda di perangkat masing-masing. Kemudahan itu tentu menyenangkan. Namun, ada pula pengalaman kolektif yang perlahan berubah: duduk bersama menunggu acara yang sama, tertawa pada adegan yang sama, lalu membicarakannya setelah tayangan usai.

Membaca kembali jadwal TVRI dalam Monitor membuat kenangan tersebut seolah muncul lagi dari balik halaman.

Pada akhirnya, membaca Monitor edisi Oktober 1983 bukan hanya tentang Reita Soebita, Titi Qadarsih, Gombloh, Leo Kristi, Kool & The Gang, Olivia Newton-John, Robert Plant, atau jadwal acara TVRI.

Lebih dari itu, majalah ini menyimpan potongan kehidupan masyarakat Indonesia pada awal 1980-an. Ia memperlihatkan bagaimana orang menikmati musik, mengikuti perkembangan film, mengenal selebritas, dan menunggu tayangan televisi.

Majalah menjadi jembatan informasi. Radio menjadi teman sehari-hari. Kaset menyimpan lagu-lagu kesayangan. Televisi menghadirkan acara yang ditunggu. Sementara poster, foto, dan kliping menjadi cara sederhana untuk menjaga kedekatan dengan dunia hiburan.

Semua memiliki tempat dan waktunya masing-masing.

Hari ini, dunia bergerak jauh lebih cepat. Lagu dapat diputar kapan saja, film tersedia dalam beragam layanan, dan berita datang silih berganti melalui layar telepon genggam. Informasi yang dahulu harus dicari dengan sabar kini dapat ditemukan hanya dalam beberapa sentuhan.

Namun, ada pengalaman yang tak sepenuhnya tergantikan oleh kemudahan teknologi: membuka kembali majalah lama dan menemukan sesuatu yang pernah menjadi bagian dari hidup kita.

Di antara kertas yang menguning, foto yang mulai memudar, dan tulisan yang merekam peristiwa puluhan tahun silam, kita bukan hanya menemukan informasi. Kita menemukan kembali suasana, kebiasaan, selera, bahkan versi diri kita yang pernah hidup pada masa itu.

Mungkin dahulu kita membaca Monitor untuk mengetahui siapa yang sedang populer, lagu apa yang tengah digemari, atau acara televisi apa yang akan tayang pada Minggu malam. Kini, kita membacanya dengan perasaan berbeda. Bukan lagi semata-mata untuk mencari kabar terbaru, melainkan untuk menyapa kembali kenangan yang tersimpan.

Majalah Monitor edisi Oktober 1983 pun menjelma menjadi mesin waktu sederhana. Ia membawa kita kembali ke masa ketika dunia hiburan belum seramai sekarang, ketika informasi harus ditunggu, dan ketika sebuah majalah dapat menemani berjam-jam waktu luang.

Empat puluh tiga tahun telah berlalu. Banyak hal berubah, sejumlah nama telah menjadi bagian dari sejarah, dan generasi demi generasi tumbuh dengan pengalaman yang berbeda.

Baca Juga: Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Tetapi kenangan punya caranya sendiri untuk bertahan. Kadang-kadang, ia hanya membutuhkan sebuah sampul lama, sebaris nama musisi, foto bintang film, atau jadwal acara televisi untuk kembali hidup.

Dan ketika halaman terakhir ditutup, kita mungkin tersenyum kecil.

Ternyata, yang sedang kita baca bukan hanya Monitor edisi Oktober 1983. Kita sedang membaca kembali sebagian perjalanan hidup kita sendiri, tentang masa muda, orang-orang yang pernah kita kagumi, lagu yang pernah kita hafal, serta Minggu-minggu sederhana yang kini terasa begitu berharga.

Sebab, nostalgia bukanlah keinginan untuk memutar waktu kembali. Ia adalah cara kita merawat ingatan, menghargai perjalanan, dan menyadari bahwa masa lalu, betapapun jauhnya, selalu memiliki tempat di dalam hati. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 18:16

PWI Jabar dan Tantangan Baru Menjaga Kepercayaan Publik di Era AI

PWI Jawa Barat juga dapat mendorong penguatan disiplin verifikasi di kalangan anggotanya. Misal, dengan membahas prosedur pemeriksaan video yang viral dan penggunaan gambar hasil AI.

Logo Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 17:31

Terlalu Dekat untuk Dikenal: Mengapa Situs Candi Bojong Menje perlu Diceritakan Kembali?

Situs Candi Bojong Menje menyimpan jejak sejarah yang penting, tetapi masih kurang mendapat perhatian layak. Sudah saatnya masyarakat, generasi muda, mengenal dan menjaga warisan sejarah ini.

Kondisi Situs Candi Bojong Menje di Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi Jailani Abdul Rosyid | Foto: Jailani Abdul Rosyid)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 16:51

Membuka Monitor Oktober 1983: Saat Si Unyil, Gombloh, dan Bintang Idola Menemani Hari-Hari Kita

Majalah Monitor edisi Oktober 1983 mengajak kita pulang sejenak ke masa ketika hiburan tak datang setiap saat dalam genggaman, tetapi justru dinanti dengan penuh antusias.

Majalah Monitor edisi Oktober 1983, majalah hiburan dan keluarga dengan sampul mojang Bandung, Reita Soebita. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 15:42

Tahun Berulang, MAMPUS Berulang Tahun

Ejaan setiap pemilihan diksi sangat relevan, sehingga menciptakan makna, bahkan pembacaan yang multitafsir sering disebut sebagai perspektif.

Berulang Tahun MAMPUS (Malam Minggu Puisi) (Foto: Ayu Maimun)
Seni Budaya 12 Okt 2026, 14:41

Mengubah Gerakan Erotis Tari-tarian Kerakyatan Melalui Tari Lidah Agni

Tari kerakyatan tradisional sunda, memang kerap mendapat stigma terdapat unsur erotis. Akan tetapi, para peneliti ISBI Bandung mengubahnya menjadi gerakan tari lidah agni.

Salah satu gerakan Tari Lidah Agni  yang dipentaskan oleh Sanggar Putri Ayu Bandung (Foto: mildan)
Beranda 12 Okt 2026, 14:18

Menari dan Berbagi untuk Sesama Lewat Bhakti Nṛtya Pertiwi

Lebih dari sekadar pertunjukan, Bhakti Nṛtya Pertiwi menjadi ruang perjumpaan untuk merayakan keberagaman budaya.

Pertunjukan tari Kalimantan dalam Bhakti Nṛtya Pertiwi menjadi bagian dari perayaan keberagaman budaya Nusantara sekaligus ajakan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 14:01

Semrawut Parkir Liar Pasar Ujungberung: Jalan Sempit, Pejalan Kaki Terpaksa 'Nyempil' di Antara Kendaraan

Parkir liar di bahu jalan dan trotoar depan Pasar Ujungberung bikin ruas jalan menyempit. Pejalan kaki terpaksa nyempil di antara kendaraan

Kondisi parkir liar sepeda motor di bahu jalan depan Pasar Ujungberung yang menyebabkan penyempitan jalan. (Foto: Rahayu)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 13:22

Aksa Cafe Cirebon tempat Nongkrong Cozy di Cirebon

Aksa Cafe Cirebon menjadi salah satu tempat nongkrong anak muda yang punya tempat yang nyaman dan rasa makanan yang enak

Menu Aksa Cafe Cirebon (11/10/2026). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 09:41

Kenapa Kekerasan Masih Terjadi di Sekolah

Kita miris melihat masih terjadinya kekerasan di sekolah, yang mengakibatkan seorang anak meninggal dunia. Ada yang harus dibenahi secara serius tentang tata kelola sekolah. Disiplin bukan hukuman.

Ilustrasi kekerasan di sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ivonne Vallejos)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 08:31

Paylater di Kalangan Gen Z Bandung: Kemudahan Transaksi atau Risiko Finansial?

Paylater menawarkan kemudahan transaksi bagi Gen Z, tetapi juga menyimpan risiko finansial. Kenali dampaknyadan pentingnya mengelola keuangan secara bijak agar tidak terjerat utang.

Ilustrasi AI penggunaan paylater di kalangan Gen Z dan risiko finansial yang perlu diwaspadai. (Sumber: OpenAI (AI-generated) | Foto: AI-generated image)
Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)