AYOBANDUNG.ID -- Desa wisata di Jawa Barat tengah menjadi sorotan sebagai salah satu motor penggerak ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Dengan jumlah desa wisata yang terus bertambah, Jawa Barat kini menempati posisi penting dalam peta pariwisata nasional.
Data resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melalui platform Jejaring Desa Wisata (Jadesta) mencatat ratusan desa wisata telah terdaftar di provinsi ini, menandakan geliat masyarakat desa dalam mengembangkan potensi lokal yang berbasis budaya dan alam.
Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Jawa Barat, Koko Koswara, menilai bahwa kunci utama pengembangan desa wisata terletak pada kesesuaian dengan budaya. Dia menegaskan bahwa potensi desa wisata bukan sekadar destinasi, melainkan ruang hidup yang harus menjaga identitas lokal.
“Sebenarnya desa wisata itu punya potensi yang luar biasa tapi satu kuncinya harus sesuai dengan budaya. Karena desa wisata yang bagus itu menurut saya ya dia yang mempertahankan budaya,” ujarnya saat berbincang dengan Ayobandung.
Koko menambahkan bahwa segmen pasar desa wisata adalah masyarakat menengah ke atas. Mereka mencari pengalaman otentik yang tidak bisa ditawarkan oleh kota modern.
“Kenapa? Karena masyarakat segmen ini udah bosen dengan modernisasi, hirup pikuk kota. Dia akhirnya pilih kembali ke alam, pengen menikmati ibaratnya mandi di sungai, nanam padi,” katanya.
Fenomena ini sejalan dengan tren wisata berbasis pengalaman yang kini menjadi daya tarik global. Badan Pusat Statistik Jawa Barat dalam laporan Statistik Potensi Desa 2024 mencatat lebih dari 600 desa telah dikembangkan menjadi desa wisata dari total 5.311 desa.
Angka ini menunjukkan bahwa desa wisata bukan hanya wacana, melainkan strategi nyata dalam memperluas basis ekonomi kreatif. Dengan dukungan pemerintah daerah, desa wisata berpotensi menjadi tulang punggung pembangunan ekonomi berbasis masyarakat.
Namun, Koko mengingatkan adanya tantangan besar yang harus diantisipasi yakni modernisasi yang tak terkontrol dan jiwa konsumtif. Tantangan ini pun menuntut kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian budaya.
“Rata-rata di sektor desa wisata itu karena pengaruh informasi yang begitu deras dari gadget dan medsos mungkin ya, jadi jiwa konsumtifnya itu terbangun. Jadi kadang-kadang merekamenilai maju itu harus gaya. Jangan sampai masyarakat yang ada di desa wisata itu tertarik atau terganggu dengan hal-hal yang sifatnya konsumtif,” tegasnya.
Koko menegaskan, budaya dan alam harus tetap menjadi daya tarik utama. Desa wisata yang mampu menjaga keaslian akan lebih diminati wisatawan. Hal ini terbukti dari tren wisata alam yang terus meningkat.

Kemenparekraf dalam laporan 2025 menegaskan bahwa program Wisata Bersih dan Desa Wisata menjadi terobosan nasional untuk meningkatkan citra pariwisata Indonesia. Jawa Barat, dengan kekayaan budaya Sunda dan bentang alamnya, memiliki peluang besar untuk menjadi model nasional.
Koko juga menyoroti tren generasi muda, khususnya Gen Z, yang gemar olahraga di luar ruangan hingga alam bebas. Fenomena ini membuka peluang bagi desa wisata untuk mengintegrasikan olahraga dengan alam, seperti trekking, bersepeda, atau yoga di sawah.
“Contoh misalkan sekarang anak-anak gen Z, dia sukanya olahraga, bergayanya olahraga. Akhirnya tumbuh tuh sektor pariwisatanya menggiatkan olahraga,” jelasnya.
Integrasi antara olahraga dan alam bukan hanya menjawab tren, tetapi juga memperkuat daya tarik desa wisata sebagai destinasi yang sehat dan berkelanjutan. Koko pun menilai desa wisata yang mampu membaca tren pasar akan lebih adaptif dan relevan.
Dampak sosial-ekonomi dari pengembangan desa wisata juga signifikan. Portal Data Desa Jawa Barat mencatat bahwa desa wisata berkontribusi pada penurunan pengangguran, peningkatan angka sekolah, dan pengurangan stunting. Hal ini menunjukkan bahwa desa wisata bukan hanya tentang pariwisata, tetapi juga kesejahteraan masyarakat desa.
Konsep ekonomi hijau juga menjadi bagian penting dari desa wisata. Kemenparekraf menekankan bahwa desa wisata adalah ujung tombak pariwisata hijau berkelas dunia. Dengan menjaga lingkungan dan budaya, desa wisata di Jawa Barat dapat menjadi contoh praktik pariwisata berkelanjutan.
Sinergi antara pemerintah desa dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) menjadi krusial. Tanpa kolaborasi, desa wisata akan sulit berkembang. Pokdarwis sebagai motor penggerak lokal harus diberdayakan agar mampu mengelola potensi desa secara profesional.
Koko juga mengatakan, selain alam, desa wisata di Jawa Barat juga memiliki kekuatan di sektor gastronomi dan budaya. Kuliner khas Sunda, seni pertunjukan tradisional, hingga kerajinan tangan lokal menjadi daya tarik tambahan yang memperkaya pengalaman wisatawan.
Dengan basis budaya dan alam, desa wisata mampu menggerakkan subsektor ekonomi kreatif seperti kriya, kuliner, seni pertunjukan, hingga fesyen berbahan lokal. Hal ini memperluas peluang usaha bagi masyarakat desa dan memperkuat identitas ekonomi kreatif Jawa Barat.
Koko menegaskan,desa wisata bukan hanya destinasi, tetapi juga identitas Jawa Barat sebagai provinsi dengan kekayaan budaya Sunda yang mendalam. Melalui desa wisata, Jawa Barat dapat menegaskan dirinya sebagai rumah bagi para kreator, konservasionis, dan wirausaha perempuan.
Tak hanya itu, Koko menegaskan bahwa tren wisata akan terus bergerak. Oleh karenanya, dia menekankan bahwa desa wisata harus adaptif, namun tetap menjaga akar budaya. Perubahan tren harus dilihat sebagai peluang, bukan ancaman. Dengan demikian, desa wisata akan tetap relevan di tengah dinamika pariwisata global.
“Tren pariwisata pasti akan ada perubahan. Kalau ada perubahan artinya pariwisata bergerak. Kalau tidak ada perubahan, tidak bergerak. Dan sekarang tren kembali ke alam, tren kembali pada budaya lokal, itu sedang naik daun,” ujar Koko.
Alternatif produk wisata alam atau kebutuhan serupa: