Ayo Biz

Dessert Tradisi dalam Format Modern, Potret Tren Kuliner 2026

Oleh: Eneng Reni Nuraisyah Jamil Jumat 16 Jan 2026, 17:29 WIB
Ilustrasi dessert lokal yang dikemas modern kini bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari gaya hidup. (Sumber: Freepik)

AYOBANDUNG.ID -- Industri kuliner Indonesia tengah mengalami transformasi besar yang dipicu oleh perubahan perilaku konsumen, terutama generasi muda. Gen Z menjadi motor utama tren ini, dengan preferensi terhadap produk yang estetik, praktis, dan memiliki narasi budaya. Dessert lokal yang dikemas modern kini bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari gaya hidup.

Pertumbuhan industri makanan dan minuman sepanjang 2025 mencapai 6,49% menurut GAPMMI, menjadikan sektor ini salah satu penopang utama ekonomi kreatif. Lonjakan konsumsi digital dan tren kuliner viral di media sosial mempercepat adopsi produk baru, termasuk dessert yang terinspirasi dari cita rasa lokal.

Gen Z Indonesia dikenal sebagai generasi yang haus pengalaman baru. Mereka tidak hanya mencari rasa, tetapi juga cerita di balik produk. Hal ini mendorong pelaku industri kuliner untuk menghadirkan inovasi yang menggabungkan tradisi dengan format modern, sehingga produk memiliki nilai emosional sekaligus relevansi kontemporer.

Es krim, roti, dan kue menjadi dessert favorit publik. Survei GoodStats 2025 menunjukkan es krim dipilih oleh 45% perempuan Indonesia, sementara roti dan kue menjadi pilihan 32% laki-laki. Data ini menegaskan bahwa inovasi dessert berbasis cita rasa lokal memiliki pasar luas lintas gender dan usia.

Tren dessert lokal yang dikemas modern semakin terlihat dalam kolaborasi lintas brand. Pelaku industri kuliner menyadari bahwa kekuatan kolaborasi bukan hanya memperluas distribusi, tetapi juga memperkuat daya tarik produk melalui reputasi masing-masing brand.

Salah satu contohnya adalah kolaborasi Wall’s dengan Kartika Sari. Brownies legendaris asal Bandung dipadukan dengan es krim creamy khas Wall’s, menghadirkan pengalaman baru yang tetap mempertahankan rasa autentik. Produk ini hadir dalam format tubs untuk kebersamaan keluarga dan cone yang lebih dekat dengan gaya hidup Gen Z.

Momentum Ramadan 2026 menjadi panggung ideal bagi inovasi dessert. Produk berbasis cita rasa lokal dapat dikreasikan sebagai takjil modern, memperkuat relevansi dengan momen kebersamaan keluarga. Hal ini menunjukkan bagaimana inovasi kuliner mampu masuk ke dalam konteks budaya yang lebih luas.

Menurut Nur Aliqa Sendyalaras, Head of Marketing Wall’s, kolaborasi ini adalah wujud komitmen menghadirkan cita rasa lokal dalam format baru. “Produk edisi terbatas ini didistribusikan secara nasional tidak hanya terbatas di Jawa Barat, sehingga bisa dinikmati di berbagai wilayah Indonesia,” ujarnya.

Ilustrasi industri kuliner Indonesia tengah mengalami transformasi besar yang dipicu oleh perubahan perilaku konsumen, terutama generasi muda. (Sumber: Freepik)

Potensi pasar dessert lokal semakin besar dengan kontribusi UMKM kuliner mencapai 61,9% terhadap PDB pada 2025. Inovasi berbasis cita rasa lokal tidak hanya memperkuat identitas kuliner Indonesia, tetapi juga menopang ekonomi kreatif yang semakin berperan dalam pembangunan nasional.

Namun, tantangan tetap ada. Distribusi produk berbasis es krim membutuhkan rantai dingin yang konsisten agar kualitas tetap terjaga. Hal ini menjadi ujian bagi industri kuliner dalam memperluas jangkauan produk ke seluruh Indonesia tanpa mengorbankan kualitas.

Persaingan industri kuliner Indonesia semakin ketat dengan hadirnya brand lokal maupun global. Inovasi berbasis cita rasa lokal menjadi diferensiasi penting yang dapat membedakan produk dari kompetitor. Kolaborasi lintas brand menjadi salah satu cara untuk memperkuat posisi di pasar.

Media sosial memainkan peran vital dalam mempercepat adopsi produk baru. Gen Z cenderung mencoba produk yang populer di TikTok atau Instagram. Strategi digital marketing yang kuat menjadi kunci agar inovasi dessert dapat viral dan diterima luas.

Kolaborasi lintas brand membuka jalan bagi eksplorasi cita rasa tradisional lain. Bayangkan klepon, cendol, atau tape singkong hadir dalam format modern seperti es krim atau cake estetik. Potensi eksplorasi cita rasa lokal sangat besar, dan kolaborasi dapat menjadi katalis inovasi.

Kementerian Perindustrian mendorong UMKM kuliner untuk berinovasi melalui program penguatan branding dan digitalisasi. Dukungan ini memperkuat ekosistem inovasi dessert lokal, sekaligus menjadikan kuliner sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi kreatif nasional.

Stanley Lie, Komisaris Kartika Sari Group pun mengakui bahwa kolaborasi ini adalah langkah istimewa menghadirkan kehangatan rasa brownies khas Bandung dalam wujud segar dan modern.

"Selama puluhan tahun, Kartika Sari telah menjadi bagian dari tradisi keluarga, baik sebagai oleh-oleh khas Bandung maupun hidangan spesial di momen-momen berharga. Dengan kolaborasi ini, kami dapat menghadirkan pengalaman baru yang mempertahankan kualitas dan cita rasa autentik kami, namun dalam format yang inovatif,” ujar Stanley.

Alternatif kuliner kekinian atau produk serupa:

  1. https://s.shopee.co.id/8V2jBEbCdx
  2. https://s.shopee.co.id/5fiXo6oIf3
  3. https://s.shopee.co.id/6puVCInfIt
  4. https://s.shopee.co.id/7KqlnHajBN
Reporter Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Editor Eneng Reni Nuraisyah Jamil