Ayo Netizen

Identifikasi Toponimi ‘Wangi’ di Zona Sesar Lembang

Oleh: Anna Joestiana Minggu 31 Mei 2026, 09:54 WIB
Warga melintas di dekat rambu zona Sesar Lembang di kawasan Gunung Batu, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 22 Agustus 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Kenapa di sekitar zona Sesar Lembang banyak terdapat nama-nama tempat yang dibelakangnya kata "wangi"? misalnya Pasirwangi, Pagerwangi, Mekarwangi, dan Buniwangi. Pertanyaam tersebut muncul dari rasa penasaran beberapa orang anggota Relawan Penanggulangan Bencana Lembang (RPBL).

Jika dilihat dari unsurnya, nama-nama tempat terdiri atas unsur generik dan unsur spesifik. Unsur generik itu merupakan unsur yang mengandung makna umum berupa kenampakan alam, seperti daratan, perairan, serta kawasan khusus, buatan dan administratif. Sedangkan nama spesifik adalah nama yang membatasi unsur generiknya. Unsur spesifik muncul dari penamaan masyarakat yang tidak lepas dari unsur generiknya. Masing-masing memiliki aspek historisnya (Abdul Gaffar Ruskhan, 2011).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata "wangi" merupakan kata sifat (adjektiva) yang berarti beraroma sedap, harum dan enak dicium. Kata ini umumnya digunakan untuk mendeskripsikan aroma dari bunga, parfum, makanan atau tubuh. Sedangkan dalam Kamus Bahasa Sunda, terbitan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1985, kata "wangi" tidak ditemukan.

Sampai saat ini belum ditemukan hasil penelitian yang dapat menjelaskan tentang unsur spesifik dari kata "wangi" tersebut, sehingga belum diketahui secara pasti sejarah dan latarbelakangnya.

Secara harfiah, kata "wangi" yang berasal dari bahasa Indonesia apabila diterjemahkan kedalam bahasa Sunda berarti "seungit". Kata ini menggambarkan suasana yang menyenangkan penuh aroma harum dan sedap yang berasal dari bunga seperti bunga Melati, Mawar, Kemuning, Sedap Malam, dan Tanjung. Atau dari daun seperti daun Pandan, Kemangi, Sereh, dan Salam. Atau dari akar seperti Akar Wangi (vetiver).

Selain menggambarkan aroma sedap, berdasarkan sejarah, kata "wangi" juga dipakai untuk nama seorang raja atau keluarga raja. Misalnya Prabu Wangi, SIliwangi, Mundingwangi, Gantanganwangi, dan yang lainnya. Menurut Danasasmita (2003), nama resmi raja dalam bahasa Sunda sering disebut "wawangi", yang secara harfiah disebut "seuseungit". Nama resmi tersebut mencerminkan kepopuleran (sohor) seorang raja.

Dalam Babad Siliwangi, disebutkan bahwa "Siliwangi" berarti asilih wawangi (mengganti nama) sesaui dengan tulisan yang terdapat dalam Prasasti Batutulis, yaitu sebagai berikut: "Ini sasakala, Prebu Ratu purane pun diwastu diya wi ngaran Prebu Guru Dewataprana diwastu diya di ngaran Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata" ("Ini tanda peringatan, Prabu Ratu almarhum, beliau dilantik menggunakan nama Prabu Guru Dewataprana, dilantik lagi dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata").

Nama atau gelar baru ini sangat indah dan enak didengar, karena itu dalam Carita Parahyangan (CP) disebut "Sriman Sri Wacana" (yang terkenal dan indah). Karena perubahan nama atau pergantian gelar tersebut, Sri Baduga Maharaja dikenal luas dengan julukan "Siliwangi". Istilah tersebut digunakan seorang raja yang memiliki pengaruh besar dan mempunyai reputasi yang luar biasa serta mencerminkan kepopuleran seorang raja (Danasasmita, 2003).

Namun ada juga yang berpendapat bahwa "Siliwangi" merupakan gelar raja-raja Sunda yang beroleh kepopuleran karena menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Berarti yang disebut "Siliwangi" itu lebih dari satu orang. Para sejarawan yang berpendapat demikian adalah Ayatrohaedi, Undang A. Darsa, Elis Suryani dan Agus Aris Munandar.

Mengutip pendapat Nurkalakalisada (2022), kata bahwa kata "Siliwangi" tertulis juga dalam Pantun Bogor episode Pakujajar Beukah Kembang. Dikatakan bahwa "Siliwangi" merupakan gelar pemberian Resi Handeulawangi, yaitu seorang pendeta dari Balay Pamujaan Mandalawangi-Talaga Wana, bunyinya sebagai berikut:

"Dengekeun.....!

Isuka jaganing pageto dia jadi raja ngegantian rama parabu,

Pake ku dia ieu ngaran, bawa eyang ti Kahiyangan!

Nyaeta: Siliwangi.....!

Lain silih wangi..... komo sirih wangi mah!

Lantaran di urang mah, euweuh sirih.....;

Aya ge ngan seureuh eujeung sereh.....;

terjemahan:

"dengarkan.....!

besok lusa pada satnya nanti kamu jadi raja menggantikan ayahanda raja,

pakai olehmu nama ini, bawaan eyang dari Kahiyangan!

yaitu: Siliwangi.....!

bukan silih wangi.....apalagi sirih wangi!

karena di kita mah, tidak ada sirih.....;

adanya juga hanya seureuh dan sereh.....;

Kemudian dalam Pantun Bogor episode Ngahiyangna Pajajaran disebutkan bahwa arti "Siliwangi" adalah "kesucian yang sejati, bunyinya sebagai berikut:

Ari ngaran gusti mah apanan Siliwangi.....!

Lain wawangi anu kasilih! tapi sili dina harti basa urang

Basa Urang Pajajaran!

Harti sili dina basa urang nyaeta langgeng!

Ari wangi mudu dihartikeun ku basa urang

Ulah dihartikeun ku sejen basa

Najan saruwa dina Sundana.....!

Sabab wangi basa Pajajaran hartina teh kasucian anu sajati!

terjemahan:

sebab nama paduka itu kan Siliwangi.....!

bukan wewangian yang kesilih (tertukar)! tapi arti sili dalam bahasa kita

bahasa rakyat Pajajaran

arti sili dalam bahasa kita adalah langgeng!

dan wanginya harus diartikan oleh bahasa kita

tidak boleh diartikan oleh bahasa lain

meskipun sama dalam bahasa Sunda nya.....!

sebab wangi bahasa Pajajaran artinya adalah kesucian yang sejati!

Wisatawan lokal berwisata ke Tebing Keraton yang berada di Cimenyan, Kabupaten Bandung, dan berada di atas permukaan Sesar Lembang, Sabtu 27 April 2024 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Jadi kata spesifik "wangi" mempunyai dua pengertian, yang pertama mengandung arti "aroma sedap harum mewangi" dan yang kedua mengandung arti "kesucian sejati" atau "leluhur yang jasanya abadi sepanjang masa". Dua pengertan ini akan sangat memudahkan kita dalam upaya mengidentifikasi nama-nama tempat yang memiliki nama spesifik "wangi".

Adapun penjelasan tentang arti toponimi Pasirwangi, Pagerwangi, Mekarwangi dan Buniwangi adalah sebagai berikut:

Pertama, toponimi Pasirwangi termasuk kedalam aspek fisikal dengan latar sejarah dikarenakan ditempat tersebut terdapat peninggalan leluhur berupa Makam Panjang yang oleh penduduk setempat dikenal dengan makam Eyang Suryakencana. Jadi toponimi Pasirwangi mengandung arti sebuah bukit (pasir) yang diatasnya terdapat makam leluhur yang berjasa (wangi).

Kedua, toponimi Pagerwangi termasuk kedalam aspek fisikal dengan latar biologis. Hal ini dikarenakan mempunyai geomorfologis Sesar Lembang yang menyerupai pagar pembatas (pager) yang dikelilingi tanaman bunga dan buah-buahan yang menebarkan aroma harum (wangi).

Ketiga, toponimi Mekarwangi termasuk kedalam aspek sosial dengan latar sebuah harapan. Desa yang dibentuk dari hasil pemekaran, mempunyai masyarakat yang menyimpan harapan ingin berkembang (mekar) lebih maju dari desa lainnya serta dikenal (wangi) menjadi lebih baik.

Keempat, toponimi Buniwangi termasuk kedalam aspek kultural dengan latar sejarah dikarenakan ditempat tersebut terdapat peninggalan leluhur. Peninggalannya berupa situs yang terdiri dari patilasan, makam, paseban, dan mata air Pancuran Tujuh.

Berdasarkan catatan sejarah pada sekitar abad ke 13 M, Prabu Siliwangi mendirikan sebuah tatanan bernegara dalam bentuk kecil dengan nama lembur di Buniwangi. Lembur tersebut berupa kesatuan pemukiman antara sepuluh sampai duapuluh rumah (Purnama et al., 2020).

Pendapat lainnya dari Haryoto Kunto dalam bukunya Semerbak Bunga di Bandung Raya (1986), dilembur tersebut terdapat paseban (tempat berkumpulnya para raja dimasa kejayaan Sunda atau disebut Nista Utama), sehingga wilayah ini termasuk Karamaan. Menurut Kuncen Buniwangi, lokasi makam keramat tersebut dimiliki oleh Kentringmanik atau Nyi Ken Buniwangi, yaitu penguasa mata air (Bron-godin) Sungai Citarum dan merupakan permaisuri Prabu Siliwangi (W. H. Hoogland, Mooi Bandoeng, 1937).

Jadi toponimi Buniwangi mengandung arti sebuah tempat tersembunyi (buni) yang didalamnya terdapat makam dan patilasan leluhur (wangi). (*)

Reporter Anna Joestiana
Editor Aris Abdulsalam