Sekitar jam 8 malam, 4 Desember 2025, HP saya bergetar. Teman saya yang rumahnya di Gang Awug, Katapang, mengirimvideo.
Gang Awug itu gang sempit sekitar 300 meter dari jembatankatapang dan mepet sekali dengan anak Sungai Citarum. Rumah saya di katapang jaraknya cuman beberapa menit dari sana tidakjauh dari Citarum tapi rumah saya alhamdulillah tidak masuk air malam itu.
Di video yang gelap itu air coklat sudah sepaha orang dewasamasuk lewat pintu dapur rumahnya “Ri banjir udah masuk kerumah” tulisnya
Foto ini dia kirim keesokan paginya seperti terlihat di foto pagihari pun air coklat keruh itu masih menggenang setinggi matakaki di dalam rumahnya. Di lantai masih ada sisa ranting kecildan plastik yang terbawa arus. Dia bilang baunya bukan baulumpur biasa, tapi bau got yang menyengat.
Saya di Katapang hanya bisa lihat dari kejauhan. Malam itu di rumah saya cuman gerimis dan selokan meluap sedikit. Tapi di Gang Awug yang mepet Sungai, air sudah masuk kamar.
Dari situ saya sadar, yang tinggal di gang-gang kecil yang mepetSungai selalu jadi korban paling parah, padahal jaraknya cuman5 menit dari rumah saya.
Saya tinggal 500 meter dari jembatan Katapang. Setiap hari sayalewat sana. Saya lihat sendiri air yang tadinya coklat, sore ituberubah menjadi hitam pekat dengan busa tebal di pinggirannya.
Tapi rasanya tidak adil kalau hanya menyalahkan pabrik. Di selokan depan rumah saya di Katapang sendiri, saya seringmelihat Kasur bekas, popok bayi, dan sampah rumah tanggadibuang. Alasannya selalu sama “Nanti juga hanyut”. Padahaltidak hanyut. Dia mengendap, membuat Citarum yang kata bapak saya dulu dalamnya 5 meter dan jernih, sekarang kalaukemarau semata kaki saja tidak ada.
Baca Juga: Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?
Data BPBD Kabupaten Bandung mencatat KecamatanKatapang, Dayeuhkolot, dan Baleendah Adalah langganan banjirakibat luapan Citarum. Pada 4 desember 2025 kemarin, pemkabBandung Kembali menetapkan status siaga banjir karenabeberapa kecamatan termasuk Katapang terendam.
Program Citarum Harum sudah ada sejak 2018, saya apresiasitentara yang mengeruk sampah. Tapi yang dikeruk pagi, sorenyaakan dangkal lagi kalau kebiasaan kita masih sama. Untuk itu, tidak cukup hanya mengandalkan tentara.
Bagi saya, banjir di Gang Awug malam itu Adalah alarm buatsaya yang di Katapang. Malam itu,dari jam 8 malam sampaipagi seperti di foto teman saya ini, Citarum mengingatkan:kalaukita perlakukan Sungai seperti tempat sampah, dia akan kembalike rumah tetangga kita sebagai banjir, hari ini tetangga, besokbisa rumah kita. Mari kita jaga selokan depan rumah kitamasing-masing. Jangan lagi buang sampah, popok, dan kasur keselokan. Kalau bukan kita yang menjaga Citarum, siapa lagi? (*)