Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

5 menit baca
Bayu Hikmat Purwana
Ditulis oleh Bayu Hikmat Purwana diterbitkan
Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)

Sampah tidak mungkin kita hindari. Setiap hari, ketika makan, berbelanja, bekerja, dan beraktivitas, selalu ada sesuatu yang tersisa. Namun, sampah yang menumpuk, menimbulkan bau, dan memenuhi ruang kota bukanlah sesuatu yang tidak terhindarkan. Kondisi tersebut merupakan konsekuensi dari pilihan: bagaimana pemerintah membangun sistem pengelolaan sampah dan bagaimana warga memperlakukan sampah yang dihasilkan.

Berdasarkan data Sistem Informasi Kinerja Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup yang diakses pada Oktober 2026, timbulan sampah Kota Bandung tercatat sekitar 1.574 ton per hari. Dari jumlah tersebut, baru 22,18 persen yang tercatat terkelola, sedangkan 77,82 persen lainnya belum terkelola.

Data yang sama juga mencatat bahwa Kota Bandung telah memiliki dokumen Rencana Induk Pengelolaan Sampah (RIPS), tetapi TPA-nya masih tercatat menggunakan sistem open dumping. Sementara itu, terdapat 390 Bank Sampah Unit (BSU) aktif, 108 BSU tidak aktif, dan satu Bank Sampah Induk (BSI) aktif.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah di Kota Bandung tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan imbauan kepada warga untuk memilah sampah. Penguatan kapasitas masyarakat, optimalisasi fasilitas pengolahan, dan pembenahan tata kelola dari hulu hingga hilir perlu berjalan beriringan agar sampah tidak sekadar berpindah tempat, tetapi benar-benar berkurang dan tertangani secara berkelanjutan.

Ketika Hilir Mulai Kehabisan Ruang

Pada sisi lain, kondisi TPA Sarimukti zona 5 yang secara desain semestinya dapat digunakan hingga Agustus 2027, namun diperkirakan akan penuh pada November 2026. Kapasitas desainnya sekitar 700 ribu ton, tetapi volume sampah yang telah tertampung sudah mencapai sekitar 560 ribu ton atau 80 persen dari kapasitas.

Berdasarkan data Pemkot Bandung yang dipublikasikan pada Desember 2025, timbulan sampah Kota Bandung mencapai sekitar 1.492 ton per hari, sedangkan kuota pengiriman ke TPA Sarimukti dibatasi sekitar 938 ton per hari. Selisih sekitar 554 ton per hari tersebut menggambarkan besarnya beban sampah yang perlu ditangani melalui pengolahan di dalam kota.

Pertanyaannya kini bukan lagi “ke mana sampah dibuang?”, melainkan “berapa banyak sampah yang sejak awal tidak perlu dibuang?”.

Tanpa ekosistem yang jelas, ajakan memilah sampah hanya akan berakhir menjadi slogan.

Kabar baiknya, arah kebijakan RIPS Bandung mulai terukur. Pemerintah Kota Bandung telah memetakan sekitar 220 calon titik pengolahan sampah berbasis kewilayahan. Setiap titik direncanakan memiliki kapasitas pengolahan sekitar 5-10 ton per hari, dengan target pengurangan sampah yang diberitakan mencapai 125-250 ton per hari. Namun, realisasi rencana tersebut bergantung pada hasil verifikasi lokasi, kesiapan fasilitas, serta kepastian operasional dan pengelolaannya.

Pemkot juga telah mendorong penguatan pengolahan sampah organik melalui kompos pit, biopori, atau maggot. Langkah ini penting karena hampir 45 persen komposisi sampah Bandung merupakan material organik yang memiliki peluang besar untuk diselesaikan sedekat mungkin dengan sumbernya.

Artinya, pemerintah mulai memperkuat “ekosistem pemilahan” dalam sistem persampahan kota. Sampah organik harus memiliki jalur pengolahan. Sampah yang memiliki nilai ekonomi harus tersambung dengan sistem daur ulang. Sementara residu harus memiliki mekanisme pengangkutan dan pemrosesan yang jelas.

Membangun Kapasitas, Bukan Sekadar Infrastruktur

Setiap perubahan tata kelola membutuhkan kapasitas dari para aktor yang terlibat. Pemerintah perlu mampu merancang sistem, mengoordinasikan berbagai pihak, memastikan standar berjalan, mengevaluasi hasil, dan mengukur dampaknya. Sementara itu, masyarakat membutuhkan pengetahuan dan keterampilan untuk mendukung pemilahan dan pengolahan sampah lingkup rumah tangga.

Pendekatan tersebut semakin konkret. Bandung telah menghadirkan sekitar 1.596 Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah (GASLAH) dengan skema satu petugas untuk setiap RW. Mereka mendatangi rumah warga untuk memastikan pemilahan, mengolah sampah organik, serta mendorong perubahan perilaku dari sumbernya. Untuk mendukung peran tersebut, setiap petugas menerima honor bulanan, dengan target mampu mengolah 25 kilogram sampah organik per hari.

Kebijakan ini menegaskan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan lebih dari sekadar infrastruktur. Dibutuhkan manusia yang memiliki kapasitas, mandat, dan insentif agar sistem bekerja optimal. Di sinilah GASLAH berperan: bukan sebagai tambahan tenaga kebersihan, melainkan penghubung kebijakan pemerintah dengan perilaku rumah tangga sekaligus bentuk investasi kapasitas di tingkat kewilayahan.

Ketika Ribuan Mahasiswa Turun ke Hulu

Pada Oktober 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkolaborasi dengan sekitar 25.000 mahasiswa untuk mendampingi masyarakat selama tiga bulan dalam mengelola sampah. Program pendampingan ini menargetkan pengurangan sampah hingga 20 persen atau sekitar 1.000 ton per hari dari timbulan Bandung Raya dari sumbernya.

Program kolaborasi ribuan mahasiswa tersebut merupakan pengembangan dari uji coba di Kecamatan Arcamanik yang melibatkan sekitar 500 mahasiswa. Evaluasi uji coba tersebut menunjukkan penurunan timbulan sampah sekitar 20 persen dan peningkatan pemilahan hingga dua kali lipat.

Pendekatan ini menarik, karena membawa pengetahuan langsung ke tingkat rumah tangga melalui pendampingan yang dilengkapi modul dan perangkat digital. Keterlibatan mahasiswa juga diakui melalui konversi kegiatan menjadi SKS. Mereka tidak sekadar menjadi juru kampanye kebijakan, tetapi mendampingi warga untuk memahami, memilah, dan mengelola sampah dari sumbernya.

Kesadaran Tidak Boleh Dibiarkan Sendirian

Keberhasilan program sedang diuji: apakah pendampingan mampu meninggalkan kapasitas dan kebiasaan yang tetap berjalan setelah program berakhir? Pemerintah perlu memastikan sistem pengangkutan terpilah, standar operasional yang jelas, pengawasan real-time di kewilayahan, serta adanya mekanisme penghargaan dan pengendalian yang adil.

Ketika warga sudah memilah sampah, jangan sampai sampah tersebut kembali tercampur saat pengangkutan. Jangan pula layanan pengolahan dibangun tanpa memastikan siapa yang mengoperasikan, bagaimana standar kerjanya, dan bagaimana keberlanjutannya.

Kesadaran warga memang modal utama, tetapi hanya tata kelola yang konsisten akan mampu mengubahnya menjadi budaya. Perubahan perilaku tidak akan bertahan jika hanya dibebankan kepada warga.

Rencana pengembangan titik pengolahan, keberadaan petugas GASLAH, dan keterlibatan ribuan mahasiswa menunjukkan bahwa perubahan dapat diupayakan melalui kerja bersama. Tantangannya adalah memastikan setiap inisiatif tersebut benar-benar meningkatkan kapasitas pemerintah dan masyarakat dalam mengelola sampah, serta tetap berjalan setelah program dan dukungan awal berakhir.

Sampah memang pasti, tetapi membiarkannya menumpuk bukanlah takdir. Kota yang bersih lahir dari sistem pemerintahan yang mampu menjaga keberlanjutan pengelolaan sampah, didukung kesediaan masyarakat untuk mengubah kebiasaan. Ketika kedua fondasi ini saling memperkuat, kebersihan menjadi pilihan kebijakan yang terukur sekaligus tanggung jawab bersama untuk menjaga Bandung, Paris van Java. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 18:16

PWI Jabar dan Tantangan Baru Menjaga Kepercayaan Publik di Era AI

PWI Jawa Barat juga dapat mendorong penguatan disiplin verifikasi di kalangan anggotanya. Misal, dengan membahas prosedur pemeriksaan video yang viral dan penggunaan gambar hasil AI.

Logo Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 17:31

Terlalu Dekat untuk Dikenal: Mengapa Situs Candi Bojong Menje perlu Diceritakan Kembali?

Situs Candi Bojong Menje menyimpan jejak sejarah yang penting, tetapi masih kurang mendapat perhatian layak. Sudah saatnya masyarakat, generasi muda, mengenal dan menjaga warisan sejarah ini.

Kondisi Situs Candi Bojong Menje di Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi Jailani Abdul Rosyid | Foto: Jailani Abdul Rosyid)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 16:51

Membuka Monitor Oktober 1983: Saat Si Unyil, Gombloh, dan Bintang Idola Menemani Hari-Hari Kita

Majalah Monitor edisi Oktober 1983 mengajak kita pulang sejenak ke masa ketika hiburan tak datang setiap saat dalam genggaman, tetapi justru dinanti dengan penuh antusias.

Majalah Monitor edisi Oktober 1983, majalah hiburan dan keluarga dengan sampul mojang Bandung, Reita Soebita. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 15:42

Tahun Berulang, MAMPUS Berulang Tahun

Ejaan setiap pemilihan diksi sangat relevan, sehingga menciptakan makna, bahkan pembacaan yang multitafsir sering disebut sebagai perspektif.

Berulang Tahun MAMPUS (Malam Minggu Puisi) (Foto: Ayu Maimun)
Seni Budaya 12 Okt 2026, 14:41

Mengubah Gerakan Erotis Tari-tarian Kerakyatan Melalui Tari Lidah Agni

Tari kerakyatan tradisional sunda, memang kerap mendapat stigma terdapat unsur erotis. Akan tetapi, para peneliti ISBI Bandung mengubahnya menjadi gerakan tari lidah agni.

Salah satu gerakan Tari Lidah Agni  yang dipentaskan oleh Sanggar Putri Ayu Bandung (Foto: mildan)
Beranda 12 Okt 2026, 14:18

Menari dan Berbagi untuk Sesama Lewat Bhakti Nṛtya Pertiwi

Lebih dari sekadar pertunjukan, Bhakti Nṛtya Pertiwi menjadi ruang perjumpaan untuk merayakan keberagaman budaya.

Pertunjukan tari Kalimantan dalam Bhakti Nṛtya Pertiwi menjadi bagian dari perayaan keberagaman budaya Nusantara sekaligus ajakan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.