Ayo Biz

Tadabbur Alam di Gunung Puntang: Pesantren Menyemai Kesadaran Kebersihan dan Cinta Lingkungan

Oleh: Eneng Reni Nuraisyah Jamil Jumat 16 Jan 2026, 16:20 WIB
Para santri diajak menyelami makna kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah, hingga praktik penyembelihan hewan kurban dengan cara yang benar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

AYOBANDUNG.ID -- Gunung Puntang, Kabupaten Bandung, pada 15-16 Januari 2026, berubah menjadi ruang belajar yang tak biasa. Ratusan santri dari 131 pondok pesantren di Jawa Barat berkumpul di Perkemahan Malabar, menghadirkan suasana yang jauh dari rutinitas harian mereka. Di bawah kanopi pepohonan dan udara pegunungan yang dingin, Tadabbur Alam Silatusantren menjadi panggung refleksi spiritual sekaligus ekologis.

Sejak awal, kegiatan ini dirancang bukan sekadar seremonial. Alam dijadikan ruang syukur, tempat tafakur, sekaligus media pembelajaran tentang hubungan manusia dengan Sang Pencipta dan ciptaan-Nya. Para santri diajak menyelami makna kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah, hingga praktik penyembelihan hewan kurban dengan cara yang benar. Semua aktivitas berlangsung dalam kebersamaan, mempertemukan santri dari berbagai latar belakang pesantren yang sebelumnya belum saling mengenal.

Di bawah tenda sederhana, para santri berkerumun menyaksikan praktik penyembelihan hewan kurban. Bukan sekadar ritual, momen itu menjadi pintu masuk untuk memahami keterhubungan antara syariat, etika, dan tanggung jawab ekologis. Dari darah yang mengalir hingga sisa organ yang harus diolah, mereka belajar bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi bagi lingkungan. Kesadaran ini menumbuhkan pemahaman baru bahwa ibadah memiliki dimensi ekologis yang tak bisa diabaikan.

Malam hari, lantunan sholawat dari grup gambus Ai Khadijah and Friends menggema di antara pepohonan. Suara syahdu itu membuat hati para santri bergetar, menegaskan bahwa kebersamaan spiritual bisa berpadu dengan kesadaran ekologis. Tadabbur Alam bukan hanya tentang menikmati keindahan alam, melainkan tentang menghubungkan spiritualitas dengan tanggung jawab sosial.

Malam puncak bertepatan dengan Isra Miraj menghadirkan talkshow inspiratif bersama Dr. Zastrouw, Budi Dalton, dan King Salman. Dipandu MC Prima, panggung menjadi ruang refleksi penuh canda. Para narasumber menekankan bahwa pesantren harus hadir di tengah tantangan zaman, termasuk isu lingkungan. Kehangatan yang tercipta membuat ratusan santri merasa dekat dengan tokoh-tokoh yang selama ini mereka kenal hanya lewat cerita.

Tadabbur Alam Silatusantren menjadi panggung refleksi spiritual sekaligus ekologis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

Perwakilan Coklat Kita, Yudi Wate Angin, menegaskan bahwa acara ini adalah puncak dari rangkaian panjang Silatusantren. Ia juga menambahkan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah memberikan edukasi tentang kebersihan lingkungan kepada santri.

“Acara ini berjalan sejak sekitar satu tahun yang lalu dan ini puncak acaranya sehingga menjadi ilmu bekal mereka untuk kehidupan baik di pondok maupun di lingkungannya masing-masing,” katanya.

Jumlah peserta yang hadir mencapai 262 orang dari 131 pesantren. Gunung Puntang dipilih sebagai lokasi bukan tanpa alasan. Yudi menjelaskan, pilihan lokasi ini menegaskan bahwa alam bukan sekadar latar, melainkan guru yang mengajarkan kesederhanaan dan tanggung jawab.

“Gunung Puntang menjadi pilihan karena memang judul utama pada kegiatannya adalah Tadabbur Alam. Kita ada acara mensyukuri nikmat Tuhan secara kolektif di alam,” jelas Yudi.

Yudi juga menyinggung rencana tahun depan. Hal ini menunjukkan komitmen bahwa Silatusantren bukan agenda sekali, melainkan gerakan berkelanjutan yang menanamkan nilai ekologis di pesantren.

Tadabbur Alam Silatusantren menjadi panggung refleksi spiritual sekaligus ekologis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

“Tahun 2026 Insya Allah kita masih bertemakan tentang kebersihan lingkungan. Jadi bukti, bakti, cinta, pondokku, lingkunganku, kebanggaanku,” katanya.

Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-Ien, Purwakarta, Agus Aliyudin, merasakan manfaat besar dari kegiatan ini dan membantu para pengelola pesantren untuk mempeluas literasi bagi para santri. Terlebih ia menekankan bahwa di pesantren belum ada kurikulum tentang sampah. “Kami memang merasa belum ada kurikulum yang membahas itu,” tambahnya.

Oleh sebab itu, Agus berharap kegiatan ini menambah pola pikir santri tentang kebersihan. Strategi ini pun menunjukkan bahwa perubahan perilaku bisa dimulai dari hal sederhana. “Dengan kebersihan ini menjadi salah satu nilai tambahan bagi kami untuk memperlihatkan bahwa pesantren juga punya kepedulian khusus tentang lingkungan,” katanya.

Sementara itu, Amrin Hakim, perwakilan santri dari Pondok Pesantren Al-Bukhori, Majalengka, menyampaikan apresiasi tinggi. Dia menekankan bahwa pengetahuan ini menjadi bekal penting bagi santri setelah keluar dari pesantren.

“Santri-santri sangat semangat sekali. Bukan hanya itu juga, diberikan ilmu pengetahuan tentang pengelolaan sampah. Jadi bukan hanya ilmu agama saja yang diperdalam, tetapi ilmu tentang cinta lingkungan,” tambahnya.

Tadabbur Alam Silatusantren menjadi panggung refleksi spiritual sekaligus ekologis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

Konteks nasional memperkuat urgensi kegiatan ini. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat timbulan sampah Indonesia tahun 2025 mencapai 18,44 juta ton per tahun, dengan sampah terkelola hanya 6,24 juta ton atau 34 persen. Sementara Kementerian Lingkungan Hidup menyebut timbulan harian mencapai 140 ribu ton, namun pengelolaannya baru sekitar 15 persen. Angka ini menunjukkan betapa besar tantangan yang dihadapi Indonesia dalam mengelola sampah.

Dengan jumlah pesantren lebih dari 36 ribu di seluruh negeri, potensi mereka sebagai agen perubahan perilaku lingkungan sangat besar. Santri dapat menjadi motor literasi kebersihan di masyarakat, mengajarkan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari syukur kepada Sang Pencipta. Namun tantangan tetap nyata: kurikulum lingkungan belum mapan, fasilitas pengelolaan sampah terbatas, dan perilaku masyarakat masih terbiasa dengan pola buang sampah sembarangan.

Di sinilah pesantren memiliki peran strategis. Mereka bisa membangun kesadaran kolektif, menanamkan nilai kebersihan sebagai ibadah, dan mengubah perilaku sejak dini. Tadabbur Alam menjadi simbol bahwa pendidikan berbasis agama dapat bersinergi dengan isu lingkungan, menghadirkan solusi nyata di tengah darurat sampah nasional. Momentum ini harus dijaga agar tidak berhenti sebagai seremonial, melainkan menjadi gerakan berkelanjutan.

Oleh karena itu, bagi Amrin, Tadabbur Alam ini pun meninggalkan kesan mendalam. Apalagi selama kegiatan tersebut interaksi antarpesantren membuka ruang pertukaran gagasan, memperkuat kesadaran bahwa kebersihan lingkungan adalah isu bersama yang harus ditangani kolektif.

“Bukan hanya satu pesantren saja yang disatukan atau diundang. Tapi ini skala Jawa Barat. Jadi kita saling interaksi, dan bisa sharing seputar pengelolaan dan manajemen tiap pesantren,” ujarnya.

Alternatif kebutuhan pengelolaan sampah atau produk serupa:

  1. https://s.shopee.co.id/806SVdXP0R
  2. https://s.shopee.co.id/9pY6h9nScx
  3. https://s.shopee.co.id/W0RZttzzt
  4. https://s.shopee.co.id/6AeoKNSgaW
  5. https://s.shopee.co.id/4q9Qjzo9oa
Reporter Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Editor Eneng Reni Nuraisyah Jamil