Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

4 menit baca
Rifki Ahmad Ma'ruf
Ditulis oleh Rifki Ahmad Ma'ruf diterbitkan
Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)

Disfungsi zebra cross di depan Kampus UIN Sunan Gunung Djati, Jalan A.H. Nasution, secara nyata mempertaruhkan nyawa ribuan warga dan mahasiswa setiap harinya. Sebagai jalur arteri primer tingkat nasional yang menghubungkan Kota Bandung dengan kawasan timur hingga Cileunyi, ruas jalan ini memiliki beban lalu lintas yang sangat berat.

Setiap pagi dan sore hari, arus kendaraan yang didominasi oleh sepeda motor berkecepatan tinggi, angkutan umum, hingga kendaraan berat melaju nyaris tanpa jeda. Di atas kertas, marka zebra cross tersebut semestinya menjadi zona steril dan hak mutlak bagi pejalan kaki. Namun pada praktiknya, garis-garis putih yang kerap memudar itu selalu diabaikan oleh para pengendara.

Mereka tetap melaju kencang, meski aba-aba dan peluit dari petugas keamanan kampus sudah berkali-kali berkumandang. Kondisi ini memaksa mahasiswa beradu cepat dengan deru mesin, berlari di sela-sela kendaraan hanya untuk bisa masuk ke area gerbang kampus dengan selamat.

Realitas mengerikan di lapangan ini menegaskan bahwa perencanaan infrastruktur di Jalan A.H. Nasution masih sangat car-centric—hanya memprioritaskan kelancaran laju kendaraan roda dua dan empat. Pembangunan aspal terus diperlebar dan diperhalus demi memanjakan mesin otomotif, sementara ruang aman bagi pejalan kaki sama sekali tidak diberi porsi yang adil. Akibatnya, mahasiswa dan warga pejalan kaki dianaktirikan; mereka diposisikan seolah-olah sebagai pihak "pengganggu" lalu lintas, padahal mereka adalah pengguna jalan yang memiliki hak sama sahnya di mata undang-undang.

Ironisnya, di tengah kondisi tata kota yang meminggirkan manusia ini, sikap institusi tempat puluhan ribu mahasiswa bernaung justru terkesan pasif. Timbul pertanyaan besar: sampai kapan birokrasi UIN Bandung tutup mata atas keresahan ini? Membiarkan mahasiswa menyeberang di tengah ancaman kecelakaan tanpa ada desakan agresif untuk pengadaan infrastruktur keselamatan yang memadai sama halnya dengan bentuk pembiaran institusional.

Di tengah ketidakpastian ini, birokrasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung sebenarnya tidak perlu menoleh jauh untuk menemukan teladan.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta baru saja menunjukkan bahwa komitmen institusi dapat mengubah gagasan menjadi kenyataan. Ketika menghadapi ancaman kemacetan dan risiko kecelakaan serupa di Jalan Ir. H. Juanda, Ciputat, rektorat UIN Jakarta tidak berdiam diri. Mereka secara aktif mendekat ke para pemangku kepentingan dengan menjalin kerja sama strategis bersama Pemerintah Kota Tangerang Selatan dan pihak swasta untuk menyepakati pembangunan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di depan gerbang kampus mereka pada pertengahan 2026.

Langkah progresif ini menegaskan bahwa keselamatan nyawa mahasiswa harus ditempatkan sebagai prioritas utama, bukan sekadar pelengkap tata ruang. Kesepakatan tersebut semestinya menjadi teguran keras sekaligus rujukan konkret bagi rektorat UIN Bandung.

Hal ini membuktikan bahwa pengadaan infrastruktur keselamatan lalu lintas tidak bisa jika hanya mengandalkan atau menunggu turunnya program dari pemerintah daerah, melainkan sangat memerlukan intervensi yang tegas, lobi-lobi yang cerdas, dan sikap proaktif dari lingkungan internal kampus sebagai pelindung civitas akademikanya.

Jika desakan ini berhasil, pembangunan JPO tentu menjadi jawaban yang paling realistis. Namun, penyediaannya harus dilandasi dengan perencanaan tata ruang yang matang, bukan sekadar proyek asal bangun demi menggugurkan kewajiban. Pengalaman di berbagai titik kota menunjukkan bahwa fasilitas JPO konvensional sering kali gagal berfungsi maksimal dan berujung menjadi monumen usang. Alasannya klise: desain yang tidak manusiawi.

Konstruksi tangga yang terlalu curam, lantai yang licin saat diguyur hujan, minimnya kanopi pelindung, hingga penerangan yang gelap di malam hari justru menciptakan kerawanan baru dan meminggirkan kelompok rentan. Akibatnya, pejalan kaki tetap memilih bertaruh nyawa menyeberang di jalan raya karena JPO yang ada terlalu menguras tenaga. Oleh karena itu, wacana JPO UIN Bandung wajib mengadopsi standar desain yang inklusif dan universal.

Infrastruktur ini mutlak harus menggunakan ramp (bidang miring) yang landai, bukan sekadar anak tangga. Desain seperti ini sangat esensial agar fasilitas tersebut benar-benar ramah bagi penyandang disabilitas, lansia warga sekitar, hingga mahasiswa yang harus membawa beban berat setiap harinya.

Pada akhirnya, terwujudnya JPO inklusif di depan Kampus UIN Bandung, Jalan A.H. Nasution, sangat bergantung pada seberapa kuat komitmen dan kolaborasi nyata yang bisa dibangun antar-instansi. Langkah ini menuntut sinergi tanpa ego sektoral antara birokrasi kampus, Pemerintah Kota Bandung, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, hingga Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) selaku pemegang otoritas jalan arteri.

Pertanyaan besarnya kini kembali pada niat para pengambil kebijakan: apakah proyeksi JPO ini akan sungguh-sungguh menjadi realisasi yang menyelamatkan nyawa, atau akan terus dibiarkan membusuk sebagai sekadar angan-angan birokrasi? Keselamatan nyawa ribuan mahasiswa dan warga tentu tidak boleh selamanya digantungkan pada nasib dan untung-untungan di atas aspal jalan raya.

Sebab, lingkungan akademik semestinya hadir sebagai jembatan yang menyalurkan keresahan publik kepada pihak berwenang, bukan sekadar menjelma menjadi ruang rapat eksklusif yang hanya mementingkan formalitas kelompok semata. Sudah saatnya birokrasi UIN Bandung bergerak merebut hak atas keselamatan ruang kotanya sendiri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)