Piring itu datang bersama sebuah anyaman besar yang melengkung di sisinya, seperti topi petani yang sengaja dipasang untuk memayungi makanan. Di atasnya, daun pisang hijau terhampar rapi, dan di tengahnya sebungkus nasi timbel berbalut daun menunggu untuk dibuka.
Saya, yang awalnya hanya berniat makan siang, mendadak sibuk memandangi hidangan itu lebih lama dari seharusnya.
Siang itu, Jumat (2/10/2026), saya mampir ke Warung Kopi Gunung, sebuah kafe di kawasan Ciwidey. Saya memesan nasi timbel lengkap. Di meja sebelah, hidangan lain juga tersaji dengan cara serupa: wadah anyaman berwarna cokelat muda dengan jalinan kuning di tepinya, bertumpu di atas piring keramik bermotif.
Isi piring saya cukup ramai. Ada nasi timbel yang dibungkus daun pisang, ayam goreng dengan taburan serundeng gurih, tahu kuning dan tempe goreng, serta sambal merah pekat dalam wadah kecil. Di sisi lain, terdapat lalapan segar berupa kacang panjang, tomat, timun, kol, dan selada.
Di antara semuanya, ikan asin berwarna kemerahan dan sepotong rempeyek kacang bersandar di dekat anyaman.
Penyajian seperti ini jelas berbeda dari kafe yang biasa saya kunjungi, yang umumnya memakai piring polos atau papan kayu. Karena penasaran, saya bertanya kepada Dewi, pelayan yang mengantar pesanan, kenapa makanannya disajikan dengan anyaman seperti itu.
“Anyaman ini keunikan dari kafe kami, Kak,” jawab Dewi. “Supaya makanan yang disajikan terasa budaya Sundanya, karena Sunda identik dengan anyaman bambu seperti ini.”
Jawaban itu masuk akal. Di tanah Sunda, anyaman bambu memang akrab dalam keseharian, dari bakul nasi sampai tampah. Dengan menyajikan nasi timbel di atasnya, suasana makan terasa lebih dekat dengan tradisi, bukan sekadar mengisi perut.
Setelah membuka bungkus daun pisang, aroma nasi hangat langsung tercium. Saya mulai dari ikan asinnya.
Ikan itu tidak disajikan polos. Setelah digoreng, ikan dimasak lagi dengan bumbu sambal balado, sehingga rasanya perpaduan antara asin dan sedikit pedas. Teksturnya renyah, dan bumbunya meresap sampai ke sela-sela dagingnya. Dimakan bersama nasi timbel yang hangat, rasanya pas sekali.
Dewi menambahkan satu hal lagi. “Kalau krupuknya, kami pakai rempeyek kacang, bukan kerupuk biasa, supaya lebih unik dan lebih renyah,” ujarnya.
Saya mencobanya. Rempeyek itu tipis, garing, dan penuh kacang. Bunyinya renyah setiap kali digigit, jauh lebih berkarakter dibandingkan kerupuk putih yang biasa menemani nasi. Kehadirannya membuat piring terasa lebih lengkap.
Menjelang suapan terakhir, saya baru sadar bahwa yang membuat makan siang itu berkesan bukan hanya rasanya. Wadah anyaman, daun pisang, ikan asin balado, dan rempeyek kacang menyatu menjadi satu pengalaman yang terasa Sunda dari awal sampai akhir. Warung Kopi Gunung menunjukkan bahwa menyajikan makanan tradisional tidak harus rumit. Cukup memilih wadah dan pelengkap yang tepat, lalu biarkan budaya ikut duduk di meja makan.