AYOBANDUNG.ID -- Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 menjadi momentum penting bagi Jawa Barat untuk menegaskan arah kebijakan ekonomi daerah. Diselenggarakan di Bandung, acara ini merupakan bagian dari agenda nasional yang digelar serentak di Grha Bhasvara Icchana Jakarta dan 46 kantor perwakilan BI di seluruh Indonesia.
Dengan tema “Tangguh dan Mandiri: Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan”, PTBI 2025 menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan global dan domestik.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Muslimin Anwar, menyampaikan bahwa ekonomi Jabar berada dalam kondisi solid. Pertumbuhan mencapai 5,20% (yoy) pada Triwulan III 2025, lebih tinggi dibandingkan capaian nasional sebesar 5,04%.
Inflasi Jawa Barat juga terkendali di level 2,63% (yoy), menunjukkan stabilitas harga yang mendukung daya beli masyarakat. Kondisi ini menjadi modal penting untuk menghadapi tahun 2026.
Tak hanya itu, Muslimin menambahkan bahwa capaian pertumbuhan Jabar di kuartal III sebesar 5,2% menjadi landasan optimisme. Meski sedikit melambat dibandingkan kuartal sebelumnya, momentum menuju kisaran 4,7%–5,5% tetap terbuka.
Kata kunci yang ditekankan pun adalah sinergi. Menurut Muslimin, kolaborasi antara pemerintah daerah, perbankan, dan pelaku usaha menjadi faktor penentu agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi, tetapi juga berdaya tahan.
Momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) disebut sebagai peluang emas. Muslimin menyoroti tiga sektor yang dapat diakselerasi: pariwisata, otomotif, dan properti.
Pada sektor pariwisata, ia mengusulkan adanya libur bersama khusus Jawa Barat yang dibarengi kampanye Bangga Berwisata di Jawa Barat dan Bangga Buatan Jawa Barat. Sektor otomotif juga menjadi perhatian. Dengan banyaknya produsen mobil di Jawa Barat, diskon akhir tahun bisa menjadi strategi efektif.
“Instead of discount-nya di tahun depan, kenapa nggak dibawa sekarang,” tegas Muslimin.
Ia menekankan pentingnya stimulus daerah, seperti pemutihan pajak kendaraan bermotor, yang bila dipadukan dengan diskon produsen dan dukungan perbankan berupa suku bunga kredit khusus, akan mempercepat pertumbuhan sektor otomotif.
Sektor properti, khususnya untuk kalangan menengah atas, juga dinilai potensial. Diskon akhir tahun, insentif pajak BPATB, serta dukungan perbankan melalui penurunan suku bunga KPR dapat menjadi sweetener yang mendorong pembelian properti bernilai tinggi.
Muslimin mengingatkan bahwa program DP 0% dan kebijakan Loan to Value (LTV) sebelumnya terbukti sukses. Jika diterapkan kembali, sektor properti bisa menjadi motor pertumbuhan baru. Ia juga menyinggung inovasi perbankan seperti travel now pay later atau buy now pay later dengan bunga kompetitif. Skema ini diyakini mampu meningkatkan konsumsi masyarakat.
Optimisme Muslimin terlihat jelas. Ia menyebut bahwa indikator kepercayaan konsumen (IKK), indeks penjualan ritel (IPR), dan survei kegiatan dunia usaha (SKDU) menunjukkan tren positif. Meski demikian, target 5,5% disebut sebagai tantangan besar. Untuk mencapainya, konsumsi rumah tangga harus tumbuh 6,18% dan ekspor sekitar 8,9%.
“Challenging kesananya tapi room untuk itu ada,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti pentingnya pencatatan ekspor yang valid. Dari 298 eksportir di Jawa Barat, banyak yang SKA-nya tercatat di luar provinsi. Jika pencatatan bisa dilakukan di Jabar, maka kontribusi industri pengolahan akan meningkat signifikan.
Muslimin menegaskan bahwa pencatatan ekspor yang lebih akurat akan mendongkrak nilai tambah industri pengolahan. Hal ini memperkuat kinerja ekspor sekaligus memperluas manfaat bagi perekonomian daerah.
Dengan landasan kebijakan yang disiapkan sejak akhir 2025, Muslimin optimistis Jawa Barat mampu mencapai pertumbuhan 4,9%–5,7% pada 2026.
"InsyaAllah di atas 5 karena C to C kemarin kan udah 5,14 persen, kita berharap di triwulan 4 tumbuh, tidak kontraksi. Akan tetapi ke 5,5 persen itu adalah challenging, karena kita cuma punya satu bulan," ujarnya.
Menanggapi tantangan struktural, Asisten Daerah Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Jawa Barat, Sumasna, menegaskan komitmen Pemprov Jabar untuk mempercepat integrasi data dan layanan publik. Ia juga menekankan pentingnya penguatan hilirisasi berbasis keunggulan wilayah, pengembangan ekonomi syariah, serta percepatan agenda green economy.
“Tadi disampaikan bahwa LPE kita memang di posisi terakhir 5,2 persen, itu agak turun dikit dibanding dengan triwulan sebelumnya 5,23 persen tetapi dari posisi nasional kita lebih tinggi dibanding rata-rata,” ujar Sumasna.
Menurutnya, tantangan terbesar ada pada industri pengolahan. Kontribusinya terhadap LPE masih di bawah rata-rata, padahal sektor ini menjadi tulang punggung ekonomi Jawa Barat.
Sumasna menekankan perlunya strategi untuk meningkatkan kontribusi industri pengolahan agar mampu menopang pertumbuhan lebih tinggi. Ia juga menyoroti sektor akomodasi dan makanan-minuman (mamin) yang menunjukkan kinerja cukup tinggi. Hal ini terkait erat dengan dukungan terhadap industri pariwisata.
Dengan agenda mendorong pariwisata di akhir tahun, sektor akomodasi dan mamin diyakini akan semakin berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Tantangan mencapai target 5,5% disebutnya membutuhkan langkah konkret. Salah satunya melalui roadshow ke kabupaten/kota untuk mendorong akses KUR perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Jika transaksi perumahan meningkat di akhir tahun, maka kontribusinya terhadap LPE akan signifikan. Pemprov Jabar juga berkomitmen mendorong konsumen otomotif melalui kebijakan daerah.
“Nah intisari-intisari ini hanya bisa ketika kita kolaborasi, jadi kami sangat berharap komponen yang representatifnya tadi hadir baik, itu perbankan akhir tahun kalau bisa ada beberapa yang fasilitasnya bisa jauh lebih menarik,” tegas Sumasna.
Ia juga menekankan peran UMKM sebagai tulang punggung ekonomi lokal. UMKM dinilai lebih tangguh menghadapi gejolak global dan memiliki kontribusi besar terhadap serapan tenaga kerja di Jawa Barat.
"UMKM termasuk yang komposisi, kontribusi serapan kerjanya termasuk yang paling tinggi di Jawa Barat sehingga kalau ini kita bisa dorong, kita kembangkan maka ekonomi Jawa Barat bisa kita kawal terus," ujar Sumasna.
Alternatif produk UMKM Jawa Barat atau kebutuhan serupa: