AYOBANDUNG.ID -- Industri travel rute Bandung–Jakarta tengah memasuki fase yang semakin kompetitif. Mobilitas masyarakat di jalur ini tidak pernah surut, bahkan meningkat seiring membaiknya kondisi ekonomi dan bertambahnya aktivitas bisnis, pendidikan, hingga rekreasi.
Vice CEO PT Maya Gapura Intan, Ichsan T Erizananda, menegaskan bahwa pasar ini masih terbuka lebar bagi pemain baru maupun lama. “Melihat industri travel di Tanah Air sebenarnya opportunity ini sangat banyak, masih sangat luas sekali,” ujar Ichsan.
Di lapangan, persaingan antar penyedia travel semakin ketat. Banyak operator lama bertahan dengan model konvensional, sementara pemain baru mencoba menawarkan diferensiasi. TRAVL, unit bisnis PT Maya Gapura Intan (MGI), menjadi salah satu contoh bagaimana strategi baru diterapkan untuk menghadirkan layanan shuttle dengan konsep “friendly premium” yang menekankan kenyamanan tanpa meninggalkan keterjangkauan.
“Kita memang menyebutnya friendly premium, tapi memang kita dengan nilai yang kita kasih itu, kita mengikuti dengan nilai. Kita bukan yang paling murah, tapi value-nya itu yang paling terasa bagi traveler,” kata Ichsan.
Strategi ini lahir dari riset pasar yang mendalam. Ichsan menegaskan bahwa pihaknya melakukan FGD dengan berbagai kelompok, mulai dari pelajar hingga profesional muda. Hasil riset ini menunjukkan bahwa segmen pelajar pun menginginkan layanan yang lebih nyaman, bukan sekadar murah.
“Suprisingly kayak pelajar atau mahasiswa justru banyak yang meminta itu. Jadi kita pun juga kaget. Pada saat kita FGD itu ternyata kebutuhannya belum ada pilihannya. Makanya kita menciptakan pilihan itu,” ungkapnya.

Kondisi riil di lapangan menunjukkan bahwa penumpang travel tidak lagi sekadar mencari transportasi cepat. Mereka menginginkan pengalaman perjalanan yang minim stres, dengan kepastian jadwal dan layanan yang konsisten.
“Untuk tahun depan perjalanan juga pasti akan semakin frequent. Tapi yang paling penting adalah kita fokus terhadap pelayanan kita, supaya ketika opportunity itu datang, kita bisa menangkap opportunity itu,” jelas Ichsan.
Data Kementerian Perhubungan mencatat bahwa mobilitas di koridor Jakarta–Bandung menyumbang kontribusi signifikan terhadap PDRB regional. Permintaan perjalanan antarkota di jalur ini diperkirakan terus meningkat hingga 2026.
“Untuk industrinya sendiri, kami sangat yakin. Kalau bentuk dari industri transportasi ini yang sudah kami rasakan di 20 tahun yang lalu, sampai sekarang memang terus meningkat,” kata Ichsan, menegaskan tren jangka panjang yang positif.
Di sisi lain, operator travel menghadapi tantangan klasik yakni bagaimana menjaga kualitas layanan di tengah tekanan harga. Banyak pemain yang terjebak dalam perang tarif, sehingga mengorbankan kenyamanan.
TRAVL, kata Ichsan, mencoba keluar dari jebakan itu dengan menempatkan harga di segmen menengah, Rp175.000–Rp190.000, sambil menekankan nilai tambah berupa kenyamanan premium. “Permintaannya sangat besar. Kita banyak melakukan FGD, dan saya pribadi pun merasakan shuttle sebagai frequent traveler,” ujar Ichsan.
Strategi ini juga memperhitungkan tren mobilitas masa depan. Dengan semakin frequent-nya perjalanan antarkota, operator yang mampu menjaga konsistensi pelayanan akan lebih mudah menangkap peluang. “Tapi yang paling penting tadi itu, bagaimana caranya kita menjaga pelayanan kita, supaya kita bisa menangkap opportunity itu,” tegas Ichsan.

Kondisi riil di lapangan juga menunjukkan adanya pergeseran perilaku konsumen. Penumpang kini lebih kritis, membandingkan layanan antaroperator, dan menuntut transparansi. TRAVL merespons dengan komitmen memberikan kompensasi berupa voucher jika terjadi keterlambatan atau pembatalan. Transparansi ini menjadi nilai tambah yang jarang ditawarkan oleh operator konvensional.
Selain itu, digitalisasi menjadi faktor penentu. Banyak operator travel masih bergantung pada sistem manual, sementara konsumen semakin terbiasa dengan aplikasi mobile. TRAVL tengah menjajaki pengembangan aplikasi pemesanan, sebuah langkah yang sejalan dengan tren digitalisasi transportasi.
“Makanya kita tidak buru-buru launching, karena kita benar-benar pengen tahu sebenarnya masyarakat ini yang masih diinginkan itu apa sih?” kata Ichsan, menekankan pentingnya riset sebelum ekspansi digital.
Namun, strategi ekspansi tidak dilakukan terburu-buru. TRAVL memilih fokus pada rute Jakarta–Bandung, memastikan layanan berjalan mulus sebelum memperluas ke kota lain.
“Saat ini memang kita masih fokus terhadap 3 rute ini, yakni Blora–Dukuh Atas, Fatmawati, dan Bintaro. Sementara di Bandung, layanan tersedia di area Pasteur (D’Botanica). Tapi tentunya setelah kita betul-betul memastikan yang sekarang berjalan dengan smooth, kita sudah menemukan ekspektasi itu, baru kita akan mulai untuk memikirkan kota lainnya,” jelas Ichsan.
Di lapangan, armada travel juga menjadi faktor pembeda. TRAVL menggunakan Toyota HiAce Premio dengan konfigurasi delapan kursi, memberikan ruang kaki lega dan kenyamanan ekstra. Perawatan rutin bulanan dan pemeriksaan harian menjadi bagian dari strategi menjaga standar layanan.
“Waktu tempuh variasi dari mulai 3 jam sampai mulai 4 jam dan kapasitasnya 8 kursi. Penjemputn setiap rute itu bervariasi. Ada yang setiap jam, ada yang per 2 jam. Minimal untuk berangkat, satu orang sudah pasti berangkat,” kata Ichsan.

Konsep TRAVL Point sebagai lounge penjemputan juga memperlihatkan bagaimana operator mencoba menghadirkan ekosistem perjalanan yang lebih terintegrasi. Penumpang tidak lagi menunggu di pinggir jalan, melainkan di ruang nyaman yang menyerupai ruang tunggu premium.
Kendati demikian, ondisi industri travel secara keseluruhan masih menghadapi tantangan besar. Persaingan dengan kereta cepat, bus, dan kendaraan pribadi menuntut operator untuk terus berinovasi. Namun, peluang tetap terbuka lebar, terutama bagi mereka yang mampu membaca kebutuhan riil penumpang. Ichsan menegaskan bahwa strategi berbasis riset pasar menjadi kunci.
“Nah, proses ini yang kita tangkap, sehingga kita menciptakan namanya friendly premium, dengan harga yang di tengah, kita masih bisa memberikan kenyamanan seperti layaknya di level premium yang paling tinggi,” ujarnya.
Di lapangan, waktu tempuh travel bervariasi antara tiga hingga empat jam, tergantung kondisi lalu lintas. Fleksibilitas jadwal keberangkatan setiap jam atau dua jam sekali menjadi nilai tambah yang tidak dimiliki moda transportasi besar.
TRAVL juga menyediakan layanan charter untuk grup, sebuah strategi diversifikasi yang memungkinkan penetrasi ke segmen korporasi dan komunitas. Dengan demikian, operator tidak hanya bergantung pada penumpang reguler.
Kondisi riil menunjukkan bahwa pasar travel Bandung–Jakarta masih sangat luas. Dengan strategi yang tepat, operator bisa menemukan ceruk pasar yang belum terlayani. TRAVL hanya salah satu contoh bagaimana pendekatan berbasis kenyamanan dan riset pasar bisa menjadi pembeda.
Ichsan pun menilai, industri travel di jalur ini akan terus berkembang, tetapi hanya mereka yang mampu menjaga kualitas pelayanan yang akan bertahan. “Alhamdulillah untuk akhir tahun, kita masih fokus untuk layanan kita sekarang, untuk benar-benar memenuhi standar layanan yang maksimal,” ujar Ichsan.
Alternatif kebutuhan traveling atau produk serupa: