Ayo Biz

Gen Z dari Scrolling ke Running, Gaya Hidup Baru yang Menggerakkan Pasar Kebugaran

Oleh: Eneng Reni Nuraisyah Jamil Selasa 13 Jan 2026, 16:06 WIB
Ilustrasi. Gen Z Indonesia mulai menjadikan olahraga dan aktivitas fisik sebagai bagian dari keseharian, bahkan sebagai identitas sosial baru. (Sumber: Freepik)

AYOBANDUNG.ID -- Generasi Z di Indonesia kini sedang menata ulang gaya hidup mereka dengan cara yang jauh lebih aktif dan berorientasi pada pengalaman nyata. Jika beberapa tahun lalu mereka identik dengan layar ponsel, scrolling media sosial, dan interaksi digital, kini tanda-tanda pergeseran besar mulai terlihat.

Laporan Strava 2025, ditambah data BPS dan Kemenpora, memperlihatkan bahwa Gen Z Indonesia mulai menjadikan olahraga dan aktivitas fisik sebagai bagian dari keseharian, bahkan sebagai identitas sosial baru. Fenomena ini terasa riil di lapangan.

Survei Populix 2025 pun menunjukkan hampir separuh Gen Z Indonesia lebih memilih berolahraga di rumah atau ruang terbuka sekitar komplek dibanding di gym. Pilihan ini mencerminkan kebutuhan akan fleksibilitas, biaya yang lebih terjangkau, sekaligus keinginan untuk tetap terhubung dengan komunitas lokal.

Data Kemenpora 2025 juga mencatat peningkatan partisipasi olahraga rekreasi di kalangan anak muda sebesar 18 persen sepanjang tahun, menegaskan bahwa olahraga bukan lagi rutinitas kesehatan semata, melainkan medium untuk membangun koneksi sosial.

CEO Strava, Michael Martin menungkapkan, lebih dari setengah Gen Z berencana untuk lebih sering menggunakan Strava pada 2026, sementara sebagian besar dari mereka menyatakan bahwa penggunaan Instagram dan TikTok akan tetap sama atau justru berkurang.

"Sebagai kelompok dengan pertumbuhan tercepat di Strava, kami melihat Gen Z mencari pengalaman nyata, bukan waktu layar yang lebih panjang," ujar Michael.

Di Indonesia misalnya, olahraga lari menjadi simbol gaya hidup baru. Gen Z tercatat 75 persen lebih sering menjadikan race sebagai motivasi dibanding Gen X. Data Runna menunjukkan mayoritas pelari masih berada di level pemula dan menengah, namun 86 persen di antaranya berhasil mencetak rekor pribadi sepanjang 2025.

Di sisi lain, latihan beban juga semakin digemari, terutama oleh perempuan. Strava mencatat perempuan 21 persen lebih aktif merekam latihan beban dibanding laki-laki, menandai pergeseran norma bahwa kebugaran bukan lagi domain maskulin semata.

Ragam aktivitas fisik semakin meluas. Lebih dari separuh pengguna Strava mencatat lebih dari satu jenis olahraga, dengan jalan kaki menempati posisi kedua. Diversifikasi ini menunjukkan bahwa Gen Z Indonesia tidak lagi terpaku pada satu bentuk aktivitas, melainkan mencari variasi yang sesuai dengan kebutuhan fisik dan mental mereka.

Namun, memulai olahraga baru tetap menjadi tantangan. Gen Z dua kali lebih berpeluang merasa canggung saat mencoba olahraga baru seperti hiking di jalur pegunungan atau olahraga air di destinasi wisata domestik. Hal ini menegaskan perlunya edukasi dan fasilitas inklusif yang bisa membantu mereka melewati fase adaptasi.

Di sisi lain, meski 65 persen Gen Z mengaku terdampak inflasi, mereka tetap meningkatkan pengeluaran untuk kebugaran. Sebanyak 30 persen berencana menambah anggaran kebugaran pada 2026, sementara perangkat wearable menjadi investasi terbesar.

Data Kemenparekraf 2025 menunjukkan sektor ekonomi kreatif berbasis kebugaran tumbuh signifikan, terutama di kategori wellness tourism dan produk olahraga. Sepatu lari, smartwatch, hingga aplikasi kebugaran menjadi komoditas yang paling banyak dicari. Fenomena ini membuka peluang pasar yang besar, namun sekaligus menghadirkan tantangan aksesibilitas bagi kelompok dengan daya beli rendah.

Prioritas Gen Z terhadap kebugaran bahkan menggeser aspek sosial lain. Sebanyak 64 persen lebih memilih membeli perlengkapan olahraga dibanding mengalokasikan uang untuk berkencan. Bahkan, 46 persen responden menganggap olahraga sebagai aktivitas ideal untuk kencan pertama.

Kondisi ini menggambarkan bagaimana olahraga bukan hanya kebutuhan fisik, tetapi juga bagian dari interaksi sosial dan romantis. Klub olahraga pun tumbuh pesat. Jumlah klub di Strava naik hampir empat kali lipat pada 2025, mencapai satu juta klub, dengan hiking dan lari sebagai yang paling populer.

Perjalanan aktif juga menjadi bagian dari gaya hidup Gen Z Indonesia. Mereka lebih memilih liburan domestik dibanding internasional, dengan 22 persen lebih banyak memilih destinasi dekat rumah. Aktivitas populer termasuk hiking di jalur Nusantara, olahraga musim dingin di kawasan pegunungan, dan olahraga air di destinasi pantai.

Bagi Gen Z, olahraga saat liburan bukanlah pilihan tambahan, melainkan bagian dari perjalanan itu sendiri. Data Kemenparekraf menunjukkan tren wisata olahraga domestik meningkat, terutama di destinasi pegunungan dan pantai, memperlihatkan bagaimana olahraga dan pariwisata saling bertaut dalam membentuk pengalaman generasi muda.

Teknologi turut memperkuat tren ini. Strava dan Runna memanfaatkan kecerdasan buatan untuk rekomendasi rute dan analisis performa. Sebanyak 46 persen responden menggunakan AI sebagai pelatih cerdas, dengan Gen Z paling aktif memanfaatkannya.

Namun, meski teknologi membantu, mereka tetap menekankan pentingnya mengenali tubuh sendiri. Smartphone masih menjadi perangkat utama untuk merekam aktivitas, dengan 72 persen pengguna mencatat latihan melalui aplikasi Strava.

"Gen Z saat ini sedang membentuk ulang tatanan hidup, dan kami berkomitmen membangun platform untuk menjaga para pengguna tetap terhubung dan bergerak bersama di masa yang akan datang," ujar Michael.

Fenomena ini membuka peluang besar bagi pasar kebugaran Indonesia. Dengan populasi Gen Z yang masif, tren wellness tourism, dan meningkatnya konsumsi perangkat wearable, industri kebugaran berpotensi menjadi salah satu motor ekonomi kreatif. Namun, tantangan tetap ada. Kesenjangan akses antarwilayah, keterjangkauan fasilitas, dan risiko komersialisasi berlebihan bisa menghambat inklusivitas.

Kemenpora menekankan pentingnya pembangunan ekosistem olahraga yang merata, agar tren kebugaran tidak hanya menjadi konsumsi kelas menengah perkotaan, tetapi juga menjangkau lapisan masyarakat lain. Pasalnya, Gen Z Indonesia sedang membentuk ulang tatanan hidup mereka. Dari layar ponsel ke lintasan lari, dari scrolling pasif ke interaksi nyata, mereka menunjukkan bahwa olahraga bukan sekadar tren sesaat, melainkan transformasi gaya hidup.

Alternatif kebutuhan produk kebugaran atau gaya hidup serupa:

  1. https://s.shopee.co.id/6Ky9imdtZm
  2. https://s.shopee.co.id/40aEwXm30h
  3. https://s.shopee.co.id/9zrS5cjiZu
  4. https://s.shopee.co.id/6VHZvHv6FM
  5. https://s.shopee.co.id/806NhyHKH1
Reporter Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Editor Eneng Reni Nuraisyah Jamil