AYOBANDUNG.ID -- Perubahan perilaku konsumen Indonesia di 2025 semakin nyata. Konsumen kini tidak lagi sekadar membeli produk untuk memenuhi kebutuhan dasar, melainkan mencari pengalaman yang otentik, relevan, dan penuh rasa. Fenomena ini paling jelas terlihat di kalangan generasi muda, terutama Gen Z, yang menjadikan konsumsi sebagai bagian dari identitas dan gaya hidup.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi, menyumbang lebih dari 50 persen terhadap PDB sepanjang 2025. Sementara itu, Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) mencatat industri makanan-minuman tumbuh sekitar 6,49 persen pada 2025, dengan subsektor kuliner menjadi penggerak utama. Angka ini menegaskan bahwa konsumen Indonesia semakin cerdas dan kritis dalam menentukan pilihan.
Generasi Z, yang lahir di era digital, tumbuh dengan akses informasi tanpa batas. Mereka terbiasa membandingkan produk, membaca ulasan, dan mencari rekomendasi di media sosial sebelum membeli. Survei QASA Insights 2025 menunjukkan lebih dari 45 persen Gen Z menjadikan makanan dan minuman sebagai kategori belanja utama, dengan preferensi pada produk yang menawarkan pengalaman otentik dan bisa dibagikan di media sosial.
Fenomena ini terlihat nyata di lapangan. Anak muda di Bandung misalnya, rela antre berjam-jam demi mencoba menu baru yang sedang tren. Mereka kemudian membagikan pengalaman tersebut di TikTok atau Instagram, menjadikan makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga konten yang bisa dikonsumsi secara digital. Kuliner viral, menu unik, hingga makanan dengan sentuhan budaya global menjadi daya tarik tersendiri.
Dalam konteks ini, Brand Manager Ramen YES, Yohana Adityarini menegaskan bahwa tren kuliner global sudah memiliki basis penggemar yang kuat di Indonesia. Alhasil, kondisi itu memperlihatkan bagaimana generasi muda menjadi motor utama dalam eksplorasi kuliner.
“Contohnya seperti Japanese ramen yang sudah punya basis fans yang kuat di Indonesia, terutama di kalangan pecinta kuliner urban, millennial, dan Gen Z yang aktif mencari pengalaman baru,” ungkap Yohana.
Selain itu, selektivitas konsumen juga tercermin dalam tuntutan terhadap kualitas dan nilai tambah. Produk yang halal, sehat, dan memiliki cerita kuat lebih mudah diterima. Konsumen kini tidak mudah terpengaruh iklan, melainkan mencari bukti nyata dari pengalaman orang lain. Mereka mengutamakan produk yang mampu menghadirkan rasa premium namun tetap terjangkau, serta mudah diakses melalui layanan pesan-antar atau distribusi ritel yang luas.
Yohana mengambarkan bahwa anak muda masa kini khususnya Gen Z tidak hanya membeli produk, tetapi juga mencari pengalaman yang bisa mereka bagikan. “Gen-Z suka menikmati moment, mencoba tren, dan merasakan sesuatu yang berbeda. Kondisi ini membuat konsumen kini lebih mengutamakan produk yang mampu memberikan nilai lebih, kualitas terpercaya, serta pengalaman yang memuaskan,” katanya.
Di sisi lain, potensi pasar jelas besar. UMKM kuliner, menurut data Kementerian Koperasi dan UKM, menyumbang lebih dari 61 persen terhadap PDB nasional dengan lebih dari 65 juta unit usaha. Kolaborasi antara UMKM dan korporasi besar dapat memperkuat ekosistem kuliner, menghadirkan produk yang tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga memberikan pengalaman yang bernilai.
Kondisi riil di kalangan Gen Z menunjukkan bahwa mereka menjadikan makanan sebagai bagian dari perjalanan hidup. Mereka mencari rasa otentik, pengalaman berbeda, dan sesuatu yang bisa mereka bagikan sebagai cerita. Ramen hanyalah salah satu contoh bagaimana kuliner global bisa diterima dengan cepat oleh generasi ini.
Tren ini juga mendorong munculnya inovasi di berbagai lini. Kopi lokal dikemas dengan storytelling tentang asal-usul biji, restoran cepat saji menghadirkan menu kolaborasi dengan budaya pop, dan UMKM kuliner memanfaatkan media sosial untuk membangun komunitas. Semua ini menunjukkan bahwa konsumen Indonesia semakin cerdas dan kritis, di mana kini mereka menuntut kualitas, transparansi, dan pengalaman yang bisa dibagikan.
Selektivitas konsumen juga berimplikasi pada pola belanja. Menurut survei Sigma Research 2025, lebih dari 70 persen konsumen urban melakukan riset online sebelum membeli produk F&B. Mereka membaca ulasan, membandingkan merek, dan menuntut transparansi. Hal ini membuat brand harus lebih hati-hati dalam membangun komunikasi, karena konsumen tidak lagi mudah percaya pada klaim sepihak.
Dalam analisisnya, Yohana menegaskan bahwa generasi muda kini mencari nilai lebih dalam setiap pembelian. Oleh karena itu, dengan perilaku konsumen yang semakin rasional dan selektif, industri kuliner Indonesia dituntut untuk terus beradaptasi. Hanya produk yang mampu menghadirkan kualitas, pengalaman, dan relevansi yang akan bertahan. Gen Z telah mengubah peta konsumsi, dan kini makanan bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan bagian dari identitas dan gaya hidup.
“Kalangan milenial dan Gen Z mencari nilai lebih dalam berbelanja, termasuk akses terhadap pengalaman yang terasa premium namun tetap terjangkau. Kebutuhan akan kenyamanan di rumah, hiburan sederhana, serta eksplorasi rasa global mendorong pertumbuhan produk-produk yang mampu menawarkan kualitas, pengalaman, dan value sekaligus,” ujarnya.
Alternatif produk kuliner kekinian atau serupa: