Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Prolog)

5 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)
Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)

AYOBANDUNG.ID – Sore itu, Minggu, 19 Juni 1994 adalah tanggal yang mungkin menjadi trauma pertamaku. Saat aku melihat kepulan asap tebal membumbung tinggi dari belakang rumah. Sore itu seperti sore biasanya, namun ketika saya baru saja selesai mandi sore sekitar pukul 4 sore, sebuah ledakan yang memekakan telinga terdengar sangat jelas.

Sebuah kompor minyak milik keluarga tetangga kami yang saat itu tengah berjualan soto meledak, dan api cepat sekali menjalar ke halaman belakang rumah. Kami sekeluarga panik, dan kami hanya membawa apa yang kami pakai saja, tak satu pun barang berharga terbawa. Saya, ibu dan adik dimasukkan oleh ayah ke dalam mobil kami dan bergegas menuju Jalan Suniaraja untuk dievakuasi.

Sedangkan saya tidak bisa menemukan kakek saya pada saat itu, ternyata kakek bersama kakaknya sedang berusaha menyelamatkan barang-barang peninggalan leluhur semampu mereka, dan terlihat ada beberapa pusaka keluarga yang terselamatkan, yang pada hari ini (5 Mei 2026) barang-barang pusaka keluarga besar itu berada di rumah saya. Entah apa jadinya apabila kakek dan kakaknya tidak nekat menerobos api yang telah menjalar ke rumah tua kami yang dibangun tahun 1880.

Rumah itu sangat istimewa, berbentuk panggung, dengan kayu-kayu jati dan bilik. Di sisi kanan dan kiri terdapat jendela dengan kaca-kaca patri yang indah khas rumah kalang. Apabila kita memasuki ruang tamu kita akan melihat sepasang kepala rusa di sisi kanan dan kiri rumah. Lalu tepat di tengahnya terdapat lukisan eyang sepuh kami H. Moch Ali.

Ia adalah wong kalang yang pernah membuka rumah gadai di Tegal Gendu pada tahun 1860-an. Tepat di bawah lukisan besar itu (ukuran 1 x 1 meter) terdapat kursi goyang jati dengan ukiran khas Jepara yang didapat dari kolega keluarga Pasar Baru Bandung yang berasal dari Lasem. Dan, saya menaruh boneka beruang besar saya di kursi goyang itu, dan saya beri nama boneka itu dengan nama “cici”.

Begitu rindunya saya pada suasana rumah tempat saya lahir dan dibesarkan di Gang Apandi, Braga. Namun pada sore itu semuanya harus dilalap api, dan kami pun memulai hidup baru kami di sebuah tempat yang selalu berkabut di utara Bandung yaitu Lembang.

Sebetulnya sempat ada beberapa opsi dari keluarga besar, antara membangun kembali rumah di Gang Apandi, atau pindah kembali ke Tegal Gendu, atau Cirebon, bahkan ke Sumedang, di mana keluarga almarhum ayah saya tinggal. Namun, entah mengapa pilihan jatuh pada Lembang, sebuah surga kecil yang membangunkan kembali saya dari pasca trauma kebakaran besar di Gang Apandi yang ternyata melahap hingga 2 RT di kawasan itu.

Sebetulnya saya sering ke Lembang, karena sejak 1981, almarhum ibu bekerja di Balai penelitian tanaman dan sayuran di Cikole, dan saya sering diajak ibu bekerja. Namun, kali ini lain, kami sekeluarga harus memulai hidup baru kami menjadi warga Lembang.

Saat itu saya masih bersekolah di SDN Merdeka 5 Bandung (kelas 4), hingga setiap harinya saya diantar ayah yang juga bekerja di sebuah kantor biro arsitek di Jalan Naripan. Rumah pertama kami di Lembang adalah di kawasan Gang Denser 2 (tidak jauh dari alun-alun Lembang). Saat itu Lembang masih sangat sepi, yang saya masih bisa ingat adalah apabila saya berkendara ke Sekolah yang berada di Jalan Merdeka, Kota Bandung, dari Lembang hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit saja, sebuah keadaan yang mustahil terjadi hari ini.

Rumah kedua kami di Lembang letaknya agak sedikit ke arah timur, yaitu di kawasan komplek militer (BTN Pusdik Ajen) tepatnya Jalan Dharma No 10 (sekarang menjadi pabrik kuliner terkenal di Lembang), dan saya masih sangat ingat ibu memasangkan gorden bermotif wayang (Dropadi), yang didapat dari Yogyakarta, karena kakak ibu memiliki toko suvenir di sana, dan mengirimi kami gorden indah tersebut (hadiah pindah rumah).

Barulah pada tahun 1997, kami menempati rumah terakhir kami di Lembang yang khusus didesain oleh ayah (karena ayah seorang arsitek). Rumah kami ini berada di kaki Gunung Putri, menghadap ke area patahan Lembang sektor timur, hingga pemandangan dari loteng begitu indahnya.

Lembang mewarnai kembali hari-hari masa kecil saya, yang biasanya dihabiskan di kawasan padat pusat Kota Bandung, dan harus pindah ke kawasan sepi yang selalu dibalut kabut tebal. Hari-hari kami berubah, kebiasaan kami pun berubah. Lembang membentuk saya dan saya merasa bahwa Lembang adalah rumah baru yang sangat nyaman.

Itu adalah sepenggal deskripsi saya tentang Lembang yang berlatarkan kisah pribadi saya, namun sekarang kondisinya kian memprihatinkan. Awal kepindahan saya ke Lembang di 1994, setiap minggu pagi saya dan adik diajak kakek melihat indahnya Situ Umar, melihat para warga yang lalu lalang menuju ladang, melihat para peternak mengantarkan susu hasil perahan mereka untuk disetorkan ke mobil pengepul koperasi susu. Bahkan kabut baru benar-benar hilang dari pandangan kami itu pukul 9 pagi. Sepanjang mata memandang hanyalah aktivitas pedesaan yang membuat hati tenang, tak salah para warga Eropa dahulu sering sekali titirah di kawasan Grand Hotel Lembang, memang setenang itulah Lembang.

Terkadang saya dan adik suka berkuda hingga menuju kawasan peternakan Baru Ajak, melihat aktivitas peternakan yang damai, yang terdengar hanyalah suara sapi-sapi yang saling bersautan. Kulinernya pun saat itu hanya jagung bakar dan ketan bakar yang sederhana dijual di pinggir-pinggir jalan menuju ke Tangkuban Parahu (hanya beberapa kios saja). Namun dengan keheningan dan kesederhanaan Lembang mampu menjadi dirinya sendiri, mampu menorehkan kesan yang tiada duanya.

Beberapa tulisan saya untuk bulan Mei ini akan saya kupas tentang Lembang dulu dan sekarang, yang berdasarkan pengalaman pribadi saya dan beberapa riset sejarah Lembang yang saya lakukan sejak 2009. Hingga akan terbayang betapa ruwetnya Lembang hari ini. Lembang tumbuh pesat meninggalkan jati dirinya terlalu jauh, hingga mungkin tulisan-tulisan saya di bulan ini akan membawa para pembaca ke dimensi Lembang masa kanak-kanak dan remaja saya, di mana kesederhanaan masih menjadi ciri khas Lembang.

Semoga bermanfaat. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Tentang Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.
Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 15:15

Studio 512 Bandung: Apresiasi D'Renced untuk Rekaman

Suara-suara menjadi gelombang, menjadi getaran yang mengirimkan isyarat kepada otak sampai berteriak.

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 12:24

Ayam Bekakak: Eksplorasi Gastronomi, Akar Historis, dan Filosofi Budaya Sunda

Dalam peta kuliner Tatar Pasundan, Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam) bukan sekadar sajian pemuas lapar.

Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam), hidangan ayam panggang utuh khas Tatar Pasundan. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: amrufm)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 11:19

Sesi Cukur Malam

Berkisah pembicaraan dua orang sobat, tukang cukur dan pelanggannya yang seorang dosen. Mereka menggosipkan mengenai kesialan-kesialan nasib karib mereka semasa SMA.

Sesi Cukur Malam. (Sumber: Chat GPT)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)