Soedirman dalam Tulisan Tempo

4 menit baca
Nahla Lisana
Ditulis oleh Nahla Lisana diterbitkan
Buku "Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir" (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nahla Lisana, 2026)
Buku "Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir" (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nahla Lisana, 2026)

Seringkali, Soedirman dikisahkan sebagai tokoh besar yang sangat berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Ia dinarasikan macam pahlawan tanpa noda, seakan Indonesia lahir dari hasil perjuangannya saja. Citra inilah yang dipinjam oleh Soeharto untuk kepentingannya pada masa Orde Baru.

Buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir merupakan salah satu bagian dari seri buku Tempo yang menampilkan riwayat hidup Sang Panglima Besar. Melalui tulisan ini, Tempo memanusiakan sosok Pak Dirman, pun menyajikan kisahnya dengan gaya bahasa yang smooth dan begitu nyaman untuk dibaca.

Disebutkan bahwa Pak Dirman lahir pada 24 Januari 1916 di Purbalingga. Namun, sejak usia 8 bulan beliau sudah diboyong keluarganya ke Cilacap. Mayoritas informasi mengatakan bahwa Tjokrosoenarjo dan Toeridowati adalah orang tua angkat dari Pak Dirman. Akan tetapi, berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh Tempo dengan Muhammad Teguh Bambang Tjahjadi, informasi tersebut disangkal olehnya. Anak Pak Dirman yang paling bungsu tersebut mengatakan bahwa ayahnya merupakan anak kandung dari Tjokrosoenarjo, seorang Asisten Wedana di Rembang. Informasi tersebut didapatkannya dari ibunya sendiri, Siti Alfiah.

Sebelum pernikahannya, Pak Dirman adalah seorang aktivis dalam Pemuda Muhammadiyah juga Hizbul Wathan, sebuah organisasi kepanduan Muhammadiyah. Beliau juga menjadi seorang guru di sana, hingga pernah menjabat sebagai kepala sekolah. Saat hendak bergabung dengan Peta, beliau sempat tidak yakin karena cacat fisik yang ia derita, tempurung lututnya bergeser akibat hobinya bermain bola, pun mata kirinya sedikit buram.

Buku ini juga menyebutkan mengenai strategi gerilya yang beliau lakukan, meskipun ia sempat kelimpungan menghadapi militer Belanda di bawah pimpinan Letnan Jenderal Simon Spoor dalam Operatie Kraai. Diceritakan pula perjalanannya berpindah-pindah tempat dengan tandu, juga namanya yang kerap berganti-ganti demi penyamaran. Sekalipun menderita penyakit dan tubuhnya tidak sekuat dulu, Pak Dirman tidak pernah luruh semangatnya ketika bergerilya. “Yang sakit itu Soedirman, tapi Panglima Besar tidak pernah sakit,” ujarnya. 

Banyak informasi tidak biasa mengenai sosok Pak Dirman dapat ditemukan di buku ini, salah satunya adalah bahwa Pak Dirman dipercaya mempunyai kemampuan sakti. Beliau pernah dimintai penduduk untuk menyembuhkan istri seorang lurah yang sudah terbaring payah. Ajaibnya, Pak Dirman sungguhan bisa membuat pasiennya itu terbangun lagi. Bahkan berdasarkan kisah dari seorang santri di Krapyak, gurunya bercerita padanya, bahwa Pak Dirman pernah menjatuhkan pesawat Belanda hanya dengan meniupkan bubuk merica saja.

Buku ini juga menceritakan perihal kekecewaan Pak Dirman kepada Soekarno dan Hatta. Kala itu, Soekarno sudah berjanji bila Belanda melakukan serangan dan menyerbu Yogyakarta, maka ia siap untuk melancarkan gerilya. Sama halnya dengan Wakil Presiden Muhammad Hatta yang katanya siap untuk memimpin perang jika perdamaian ditolak oleh Belanda. Meski kondisi Pak Dirman tidak sepenuhnya sehat saat itu, beliau tetap konsisten bergerilya. Pak Dirman sungguh menolak keras perundingan dengan Belanda.

Kala Soekarno Hatta ditahan oleh Belanda dan dibuang ke Pulau Bangka, Pak Dirman mempertanyakan tindakan kedua pemimpin negara tersebut. Dalam radiogram yang dikirimkan oleh Pak Dirman kepada Sjafrudin Prawiranegara, beliau melontarkan kritiknya, “Apakah pantas orang-orang yang berada dalam tahanan atau berada di dalam pengawasan tentara Belanda berhak melakukan perundingan dan mengambil keputusan politik buat menentukan nasih Republik?” Sungguh sosok yang konsisten dan berprinsip.

Peristiwa tersebut membuat hubungan sipil-militer menjadi tegang. Untuk mencairkannya, Seokarno lantas mengirimkan surat kepada Pak Dirman dan membujuknya agar pindah ke Yogyakarta pasca perundingan Roem-Royen. Hasilnya, Pak Dirman menempuh perjalanan ke Yogyakarta, masih dengan perasaan tidak terima. Beliau menghadap para pimpinan negara dengan sikap marah. Pada akhirnya, Soekarno menjadi pihak yang mengalah dan merangkul tubuh Sang Jenderal Besar. Dengan sengaja, Soekarno meminta Frans Mendur selaku kamerawan untuk menangkap momen tersebut. Padahal, pelukan tersebut tidak dibalas Pak Dirman. Masih merajuk rupanya.

Tindakan Soekarno tersebut bertujuan untuk menunjukkan kepada khalayak bahwa sama sekali tidak ada perpecahan antara sipil dan militer. Fotonya yang merangkul Sang Jenderal Besar kini tersebar di buku-buku sejarah. Pemahaman Soekarno terkait fotografi, memang cerdik.

Pak Dirman juga  merupakan seorang perokok berat. Saat sudah didiagnosis menderita penyakit tuberkulosis dan hidup dengan paru-parunya yang tinggal sebelah sekalipun, beliau tetap meminta istrinya meniupkan asap rokok padanya. Sungguh begitu kecanduan.

Kala tubuhnya sudah tidak kuat dan kian melemah, nafas terakhirnya terhembus pada hari Senin, 29 Januari 1950. Sang Panglima Besar pergi di usia muda, 34 tahun.

Tempo menarasikan buku ini tidak kronologis secara keseluruhan, cenderung membagi dan menyusunnya berdasarkan momentum besar. Terkadang, saya sendiri sebagai pembaca dibuat cukup bingung. Dalam buku ini, terdapat beberapa sub-bab: Bapak Tentara dari Banyuman, Dari Sebuah Sidang Revolusioner, Si Kaji Menjadi Bintang Lima, Garis Politik Sang Jenderal, Bukan Musuh, Sakit yang membuatnya Taktuk, dan Kolom yang berisi opini dari beberapa tokoh.

Selain penyajian tulisan Tempo yang sungguh dinikmati ini, ada pula kelebihan lainnya, yakni adanya beragam foto yang dilampirkan. Sumber visual yang disajikan membuat pembaca seakan bisa merasakan atmosfer langsung dari peristiwa yang dikisahkan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 16:22

Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 15:02

Membudayakan Berwisata ke Museum

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia?

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 14:38

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Para keluarga muda Sunda sering terlihat menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan anaknya sejak usia balita.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 13:05

Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.

Foto bersama guru, siswa kelas 6 saat mengikuti Al-Amanah Spiritual Camp di Al Jabbar, Jumat-Sabtu. (16-17/10/2026). (Sumber: Grup WAG Kelas 6)
Linimasa 21 Okt 2026, 10:53

Jelajah Citarum Saat Musim Kemarau

Saat musim kemarau, debit Citarum susut drastis dengan warna air menghitam. Namun masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari nafkah

Kondisi debit air Sungai Citarum yang menyusut disaat musim kemarau (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 08:01

Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon

Pengalaman saya menjelajahi lalulintas di Kota Cirebon membawa saya kepada kerinduan terhadap Kota Bandung yang tertib dan minim kemacetan

Sebagian banyak Jalanan di Kota Cirebon terpantau lebih lancar. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 07:41

Mengapa Mahasiswa Pasundan Memberi Rapor Merah untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Rapor merah perlu dibaca sebagai desakan agar angka statistik pemerintah jangan sampai menutupi pengalaman warga yang belum ikut merasakan perbaikan kehidupan.

Mahasiswa melakukan aksi protes dua tahun kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 20:06

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Fenomena downgrade lifestyle tengah menjadi perbincangan warga, tapi apa sih fenomena downgrade lifestyle ini dan apa bagaimana kita menyikapinya?

Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 19:15

Kemacetan Bunderan Cibiru Tak Kunjung Usai, Persoalannya Bukan Hanya pada Bundaran?

Mengurai benang kusut Bunderan Cibiru tak cukup hanya fokus di satu titik saja, melainkan menangani rangkaian penyebab sebelum kendaraan sampai di sana.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 18:08

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar (Bagian 2)

Acapkali PHK tidak dapat dihindari, tetapi bagaimana mencari solusi sosial akibat dampak PHK tersebut. Ketika industri melemah seharusnya kehidupan ekonomi masyarakat tidak boleh terhenti.

Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 17:09

Wisata Jalan Kaki Melihat Jejak Sejarah Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia menghadirkan sejarah perbankan, arsitektur, dan perkembangan ekonomi. Sedangkan Taman Balai Kota menawarkan ruang terbuka hijau.

Gedung bersejarah Bank Indonesia di Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)