Gasibu Tempo Dulu

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)

Kawasan Gasibu adalah sebuah lapangan dan ruang terbuka publik yang terletak di Kota Bandung. Letaknya persis di bagian depan dari kawasan Gedung Sate. Fungsi lapangan ini adalah sebagai sarana favorit warga untuk berolahraga, jalan santai, dan lainnya, tak jarang warga yang menyambanginya hanya untuk berfoto ria dan menghabiskan waktu bersama keluarga di akhir pekan, karena tepat di minggu pagi selalu ada pasar kaget di wilayah ini, yang membuat suasana semakin semarak. Sekarang kawasan favorit warga Bandung ini sedang direvitalisasi, ada yang setuju ada pula yang menyayangkan. Untuk itu mari kita lihat bagaimana kisah masa lalu kawasan Gasibu ini.

Lahan cikal bakal lapangan Gasibu awalnya merupakan lahan kosong berupa rawa. Selama pembangunan gedung Gouvernements Bedrijven (GB), lahan ini masih terlihat tergenang air di beberapa bagian tempat. Kemungkinan besar lahan tersebut mengandung sumber air. Dugaan ini sekarang terbukti dengan tergenangnya air di lahan bekas galian fondasi bangunan yang tidak jadi dilaksanakan yang terletak di sisi barat lapangan Gasibu. Air bekas galian tersebut tidak pernah menyusut ketika musim kemarau dan tidak pernah meluap ketika musim hujan sebagaimana layaknya danau alami, padahal yang terbentuk adalah danau buatan. Hal ini terjadi karena ada mata air di dasarnya.

Bupati Bandung R.A. Martanegara (1893–1918) meneruskan jalur saluran air (Kali Cikapayang) yang telah dibuat oleh Bupati Bandung R.A. Kusumahdilaga (1874–1893). Saluran air sodetan berupa kali (sungai kecil) yang dibangun Bupati Bandung R.A. Kusumadilaga (1874–1893) pada tahun 1880-an berawal dari sisi timur sungai Cikapundung, beberapa puluh meter di selatan jembatan di Dr. de Grootweg (Jalan Siliwangi). Kali ini kemudian dikenal sebagai Cikapayang. Kali Cikapayang dibuat dengan mengerahkan penduduk kampung Balubur dan sekitarnya, tujuan pembuatan kali Cikapayang adalah untuk memenuhi air di Pieterspark (Taman Balai Kota).

Saluran air yang dibuat oleh Bupati Bandung R.A. Kusumahdilaga (1874–1893) ke arah timur membelah Tjikapayang Plein (Taman Cikapayang). Memotong Dagostraat (Jl. Ir. H. Djuanda) dan membelah Ijzerman Plein (Taman Surapati) sampai ke lahan cikal bakal lapangan Gasibu (1910-an). Tujuan perpanjangan kali Cikapayang adalah untuk memenuhi kebutuhan air antara lain di Tjilaki Plein (Taman Cilaki), Tjibeunying Plantsoen (Taman Cibeunying), Oranjeplein (Taman Pramuka), dan saluran pembuangan air kotor gedung GB atau Gedung Sate.

Lahan cikal bakal lapangan Gasibu masuk ke dalam rencana pembangunan kompleks GB, sehingga dalam rangka persiapan pembangunan selanjutnya saluran air terbuka di lahan cikal bakal lapangan Gasibu kemudian dijadikan saluran air tertutup. Sayang pembangunan kompleks GB terhenti karena memasuki pendudukan Jepang, sehingga lahan cikal bakal lapangan Gasibu tersebut pun terlantar.

Gasibu adalah singkatan dari Gabungan Sepak Bola Indonesia Bandung Utara, yang merupakan wadah klub-klub sepak bola di kawasan Bandung Utara. Besar kemungkinan Gasibu dibentuk tidak lama setelah Persib. Lapangan tempat berlatih bola dan penyelenggaraan pertandingan antar klub anggota Gasibu adalah lahan kosong di selatan Ijermanpark (Taman Ganesha), yaitu di antara Jalan Gelap Nyawang dan Jalan Badak Singa awalnya lahan tersebut merupakan lahan yang diperuntukkan bagi pengembangan atau perluasan Ijermanpark ke selatan.

Pada tahun 1953, Gasibu terpaksa memindahkan lapangan sepak bolanya karena di lahan tersebut akan dibangun kompleks penjernihan air minum untuk Kota Bandung oleh PDAM. Akhirnya setelah mencari ke sana dan ke sini akhirnya Gasibu meminta izin untuk menggunakan lapangan Diponegoro di sisi utara Jalan Diponegoro, di seberang Gedung Sate untuk dijadikan lapangan sepak bola. Lahan yang masih dipenuhi ilalang dan semak belukar dibersihkan dan ditata menjadi lapangan sepak bola yang memadai secara mandiri yang melibatkan hampir semua anggota klub sepak bola di kawasan Bandung Utara. Sejak itu, lapangan tersebut dikenal warga Kota Bandung sebagai lapangan Gasibu.

Pada 1960-an aktivitas Gasibu menurun sehingga lapangan Gasibu relatif terlihat selalu kosong, yang menandakan lapangan tersebut adalah lapangan sepak bola adalah tiang-tiang gawang di utara dan selatan lapangan. Dan masih pada 1960-an Kota Bandung dilanda masalah sampah kota. Konon upaya yang dilakukan pihak pemerintah kota adalah dengan menggunakan para pengangguran dan tunawisma untuk memilah-milah sampah di samping para pemulung sampah yang sudah ada ketika itu. Mereka diberi kesempatan untuk mendirikan gubuk tempat tinggal di lapangan Gasibu. Sejak itu lapangan Gasibu menjadi kotor, kumuh, dan area rawan. Penghuni lapangan Gasibu semakin bertambah dari tahun ke tahun, tidak saja dihuni oleh para pemulung, namun juga dipakai oleh orang-orang yang membuka usaha perbengkelan dan usaha makanan.

Awal tahun 1970-an, rupanya pemerintah kota mulai gerah melihat kondisi lapangan Gasibu. Para penghuni lapangan Gasibu digusur paksa keluar dari lapangan. Mereka yang berminat diberi kesempatan untuk mencicil rumah ukuran kecil yang sedang dibangun di kawasan Sukaluyu, yang tidak berminat dipindahkan ke kawasan Padasuka di sisi timur Kota Bandung. Sejak itu lapangan Gasibu kembali menjadi lapangan sepak bola dan kegiatan olahraga lainnya, namun pada tahun 1980-an hingga 2000-an kawasan ini masih terlihat kumuh, terutama apabila setelah pasar kaget digelar.

Namun, secara bertahap lapangan Gasibu diubah menjadi lapangan olahraga yang bersih, nyaman, dan menjadi daya tarik tersendiri bagi warga. Sekarang ini kawasan lapangan Gasibu kembali direvitalisasi, entah akan seperti apa wajahnya kali ini, namun semoga tetap memberikan ruang terbuka yang sangat bermanfaat bagi warga Kota Bandung. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)