AYOBANDUNG.ID -- Bandung hari ini bukan sekadar kota wisata dengan panorama pegunungan dan udara sejuk yang memikat. Kota ini menjelma menjadi primadona para pebisnis, sebuah ruang yang terus berdenyut dengan energi kreatif dan peluang pasar yang tak pernah berhenti tumbuh.
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung menunjukkan laju inflasi yang terkendali sepanjang 2025, sementara tingkat okupansi hotel meningkat signifikan pada pertengahan hingga akhir tahun. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cermin dari geliat ekonomi yang semakin matang, menandakan bahwa Bandung telah bertransformasi menjadi magnet investasi dan wirausaha.
Di jalan-jalan kota, geliat bisnis terasa nyata. Coworking space tumbuh di berbagai sudut, menjadi rumah bagi startup teknologi, fashion, hingga kuliner. Komunitas wirausaha saling bertukar ide, membangun kolaborasi, dan menciptakan atmosfer yang membuat Bandung seolah menjadi laboratorium bisnis.
Kehadiran mahasiswa dari berbagai daerah dan kelas menengah yang terus berkembang memperkuat daya beli, menjadikan pasar lokal semakin potensial. Wisatawan domestik maupun internasional yang datang setiap akhir pekan menambah lapisan permintaan, terutama di sektor kuliner dan akomodasi.
Bandung juga dikenal sebagai pusat industri kreatif, terutama distro dan brand lokal yang mengusung konsep sustainable fashion. Produk pakaian, aksesoris, hingga makanan sehat dengan konsep cafe unik menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.
Tren ini bukan hanya fenomena sesaat, melainkan refleksi dari kebutuhan konsumen yang semakin sadar akan kualitas dan pengalaman. Setiap akhir pekan, cafe-cafe baru dengan konsep berbeda muncul, menjadi magnet bagi anak muda dan wisatawan yang mencari pengalaman kuliner sekaligus ruang sosial.
Dony Turdiyana, yang menggeluti bisnis kuliner Steamboat & Yakiniku, melihat potensi pasar kuliner Bandung sebagai sesuatu yang tak terbatas. Baginya, kuliner Bandung bukan hanya soal rasa, tetapi juga pengalaman yang bisa dinikmati lintas generasi.
“Bandung itu khususnya weekend kan selalu jadi area wisata populer yang banyak dikunjungi wisatawan. Dan saya pikir itu benar-benar potensi market yang cukup bagus, khususnya untuk destinasi kuliner,” katanya kepada Ayobandung.
Dony mengakui, respons positif pengunjung menunjukkan bahwa kuliner Bandung mampu menembus berbagai segmen, dari anak-anak hingga orang tua. Hal ini memperkuat posisi Bandung sebagai destinasi kuliner unggulan.
Dengan dukungan wisatawan yang terus berdatangan, Dony menilai, bisnis kuliner di Bandung memiliki peluang ekspansi yang besar, baik dalam bentuk restoran tematik maupun produk oleh-oleh yang bisa dibawa pulang.
"Kuliner di Bandung ini sudah biasa hadir dengan harga yang relatif terjangkau dan digandrungi. Dan saya melihat di zaman sekarang ini yang masih bisa eksis atau bertahan salah satunya kuliner," katanya.
Di sisi lain, kedekatan geografis Bandung dengan Jakarta, memperkuat posisinya sebagai kota strategis. Bandara Husein Sastranegara dan Bandara Internasional Kertajati, ditambah jaringan tol yang memadai, membuat distribusi dan logistik lebih lancar.
Hal ini memberi keuntungan bagi pelaku usaha yang ingin menjangkau pasar lebih luas tanpa harus meninggalkan basis kreatif di Bandung. Infrastruktur yang semakin terintegrasi menjadikan kota ini bukan hanya tempat lahirnya ide, tetapi juga tempat yang mendukung eksekusi bisnis secara efisien.
Analisis pasar menunjukkan bahwa sektor kuliner, fashion, teknologi, dan hospitality menjadi tulang punggung pertumbuhan bisnis di Bandung. Data BPS menegaskan bahwa daya beli masyarakat tetap terjaga, sementara sektor pariwisata terus bangkit pascapandemi.
Kondisi ini menciptakan peluang besar bagi pelaku usaha yang mampu membaca tren dan beradaptasi dengan cepat. Contohnya Ria Nirwana, seorang pelaku usaha kerajinan tangan, mengingat betul bagaimana hobi bisa menjelma menjadi bisnis. Kisah Ria dalam merintis bisnisnya menegaskan bahwa di Bandung, kreativitas bukan hanya ekspresi, melainkan modal yang bisa dikapitalisasi menjadi usaha nyata.
“Intinya kita tidak boleh berhenti belajar dan mencoba. Bahkan dulu saya ingat, dengan modal Rp2 juta yang saya dapatkan dari ibu saya sebagai pengganti uang saku karena saat itu saya masih sekolah, saya gunakan untuk modal awal usaha,” kenangnya.
Oleh karena itu, Bandung kini berdiri sebagai primadona para pebisnis, bukan hanya karena daya tarik wisatanya, tetapi karena ekosistem yang mendukung pertumbuhan usaha dari berbagai sektor. Dengan kreativitas yang tak pernah padam, pasar yang terus berkembang, dan infrastruktur yang semakin matang, Bandung menegaskan dirinya sebagai kota masa depan bagi wirausaha Indonesia.
Selain itu, potensi Bandung juga terlihat dari tren investasi yang semakin beragam. Sektor properti komersial, seperti hotel butik dan ruang kreatif, terus tumbuh seiring meningkatnya permintaan wisatawan. Pemerintah daerah pun aktif mendorong iklim usaha dengan regulasi yang lebih ramah bagi pelaku bisnis kecil dan menengah.
Selain itu, dukungan komunitas menjadi faktor penting. Di Bandung, jaringan informal antarpelaku usaha sering kali lebih kuat daripada regulasi formal. Kolaborasi lintas sektor, mulai dari fashion hingga kuliner, menciptakan ekosistem yang saling menopang. Hal ini membuat Bandung menjadi kota yang tidak hanya ramah bagi investor besar, tetapi juga bagi wirausahawan pemula.
Tak hanya itu, kondisi pasar yang dinamis menuntut pelaku usaha untuk terus beradaptasi. Mereka yang mampu membaca tren gaya hidup, memanfaatkan teknologi, dan membangun brand dengan identitas lokal akan lebih mudah bertahan.
Bandung, dengan segala keunikannya, memberi ruang bagi eksperimen bisnis yang mungkin sulit dilakukan di kota lain. Armita Sunaryo misalnya, pelaku usaha dessert di Bandung, merasakan betul bagaimana teknologi menjadi katalis dalam perjalanan bisnisnya.
“Saya awalnya cari resep cupcake di internet dan memutuskan untuk membuat resepnya. Saya sadar kesempatan ini bisa jadi sebuah peluang bisnis di kota yang serba kreatif seperti Bandung,” ujarnya.
Baginya, internet bukan sekadar sumber informasi, melainkan pintu masuk ke dunia inovasi. Armita meyakini bahwa di Bandung, teknologi dan kreativitas berjalan beriringan, mempercepat proses adaptasi terhadap tren pasar. Kehadiran teknologi digital memberi peluang bagi pelaku usaha sepetinya untuk menjangkau konsumen lebih luas, sekaligus memperkuat daya saing di tengah pasar yang semakin kompetitif.
“Kemajuan teknologi membuat saya termotivasi untuk terus melakukan inovasi dan perubahan dalam mengembangkan bisnis,” tambah Armita.
Kisah Dony, Ria, dan Armita, menggambarkan wajah Bandung yang sesungguhnya, di mana sebuah kota yang memberi ruang bagi kuliner untuk menjadi magnet wisata, bagi hobi untuk tumbuh menjadi bisnis, dan bagi teknologi untuk mempercepat inovasi. Mereka adalah representasi dari ekosistem kreatif yang menjadikan Bandung berbeda dari kota lain.
Pada akhirnya, Bandung bukan hanya kota yang menjanjikan peluang, tetapi juga kota yang menuntut keberanian. Keberanian untuk melihat potensi pasar seperti Dony, keberanian untuk memulai dari hobi seperti Ria, hingga keberanian untuk berinovasi seperti Armita. Semua kisah ini berpadu menjadi narasi besar tentang Bandung sebagai primadona bisnis Indonesia.
Dengan segala dinamika dan potensinya, Bandung menegaskan diri sebagai kota yang tidak hanya layak dikunjungi, tetapi juga layak dijadikan tempat untuk menanamkan mimpi dan membangun usaha. Sebuah kota yang terus bergerak, terus berinovasi, dan terus menjadi magnet bagi mereka yang berani mencoba.
Alternatif kuliner Bandung atau produk serupa: