Menjahit Harapan di Tengah Sepinya Pasar Thrifting Gedebage

5 menit baca
Widya Putri Pramesti
Ditulis oleh Widya Putri Pramesti diterbitkan
Pasar Cimol Gedebage. (Sumber: Ayobandung)
Pasar Cimol Gedebage. (Sumber: Ayobandung)

Lorong-lorong Pasar Cimol Gedebage di Kota Bandung dipenuhi deretan kios yang menjual pakaian bekas dari berbagai merek luar negeri. Kawasan yang telah lama dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan pakaian thrifting terbesar di Bandung ini masih menjadi tujuan para pemburu fesyen dengan harga terjangkau. Namun, keramaian itu tak lagi sama seperti beberapa tahun lalu. Sejumlah pedagang mengaku jumlah pembeli terus menurun sejak kondisi ekonomi melemah dan perdagangan pakaian bekas impor dibatasi.

Di balik deretan pakaian yang menggantung rapi, ada profesi lain yang turut menjaga agar pakaian-pakaian bekas itu kembali layak digunakan. Mereka bukan pedagang yang menawarkan barang kepada pengunjung, melainkan orang-orang yang bekerja dalam diam di balik setiap jahitan. Keberadaan mereka jarang disadari, padahal jasa mereka menjadi bagian penting dari ekosistem Pasar Cimol Gedebage.

Di salah satu sudut pasar, seorang pria berusia 53 tahun duduk di depan mesin jahit tuanya. Sesekali pandangannya melirik lorong-lorong pasar, berharap ada pelanggan yang datang membawa pakaian untuk diperbaiki. Sebatang rokok terselip di jemarinya, menemani waktu yang berjalan pelan di tengah sepinya pelanggan. Tangannya yang mulai keriput akibat puluhan tahun bergelut dengan jarum, benang, dan kain tetap sigap ketika akhirnya sebuah celana bekas diletakkan di atas meja kerjanya.

Pria itu adalah Dedi. Selama 18 tahun terakhir, ia menggantungkan hidup sebagai penjahit di Pasar Cimol Gedebage. Bukan pakaian baru yang ia ciptakan, melainkan pakaian-pakaian bekas yang kembali bernilai setelah resletingnya diganti, sobekannya dijahit, atau ukurannya disesuaikan. Di balik tren thrifting yang terus berkembang, Dedi menjadi salah satu sosok yang menjaga agar pakaian-pakaian tersebut memiliki kesempatan untuk dikenakan kembali.

Bagi Dedi, Pasar Cimol Gedebage bukan sekadar tempat mencari nafkah. Sejak kawasan tersebut masih berada di lokasi lama, ia telah menghabiskan hari-harinya di balik mesin jahit, memperbaiki pakaian milik pedagang maupun pembeli thrifting. Selama hampir dua dekade, ia menyaksikan bagaimana pasar ini berkembang, berpindah lokasi, hingga kini menghadapi penurunan jumlah pengunjung.

Keahlian menjahit bukanlah sesuatu yang datang begitu saja. Sejak kecil, Dedi belajar dari kedua orang tuanya yang juga berprofesi sebagai penjahit. Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar cara mencari nafkah, melainkan warisan keluarga yang terus dijaga hingga sekarang.

Namun, warisan itu tampaknya akan berhenti di dirinya. Ketiga anaknya memiliki jalan hidup yang berbeda.

"Anak-anak sekarang beda keinginannya. Mungkin sampai saya saja," ujarnya sambil tersenyum tipis.

Setiap hari, Dedi mulai membuka kios sekitar pukul sembilan pagi. Jika pasar sedang ramai, ia bisa bertahan bekerja hingga waktu magrib. Sebaliknya, ketika pembeli sepi, ia memilih menutup kios lebih awal sekitar pukul lima sore.

Di sela menunggu pelanggan, Dedi kerap merapikan gulungan benang, melipat pakaian yang telah selesai diperbaiki, atau sekadar memandangi lorong pasar dari balik mesin jahitnya.

Dalam sehari, ia biasanya mampu menyelesaikan sekitar lima hingga sepuluh pakaian, tergantung tingkat kesulitannya. Pekerjaan sederhana seperti memotong celana atau memperbaiki jahitan ringan dapat selesai hanya dalam beberapa menit. Sementara kerusakan yang lebih rumit, seperti mengganti resleting atau memperbaiki sobekan besar, bisa memakan waktu hingga satu jam.

Sebagian besar pelanggan yang datang merupakan pedagang pakaian thrifting. Setelah mendapatkan pakaian bekas dengan harga murah, mereka biasanya meminta Dedi memperpendek celana, mengganti resleting, atau memperbaiki bagian pakaian yang sobek agar kembali layak dipakai.

Di samping mesin jahitnya, beberapa celana jeans, jaket, dan kaus bekas bertumpuk menunggu giliran diperbaiki. Sebagian masih memiliki label merek luar negeri, sementara yang lain tampak lusuh setelah digunakan bertahun-tahun sebelum akhirnya kembali mendapat kesempatan untuk dimanfaatkan.

"Kalau sobek sedikit biasanya diperbaiki, atau dipotong jadi lebih pendek," katanya.

Meski demikian, menurut Dedi, kondisi pasar saat ini tidak lagi seramai dahulu. Ia mengenang masa ketika Pasar Cimol masih berada di lokasi lama dengan harga sewa yang lebih murah sehingga harga jual pakaian juga lebih terjangkau. Saat itu, pembeli datang hampir setiap hari dan para pedagang lebih mudah menjual dagangannya.

Kini situasinya berubah. Harga pakaian meningkat karena berbagai perubahan dalam pasokan barang sehingga jumlah pembeli ikut menurun.

"Harga barang sekarang mahal. Dulu orang bisa beli banyak. Sekarang susah jual," tuturnya.

Dari balik kiosnya, Dedi menyaksikan lebih banyak pengunjung hanya berlalu tanpa berhenti. Beberapa kios di seberangnya tampak tetap membuka lapak dengan pakaian yang menggantung rapi, meski pembeli datang silih berganti dalam jumlah yang jauh lebih sedikit dibanding beberapa tahun lalu.

Penurunan aktivitas pasar tersebut turut berdampak pada pekerjaannya sebagai penjahit. Meski masih menerima pelanggan setiap hari, jumlah pakaian yang diperbaiki tidak sebanyak dulu. Menurutnya, beberapa pedagang bahkan terpaksa menutup usahanya karena penjualan yang terus menurun.

Di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, Dedi memilih bertahan dengan cara sederhana, yakni menyesuaikan pengeluaran keluarga sesuai kemampuan.

"Kalau kita boros, ya tidak bisa bertahan. Pengeluaran harus disesuaikan dengan kemampuan," ujarnya.

Ia juga tidak berjuang sendirian. Sang istri ikut bekerja demi membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Dengan tiga orang anak yang masih menjadi tanggungan, penghasilan dari satu orang saja dirasa tidak lagi mencukupi.

"Kalau sekarang kerja sendiri tidak cukup. Saya sama istri sama-sama bekerja," katanya.

Meski tantangan semakin besar, Dedi tetap memilih membuka kios setiap hari. Menurutnya, bekerja di kawasan Pasar Cimol masih memberikan peluang mendapatkan pelanggan dibandingkan membuka jasa jahit di pinggir jalan.

"Kalau di sini setiap hari masih ada kemungkinan dapat uang. Walaupun sedikit, tetap ada," ujarnya.

Harapan terbesar Dedi sebenarnya sederhana. Ia ingin usahanya tetap bisa berjalan sehingga mampu menghidupi keluarga. Namun, ia juga menyadari bahwa keahlian menjahit yang diwariskan turun-temurun kemungkinan besar akan berhenti pada generasinya karena anak-anaknya tidak berminat meneruskan profesi tersebut.

Menjelang sore, cahaya matahari mulai masuk dari sela-sela atap pasar. Suara mesin jahit yang sejak siang menemani Dedi perlahan berhenti ketika pakaian terakhir selesai dirapikan. Ia menggantung hasil jahitannya, merapikan benang-benang yang tersisa di atas meja, lalu kembali melirik lorong pasar yang mulai lengang, berharap masih ada satu pelanggan lagi sebelum pulang.

Di tengah perubahan zaman dan sepinya aktivitas Pasar Cimol Gedebage, Dedi tetap setia berada di balik mesin jahitnya. Selama mesin jahit itu masih berdetak, Dedi akan terus datang ke kios kecilnya setiap pagi. Sebab di balik setiap jahitan, selalu ada harapan yang ia bawa pulang untuk keluarganya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)