Lorong-lorong Pasar Cimol Gedebage di Kota Bandung dipenuhi deretan kios yang menjual pakaian bekas dari berbagai merek luar negeri. Kawasan yang telah lama dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan pakaian thrifting terbesar di Bandung ini masih menjadi tujuan para pemburu fesyen dengan harga terjangkau. Namun, keramaian itu tak lagi sama seperti beberapa tahun lalu. Sejumlah pedagang mengaku jumlah pembeli terus menurun sejak kondisi ekonomi melemah dan perdagangan pakaian bekas impor dibatasi.
Di balik deretan pakaian yang menggantung rapi, ada profesi lain yang turut menjaga agar pakaian-pakaian bekas itu kembali layak digunakan. Mereka bukan pedagang yang menawarkan barang kepada pengunjung, melainkan orang-orang yang bekerja dalam diam di balik setiap jahitan. Keberadaan mereka jarang disadari, padahal jasa mereka menjadi bagian penting dari ekosistem Pasar Cimol Gedebage.
Di salah satu sudut pasar, seorang pria berusia 53 tahun duduk di depan mesin jahit tuanya. Sesekali pandangannya melirik lorong-lorong pasar, berharap ada pelanggan yang datang membawa pakaian untuk diperbaiki. Sebatang rokok terselip di jemarinya, menemani waktu yang berjalan pelan di tengah sepinya pelanggan. Tangannya yang mulai keriput akibat puluhan tahun bergelut dengan jarum, benang, dan kain tetap sigap ketika akhirnya sebuah celana bekas diletakkan di atas meja kerjanya.
Pria itu adalah Dedi. Selama 18 tahun terakhir, ia menggantungkan hidup sebagai penjahit di Pasar Cimol Gedebage. Bukan pakaian baru yang ia ciptakan, melainkan pakaian-pakaian bekas yang kembali bernilai setelah resletingnya diganti, sobekannya dijahit, atau ukurannya disesuaikan. Di balik tren thrifting yang terus berkembang, Dedi menjadi salah satu sosok yang menjaga agar pakaian-pakaian tersebut memiliki kesempatan untuk dikenakan kembali.
Bagi Dedi, Pasar Cimol Gedebage bukan sekadar tempat mencari nafkah. Sejak kawasan tersebut masih berada di lokasi lama, ia telah menghabiskan hari-harinya di balik mesin jahit, memperbaiki pakaian milik pedagang maupun pembeli thrifting. Selama hampir dua dekade, ia menyaksikan bagaimana pasar ini berkembang, berpindah lokasi, hingga kini menghadapi penurunan jumlah pengunjung.
Keahlian menjahit bukanlah sesuatu yang datang begitu saja. Sejak kecil, Dedi belajar dari kedua orang tuanya yang juga berprofesi sebagai penjahit. Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar cara mencari nafkah, melainkan warisan keluarga yang terus dijaga hingga sekarang.
Namun, warisan itu tampaknya akan berhenti di dirinya. Ketiga anaknya memiliki jalan hidup yang berbeda.
"Anak-anak sekarang beda keinginannya. Mungkin sampai saya saja," ujarnya sambil tersenyum tipis.
Setiap hari, Dedi mulai membuka kios sekitar pukul sembilan pagi. Jika pasar sedang ramai, ia bisa bertahan bekerja hingga waktu magrib. Sebaliknya, ketika pembeli sepi, ia memilih menutup kios lebih awal sekitar pukul lima sore.
Di sela menunggu pelanggan, Dedi kerap merapikan gulungan benang, melipat pakaian yang telah selesai diperbaiki, atau sekadar memandangi lorong pasar dari balik mesin jahitnya.
Dalam sehari, ia biasanya mampu menyelesaikan sekitar lima hingga sepuluh pakaian, tergantung tingkat kesulitannya. Pekerjaan sederhana seperti memotong celana atau memperbaiki jahitan ringan dapat selesai hanya dalam beberapa menit. Sementara kerusakan yang lebih rumit, seperti mengganti resleting atau memperbaiki sobekan besar, bisa memakan waktu hingga satu jam.
Sebagian besar pelanggan yang datang merupakan pedagang pakaian thrifting. Setelah mendapatkan pakaian bekas dengan harga murah, mereka biasanya meminta Dedi memperpendek celana, mengganti resleting, atau memperbaiki bagian pakaian yang sobek agar kembali layak dipakai.
Di samping mesin jahitnya, beberapa celana jeans, jaket, dan kaus bekas bertumpuk menunggu giliran diperbaiki. Sebagian masih memiliki label merek luar negeri, sementara yang lain tampak lusuh setelah digunakan bertahun-tahun sebelum akhirnya kembali mendapat kesempatan untuk dimanfaatkan.
"Kalau sobek sedikit biasanya diperbaiki, atau dipotong jadi lebih pendek," katanya.
Meski demikian, menurut Dedi, kondisi pasar saat ini tidak lagi seramai dahulu. Ia mengenang masa ketika Pasar Cimol masih berada di lokasi lama dengan harga sewa yang lebih murah sehingga harga jual pakaian juga lebih terjangkau. Saat itu, pembeli datang hampir setiap hari dan para pedagang lebih mudah menjual dagangannya.
Kini situasinya berubah. Harga pakaian meningkat karena berbagai perubahan dalam pasokan barang sehingga jumlah pembeli ikut menurun.
"Harga barang sekarang mahal. Dulu orang bisa beli banyak. Sekarang susah jual," tuturnya.
Dari balik kiosnya, Dedi menyaksikan lebih banyak pengunjung hanya berlalu tanpa berhenti. Beberapa kios di seberangnya tampak tetap membuka lapak dengan pakaian yang menggantung rapi, meski pembeli datang silih berganti dalam jumlah yang jauh lebih sedikit dibanding beberapa tahun lalu.
Penurunan aktivitas pasar tersebut turut berdampak pada pekerjaannya sebagai penjahit. Meski masih menerima pelanggan setiap hari, jumlah pakaian yang diperbaiki tidak sebanyak dulu. Menurutnya, beberapa pedagang bahkan terpaksa menutup usahanya karena penjualan yang terus menurun.
Di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, Dedi memilih bertahan dengan cara sederhana, yakni menyesuaikan pengeluaran keluarga sesuai kemampuan.
"Kalau kita boros, ya tidak bisa bertahan. Pengeluaran harus disesuaikan dengan kemampuan," ujarnya.
Ia juga tidak berjuang sendirian. Sang istri ikut bekerja demi membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Dengan tiga orang anak yang masih menjadi tanggungan, penghasilan dari satu orang saja dirasa tidak lagi mencukupi.
"Kalau sekarang kerja sendiri tidak cukup. Saya sama istri sama-sama bekerja," katanya.
Meski tantangan semakin besar, Dedi tetap memilih membuka kios setiap hari. Menurutnya, bekerja di kawasan Pasar Cimol masih memberikan peluang mendapatkan pelanggan dibandingkan membuka jasa jahit di pinggir jalan.
"Kalau di sini setiap hari masih ada kemungkinan dapat uang. Walaupun sedikit, tetap ada," ujarnya.
Harapan terbesar Dedi sebenarnya sederhana. Ia ingin usahanya tetap bisa berjalan sehingga mampu menghidupi keluarga. Namun, ia juga menyadari bahwa keahlian menjahit yang diwariskan turun-temurun kemungkinan besar akan berhenti pada generasinya karena anak-anaknya tidak berminat meneruskan profesi tersebut.
Menjelang sore, cahaya matahari mulai masuk dari sela-sela atap pasar. Suara mesin jahit yang sejak siang menemani Dedi perlahan berhenti ketika pakaian terakhir selesai dirapikan. Ia menggantung hasil jahitannya, merapikan benang-benang yang tersisa di atas meja, lalu kembali melirik lorong pasar yang mulai lengang, berharap masih ada satu pelanggan lagi sebelum pulang.
Di tengah perubahan zaman dan sepinya aktivitas Pasar Cimol Gedebage, Dedi tetap setia berada di balik mesin jahitnya. Selama mesin jahit itu masih berdetak, Dedi akan terus datang ke kios kecilnya setiap pagi. Sebab di balik setiap jahitan, selalu ada harapan yang ia bawa pulang untuk keluarganya.