Momentum Memerdekakan Guru

5 menit baca
Muh Husen Arifin
Ditulis oleh Muh Husen Arifin diterbitkan
Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Hadirnya seorang guru di dalam kelas bukan sekadar sebagai profesi melainkan seorang yang membersamai kegiatan pembelajaran untuk murid demi terbentuknya karakter murid yang nasionalis, berakhlak, dan mampu menjadi bangsa yang beradab dan bercita-cita visioner demi masa depan negeri. 

Seorang guru tentunya memiliki kapasitas unggul dalam beberapa aspek, mulai dari aspek pedagogis, aspek sosial, aspek profesional, dan aspek kepribadian. Kompetensi yang dimiliki seorang guru harus terpatri sepanjang hayat. 

Keempat kompetensi guru merupakan amanah undang-undang. Maka seorang guru harus mengaplikasikannya di dalam dan di luar sekolah. Guru memiliki tantangannya saat ini di era digital. Bukan sekadar mengamalkan kompetensinya. Tetapi guru masih mengharapkan kesejahteraan yang tak kunjung hadir, tidak ada ujung kebijakannya. Sehingga setiap guru berharap, belum ada kepastian yang sebenar-benarnya. 

Banyaknya guru masih di bawah standar hidup layak, kesejahteraannya belum utuh. Berdasarkan data struktural nasional dari survei Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS), sebanyak 74,3% guru honorer di Indonesia menerima upah di bawah Rp2 juta per bulan, bahkan 20,5% di antaranya menerima di bawah Rp500 ribu per bulan. 

Meskipun melalui aturan Permendikdasmen Juknis BOSP, terdapat kebijakan bahwa pihak sekolah negeri di jenjang pendidikan dasar dan menengah diberikan fleksibilitas untuk mengalokasikan hingga 20% dari total pagu dana BOSP khusus untuk membayar upah guru non-ASN agar pendapatan mereka bisa lebih layak. Tetapi dana tersebut juga tergantung dari jumlah murid di sekolah. Akhirnya masih belum sebagai solusi konkrit dari harapan seorang guru. 

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan. Bahkan tahun 2026, UNESCO menyuarakan tentang guru dengan tagline meningkatkan status profesi guru. 

Maksud UNESCO dalam meningkatkan status profesi guru mencakup tiga dimensi utama yang saling berkaitan, pertama, berkaitan dengan kondisi kesejahteraan, ,UNESCO menyuarakan agar pemerintah di seluruh dunia mesti menjamin gaji yang adil dan kompetitif yang setara dengan profesi lain berpendidikan serupa, beban kerja yang terkendali, kepastian kerja, serta lingkungan sekolah yang aman dan mendukung.

Sejatinya, guru tetaplah profesi yang wajib mendapatkan kesejahteraan sesuai dengan kondisi dan situasi. Selain itu, yang kedua, terkait dengan suara guru dan profesionalisme guru, guru harus melibatkan organisasi guru dalam pengambilan kebijakan pendidikan secara bermakna, menghargai keahlian mereka, serta memberi mereka kepercayaan dan otonomi dalam proses belajar-mengajar di kelas.

Meski munculnya kebijakan dan kebijakan setiap lima tahun sekali, guru tetaplah garda terdepan yang dengan sangat telaten dan penuh kesabaran dalam melakukan pembelajarannya. Maka mestinya guru terlibat dalam kebijakan pendidikan. Sebab gurulah yang paham betul tentang situasinya di sekolah. 

Ketiga terkait pengakuan sosial. Guru perlu diapresiasi secara publik dan penghormatan simbolis masyarakat terhadap peran penting guru sebagai pembentuk generasi masa depan. Generasi yang dididik tentu tidak jauh dari peran seorang guru. 

Maka sudah seharusnya pemerintah tidak sekadar memberikan penghargaan kepada perwakilan guru, melainkan semua guru diberikan apresiasi, dalam bentuk apapun, misalkan berkaitan dengan kebutuhan pembelajaran, diberi laptop per guru, diberi baju gratis per guru, tentu dengan kebijakan ini akan menumbuhkan semangat guru menghadapi tantangan global dalam pendidikan. 

Selain itu, perundungan kepada guru mesti diberikan perhatian secara penuh. Pemerintah wajib memberikan pengamanan kepada guru agar semua guru merasakan keamanan di lingkungan masyarakat. 


Tantangan Guru

Berdasarkan data terbaru dari UNESCO Institute for Statistics dan hasil survei global TALIS (Teaching and Learning International Survey), profesi guru di tingkat global saat ini sedang menghadapi krisis multi faktor yang tidak dapat diabaikan, dan tentunya guru di Indonesia akan mengalami tantangan yang sama. 

Sejatinya, guru tidak selalu terpenuhi di masing-masing sekolah. Tantangannya berkaitan kekurangan guru yang masif. Bahkan di wilayah Jawa Barat saat ini tengah menghadapi krisis kekurangan guru yang cukup kritis. Berdasarkan pemetaan terbaru dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jabar, total kekurangan guru di tingkat SMA, SMK, dan SLB Negeri mencapai antara 4.600 hingga 6.000 orang. Maka kebutuhan lulusan baru dari perguruan tinggi pendidikan sangat dinantikan. 

Kemudian guru mendapatkan beban kerja dan tugas administratif yang berlebihan. Meski di era Nadiem Makarim, beban kerja dan tugas administratif berusaha dikurangi, namun guru masih belum merasakan kemerdekaannya. Sedangkan pengajaran di kelas dituntut dengan kebijakan yang berlebih pula. Penelitian menunjukkan tingginya beban dokumen memicu kelelahan emosional dan penurunan motivasi. 

Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) mencatat bahwa mayoritas guru merasa kelelahan akibat harus mengisi aplikasi e-kinerja, pemburu poin dalam webinar-webinar yang diwajibkan. Tentu saja guru mengalami kelelahan akut. 

Tantangan guru juga berkutat sebagaimana dibahas di atas tentang kesejahteraan yang masih timpang dibandingkan dengan profesi lainnya. Ketidakadlilan atas ketimpangan ini terus menerus menimpa seorang guru.  

Selain masalah kesejahteraan, guru mendapatkan tuntutan terus berubah dalam waktu sesingkatnya, kaitannya dengan akal imitasi yang bersinggungan dengan pembelajaran. Guru diminta untuk mengikuti era kecerdasan buatan, guru wajib memahami perangkat digital tetapi di sisi lain wajib menyosialiasikan tentang etika digital pada murid. 

Tetapi kesenjangan atas fasilitas muncul jika berkaitan dengan sarana teknologi yang tidak merata. Kesenjangan sarana teknologi di sekolah-sekolah Indonesia mencerminkan jurang digital (digital divide) yang lebar antarwilayah. 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa akses internet sekolah di wilayah Barat Indonesia menyentuh angka 82,1%, sedangkan di wilayah Timur Indonesia hanya mencapai 45,2%. Dampaknya berkaitan dengan analisis PISA yang mengonfirmasi bahwa kesenjangan gawai dan internet berkorelasi linier dengan kualitas lulusan. Sampai kesenjangan sarana teknologi pun harus disiasati oleh guru. 

Baca Juga: Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Resolusi 

Kehadiran guru di sekolah mesti diprioritaskan. Kesejahteraan guru tidak sekadar diwacanakan dalam ruang politik, melainkan guru diberikan jawaban yang seharusnya. Kebijakan yang berpihak kepada guru. Menuntaskan kesejahteraan guru akan berkorelasi dengan standar global dan berpotensi meningkatkan hasil asesmen global. 

Jika memandang secara komprehensif maka guru adalah pahlawan yang penuh jasanya, tetapi tidak diberikan kelaikannya. Jika kita ingin jujur, kebijakan kepada guru sudah wajib dituntaskan dengan cepat. Maknanya, Indonesia emas terwujud jika guru benar-benar dimerdekakan dan disejahterakan.

Nampaknya, jika pemerintah menunggu momentum, maka tahun inilah momentum memerdekakan guru. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)