Membaca Ulang Jogja Dua yang Kini Bertransformasi Jadi 'Buah Dua'

4 menit baca
Tannessa Ziankha Jasmine
Ditulis oleh Tannessa Ziankha Jasmine diterbitkan
Monumen Perjuangan Jogja 2 di Desa Darongdong (Sumber: Ilustrasi | Foto: Ilustrasi)
Monumen Perjuangan Jogja 2 di Desa Darongdong (Sumber: Ilustrasi | Foto: Ilustrasi)

Kalau kita lihat sekilas, julukan “Jogja 2” yang disematkan pada Buahdua mungkin terdengar seperti istilah biasa saja bahkan bisa jadi dianggap berlebihan. Tapi justru dari situ muncul rasa penasaran. Kenapa Buahdua? Kenapa bukan daerah lain? Dan, apa benar perannya sampai bisa dibandingkan dengan Yogyakarta, yang jelas-jelas punya posisi penting sebagai ibu kota pada masa awal kemerdekaan?

www.goodnewsformindonesia.id menyatakan bahwa seringkali pertanyaan ini muncul sebenarnya tidak bisa dijawab secara instan. Perlu kita lihat konteksnya, terutama situasi Indonesia saat terjadi Agresi Militer Belanda II. Pada masa itu, kondisi negara bisa dibilang tidak stabil. Yogyakarta yang saat itu menjadi pusat pemerintahan mengalami tekanan besar, bahkan sempat diduduki oleh Belanda. Dampaknya bukan hanya pada struktur pemerintahan, tetapi juga pada jalannya komunikasi, koordinasi, dan strategi perjuangan secara keseluruhan.

Dalam kondisi seperti itu, negara tidak mungkin hanya cukup bergantung pada satu pusat. Mau tidak mau, muncul banyak titik baru yang mengambil alih sebagian fungsi, meskipun tidak selalu secara resmi. Di sinilah peran daerah menjadi penting termasuk Buahdua di wilayah Sumedang.

Jika kita pikir, peran daerah seperti Buahdua ini justru sering luput dari perhatian. Dalam buku sejarah yang umum diajarkan, fokusnya biasanya tetap pada pusat: Yogyakarta, Jakarta, atau tokoh-tokoh besar. Sementara daerah-daerah pendukung hanya disebut sekilas, seolah-olah perannya tidak terlalu signifikan. Padahal, dalam situasi darurat, justru fleksibilitas daerah menjadi kunci.

Buahdua kemungkinan besar berfungsi sebagai salah satu titik strategis entah sebagai tempat perlindungan, jalur komunikasi, atau bahkan basis pergerakan seperti salah satu pernyataan yang dikemukakan dalam laman artikel www.goodnewsformindonesia.id memang tidak semua aktivitas tersebut tercatat secara rinci. Tapi justru di situ letak menariknya. Ada ruang kosong dalam sejarah yang perlu diisi dengan penelusuran lebih lanjut.

Di sisi lain, tandabaca.id membeberkan munculnya julukan “Jogja 2” juga tidak bisa dilepaskan dari cara masyarakat memaknai sejarah mereka sendiri. Ini bukan hanya soal fakta, tapi juga soal ingatan. Masyarakat lokal cenderung memberi makna pada peristiwa yang mereka anggap penting, lalu mengekspresikannya dalam bentuk simbol atau istilah tertentu.

Dalam hal ini, “Jogja 2” bisa dilihat sebagai bentuk makna mendalam. Seolah-olah Buahdua ingin diposisikan sebagai pengganti sementara Yogyakarta dalam konteks tertentu. Tapi, tentu saja, ini tidak berarti perannya benar-benar sama persis. Ada kemungkinan bahwa istilah ini lebih bersifat interpretatif daripada faktual.

Di titik ini, jadi agak dilematis. Di satu sisi, julukan itu penting sebagai identitas lokal. Ia membantu masyarakat mengingat bahwa daerahnya pernah berperan dalam sejarah nasional. Tapi di sisi lain, jika tidak dikaji secara kritis, bisa saja terjadi penyederhanaan seolah-olah semua daerah bisa disamakan dengan pusat, karena memiliki peran tertentu.

Maka dari itu, penting melihat ini dari dua sudut pandang. Pertama, sebagai bagian dari memori kolektif masyarakat. Kedua, sebagai objek kajian sejarah yang perlu diuji dengan sumber-sumber yang lebih ada atau benar nyatanya.

Kalau ditarik lebih jauh, fenomenaseperti ini tidak hanya terjadi di Buahdua. Banyak daerah di Indonesia yang memiliki “versi lokal”dari Sejarah nasional. Hanya saja, tidak semuanya terdokumentasi dengan baik. Akibatnya, ada ketimpangan dalam narasi Sejarah yang besar semakin terlihat, yang kecil semakin terlupakan.

Padahal, justru dari daerah-daerah seperti inilah kita bisa melihat bagaiman perjuangan berlangsung secara nyata. Tidak selalu terstruktur, tidak selalu rapi, tapi tetap berjalan. Bahkan, dalam kondisi tertentu, bisa jadi lebih efektif karena tidak terlalu terikat aturan formal.

Kembali ke Buahdua, julukan “Jogja 2” bisa dipahami sebagai pintu masuk untuk memahami sejarah yang lebih dalam. Bukan untunk membandingkan secara mutlak dengan Yogyakarta, tapi untuk memahami bahwa ada dinamika yang terjadi di luar pusat kekuasaan.

Mungkin, yang lebih penting bukan soal julukan itu “benar” atau “tidak”, tapi bagaimana kita memaknainya. Apakah kita melihat sebagai fakta serjarah yang harus dibuktikan? Atau sebagai bagian dari cara masyarakat mengingat masa lalu?

Monumen Perjuangan Jogja II, di Desa Darongdong Kec. Buahdua (Sumber: Youtube : @petualangan_sikembu, 06 Nov 2020. | Foto: Petualangan Sikembu)
Monumen Perjuangan Jogja II, di Desa Darongdong Kec. Buahdua (Sumber: Youtube : @petualangan_sikembu, 06 Nov 2020. | Foto: Petualangan Sikembu)

Di kutip dari laman artikel inimahsumedang.com pada tanggal 10 November 1949, di lapang Darongdong yang ketika itu masih berupa sawah atau tegalan, dilakukan Upacara Kemerdekaan Penyematan Bintang Gerilya, pada tentara Siliwangi yang hijrah dari Jogjakarta ke Buahdua. Pertama kalinya dilakukan Republik Indonesia setelah kurang lebih 5 tahun bergelut dalam revolusi fisik. Turut hadir dalam peristiwa tersebut, Sri Sultan Hamengku Buwono IX serta komandan tertinggi Terotorium III Pasukan Siliwangi, Kolonel Sadikin.

Karena peristiwa tersebutlah, Buahdua khususnya, dan Sumedang umumnya, mendapat Julukan Jogja Dua. Setelah revolusi berakhir, Indonesia kembali dalam bentuk negara kesatuan. Hingga kini, Napak Tilas Siliwangi yang dihadiri kalangan sipil dan militer dari berbagai kesatuan rutin dilakukan setiap tahunnya.

Dari terasa bahwa sejarah bukan hanya tentang apa yang terjadi, tapi juga tentang bagaimana sesuatu pada masa lampau di ceritakan kembali proses penceritaan itu, selalu ada kemungkinan perubahan makna.

Pada akhirnya, memahami Buahdua sebagai “Jogja 2” bukan sekadar menerima sebuah label. Tapi lebih dari itu, ini adalah upaya untuk melihat sejarah dari sudut yang lebih luas dan tidak hanya dari pusat, tetapi juga dari pinggiran. Dari tempat-tempat yang mungkin tidak terlalu terlihat, tapi punya kontribusi yang tidak bisa di abaikan juga. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Tannessa Ziankha Jasmine
Nama lengkap saya merupakan Tannessa Ziankha Jasmine, dan biasa dipanggil Jasmine. Merupakan mahasiswi semester 2 Universitas Padjajaran prodi Ilmu Sejarah.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 06 Jul 2026, 18:01

Membaca Ulang Jogja Dua yang Kini Bertransformasi Jadi 'Buah Dua'

Asal-usul julukan “Jogja 2” yang disematkan kepada Buahdua, Sumedang, melalui tinjauan sejarah pada masa Agresi Militer Belanda II, juga peran warga memaknai julukan tersebut.

Monumen Perjuangan Jogja 2 di Desa Darongdong (Sumber: Ilustrasi | Foto: Ilustrasi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:49

Jejak Otentisitas Kuliner Bumi Pasundan: Tinjauan 8 Resep Warisan dalam Karya Ny. Tuty Latief (1976)

Pada tahun 1976, sebuah pustaka boga berjudul Resep Masakan Daerah hadir sebagai dokumentasi penting bagi khazanah kuliner Nusantara.

Pepes ikan emas (pais lauk mas) Sunda. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 17:41

Rujak Cingur Surabaya, Kuliner Legendaris Sejak 1930-an

Kenali sejarah rujak cingur Surabaya, bahan khas, warung legendaris, Festival Rujak Uleg, hingga tips menikmati kuliner Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Rujak Cingur Surabaya.
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:03

Perjalanan Panjang Mie Ayam: Dari Makanan Pendatang hingga jadi 'Comfort Food' Sejuta Umat

Rasanya sudah biasa ketika pergi ke mana pun, pasti ada gerobak atau warung mie ayam yang berjualan.

Foto mie ayam dari warung pinggir jalan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Syabil Rasyidan)
Bandung 06 Jul 2026, 16:15

Kisah Ratri Wijaya Nakhodai 3 Lini Mode: Potret Tangguh UMKM Bandung yang Ogah Gulung Tikar Digilas Zaman

Di tengah ketatnya persaingan pasar digital dan pergeseran tren yang bergerak secepat kilat, para kreator lokal dituntut untuk tidak sekadar bertahan, melainkan terus beradaptasi dan bertransformasi.

Ratri Wijaya dikenal sebagai desainer sekaligus entrepreneur sukses yang menaungi tiga brand fashion sekaligus, yaitu Rumah Batik Wijaya, Kamaku, dan Alaiya. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 16:01

10 Netizen Terpilih Juni 2026, Menangkap Momentum dengan Kualitas

Per Juni 2026 dan seterusnya penulis tidak lagi dibatasi satu tema besar, melainkan dipersilakan mengangkat isu apa pun yang relevan dengan momentum.

Website ayobandung.id. (Sumber: Unsplash | Foto: Alex Knight)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 14:14

Mendefinisikan Ulang Nation Branding: Ketika Identitas Bangsa Tak Lagi Ditentukan dari Atas

Artikel ini mengulas partisipasi publik dalam pemilihan logo HUT ke-81 RI sebagai paradigma baru nation branding yang memperkuat legitimasi, reputasi, dan identitas kolektif Indonesia.

logo HUT ke-81 RI. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:40

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang: Nostalgia Berujung Meriah Bersama Java Jive

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang membuktikan bahwa persahabatan yang terjalin sejak bangku sekolah tetap hidup meski waktu terus berjalan.

Band legendaris asal Bandung, Java Jive, tampil menghibur dan menyemarakkan Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:19

Demokratisasi Keahlian: Reinvensi Peran SME dalam Ekosistem Corporate University

Reinvensi peran SME dalam Corporate University mengubah pelatihan menjadi ekosistem pembelajaran berkelanjutan yang relevan, adaptif, dan berdampak pada kinerja organisasi.

Ilustrasi ASN. (Sumber: diskominfo.bandaacehkota.go.id)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 12:47

Lagu Kontroversial 'Lalaki Langit' dari Bupati Purwakarta

Kontroversi Lagu "Lalaki Langit" buatan Bupati Purwakarta menuai kritik panas dari netizen hingga berujung permintaan maaf.

Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein. (Sumber: ppid.purwakartakab.go.id)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 12:40

Pantai Sayang Heulang, Wisata dengan View Eksotis di Garut Selatan yang Wajib Dikunjungi

Pantai Sayang Heulang Garut menawarkan karang raksasa, gumuk pasir, camping, dan sunset indah. Ketahui harga tiket, lokasi, aktivitas, serta tips berkunjung terbaru.

Pantai Sayang Heulang Garut. (Sumber: Instagram @pantaisayangheulang)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 11:38

Kaum Prekariat, Mimpi yang Digantung Zaman

Kaum Prekariat sampai saat ini hanya menggantungkan impiannya untuk meningkatkan taraf hidup.

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 10:25

Tari Bali: Kaya akan Ritual Sakral hingga Berkembang menjadi Tarian Penyambutan

Sejarah keindahan tarian tradisional Bali dan makna dibaliknya.

Gambaran posisi Penari Pendet duduk saat menari dalam sebuah acara. (Sumber: Arsip Nasional)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 09:41

Sate Maranggi: Narasi Evolusi, Filosofi, dan Diplomasi Budaya di Balik Ikon Kuliner Purwakarta

Kekuatan utama Sate Maranggi tersebut justru terletak pada teknik marinasinya yang intens.

Sate Maranggi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunwan Kartapranata)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 08:40

Rupiah Kuat Harapan Tertinggi Masyarakat

Kekuatan Rupiah harus diperhatikan dengan seksama.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 20:03

Menelusuri Akar Sejarah Pasunda Bubat dan Kondisi Kedua Kerajaan Pascatragedi

Peristiwa Pasunda Bubat dan Kondisi Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda Pasca-Pasunda Bubat berdasarkan catatan kitab-kitab kuno.

Ilustrasi Pasunda Bubat (Sumber: Wikimedia commons)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 18:11

Komentar Jahat yang Mendongkrak Penjualan PUKA

Hate comment yang membanjiri TikTok PUKA justru mendongkrak penjualan scrunchie buatan para penyandang disabilitas.

Proses produksi aksesori di PUKA, dikerjakan langsung oleh teman-teman penyandang disabilitas (Sumber: Penulis | Foto: Lupita Sari Ayuning Cahya Nugraha)
Wisata & Kuliner 05 Jul 2026, 17:23

Cara Berkunjung ke Suku Baduy Banten, Semua yang Wajib Diketahui Sebelum Datang ke Kanekes

Berencana ke Baduy? Ketahui rute menuju Ciboleger, larangan di Baduy Dalam, masa Kawalu, penginapan rumah warga, dan tips perjalanan sebelum berangkat.

Pemukiman di Desa Knekes, Banten, yang popular dengan sebutan Baduy. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 17:10

Merebut Simpati Masyarakat Desa dalam Ketahanan Pangan Bergizi

Ketercapaian pemerintah dapat dilihat ketika masyarakat di desa antusias untuk mempertahankan pangan yang aman dan amanah. 

Program makan bergizi gratis (MBG). (Sumber: kebumenkab.go.id)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 13:22

Sering Dianggap Lemah, Sains Buktikan Perempuan Lebih Kuat Tahan Rasa Sakit

Ungkap fakta sains tentang mekanisme proteksi saraf unik pada tubuh perempuan.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)