Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin merupakan pengalaman luar biasa bagi saya. Saya mendapat kesempatan untuk memandu mereka setelah dipercaya oleh event organizer asal Bandung yang bernama CV Shakha Pesona sebagai pemandu untuk satu dari enam kelas yang akan mengikuti field trip (metode pembelajaran di luar kelas, di mana siswa mengunjungi lokasi tertentu untuk mengamati, menganalisis, dan mempraktikkan materi pelajaran secara langsung).
SMP Islam Atirah Makassar didirikan pada 24 April 1984 dan berada di bawah naungan Yayasan Hadji Yusuf Kalla (Kalla Grup). Sekolah ini merupakan salah satu sekolah swasta papan atas yang mengusung motto “Anggun, Unggul dan Cerdas”. Sekolah ini memadukan kurikulum nasional dengan sistem internal terintegrasi bernama Athirah Integrated Holistic Education System (IES) yang berfokus pada pendidikan akhlak, kepemimpinan, serta pendalaman Al-Qur'an (tahsin, tahfiz, dan tadabur).
Pada field trip kali ini, tema yang diusung oleh SMP Atirah adalah tentang leadership dan public speaking, di mana nantinya para siswanya akan diajarkan langsung untuk berani berbicara di depan forum untuk menyampaikan gagasan dan berfokus pada pengembangan jiwa kepemimpinan mereka.
Tidak tanggung-tanggung, field trip kali ini kami mengunjungi Gedung MPR/DPR RI dan diterima di Komisi I dari Fraksi PKB, mengunjungi kediaman Bapak Anies Baswedan, mengunjungi Istana Wakil Presiden RI, dan di Bandung kami mengunjungi Gedung Sate, Institut Teknologi Bandung, dan Kantor Wali Kota Bandung. Selain itu, kami pun mengunjungi beberapa museum di Jakarta dan Bandung sambil diselingi oleh beberapa hiburan, seperti berkeliling dengan bus Bandros dan mengunjungi Saung Angklung Udjo.
Pada tulisan saya bulan ini, saya akan menjabarkan pengalaman berharga ini ke dalam tulisan berseri yang khusus membahas keseruan dan pengalaman berharga saya dalam proses pemanduan selama lima hari tersebut.
Pada awalnya, saya diminta oleh pemilik CV Shakha Pesona untuk tergabung ke dalam tim pemanduan field trip ini tiga bulan sebelum perjalanan berlangsung. Saat itu, saya sempat ragu karena saya bukan pemandu profesional dan tidak tergabung dalam Himpunan Pramuwisata Indonesia. Saya hanya seorang periset dan penulis sejarah yang terkadang memandu hasil riset saya di lokasi-lokasi yang saya riset selama belasan tahun. Ini adalah kali pertama saya memandu secara profesional dan langsung berkesempatan memandu SMP terbaik di Makassar serta mengunjungi objek-objek di luar jangkauan riset saya, terutama yang berada di kawasan Jakarta. Namun, alhamdulillah, berkat dukungan pemilik CV Shakha Pesona dan para anggota tim lainnya, saya mampu belajar banyak selama perjalanan berlangsung.
Saat itu, saya memegang bus 1 yang berisikan kelas 8 An Nurr, yang berjumlah 24 siswa-siswi tahfiz Al-Qur'an, satu orang wali kelas, dan Ibu Kepala Sekolah SMP Atirah. Pada hari pertama, saya menjemput mereka di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pukul 1 malam dan langsung menggiring mereka ke bus untuk beristirahat sebentar di Asrama Haji Embarkasi Pondok Gede, Jakarta. Setelah beristirahat hingga pukul 7 pagi, kami semua bersiap untuk mendatangi objek pertama kami, yaitu Gedung MPR/DPR RI di Jakarta Pusat.
Selama pemanduan ini, saya dipasangkan dengan seorang rekan anggota HPI Jakarta bernama Mas Heru. Beliau pun banyak memberikan bantuan teknis dan pemanduan selama di Jakarta karena Jakarta merupakan objek yang sangat baru untuk saya pandu.
Kami tiba di Gedung MPR/DPR RI pada pukul sembilan pagi dan langsung diterima oleh Komisi I dari Fraksi PKB. Para siswa pun digiring untuk memasuki ruangan rapat dan berdialog di sana tentang tema yang diusung, yaitu leadership dan public speaking. Kami, para pemandu, diberikan ruangan khusus untuk beristirahat pada saat itu. Agenda kedua adalah tur Gedung MPR/DPR RI. Kami semua mulai melihat seluk-beluk gedung wakil rakyat ini dengan saksama. Sebuah kesempatan luar biasa bagi kami semua untuk dapat mengunjungi dan berkeliling.
Sebelumnya, saya pun memberikan pemanduan kepada para siswa kelas 8 An Nuur di dalam bus bahwa Gedung MPR/DPR RI ini dibangun pada tahun 1965, ketika Presiden Soekarno sedang gencar membuat CONEFO, sebuah organisasi antarpemerintah/konferensi kekuatan-kekuatan baru yang bertujuan sebagai wadah alternatif atau tandingan terhadap PBB yang dianggap Soekarno tidak netral.
Baca Juga: Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual
Gedung ini diarsiteki oleh Soejoedi Wiroatmoedjo, yang merupakan arsitek lulusan Berlin, Jerman. Pada tahun 1966, gedung ini dialihfungsikan sebagai gedung parlemen yang memiliki keunikan pada atapnya, yang terlihat seperti tempurung kura-kura. Namun, itu sejatinya adalah perlambang burung garuda yang mulai akan mengembangkan sayapnya, dan warna hijau yang dipilih adalah perlambang kemakmuran dan kesuburan. Tak tanggung-tanggung, pembangunan gedung ini mengerahkan hampir 27 ribu orang pekerja yang bekerja nonstop siang dan malam untuk terus membangun. Keseluruhan kompleks MPR/DPR RI ini dibangun pada tahun 1965 hingga 1968 dan selesai sepenuhnya pada bulan Februari 1983.
Karena pada dasarnya saya adalah seorang periset sejarah, hal yang paling saya pertanyakan dalam benak saya adalah: kawasan kompleks MPR/DPR RI ini dahulunya apa? Hingga ditemukan data bahwa kawasan ini sebelumnya adalah perkampungan warga Bali yang menjadi buruh pekerja sejak zaman VOC. Para warga Bali ini terkenal dengan kinerjanya yang baik hingga semakin lama semakin banyak di kawasan tersebut. Bila diriset lebih dalam, kita akan digiring pada kisah Untung Suropati. Lalu, terdapat salah satu tuan tanah warga Bali yang memiliki banyak lahan di sana, yang bernama Wangsanayan. Dari nama Wangsanayan inilah kemudian bertransformasi menjadi nama “Senayan”. (*)