Menata Kiaracondong, Menjaga Mata Pencaharian: Tantangan Kepemimpinan Pemerintah

5 menit baca
INDRIA ADHENIA PUTRI
Ditulis oleh INDRIA ADHENIA PUTRI diterbitkan
Puluhan pedagang di kawasan Pasar Kiaracondong membongkar bangunan yang ditempati secara mandiri, Senin, 12 Oktober 2026. (Sumber: Dok. Pemkot Bandung)
Puluhan pedagang di kawasan Pasar Kiaracondong membongkar bangunan yang ditempati secara mandiri, Senin, 12 Oktober 2026. (Sumber: Dok. Pemkot Bandung)

Penataan kawasan publik menjadi tantangan bagi pemerintah karena harus menyeimbangkan ketertiban lingkungan dengan kebutuhan ekonomi masyarakat. Trotoar harus digunakan oleh pejalan kaki dan drainase harus berfungsi dengan baik Menurut pemberitaan detikJabar, penertiban dilakukan di sejumlah ruas jalan, termasuk Jalan Stasiun Lama, Jalan Ibrahim Adjie, hingga Jalan PSM. Sebelum penertiban, pedagang telah menerima pemberitahuan dan tiga kali surat peringatan. Mereka kemudian membongkar lapaknya secara mandiri. Pemerintah juga merencanakan pembersihan drainase dan penataan kembali trotoar (Alhamidi, 2026).

Langkah tersebut memperlihatkan upaya pemerintah mengembalikan fungsi ruang publik. Namun, keberhasilan penataan belum cukup jika diukur dari jumlah lapak yang dibongkar. Hal yang juga harus diperhatikan adalah bagaimana cara pemerintah memastikan kebijakan tersebut berjalan tanpa mengabaikan keberlangsungan usaha masyarakat. Persoalan ini menjadi salah satu cara untuk melihat bagaimana konsep kepemimpinan diterapkan dalam penyelenggaraan pemerintahan sebenarnya.

Ketegasan Harus Diikuti Pengambilan Keputusan yang Tepat

Kepemimpinan sebagai proses memengaruhi, mengarahkan, dan mendorong orang lain untuk bekerja sama mencapai tujuan. Pemimpin tidak hanya bertugas memberikan perintah, tetapi juga bertanggung jawab mengarahkan kegiatan dan mengambil keputusan dengan mempertimbangkan kondisi yang dihadapi.

Dalam kasus di Pasar Kiaracondong ini, pemerintah memiliki alasan untuk menertibkan lapak yang mengganggu fungsi fasilitas umum. Akan tetapi, keputusan tersebut juga membawa konsekuensi bagi pedagang yang menggantungkan penghasilan pada lokasi tersebut. Karena itu, pengambilan keputusan harus mempertimbangkan kepentingan ketertiban sekaligus dampak sosial dan ekonomi yang mungkin saja muncul.

Pemberitaan detikJabar pada 13 Oktober 2026 menunjukkan bahwa pedagang masih mengharapkan kepastian mengenai kelanjutan usaha setelah lapak dibongkar. Pada saat itu, pengaturan teknis untuk kembali berjualan belum sepenuhnya jelas (Alhamidi, 2026). Kondisi ini memperlihatkan bahwa fungsi perencanaan dan pengambilan keputusan dalam kepemimpinan menjadi hal yang krusial.

Menurut saya, pemerintah seharusnya memastikan rencana penataan disertai petunjuk pelaksanaan yang jelas sejak awal. Ketegasan memang dibutuhkan untuk menegakkan aturan, tetapi keputusan yang baik juga harus diiringi dengan memperhitungkan langkah setelah penertiban. Dengan demikian, pemerintah tidak hanya menyelesaikan persoalan ketertiban, tetapi juga dapat memberikan kepastian kepada masyarakat yang terdampak tersebut.

Fungsi Konsultatif dan Partisipasi harus Dijalankan

Fungsi konsultatif sebagai komunikasi dua arah untuk memperoleh informasi atau pertimbangan sebelum pemimpin menetapkan keputusan. Sementara itu, fungsi partisipasi memberikan kesempatan kepada pihak terkait untuk ikut terlibat dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan kegiatan.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan bahwa penataan telah dibicarakan sejak Oktober 2025. Pemerintah juga menjelaskan bahwa pedagang masih dapat berjualan dengan ketentuan tertentu, seperti tidak mendirikan bangunan permanen atau semipermanen, mematuhi jam operasional, dan menjaga kebersihan (Alhamidi, 2026).

Dengan adanya pembicaraan dengan pedagang merupakan langkah yang krusial. Namun, dialog tersebut seharusnya tidak berhenti setelah pembongkaran disepakati. Pemerintah harus terus mendengarkan kendala ataupun keluhan pedagang ketika aturan teknis tersebut telah diterapkan, termasuk mengenai jam berjualan dan pengaturan lokasi.

Di sinilah tipe kepemimpinan demokratis dapat menjadi acuan. Dengan menekankan komunikasi dua arah, penghargaan terhadap gagasan anggota, dan tanggung jawab bersama. Jika diterapkan dalam penataan PKL, pendekatan ini bukan berarti pemerintah harus memenuhi semua permintaan pedagang. Pemerintah tetap harus menegakkan aturan, tetapi keputusan sebaiknya mempertimbangkan masukan dari pihak yang terdampak.

Menurut saya, keterlibatan pedagang harus dilakukan secara nyata, bukan sekadar formalitas. Pemerintah dapat mengadakan pertemuan berkala untuk membahas aturan, menerima keberatan, dan menyepakati langkah penyelesaian. Dengan begitu, kebijakan memiliki dasar yang lebih kuat dan masyarakat memahami tanggung jawab masing-masing.

Kepemimpinan Berorientasi Pelayanan Harus Terlihat dalam Hasil

Prinsip dasar kepemimpinan dengan pemimpin seharusnya melayani dan mengutamakan kepentingan bersama. Dengan memastikan bahwa kebijakan memberikan manfaat bagi masyarakat, bukan hanya menyelesaikan tugas administratif. Hal tersebut menunjukkan adanya upaya mencari jalan tengah antara penataan ruang publik dan keberlangsungan kegiatan ekonomi.
Meski demikian, rencana belum cukup untuk membuktikan bahwa persoalan telah selesai. Pemerintah masih harus memastikan aturan dapat diterapkan secara jelas dan konsisten. Menurut saya, ada tiga langkah yang harus dilakukan.
Pertama, pemerintah harus menetapkan aturan tertulis mengenai jam berjualan, lokasi, bentuk lapak yang diperbolehkan, dan kebersihan. Kedua, pemerintah harus menyediakan saluran pengaduan agar pedagang dapat menyampaikan kendala dan memperoleh penjelasan. Ketiga, pemerintah harus mengevaluasi hasil penataan dengan melibatkan pedagang, warga, pengelola pasar, dan aparat wilayah.
Evaluasi tersebut harus melihat beberapa hal sekaligus misalkan apakah trotoar lebih nyaman digunakan, drainase berfungsi dengan baik, kebersihan terjaga, lalu lintas lebih tertib, dan pedagang tetap memiliki kesempatan untuk memperoleh penghasilan. Dengan indikator yang jelas, pemerintah dapat menilai apakah kebijakan benar-benar mencapai tujuannya.

Pengawasan dan Konsistensi Menentukan Keberhasilan

Pengawasan tidak seharusnya hanya berfokus pada kepatuhan pedagang terhadap aturan. Pemerintah juga harus mengevaluasi pelaksanaan kebijakannya sendiri. Apabila aturan membingungkan atau pelaksanaannya berbeda-beda, pemerintah harus memperbaikinya agar tidak menimbulkan ketidakpastian.

Konsistensi bukan berarti kebijakan tidak boleh berubah. Pemerintah dapat menyesuaikan pengaturan berdasarkan hasil evaluasi, tetapi perubahan harus dijelaskan dan disampaikan kepada pihak terkait. Pedagang pun memiliki tanggung jawab untuk mematuhi aturan, menjaga kebersihan, dan tidak menggunakan fasilitas umum secara sembarangan. Dengan demikian, ketertiban menjadi tanggung jawab bersama.

Baca Juga: Reak di Tengah masyarakat: antara Pelestarian Budaya dan Kerawanan Kericuhan

Mengukur Keberhasilan dari Manfaat bagi Masyarakat

Penertiban 77 lapak PKL di Kiaracondong menunjukkan bahwa kepemimpinan pemerintah menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan ketertiban ruang publik dan keberlangsungan ekonomi masyarakat. Pemerintah harus menegakkan aturan, tetapi juga harus menjalankan fungsi perencanaan, pengambilan keputusan, konsultasi, partisipasi, pengawasan, dan pengendalian secara tepat.

Keberhasilan penataan tidak cukup dilihat dari trotoar yang kembali terbuka atau drainase yang dibersihkan. Hasilnya juga harus dinilai dari kenyamanan masyarakat, kejelasan aturan, dan kesempatan pedagang melanjutkan usaha sesuai ketentuan.

Pada akhirnya, kepemimpinan yang baik bukan hanya kemampuan memberikan arahan, melainkan juga kemampuan mempertimbangkan kondisi, melibatkan pihak terkait, dan memastikan keputusan menghasilkan manfaat. Kiaracondong dapat menjadi contoh bahwa ketertiban dan kesejahteraan tidak harus saling mengalahkan. Melalui komunikasi dua arah, aturan yang jelas, dan evaluasi berkelanjutan, pemerintah dapat menata kawasan sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat.

Pemerintah Kota Bandung perlu memastikan penataan PKL di Kiaracondong tidak hanya menciptakan ketertiban, tetapi juga menjaga mata pencaharian pedagang. Melalui aturan yang jelas, komunikasi, dan evaluasi berkala. Kepemimpinan yang baik bukan sekadar berani menertibkan, melainkan mampu mengambil keputusan yang adil, konsisten, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat. Dengan demikian, ketertiban kawasan dan kesejahteraan pedagang dapat berjalan beriringan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Okt 2026, 19:02

Media Sosial sebagai Mesin Pencari Utama Generasi Muda

Media sosial sebagai sarana pencari informasi generasi masa kini

Ilustrasi berbagai ikon platform media sosial populer seperti TikTok dan Instagram yang kini kerap digunakan sebagai sarana pencari informasi. (Sumber: Pixabay | Foto: BiljaST)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 17:00

Tahura Djuanda, Hutan Raya yang Penyimpan Jejak Sejarah

Tahura Djuanda di Dago Pakar, Bandung, menawarkan hutan sejuk, Gua Belanda, Gua Jepang, museum, dan Curug Omas untuk liburan alam dan sejarah.

Gelang masuk Taman Hutan Raya Ir. Djuanda, Bandung.
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 16:36

Bandung dan Pusat Mata Nasional:  Solidaritas bagi Korban Karhutla Kalimantan

Segenap urang Bandung memiliki momentum yang amat mulia untuk menunjukkan bahwa solidaritas antardaerah tidak berhenti pada rasa prihatin.

Aeshtetic Eye Care & Dry Eye Clinic di RS Mata Cicendo. (Sumber: RS Mata Cicendo)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 16:02

Menata Kiaracondong, Menjaga Mata Pencaharian: Tantangan Kepemimpinan Pemerintah

Adanya Penertiban 77 lapak pedagang kaki lima di Pasar Kiaracondong, Kota Bandung, Pada Senin, 12 Oktober 2026. Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan bagaimana pemerintah menjalankan perannya.

Puluhan pedagang di kawasan Pasar Kiaracondong membongkar bangunan yang ditempati secara mandiri, Senin, 12 Oktober 2026. (Sumber: Dok. Pemkot Bandung)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 14:00

Kebakaran Hutan di Masa Hindia Belanda

Sejarah kehutanan pada masa Hindia Belanda menjadi pengingat bahwa pengelolaan hutan harus menyeimbangkan kepentingan ekonomi, hak masyarakat, dan kelestarian lingkungan.

Pembukaan lahan di Sumatra Utara pada 1910 untuk dijadikan perkebunan. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 13:27

Parkir Gratis sebagai Fiksi yang Dipajang dengan Huruf Kapital

Keberadaan juru parkir di depan gerai minimarket  tidak otomatis berarti terjadi pelanggaran. Toh, di sejumlah minimarket, ada petugas parkir yang memang bekerja secara resmi.

Ilustrasi lahan parkir sepeda motor. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 11:11

Menumbuhkan Rasa Nasionalisme Warga Bandung dalam Penanganan Karlutha

Warga Bandung harus bersuara kritis dalam penanganan karlutha. Mendorong pemerintah untuk menangani karlutha ini lebih serius dengan sikap empati dan kesadaran kolektif. Ini sudah bencana nasional.

Aksi unjuk rasa BEM SI Jawa Barat di Kota Bandung, Selasa 13 Oktober 2026. Mahasiswa menyoroti sejumlah persoalan negara, salah satunya kebakaran hutan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 11:02

Bantu Kami Bersuara, Meski Terkesan Sia-sia

Suara rakyat di negeri ini memang seringkali terabaikan. Tapi tidak ada cara lain yang bisa dilakukan oleh masyarakat terdampak selain bersuara.

Kondisi update Palangkaraya (Sumber: Instagram | nabila_albathaty)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 10:34

Inisiatif Bandung Melawan Panas dengan Teknologi Kabut Air

Pemkot Bandung atau kepada pengelola gedung dan tempat publik untuk menerapkan teknologi kabut air yang bekerja dengan menyemprotkan butiran air yang sangat halus ke udara.

Ilustrasi musim kemarau. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 07:47

Hanya karena Bandung Tidak Terdampak, Bukan Berarti Korban Karhutla Baik-baik Saja

Karhutla yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia masih belum ditangani dengan baik. Sementara yang hilang bukan hanya hutan tapi penghuni didalamnya pun manusia itu sendiri.

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 20:33

Dari Kepakan Sayap Kupu-Kupu hingga Karhutla: Bandung Tak Bisa Berpaling

Karhutla mungkin terasa jauh dari Bandung. Namun, melalui gagasan butterfly effect, kita diingatkan bahwa kepedulian lingkungan perlu diwujudkan lewat tindakan dan tuntutan pertanggungjawaban.

Hujan di salah satu sudut Bandung (Foto: Abah Omtris)
Bandung 25 Okt 2026, 20:00

Napas Subkultur Jalanan Kota Kembang: Saat Beton Arena Jadi Rumah Ekspresi dan Tangguh Anak Muda

Menjaga denyut subkultur jalanan Kota Kembang, bagaimana ruang berekspresi di Bandung jadi wadah memoles mental dan solidaritas generasi muda.

Menjaga denyut subkultur jalanan Kota Kembang, bagaimana ruang berekspresi di Bandung jadi wadah memoles mental dan solidaritas generasi muda. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 19:38

Program Boleh Berganti, Perilaku Harus Berubah

Kota yang bersih tidak lahir hanya dari program yang baik, tetapi juga dari kebiasaan warganya. Tantangannya, bagaimana memastikan program yang baik, benar-benar melahirkan perubahan perilaku?

Pembuatan Loseda di RW.10 bersama pendamping DLH Kota Bandung Tahun 2026. (Sumber: Dokumentasi RW. 10 Kelurahan Sukamaju Bandung)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 15:00

Elektrifikasi Becak Bukan Transformasi Sistem Transportasi

Elektrifikasi becak dapat membantu pengemudi, tetapi belum cukup mentransformasi transportasi. Integrasi layanan, fasilitas pengisian daya, keselamatan, dan keberlanjutan perlu menjadi perhatian.

Sejumlah pengemudi becak konvensional dan becak listrik menunggu penumpang di Jalan Baranangsiang, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu 10 Oktober 2026. (Sumber: Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 12:59

Warteg dan Kehidupan para Mahasiswa

Warteg selalu menjadi tempat makan yang unik, bukan karena harganya saja yang terjangkau tapi juga berbagai macam cerita didalamnya.

Sajian makanan di Warung Tegal. (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 11:41

Semangkuk Cuanki Rp50 Ribu, Wali Kota Bandung Tak Mungkin Menunggui Setiap Mangkuk

Masalah getok harga seperti cuanki yang viral ini sesungguhnya bukan monopoli Bandung.

Ilustrasi cuanki Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 09:40

Semarak, Santri, dan Harmoni

Semarak menghadirkan kegembiraan, santri menempuh perjalanan ilmu, dan harmoni menjaga agar proses itu tetap berpijak pada kasih sayang, peduli, serta penghormatan terhadap sesama.

Status WhatsApp Istri, "Alhamdulillah masih bisa ketemu walaupun cuma 1 jam" Masjid Raya Al-A'zhom Kota Tangerang, Kamis (22/10/2026). (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)