AI Bukan Sekadar Canggih, Tapi Ada Isu Etika dan Pencurian Hak Cipta di Baliknya

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Kamis 05 Feb 2026, 09:25 WIB
Menurut Ketua Bidang Internet AJI Indonesia, Adi Marsiela, kemajuan AI saat ini menyimpan potensi bahaya yang sistematis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Menurut Ketua Bidang Internet AJI Indonesia, Adi Marsiela, kemajuan AI saat ini menyimpan potensi bahaya yang sistematis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Saat mengetikkan sesuatu di kolom pencarian internet, belakangan ini jawaban teratas kerap menampilkan satu paragraf ringkasan hasil kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Pada masa lalu, pengguna disuguhi banyak tautan dari beragam situs web sehingga harus memilah dan memilih sumber yang dianggap layak dijadikan rujukan.

Namun, seiring waktu, semakin banyak orang enggan melakukan proses tersebut dan memilih mempercayai ringkasan yang disajikan AI. Sekilas, kondisi ini tampak sebagai kemajuan teknologi. Namun, bagi Ketua Bidang Internet Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Adi Marsiela, fenomena tersebut justru menjadi isyarat bahaya.

“Ketika teman-teman ketemu kesimpulan, Anda akan merasa informasinya cukup. Tapi pertanyaannya, apakah perusahaan AI itu secara etis meminta izin untuk menarik data dari sumber aslinya?” kata Adi dalam diskusi “Mempertanyakan Kecerdasan Buatan” di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, 31 Januari 2026.

Menurut Adi, kemajuan AI saat ini menyimpan potensi bahaya sistematis, terutama terkait pelanggaran hak cipta dan etika yang berlangsung secara masif dan otomatis.

Parasit di Balik Kesimpulan Instan

Adi menyoroti cara kerja sistem cerdas seperti Gemini atau ChatGPT yang “memanen” karya jurnalistik di internet. Ironisnya, proses tersebut kerap terjadi tanpa memberikan keuntungan bagi pencipta aslinya.

Ia mencontohkan, sebuah portal berita menghabiskan tenaga, waktu, dan biaya untuk menghasilkan liputan mendalam. Namun, AI dapat dengan cepat merangkumnya menjadi satu paragraf tanpa memberi penghargaan, bahkan tanpa mencantumkan sumber.

“Ini konteks transparansi yang nyambung sama isu hak cipta. AI memberikan benefit ke pengembangnya, tapi apakah dia memberikan benefit ke narasumber, ke gereja yang diliput, atau ke jurnalisnya? Ini yang belum selesai,” tegas Adi.

Privasi yang Terlupakan dan Bias Berbahaya

Selain hak cipta, Adi juga menyoroti persoalan privasi. Ia menyinggung penggunaan aplikasi PeduliLindungi pada masa pandemi Covid-19 yang kini berubah menjadi SatuSehat.

“Apakah pemerintah meminta izin kembali pada kita mengenai data yang digunakan melalui PeduliLindungi yang sekarang berganti nama menjadi SatuSehat? Kan, tidak,” ujarnya.

Menurutnya, pengumpulan data dalam skala besar menjadi mungkin karena AI. Namun, masih terdapat pertanyaan besar mengenai penggunaan data tersebut.

“Privasi itu bentuk lain yang dilanggar. Belum lagi bicara soal data bocor yang sudah sering terjadi di negeri ini,” tambahnya.

Adi juga mengingatkan risiko “halusinasi” AI, yakni kecenderungan menghasilkan informasi keliru ketika mengolah banyak data. Jika hasil tersebut diterima tanpa verifikasi, hoaks dapat menyebar dengan cepat.

Ia mencontohkan kasus kecelakaan yang viral di media sosial, ketika AI salah mengenali foto korban dengan orang lain yang masih hidup dalam peristiwa tewasnya Affan Kurniawan saat unjuk rasa di sekitar Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, 28 Agustus 2025.

“Manusia punya konteks, mesin tidak. Jurnalis jauh lebih unggul soal interpretasi dan rasa,” kata Adi.

Ketua Bidang Internet Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Adi Marsiela. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ketua Bidang Internet Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Adi Marsiela. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Riset AJI 2024: Media Belum Siap

AJI pada 2024 melakukan penelitian terhadap 20 media di Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan AI telah merambah hampir seluruh aspek redaksi, mulai dari pencarian informasi, penyusunan ide liputan, hingga personalisasi konten.

Namun, sebagian besar media belum memiliki pedoman tertulis yang jelas terkait pemanfaatan AI. Saat ini, baru grup Kompas Gramedia yang memiliki panduan resmi. Media lain masih mengandalkan aturan lisan atau regulasi umum Dewan Pers.

“Ini krusial. Kalau AI bikin salah, siapa yang tanggung jawab? AI-nya mau dituntut? Padahal bisnis media adalah bisnis kepercayaan,” ujar Adi.

Ia mengibaratkan kepercayaan publik seperti hubungan asmara.

“Dari sekian banyak kebaikan, pasti yang diingat busuknya sekali juga. Sekali media salah karena AI, publik akan sulit percaya lagi,” katanya.

Mitra, Bukan Pengganti

Di tengah ancaman efisiensi yang berpotensi mengurangi peran jurnalis manusia, Adi menegaskan bahwa AI seharusnya ditempatkan sebagai mitra, bukan pengganti.

AI dinilai efektif untuk tugas administratif, seperti transkripsi wawancara. Ia juga mengakui keunggulan alat perekam berbasis AI yang mampu mentranskripsikan berbagai bahasa, termasuk Sunda dan Arab, secara akurat.

“Poinnya adalah AI hanya membantu menandai pola atau menjadi petunjuk awal. Kesimpulan akhir dan pertimbangan etika tetap harus ada di tangan manusia,” pungkasnya.

Diskusi tersebut menjadi pengingat bahwa di balik kemudahan dan kecepatan yang ditawarkan kecerdasan buatan, terdapat hak orang lain yang berpotensi terabaikan serta risiko pelanggaran privasi. Meski mampu menghasilkan tulisan, AI tidak memiliki kesadaran untuk menentukan benar atau salah.

News Update

Ayo Netizen 15 Feb 2026, 18:35 WIB

Ramadan dan Energi Spiritual bagi Integritas ASN

Ramadan sebagai energi spiritual untuk memperkuat integritas ASN melalui kejujuran, pengendalian diri, dan empati demi pelayanan publik yang mampu.
Ilustrasi ASN. (Sumber: indonesia.go.id)
Bandung 15 Feb 2026, 17:21 WIB

Menjemput Hari Raya di Kota Kembang: Cerita dari Kerumunan Berburu ‘Baju Bedug’

Ada satu pemandangan yang mencuri perhatian di pertengahan Februari ini, yakni kerumunan muslimah yang menyemut demi tradisi berburu "baju bedug" lebih awal.
Gelaran Lozy Big Warehouse Sale Vol. 7 Bandung yang berlangsung pada 14 hingga 16 Februari 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 15 Feb 2026, 15:33 WIB

Kisah Kembang Tahu Pak Maman Bertahan sejak 1996 di Tengah Zaman yang Terus Berubah

Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani.
Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 15:22 WIB

Dari Ngabeubeurang sampai Lilikuran Ramadan di Tatar Sunda

Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan.
Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan. (Sumber: Ilusrtasi dibuat dengan ChatGPT)
Bandung 15 Feb 2026, 14:45 WIB

Melenggang dari 1989, Begini Cara Nasi Goreng Zebbotz Bertahan hingga Tiga Dekade

Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz.
Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 15 Feb 2026, 14:27 WIB

Sentra Keramik Kiaracondong Tinggal Bersisa Satu Tungku

Dari sekitar 30 pengrajin yang dahulu memenuhi kawasan ini, kini hanya tersisa satu tungku yang masih aktif menghasilkan panas untuk membakar.
Deretan keramik Haji Oma yang siap untuk dijual. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 11:40 WIB

Viaduct: Landmark Kota Bandung dan Kisah Cinta Soekarno

Di sekitar daerah tersebut pun ada Jalan yang cukup pendek yang dinamakan Jalan Viaduct. yang menghubungkan Viaduct ke Jalan Braga. 
Viaduct menghubungkan Jalan Suniaraja dengan Jalan Braga. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 15 Feb 2026, 08:49 WIB

Haji Oma: Napas Terakhir Keramik Kiaracondong

Satu per satu rekan dan kerabat Dikdik menyerah. Pabrik-pabrik ditutup, tungku-tungku dipadamkan. Kini, dari sekitar 30 pengrajin yang pernah berjaya, hanya satu yang masih bertahan.
Dikdik Gumilar meneruskan usaha ayahnya sebagai pembuat keramik yang terkenal dengan sebutan Keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 07:26 WIB

Puasa 2026 di Bandung: Imlek & Cap Go Meh, Rabu Abu & Masa Pra Paskah, Nyepi & Lebaran

Tahun 2026 menjadi tahun yang unik secara religius, spiritual, dan kultural di Indonesia, termasuk di Bandung.
Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Beranda 14 Feb 2026, 19:20 WIB

Bandung Review Membaca Risiko Cekungan, Gempa, dan Masa Depan Kota

Program ini awalnya digagas di Pustaka Selasar. Namun karena jumlah peserta kerap melebihi kapasitas, diskusi dipindahkan ke ruang yang lebih besar.
Geografiwan kawakan T Bachtiar di Bandung Review #006. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bandung 14 Feb 2026, 13:19 WIB

Alasan Mengapa Bandung Menjadi Kunci Strategis Bagi Pertumbuhan Industri Purifikasi di Indonesia

Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat.
Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat. (Sumber: Coway)
Beranda 14 Feb 2026, 12:36 WIB

Cekungan Bandung: Catatan tentang Kota Kreatif yang Berdiri di Tengah Ancaman Geologis dan Minimnya Mitigasi

Namun di bawah beton dan aspal, tersimpan endapan lumpur puluhan ribu tahun yang menjadi fondasi kehidupan sekaligus potensi risiko.
Titi Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 14 Feb 2026, 06:43 WIB

Di Sekitar PLTU, Warga Menanggung Risiko di Balik Pasokan Listrik

Selama batu bara masih menjadi tulang punggung sistem energi nasional, risiko paparan polusi terhadap warga di sekitar PLTU akan terus ada.
Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, menjelaskan bahwa Toxic 20 memetakan PLTU dengan tingkat pencemaran tertinggi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 21:23 WIB

Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB

Asyik Numpeng

Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin.
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 15:55 WIB

Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak.
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 14:03 WIB

Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Selain munggahan, ada empat kata lainnya yang sering dipakai untuk menyambut bulan Ramadan.
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Beranda 13 Feb 2026, 11:09 WIB

Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

Dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 13 Feb 2026, 10:02 WIB

Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 09:39 WIB

Betapa Pentingnya Belajar Menulis Copywriting

Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu.
Rizki Sanjaya sedang memaparkan materi kepada para peserta Workshop Seni Menulis Copywriting. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)